"Nanti kita makan siang bareng ya." ucap Satria sesaat sebelum Sasti membuka pintu mobil.
"Oke.." balas Sasti lalu membuka pintu mobil.
"Kiss me, please?" pinta Satria sambil memonyongkan bibirnya.
Dengan cepat Sasti menempelkan bibirnya ke bibir Satria lalu menariknya lagi membuat Satria membelakkan matanya tanda protes.
"Sat! Ini di lobi, masa iya mau ciuman??"
"Tau gitu kamu aku turunin di basement aja tadi." ucap Satria yang harus merelakan Sasti turun dari mobil.
Satria harus merelakan paginya tanpa Sasti, kalau saja bisa ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Sasti di kamar. Tanpa ada yang mengganggu. Namun dia harus membuang jauh angannya tersebut karena sasti harus bekerja.
Setelah Sasti menghilang dari pandangannya Satria kembali melajukan mobilnya.
Pulang? Atau kemana ya? Satria mulai berpikir kemana dirinya akan mengendarai mobilnya.
Teringat akan sesuatu, membuat Satria mengarahkan mobilnya kepada satu tujuan.
Ia merindukan malaikat kecilnya.
--
Di depan pusara kecil, Satria menaburkan bunga yang sengaja dia beli dalam perjalanan tadi. Begitu kantung plastik bening yang berisi bunga itu kosong, Satria lalu membuka botol air mawar dan menuangkannya dari ujung dekat batu nisan hingga ke ujung bawah makam.
"Ayesh apa kabar?" tanya Satria sambil menutup botol bening yang sudah kosong itu.
Satria memberikan jeda sebelum melanjutkan kalimatnya, seolah ia sedang memberikan kesempatan kepada Naresh untuk menjawab pertanyaannya.
"Mami sama papa baik-baik aja, bahkan papa lagi usahain supaya kamu cepet punya adek. Ayesh mau adek cewe apa cowo?"
Lagi Satria diam, ia mengelus batu nisan begitu lembut.
"Papa maunya kembar, kembar tiga. Bisa engga ya kira-kira?" Satria terkekeh membayangkan kalau Sasti melahirkan anak kembar tiga.
Ia membayangkan betapa ramai nanti penthouse miliknya. Riuh suara tawa atau mungkin tangisan melengking yang saling bersahutan. Teriakan karena berebutan mainan atau mungkin tidak mau kalah dengan yang lain.
Membayangkan itu semua membuat hati Satria menghangat.
Semula berjongkok akhirnya Satria memilih untuk duduk di pinggir makam, ia tak perduli kalau p****t celananya itu akan kotor karena tanah merah yang sedikit basah karena hujan semalam. Ia hanya merasa membutuhkan banyak waktu berbincang dengan anak lelakinya.
Kalau ada yang melihat Satria, mungkin dia akan berpikir kalau lelaki tampan itu mengalami gangguan kejiwaan karena terus berbicara seorang diri. Berbicara dengan serius kepada makam kecil di sampingnya, namun sesekali juga Satria tertawa.
Merasakan panas matahari mulai terik Satria pun melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Mata Satria membulat saat melihat jarum panjang menunjuk ke angka sepuluh, sedangkan jarum pendek menunjuk hampir ke angka sebelas.
Aku menghabiskan waktu hampir dua jam disini? batin Satria.
"Ayesh, papa pulang dulu ya. Papa udah janji mau makan siang bareng mami." ucap Satria yang terburu-buru berdiri dari duduknya.
Namun terlalu lama duduk bersila ternyata membuat salah satu kaki Satria keram. Terseok-seok ia pun berjalan menuju mobilnya.
--
Sesekali Satria melirik ke arah jam tangannya, sudah jam setengah dua belas tidak mungkin kalau dia pulang ke apartment Sasti atau ke penthouse-nya hanya untuk berganti baju. Yang ada nanti dia terlambat menjemput Sasti.
Nada dering dari ponselnya yang terdengar nyaring membuat Satria dengan sigap mengambil ponselnya.
"Kamu dimana?" terdengar suara Sasti dari balik telepon.
"Aku di jalan nih, udah deket kok. Sepuluh menit lagi juga nyampe." jawab Satria.
"Kamu lagi nyetir? Pake headset engga?" tanya Sasti.
"Eh..eng..engga..aku lupa bawa sayang." jawab Satria terbata-bata.
"Loh kamu gimana sih? Kalau lagi nyetir jangan sambil nelpon. Udah ahh aku matiin.."
Tut..tut...tut...
Panggilan terputus.
Satria menggigit bibirnya, terancam engga dapet kiss ini mah batin Satria.
Sejak kecelakaan yang menimpa Satria sebelum menikah, Sasti menjadi lebih cerewet mengenai kehati-hatian dalam menyetir. Bermain ponsel sambil menyetir adalah hal yang paling Sasti haramkan. Apapun alasannya, Sasti melarang keras penggunaan ponsel saat sedang menyetir. Padahal penyebab kecelakaan yang menimpa Satria waktu itu karena supir truk yang membawa air galon itu mengantuk sehingga dirinya yang menjadi korban. Mobilnya ditabrak dari samping dengan begitu kencang.
Sebenarnya kecelakaan itu sedikit meninggalkan trauma untuk Satria. Ia memilih untuk memakai Karyo kemanapun dia pergi. Namun, sekarang Satria mencoba mengalahkan rasa takutnya. Karena dengan keberadaan Karyo ditengah-tengah mereka berdua membuat pergerakan Satria terbatas.
Ia tidak bisa mencium Sasti kapanpun saat dia menginginkannya. Hal itu lah yang menjadi dorongan kuat untuk Satria untuk kembali menyetir sendiri.
Gedung tempat Sasti bekerja sudah semakin dekat, sebelum berbelok masuk melewati pintu gerbang Satria mencoba untuk menghubungi istrinya.
"Yang, aku udah di gerbang. Kamu tunggu lobi ya." ucap Satria begitu mendengar suara lembut istrinya.
"Aku udah di lobi." balas Sasti.
"Ohh...oke kalo gitu." Satria pun memutuskan sambungan.
Dan benar saja begitu mobil yang Satria kendarai mendekat ke lobi, mata Satria menangkap Sasti yang tengah berbicara dengan seorang lelaki. Bahkan istrinya itu terlihat tertawa lalu memukul lengan lekaki tersebut.
Seperti disulut api, d**a Satria terasa terbakar melihat pemandangan tersebut.
"Tiin!!" Satria menekan klakson begitu mobilnya berhenti di depan Sasti. Entah untuk apa, menandakan kalau dirinya sudah di lobi? Memangnya Satria ini supir mobil online? Sasti kan sudah mengenali mobil yang dia pakai, bahkan Sasti juga hapal nomor polisinya.
"Duluan yaa mas." Sasti melambaikan tangannya ke lelaki itu sebelum masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.
"Itu siapa?" tanya Satria tanpa menutupi rasa ketidaksukannya.
"Mas Remi." jawab Sasti santai. "Kamu ngapain sih tadi klakson-klakson begitu?" tanya Sasti kemudian.
"Remi siapa?" Satria malah balik bertanya.
"Itu kasubdit listrik tenaga air." jawab Sasti sambil memasang seat belt-nya.
"Kamu engga pulang ya?" tanya Sasti saat menyadari kalau Satria masih mengenakan bajunya tadi pagi.
Satria menggeleng.
"Terus engga mandi??" tanya Sasti lagi.
Satria kembali menggeleng.
"Kok jorok sih Sat?"
Satria hanya melirik datar ke arah Sasti lalu kembali menatap lurus ke arah jalanan yang ada di depannya.
Sasti menatap Satria, ada yang aneh. Kalau Sasti mengatainya jorok biasanya Satria akan membalasnya dengan sebuah lelucon.
Seperti, jorok tapi cinta kan? atau jorok tapi kamu sayang kan?
Bukannya diam seperti ini.
Sasti terdiam mencoba memikirkan sesuatu hingga......
"Kamu cemburu?" tanya Sasti dengan mata yang mengerling nakal.
"Jadi Sat Sat cemburu sama mas Remi?" Sasti kembali menggoda Satria sambil mengelus dagunya.
"Ihh apaan sih.." Satria menjauhkan tangan Sasti dari wajahnya. Mendengar Sasti memanggil lelaki itu dengan embel-embel mas membuat Satria semakin kesal.
"Cuma bercanda biasa aja Sat, masa cemburu sih?"
"Siapa yang cemburu sih, orang biasa aja." Satria menengok ke arah Sasti dengan tatapan malas tapi kemudian tersenyum lebar lalu kembali menatap lurus ke jalan.
Melihat suaminya yang sedang merajuk membuat Sasti tertawa.
Dan tawanya Sasti membuat Satria semakin... kesal.
"Aku bersyukur banget, ternyata suamiku ini cinta banget sama aku." Sasti mendekatkan bibirnya ke pipi Satria, dan..... cup!
Sasti mengecup pipi Satria.
"Sering-sering cemburu kayak gini Sat, lucu tau lihatnya." bisik Sasti ditelinga Satria lalu kembali tertawa.
--
Sepertinya Satria benar-benar tidak menyadari kalau p****t celananya itu kotor. Bahkan Sasti yang berjalan di samping Satria juga tidak ngeh kalau saja dirinya tidak sengaja menjatuhkan kunci mobil yang akan dimasukkan ke dalam tasnya.
Saat akan menunduk untuk mengambil kunci mobil tersebut barulah Sasti melihat kalau p****t celana suaminya itu berwarna merah kecoklatan.
"Sat.." panggilan Sasti membuat Satria menoleh.
"Kamu abis duduk dimana sih??" tanya Sasti.
Satria terlihat bingung dengan pertanyaan Sasti, ia pun mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah dia lakukan.
"Ohh.. tadi aku ke tempat Ayesh. Kenapa emang?" tanya Satria.
"Kamu duduk disana engga pake alas??"
Satria menganggukkan kepalanya. Sedangkan Sasti menggeleng pelan dan berdecak.
"Kotor banget itu p****t celananya." ucap Sasti.
Satria menengokkan kepalanya ke belakang mencoba melihat seberapa kotor celananya. Dan ia cukup kaget saat melihat betapa kotor celananya itu.
"Beli celana dulu deh..." Satria pun memutuskan untuk masuk ke salah satu store pakaian.
Sasti pikir membeli satu celana yang akan langsung digunakan itu tidak akan memakan waktu lama. Tapi pikirannya salah, Satria tengah mengambil celana ke sembilannya.
"Sat, ngambil celananya banyak banget sih?" tanya Sasti saat melihat tangan Satria yang hendak terulur untuk mengambil celana kesepuluh.
"Kan harus coba mana yang enak, yang." ucap Satria lalu menyerahkan celana ke sepuluhnya itu ke tangan pramuniaga yang membawa celana-celana pilihan Satria.
Sasti melipat tangannya ke depan d**a, kepalanya terus menggeleng berulang kali tanda tidak suka dengan sikap Satria.
Jam makan siangnya dihabiskan hanya untuk membeli sepotong celana batin Sasti saat melihat jam yang menunjukkan pukul setengah satu.
"Yang ini bagus engga?" tanya Satria saat membuka pintu ruang fitting pakaian.
Sasti menatap Satria dari pinggang hingga ke ujung kaki. Celana jeans berwarna abu-abu muda yang panjangnya hanya sebetis.
Lalu menggelengkan kepalanya.
Tidak puas dengan jawaban istrinya Satria kembali masuk ke ruang fitting untuk mencoba celana yang lain. Begitu terus hingga celana yang ke sepuluh.
"Menurut kamu yang mana?" tanya Satria lagi.
"Yang celana selutut aja, kan kamu pake kaos doang sekarang. Selutut yang warna navy." jawab Sasti.
"Gitu ya?" tanya Satria lagi sambil memandang cermin yang memantulkan dirinya yang sedang mengenakan celana jeans panjang berwarna dark blue. Hitam bukan biru dongker juga bukan, menurut Sasti saat melihat warna celana tersebut.
"Atau celana yang warna coklat aja ya, yang?" tanya Satria mencoba meminta pendapat Sasti.
"Yang Navy! Buruan ganti celana yang itu, aku laper!!" ucap Sasti memasang wajah datar. Sudah cukup Satria mencoba celana-celana tersebut.
Dia ingin makan sekarang!
--