Beberapa minggu berlalu sejak hari pertama mereka bekerja sama di lokasi proyek itu. Hari-hari berikutnya berjalan begitu indah dan menyenangkan, seolah dunia milik berdua saja. Hampir setiap pagi Raka menjemput Dara, dan mereka pergi bersama ke lokasi pembangunan atau ke kantor. Di perjalanan, keheningan dingin yang dulu ada kini berubah menjadi percakapan hangat, canda tawa, dan diskusi panjang lebar tentang segala hal, mulai dari pekerjaan, impian, hingga pandangan hidup. Raka yang dulu pendiam, tertutup, dan sulit bicara ternyata punya banyak sekali hal menarik untuk diceritakan, asalkan ia sudah merasa nyaman dan percaya pada lawan bicaranya. Dan Dara adalah satu-satunya orang yang berhasil membuka gerbang hatinya itu. Di sisi lain, Dara merasa dunianya jadi jauh lebih berwarna dan berarti. Ia belajar banyak hal dari Raka, bukan hanya soal arsitektur dan teknik bangunan, tapi juga soal tanggung jawab, kedisiplinan, dan keteguhan hati. Di mata Dara, Raka adalah laki-laki paling hebat, paling jenius, dan paling tulus yang pernah ia kenal. Meski kadang masih keras kepala dan galak sedikit, tapi semua itu kini terlihat manis dan justru bikin ia makin kagum.
Hubungan mereka di kantor pun tak lagi sama. Semua karyawan bisa merasakan perubahan besar itu. Raka Adhitama yang dulu terkenal galak, kejam, dan mengerikan, kini sering terlihat tersenyum, lebih sabar, dan jauh lebih ramah. Dan semua orang tahu betul, perubahan ajaib itu terjadi karena kehadiran Dara. Di mana ada Dara, di situ ada Raka, dan di situ ada suasana yang hangat dan damai. Banyak yang berbisik-bisik, berspekulasi, dan mendoakan agar hubungan itu berjalan lancar, karena mereka semua sangat menyukai suasana baru yang menyenangkan ini. Namun, di balik kebahagiaan yang terang benderang itu, Raka selalu menyimpan rasa cemas yang tak pernah hilang sepenuhnya. Di sudut hatinya yang paling dalam, bayangan masa lalu yang kelam masih membayangi. Ia terlalu paham betul, bahwa kebahagiaan seindah ini biasanya tak bertahan lama, dan ia terlalu takut suatu saat nanti semuanya akan direnggut paksa dari tangannya, persis seperti yang pernah terjadi dulu bertahun-tahun lalu.
Pagi itu, suasana kantor terasa sedikit berbeda. Ada ketegangan samar yang menggantung di udara, sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang. Saat Dara berjalan melewati ruang resepsionis, ia melihat semua staf sedang berbisik-bisik dengan wajah cemas dan penasaran. Ada aura asing dan mengganggu yang masuk ke gedung itu, aura yang dingin, sombong, dan penuh ancaman."Ada apa ya, Kak? Kenapa pada sibuk bisik-bisik begitu?" tanya Dara pada salah satu staf senior yang dikenalnya baik.
Wanita itu menoleh dengan mata terbelalak kaget, lalu menarik lengan Dara sedikit menjauh agar tak terdengar orang lain. "Ra... hati-hati ya. Dan siap-siap aja. Ada tamu istimewa datang, tamu yang sangat tidak diharapkan. Namanya Sandra. Dia itu... mantan tunangan Pak Raka. Wanita yang dulu bikin Pak Raka hancur lebur, wanita yang mengkhianati dia, mencuri semua ide dan usahanya, lalu pergi meninggalkan dia di saat paling jatuh. Dia baru balik dari luar negeri kemarin, dan pagi ini dia datang langsung minta ketemu Pak Raka, masuk ke ruangan utama sekarang juga."
Jantung Dara seolah berhenti berdetak sejenak. Sandra. Nama itu sudah sering ia dengar samar-samar dari cerita orang, dan juga dari sedikit pengakuan Raka tentang masa pahitnya. Wanita yang menjadi sumber segala luka, segala ketakutan, dan segala tembok pertahanan yang dibangun Raka. Wanita yang membuat Raka berubah jadi dingin dan tertutup bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang, wanita itu kembali muncul tepat saat Raka mulai bahagia, tepat saat hati Raka mulai terbuka kembali, tepat saat cinta mereka mulai bersemi indah.
Darah di seluruh tubuh Dara terasa dingin seketika. Ia mengerti betul apa arti kedatangan Sandra. Ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi. Ini adalah ancaman terbesar yang pernah datang ke hidup mereka. Sandra datang bukan untuk menebus kesalahan, tapi kemungkinan besar datang karena ia melihat kesuksesan besar yang kini diraih Raka, kekayaan, nama besar, dan perusahaan yang makin megah. Wanita seperti itu, yang dulu meninggalkan saat susah, pasti balik lagi saat lihat pasangannya sudah jadi orang besar. Dan yang paling berbahaya: Sandra tahu betul segala kelemahan Raka, segala sisi masa lalu, dan cara paling ampuh untuk menyakiti dan mengacaukan perasaan laki-laki itu.
Dengan perasaan gelisah dan berat yang tak terlukiskan, Dara berjalan perlahan mendekati ruangan kerja utama Raka. Pintu itu tertutup rapat, tapi suaranya cukup terdengar jelas dari luar. Suasana di dalam sana terasa sangat tegang, penuh emosi, dan dipenuhi kepahitan lama yang kembali menyeruak ke permukaan.
"Raka, lihat aku. Aku tahu aku salah besar dulu, aku tahu aku nyakiti kamu banget, aku tahu aku kejam dan bodoh banget waktu itu. Tapi aku menyesal, Raka. Aku sungguh-sungguh menyesal. Bertahun-tahun aku pergi, aku jalan-jalan ke luar negeri, tapi hati aku gak pernah tenang, aku selalu kepikiran kamu. Aku sadar sekarang, gak ada laki-laki sehebat kamu, gak ada laki-laki yang sayang sama aku sebesar kamu. Aku balik ke sini karena aku mau kita mulai lagi ya? Mari kita hapus masa lalu yang buruk itu, kita lupakan semuanya, dan kita bangun semuanya lagi dari awal, lebih indah dari sebelumnya," terdengar suara wanita yang lembut, merdu, tapi penuh kepalsuan dan bujuk rayu yang sangat kuat. Itu pasti Sandra.
Lalu terdengar suara Raka, berat, dingin, penuh kepahitan, dan sangat jauh berbeda dari nada bicara lembut yang biasa ia dengar belakangan ini. Suara itu persis seperti suara Raka yang dulu, sebelum ia mengenal Dara. Suara yang membuat d**a Dara terasa sesak dan sakit sekali.
"Mulai lagi? Sandra, kamu bilang mulai lagi? Kamu kira hati saya mainan, hah? Kamu kira waktu bisa diputar balik semau kamu? Kamu ingat tidak apa yang kamu lakukan dulu? Saat saya jatuh miskin, saat saya gagal total, saat saya habis-habisan demi membangun mimpi kita? Kamu pergi, Sandra! Kamu pergi bawa pergi semua uang saya, semua hasil kerja keras saya, semua ide brilian saya, lalu kamu pergi sama laki-laki lain yang kamu bilang lebih kaya dan lebih hebat dari saya! Kamu tinggalkan saya di dasar jurang, hancur lebur, sendirian, dan hampir mati karena sakit hati! Dan sekarang, sekarang saat saya sudah bangkit lagi, saat saya sudah sukses, saat nama saya besar, saat perusahaan saya makin megah... kamu datang seenaknya ketuk pintu dan minta masuk lagi? Kamu pikir saya ini bodoh atau apa?"
Suara Raka meninggi penuh amarah, kepahitan, dan rasa sakit yang belum sembuh sepenuhnya. Dara bisa merasakan betapa beratnya pertarungan batin yang sedang terjadi di dalam sana sekarang. Di satu sisi ada luka lama yang masih basah, rasa benci, rasa sakit, dan ingatan buruk yang masih sangat jelas. Di sisi lain, ada ketakutan besar bahwa masa lalu ini akan merusak kebahagiaan barunya, merusak hubungan indahnya dengan Dara.
Tapi apa yang Raka ucapkan selanjutnya membuat air mata Dara jatuh perlahan, namun juga membuat rasa haru dan bangga memenuhi dadanya sepenuhnya.
"Sandra, dengerin saya baik-baik dan ingat baik-baik. Dulu saya memang hancur karena kamu. Dulu saya memang hidup dalam kegelapan, benci semua orang, dan benci diri saya sendiri. Dulu saya bersumpah gak bakal pernah percaya wanita mana pun lagi. Tapi semuanya berubah. Ada orang lain yang datang ke hidup saya, orang yang datang saat saya sudah sukses, tapi dia sama sekali gak peduli sama harta atau nama besar saya. Dia datang karena dia melihat saya, Raka yang biasa, yang keras kepala, yang kaku, yang penuh kekurangan. Dia datang dengan ketulusan, dengan keberanian, dan dengan cinta yang murni. Dia yang bikin saya belajar lagi cara tersenyum, cara bahagia, cara percaya orang, dan cara mencintai. Dia yang mengajarkan saya, bahwa bangunan saja gak ada artinya kalau gak punya hati, dan hidup saja gak berarti kalau gak ada cinta. Kamu datang terlambat, Sandra. Kamu sudah kehilangan saya bertahun-tahun lalu saat kamu pergi. Dan sekarang... hati saya sudah milik orang lain sepenuhnya. Dan dia jauh lebih berharga, jauh lebih indah, dan jauh lebih hebat dari kamu dalam segala hal. Kamu gak ada apa-apanya dibanding dia sekarang. Tolong pergi dari sini, dan jangan pernah berani muncul lagi di depan saya atau di depan dia. Kalau kamu berani nyakiti dia sedikit saja, kamu akan tahu betapa kejamnya saya bisa jadi. Keluar!"
"Siapa dia? Cewek magang biasa itu? Arsitek muda yang polos itu? Kamu lebih milih dia daripada aku? Kamu gila ya, Raka?! Dia gak punya apa-apa! Dia cuma gadis desa yang gak tahu apa-apa! Dia cuma manfaatin kamu aja, tunggu aja lihat nanti pas kamu susah, dia bakal pergi juga! Semua wanita sama aja, gak ada bedanya!" seru Sandra marah besar, topeng manisnya rontok seketika, berganti jadi wajah penuh kebencian, iri hati, dan kejahatan yang nyata.
"Diam! Jangan pernah kamu samakan dia sama kamu! Dia malaikat yang dikirim Tuhan buat selamatkan saya, sedangkan kamu... kamu cuma masa lalu kotor yang sudah selesai dan buang jauh-jauh. Pergi! Atau saya panggil keamanan buang kamu keluar!" bentak Raka keras sekali, penuh ketegasan yang tak bisa diganggu gugat.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Sandra keluar dengan wajah merah padam menahan marah dan malu, matanya menyala penuh api kebencian. Saat melihat Dara yang berdiri diam di depan pintu dengan mata berkaca-kaca, Sandra berhenti sejenak, menatap Dara dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan meremehkan dan penuh ancaman membunuh.
"Kamu pikir kamu menang, hah? Kamu pikir kamu bisa bahagia sama dia selamanya? Ingat aja kata-kata aku... apa yang bukan hak kamu, jangan kamu paksa ambil. Kita lihat saja nanti siapa yang bakal hancur dan nangis darah di akhir cerita ini. Ini baru permulaan aja, gadis polos. Aku belum selesai sama kalian berdua," desis Sandra dengan suara rendah dan penuh racun, lalu berjalan pergi dengan langkah angkuh.
Dara tak peduli sama sekali dengan ancaman wanita itu. Ia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini kembali hening. Di sana, Raka berdiri diam di dekat meja kerjanya, kepalanya tertunduk lelah, bahunya turun lesu seolah habis bertarung melawan seribu musuh sekaligus. Ia tampak sangat lelah, sangat sedih, tapi juga sangat lega dan teguh. Mendengar langkah kaki masuk, Raka mengangkat wajahnya. Saat melihat itu Dara berdiri di sana, tatapan tajam dan tegas yang tadi seketika berubah jadi lembut, penuh kasih sayang, dan rasa takut yang mendalam. Ia berjalan mendekat perlahan, lalu langsung memeluk tubuh mungil Dara erat sekali, seolah takut gadis itu akan hilang lenyap seketika ditarik oleh masa lalu yang gelap itu.
"Maaf ya... kamu denger semuanya kan? Kamu denger semua hal buruk itu ya?" bisik Raka parau di telinga Dara, suaranya bergetar penuh rasa bersalah dan khawatir. "Maaf kalau kamu harus lihat sisi buruk hidup saya. Maaf kalau kehadiran dia bikin kamu terancam dan gak nyaman. Maaf kalau masa lalu kotor saya bikin kamu susah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu dan ingat seumur hidup kamu... apa yang saya bilang ke dia tadi itu semuanya benar, semuanya keluar dari hati saya yang paling dalam dan paling jujur. Kamu segalanya buat saya, Dara. Kamu satu-satunya sekarang, dan bakal selamanya. Jangan pernah tinggalkan saya ya... jangan pernah pergi karena rasa takut atau ancaman dia. Saya gak bakal kuat kalau sampai kehilangan kamu juga. Kamu satu-satunya alasan saya hidup dan bahagia sekarang."
Dara membalas pelukan itu seerat tenaganya, mengusap punggung lebar Raka dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan kepastian. Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Raka yang berkaca-kaca itu dalam-dalam, lalu tersenyum indah, tulus, dan meyakinkan sekali.
"Pak Raka, lihat saya. Saya bukan Sandra. Saya gak akan pernah pergi, saya gak akan pernah khianati Bapak, saya gak akan pernah malu sama masa lalu Bapak, dan saya bakal tetap di sini sampai kapan pun, sampai tua, sampai mati. Luka lama itu sudah selesai, Pak. Dia sudah jadi bagian yang lewat, bagian yang sudah dibuang. Sekarang ada saya, ada kita, ada masa depan indah yang kita bangun bareng-bareng, di bawah langit yang sama ini. Sandra boleh balik, Sandra boleh marah, Sandra boleh ngancam... tapi dia gak bakal bisa merusak apa pun. Karena cinta kita jauh lebih kuat dari kejahatan, jauh lebih kokoh dari rasa benci, dan jauh lebih indah dari apa pun yang dia punya. Kita bakal bahagia, Pak. Saya janji. Kita bakal buktikan ke dia, ke dunia, dan ke diri kita sendiri, bahwa cinta tulus itu pasti menang."
Raka mencium kening Dara lama dan dalam, sebagai tanda rasa syukur yang tak terhingga pada Tuhan karena mengirimkan malaikat penyelamat seindah dan sebaik Dara ke hidupnya. Namun di dalam hati kecilnya, Raka tahu betul. Sandra bukan wanita yang mudah menyerah, bukan wanita yang mau menerima kekalahan. Ia wanita yang keras kepala, egois, dan jahat. Ia tak akan pergi begitu saja. Ia pasti akan berusaha melakukan cara apa pun, cara kotor sekalipun, untuk merusak kebahagiaan mereka.
Dan Dara pun sadar betul, perjuangan mereka belum selesai. Ancaman nyata sudah di depan mata, musuh datang dari masa lalu, dan mereka harus bersatu lebih kuat dari sebelumnya agar tak terpisahkan oleh apa pun. Tapi untuk pertama kalinya, mereka berdua tak merasa takut lagi. Karena mereka sadar: selama mereka berdua saling memegang tangan erat, selama mereka berdua saling percaya sepenuhnya, tak ada badai sebesar apa pun yang bisa merobohkan mereka. Cinta mereka sudah jadi bangunan yang paling kokoh, paling indah, dan paling abadi di bawah langit yang sama ini.