Langit Jakarta siang ini begitu cerah, matahari dengan begitu teriknya menjulang di angkasa.
Karyo yang berada di balik kemudi begitu fokus dengan jalanan yang ada didepannya. Sedangkan Sasti dan Satria yang duduk di kursi belakang diam tanpa ada pembicaraan, sepasang suami istri itu tampak asik dengan pikirannya masing-masing.
"Pak, mampir ke mcd dulu ya." ucap Sasti tiba-tiba membuat Satria menatapnya dengan kening berkerut.
"Mau eskrim matcha." ujar Sasti dengan cengiran di wajahnya.
Karyo pun menuruti perintah Sasti, mobil yang sedang melaju itu pun akhirnya mengambil jalur sebelah kiri dan akhirnya berbelok masuk ke McDonald's yang terletak di lampu merah Salemba. Persaingan bisnis yang bagitu ketat kalau kalian melihat KFC dan McDonald's yang berdiri bersebelahan di daerah tersebut. Tapi sepertinya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan, keduanya merasa memiliki penikmat masing-masing yang tak akan lari.
"Kamu mau ngapain?" tanya Satria saat Sasti hendak membuka pintu mobil.
"Turun." jawab Sasti singkat.
"Drive thru aja sih yang." balas Satria.
"Yah.. aku maunya turun." balas Sasti tak mau kalah.
"Mau turun beli es krim apa mau turun buat ngulur waktu biar lama sampe rumah mama?"
Skakmat!
Sasti diam tidak menjawab ucapan Satria.
"Kamu mikirin apa?" tanya Satria sambil mengelus kepala Sasti.
"Mama?" Satria yang bertanya dan Satria pulalah yang menjawabnya.
"Kenapa sayang?" lagi Satria melemparkan pertanyaan yang juga tidak Sasti jawab.
Sasti menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara, "aku mau es krim. Maunya beli ke dalem."
Selesai berbicara Sasti langsung membuka pintu mobil, turun lalu berjalan masuk ke dalam McDonald's. Pikirannya melayang tak di tempat membuatnya tak menyadari kalau ada yang berlari ke arahnya lalu, bruk!
Sasti terjatuh dengan p****t yang terlebih dahulu menghantam aspal. Ia jatuh terduduk bahkan ponselnya terlepas dari tangannya.
"Ma..maaf mba.." seru perempuan yang menabrak Sasti.
Sasti mengambil ponselnya lalu berusaha berdiri sambil meringis karena menahan sakit pada pantatnya yang berdenyut. Ia pun melemparkan senyuman tipis, "Iya, saya juga salah karena melamun."
Perempuan itu pergi, sedangkan Sasti kembali berjalan ke dalam McDonald's namun langkahnya itu terhenti saat ia menyadari kalau ponselnya itu rusak. Seketika keinginannya untuk membeli McFlurry menghilang. Dengan langkah panjang dan menghentak dia kembali ke mobil.
"Loh? Mana es krimnya?" tanya Satria saat Sasti muncul dengan muka ketekuk.
Tanpa suara Sasti menyodorkan ponselnya ke arah Satria. Tidak mengerti maksud istrinya Satria pun hanya melihat dengan kening berkerut.
"Rusak!!" rengek Sasti dengan mata berkaca-kaca.
Satria mengambil ponsel tersebut lalu mencoba menyalakannya, yang terlihat hanya layar berwarna biru dengan layar yang sudah retak.
"Kok bisa?" tanya Satria.
"Jatuh.. ditabrak orang tadi."
"Ohh..."
Sasti merengut melihat respon Satria yang begitu datar.
"Kok ohh doang??"
"Yaudah sih, beli lagi. Kita ke samsung aja sekarang. Atau kamu mau ganti IPhone?" Satria mencoba memberikan penawaran.
"Pulang ajalah..aku engga mood ngapa-ngapain." jawab Sasti.
"Masa pulang sih, yang? Mama kan nunggu kita."
"Terserahlah......." jawaban Sasti benar-benar membuat Satria menjadi serba salah.
Sasti jarang sekali atau sepertinya malah tidak pernah mengucapkan kata terserah, dan Satria tau kalau terserahnya Sasti ini berarti peringatan besar untuknya.
Tapi kalau Satria menuruti keinginan Sasti untuk pulang, niatnya untuk menyatukan istrinya dengan mamanya itu tidak akan berjalan.
"Sebentar aja ya, yang? Ketemu mama sama papa sebentar terus kita pulang." ucap Satria begitu lembut.
"Hemm.." Sasti hanya bergumam.
Satria pun menghela nafas pelan, direngkuhnya Sasti ke dalam pelukannya. Awalnya dia kira Sasti akan menolak tapi ternyata perkiraannya salah. Sasti balas memeluk Satria begitu erat.
"Aku janji, kita sebentar aja disana." bisik Satria sebelum mencium pucuk kepala istrinya.
--
"Jadi, gimana bulan madunya?" tanya Dodi yang duduk tepat di sebrang Sasti.
"Bagus pah tempatnya, sepi lagi engga rame. Jadi kegiatan bikin anaknya lebih konsen." jawab Satria dengan cengiran nakal khasnya.
Berbeda dengan Satria yang terlihat cengengesan, Sasti justru gemas ingin mencubit mulut suaminya yang kalau ngomong suka asal ngejeplak itu.
Dodi tertawa begitu renyah saat mendengar banyolan putranya, tapi tidak dengan Ambar yang hanya menatap datar. Menatap ke arah Sasti lebih tepatnya.
"Terus besok kalian mulai masuk kerja? Apa mau istirahat?" Dodi kembali bertanya.
"Saya besok langsung kerja pah, kalau Satria lusa baru masuk ke kantor." kali ini Sasti yang menjawab.
"Ngapain sih kamu masih kerja jadi sekretaris? Kamu kan istrinya pengusaha, engga perlulah kerja-kerja kayak gitu lagi." Ambar yang sedari tadi diam akhirnya mulai angkat bicara.
"Jangan bikin malu keluarga kitalah, terutama Satria. Apa kata orang nanti kalau mereka ngeliat kamu sibuk ngurusin orang lain." tambah Ambar dengan sinisnya. Bagi Ambar, menjadi sekretaris sama saja seperti pelayan yang kerjanya memenuhi kebutuhan.
"Mah..." merasa ucapan istrinya agak keterlaluan, dengan matanya Dodi pun mengisyaratkan agar Ambar diam.
"Loh pah, mama bener kan? Harusnya Sasti ini sadar akan posisinya Satria. Jadi ya dia jangan bikin malu dong dengan tetap kerja disana. Nanti dikiranya Satria enggak bisa ngehidupin Sasti lagi." meski sadar suaminya menyuruhnya untuk diam tapi Ambar memilih untuk terus berbicara, mengeluarkan sedikit unek-uneknya terhadap anak mantunya itu.
"Mah, engga ada yang salah dari pekerjaan Sasti. Satria engga ada masalah kok, dan jadi sekretaris itu engga malu-maluin." ucap Satria sambil melemparkan pandangannya ke Sasti.
Sasti hanya tersenyum tipis saat ia merasa kalau tangannya telah digenggam dengan erat oleh Satria.
"Pekerjaan sekretaris memang engga salah kalau dia bukan siapa-siapa, yang jadi masalah itu dia kan istri kamu. Kemana dia melangkah dia bawa nama kamu, nama keluarga kita. Pokoknya mama mau Sasti out dari tempat itu. Emangnya uang yang Satria kasih kurang apa, sampai kamu harus kerja Sas?" entah apa maksud dari pertanyaan Ambar, tapi Sasti mencoba untuk tidak mengambil hati akan pertanyaannya itu.
"Maaf ma, saya engga bermaksud bikin nama Satria ataupun nama keluarga tercoreng. Saya akan mengajukan resign, tapi..." Sasti menoleh ke arah Satria, menatapnya meminta bantuan.
"Tapi setelah Pak Dirjen pensiun. Kan Pak Dirjen pensiun sekitar lima bulanan lagi kok ma" Satria menambah ucapan Sasti yang menggantung.
Dan mendengar ucapan Satria membuat mata Sasti membulat, kok Satria tau bapak lima bulan lagi pensiun? batinnya.
Selama bekerja menjadi sekretaris Pak Dirjen tak pernah melintas dipikiran Sasti untuk resign meskipun Pak Dirjen pensiun dan posisinya digantikan oleh orang lain. Dan sekarang Satria membuat keputusan tanpa berbicara dengannya terlebih dahulu. Maksudnya apa coba?
"Sudah sudah, tidak perlu lagi membahas masalah ini. Satria telah membuat keputusan sendiri, jadi biarkan saja Sasti tetap bekerja sampai bosnya pension." Dodi memilih untuk menghentikan pembicaraan yang ia rasa akan menjadi panas kalau terus dilanjutkan.
"Kalau gitu Satria sama Sasti langsung pulang ya pa, ma."
"Loh? Makan dulu lah disini, mama udah masak buat kamu Sat. Masa mau langsung pulang." Ambar pun menarik lengan kanan Satria agar mengikutinya ke ruang makan, dan membuat genggamannya ke tangan Sasti lepas.
Ada perasaan sedih yang merayap masuk ke dalam hati Sasti. Entah karena sikap Ambar atau karena Satria yang melepas tangannya.
Sasti sudah ingin berdiri saat tiba-tiba Satria kembali lagi, "Istri aku ketinggalan." ucapnya sambil mengedipkan mata kanannya lalu ia menggenggam tangan Sasti.
"Maafin mama ya, sayang?" bisik Satria pelan di telinga Sasti, lalu ia mengecup pipi Sasti singkat. Membuat wajah Sasti menjadi merona. Kenapa Satria selalu mengambil kesempatan?
--
Setelah acara makan yang begitu kaku untuk Sasti, Satria benar-benar membawa Sasti pulang. Seperti janjinya sebelum mereka tiba dirumah orang tua Satria, kalau mereka tidak akan lama-lama disana.
Sepanjang perjalanan pulang, Sasti terus menyenderkan kepalanya ke d**a Satria.
"Sat.."
"Iya?"
"Kata siapa aku resign lima bulan lagi?"
"Kata aku" jawab Satria dengan penuh percaya diri.
"Tapi Sat....." ucapan Sasti langsung dipotong oleh Satria, "Engga ada tapi sayang, itu keputusan tidak bisa diganggu gugat. Aku bahkan udah ngomong sama bos kamu, dan dia setuju."
Sasti langsung menarik tubuhnya menjauh dari Satria. "Kok kamu nyolong start gitu sih??"
"Kok aku-nya engga dipeluk lagi?" Satria malah menjawab pertanyaan Sasti dengan sebuah pertanyaan yang tidak penting untuk Sasti.
"Dari awal aku emang mau kamu resign, bukan karena kamu itu sekretaris. Apapun pekerjaan kamu, aku ngerasa kalau istri aku itu engga perlu ikut-ikutan kerja nyari uang. Cukup aku aja. Dan pas aku ngomong sama bos kamu, beliau bilang agar aku membiarkan kamu sampai dia pensiun, dan itu lima bulan lagi. Jadi yaaudah, aku setuju." ujar Satria panjang lebar.
"Untung aja bos kamu Pak Dirjen, aku engga enak kalau nolak permintaan dia." Satria menambahkan ucapannya sambil nyengir.
"Udah aku jawab yang, aku-nya peluk lagi dong?" pinta Satria sambil melebarkan kedua tangannya.
Sasti mencebikkan bibirnya, namun pada akhirnya dia kembali menyenderkan kepalanya ke d**a Satria.
Satria tersenyum begitu lebar, ia pun menghujani Sasti dengan kecupan di pucuk kepala Sasti. Hatinya selalu bergemuruh, rasanya meledak-ledak karena terlalu bahagia. Sasti benar-benar telah memberikan pengaruh besar ke dalam dirinya.
--