Malam tidak pernah benar-benar gelap bagi Kael Noire.
Di bawah cahaya bulan yang menggantung tipis, hutan di pinggiran Roma terbentang seperti peta yang terbuka di hadapannya. Setiap bayangan pohon, setiap gerak dedaunan, bahkan detak jantung hewan kecil yang bersembunyi di balik semak sekalipun terdengar jelas di telinganya.
Bisa dibilang itu keuntungan kecil dari hidup terlalu lama. Walau saking lamanya waktu sampai kehilangan artinya.
Sudah ratusan tahun sejak dunia terakhir kali berhasil mengejutkannya. Dan malam ini, seperti banyak malam lainnya—semua terasa membosankan.
Kael berjalan tanpa tujuan, sepatu hitamnya hampir tidak menimbulkan suara di tanah lembap. Ia bahkan tidak tahu mengapa dirinya berada di hutan seperti ini. Sekadar bergerak, mungkin. Sekadar mengisi kebosanan.
Lalu ia mendengarnya. Suara yang tidak seharusnya ada di tempat seperti ini. Didengarnya lebih jelih lagi. Sebuah erangan tertahan.
Kael berhenti.
Ia mengangkat alis. Tidak salah lagi—itu suara rintihan manusia kesakitan.
Merepotkan.
Kael sebenarnya bisa pergi saja. Ia bahkan sudah hampir melakukannya. Satu langkah ke arah berlawanan sudah ia ambil ketika erangan itu terdengar lagi—lebih lemah, lebih putus asa.
Ia menghela napas pelan. “Dasar manusia!”
Dengan sedikit rasa kesal, Kael berbalik. Ia bergerak mengikuti sumber suara, melangkah melewati semak hingga akhirnya berhasil melihatnya.
Seorang wanita tergeletak di tanah. Dress hitam yang ia kenakan terlihat mahal—potongannya elegan, seperti seseorang yang lebih terbiasa berada di restoran mewah daripada di tengah hutan seperti ini. Rambutnya yang gelap menempel pada wajah yang pucat oleh keringat. Satu tangannya menekan perutnya. Tangan lainnya menggenggam pistol.
Kael berhenti beberapa meter darinya. “Menarik.” Batinnya.
Wanita itu tidak muda lagi, mungkin akhir tiga puluhan. Namun parasnya masih sangat cantik—jenis kecantikan yang matang dan tajam. Bahkan dalam keadaan seperti ini, ada sesuatu yang tegas di garis rahangnya. Dengan perut yng sangat besar.
“Ah,” Kael akhirnya mengerti. “Persalinan,” gumamnya pelan.
Wanita itu sepertinya baru menyadari keberadaannya. Dengan panik Pistol di tangannya langsung diangkat meski tangannya gemetar. “Jangan—mendekat.” gertaknya. Suaranya terdengar serak oleh rasa sakit.
Kael mengangkat kedua tangannya santai, sama sekali tidak terancam oleh pistol kecil itu. “Tenang saja,” katanya datar. “Kalau aku berniat membunuhmu, kau sudah mati bahkan sebelum sempat mengangkat mainanmu itu.”
Wanita itu menatapnya dengan napas terengah. Lalu tiba-tiba tubuhnya melengkung ketika kontraksi berikutnya datang. Jeritan pendek lolos dari bibirnya.
Kael mengalihkan pandangannya sejenak ke langit.
Ini bukan urusannya. Ia bisa pergi. Manusia mati setiap hari. Ia sudah melihatnya ribuan kali selama berabad-abad.
Namun sebelum ia sempat benar-benar berbalik, sesuatu yang lain mencapai telinganya. Suara langkah kaki. Terdengar banyak sekali. Mungkin satu pleton? Jumlah yang cukup untuk mengepung seekor serigala besar dan melumpuhkannya dengan mudah.
Kael memiringkan kepala. Dari arah utara hutan, derap kaki manusia terdengar semakin jelas—terburu-buru, seperti seseorang yang sedang mengejar sesuatu.
“Ah. Jadi dia sedang diburu?” Ia berspekulasi.
Ia kembali menatap wanita itu. Itu menjawab semuanya. Bagaimanapun, tidak mungkin wanita sepertinya berkeliaran di hutan tengah malam begini, apalagi dengan kondisi perut besarnya dan membawa senjata. Tidak sulit menebak jenis kehidupan apa yang ia jalani.
Wanita itu juga mendengar suara itu. Wajahnya memucat. “Tolong…” bisiknya separuh panik, separuh pasrah.
Kael menatapnya beberapa detik, lebih lama dari yang seharusnya. Lalu ia mendesah panjang, jelas tidak senang pada dirinya sendiri. “Baiklah.”
Ia berjalan mendekat dan berlutut di samping wanita itu.
Wanita itu menegang ketika Kael menyentuh pergelangan tangannya. Memeriksa denyut nadinya yang berlarian cepat.
Kael mengamati perutnya sebentar. “Kontraksinya sudah dekat,” katanya tenang. “Bayi itu tidak akan menunggu sampai rumah sakit.”
Wanita itu menatapnya dengan putus asa. “Apa Kau… dokter?”
Kael nyaris tertawa. Jika ia menjawab dengan jujur—bahwa ia vampir berusia ratusan tahun yang menghabiskan hidupnya berkeliaran tanpa tujuan—wanita ini mungkin akan pingsan sebelum melahirkan.
Maka, diberikannya hanya jawaban “Ya,” dengan singkat. Tidak sepenuhnya bohong. Ia sudah menjadi banyak hal selama hidupnya.
Wanita itu menggertakkan gigi ketika rasa sakit berikutnya menghantamnya.
“Dengarkan aku,” kata Kael dengan nada yang tiba-tiba berubah lebih tegas. “Jika kau ingin anakmu hidup, kau harus mengikuti apa yang kukatakan.”
Wanita itu mengangguk patuh. Malaikat atau iblis—dia tidak peduli lagi—yang terpenting adalah bayinya.
Kael melepas mantelnya dan menaruhnya di tanah sebagai alas. Gerakannya cepat, efisien—tubuhnya bekerja hampir otomatis, memanfaatkan semua pengetahuan yang pernah ia kumpulkan selama berabad-abad.
Namun ada satu hal yang membuatnya harus menahan diri. Bau darah.
Aroma itu membangunkan sisi primal dalam dirinya. Seperti binatang yang terbangun dari tidur panjang. Taringnya bahkan diam-diam sudah mencuat. Ia menunduk, mencoba menyembunyikannya.
Kael menutup matanya sebentar.
Sial! Kendalikan dirimu.
Ia sudah hidup cukup lama untuk menguasai banyak hal. Namun soal darah—dia benar-benar harus berperang mati-matian dengan dirinya.
Ketika matanya terbuka kembali, warna amber di sana menyala semakin gelap.
“Baik,” katanya. Suaranya nyaris terdengar seperti desisan. “Sekarang tarik napas.”
Wanita itu menjerit ketika kontraksi besar datang. Kael memegang bahunya, menjaga suaranya tetap stabil. “Dorong.”
Beberapa menit berikutnya berlalu didominasi campuran napas terengah, aroma tanah basah, dan darah yang semakin banyak.
Kael bekerja layaknya tenaga medis profesional. Meski tak bisa dipungkiri tubuhnya mulai gemetar—menginginkan darah yang meluap di hadapannya.
Hingga akhirnya—
Tangisan bayi menggema memecah keheningan hutan. Suara kecil itu terdengar begitu hidup di tengah malam yang gelap.
Kael mengangkat bayi yang baru lahir itu dengan hati-hati. Seorang bayi perempuan. Dia begitu kecil dan merah. Berteriak dengan kekuatan yang mengejutkan.
Ia menatap wajah kecil itu beberapa detik. Aneh. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa… tenang. Sekelebat euforia bahkan meledak dalam dirinya. Sangat singkat. Membekas, meninggalkan perasaan yang tidak bisa ia namai.
Kael mengerutkan alis, tapi sensasi itu sudah lenyap sebelum sempat ia pahami. Ia menyerahkan bayi itu pada ibunya.
Wanita itu memeluk anaknya dengan napas gemetar, air mata bercampur keringat di wajahnya. “Terima kasih…” bisiknya.
Kael berdiri. Derap langkah di kejauhan semakin dekat.
“Ada rumah sakit sekitar dua kilometer dari sini,” katanya singkat. “Ikuti jalan setapak ke timur.”
Wanita itu menatapnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia urungkan. Sesaat ketika ia hendak mengangkat kepalanya—Kael sudah tidak ada.
***
Pintu kayu besar kastil itu terbuka dengan bunyi berat yang menggema ke seluruh aula. Kael melangkah masuk tanpa tergesa.
Bangunan itu didominasi langit-langitnya tinggi, dipenuhi bayangan pilar dan lukisan-lukisan tua yang warnanya mulai memudar dimakan zaman.
Pintu tertutup sendiri di belakangnya ketika sesuatu bergerak dari balkon lantai dua. Seekor gagak hitam besar mendarat di pagar batu. Burung itu menoleh padanya. Lalu ia memiringkan kepalanya—seolah tertarik dengan temuannya. Kemudian ia mengendus udara.
Keheningan masih senantiasa mendominasi. Lantas sekonyong-konyong gagak itu mengeluarkan suara seperti mendecak.
“Ah.”
Suara itu berubah menjadi suara manusia ketika tubuh burung itu jatuh ke lantai aula dan berubah di antara remang-remang kastil. Sayap-sayap hitamnya terlipat menjadi mantel panjang. Bulu-bulunya berubah menjadi rambut hitam kusut agak ikal.
Sedetik kemudian seorang pria berdiri di sana.
Casimire. Atau yang lebih sering Kael panggil: Caz.
Pria itu bersandar santai pada tiang sambil menatap Kael dari atas sampai bawah dengan senyum yang jelas terlalu berani untuk ukuran seorang pelayan.
“Hm,” gumamnya. “Aku baru saja akan bertanya bagaimana malam Tuan…” Ia mengendus udara lagi dengan dramatis. “…tapi sepertinya aku sudah mendapat jawabannya.”
Kael tidak menoleh. Ia berjalan melewati aula menuju tangga batu dengan ekspresi datar. Sementara Caz melompat turun. Ia mendarat dengan ringan di lantai tepat di depan Kael, menghalangi jalannya.
Matanya menyipit penuh kejahilan. “Darah manusia,” katanya sambil menunjuk hidungnya sendiri. “Masih segar.”
Ia bersiul pelan. “Wah!”
Kael akhirnya berhenti berjalan dan menatapnya dengan tatapan datar yang sudah sangat dikenal Caz selama berabad-abad. Caz mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah.
“Aku hanya terkejut, itu saja.” Ia berjalan mengitari Kael seperti detektif yang sedang memeriksa barang bukti.
“Bukankah Tuan Noire yang agung ini sudah bersumpah untuk menjadi vampir paling mulia di muka bumi?” katanya dengan nada serius yang jelas dibuat-buat. “Tidak membunuh manusia. Tidak minum darah manusia.”
Ia berhenti tepat di depan Kael lagi. Senyum jahilnya makin lebar. “Ah, ya. Vampir vegetarian.”
Ia bertepuk tangan pelan. Seolah berhasil mengingat sesuatu yang penting.
“Konsep yang masih membuatku ingin tertawa setiap kali mengingatnya.” imbuhnya.
Kael melewatinya begitu saja menuju tangga. Tak bereaksi berlebihan. “Aku tidak makan siapapun.”
Caz mengikuti di belakangnya dengan langkah santai. “Tentu saja tidak,” katanya cepat. Terdengar seperti ledekan. “Kau berteman dengan mereka. Aku tau kok.”
Ia kembali mengendus udara dengan dramatis. “Lalu aroma darah manusia yang menempel di seluruh tubuhmu ini—biar kutebak—Parfum baru, kan?”
Kael menaiki dua anak tangga sebelum akhirnya berhenti. Sekonyong-konyong ia melempar tatapan tajam ke Caz. Membuat pria itu segera mengangkat tangan pura-pura menyerah. Cengiran konyol turut hadir setelahnya.
“Santai dong! Galak banget, deh.” Kata Caz cengengesan. “Aku kan cuma menjalankan tugasku memastikan kau tidak membawa pulang virus berbahaya.”
Kael tidak langsung membalas. Namun helaan napasnya terdengar kemudian. Lantas, tau-tau ia membalas dengan, “Persalinan.”
Caz yang tadi masih cengengesan mendadak berhenti di tempatnya. “...Apa?”
Ia menatap punggung Kael, lalu mengendus udara lagi seolah hidungnya tiba-tiba rusak. “Sebentar.” Caz mempercepat langkah menyusulnya. “Kau bilang apa tadi? persalinan?”
Kael terus berjalan tanpa menoleh. Diamnya adalah jawaban untuk Caz.
“Oke. Itu terdengar bukan kamu banget tapi—” Caz tiba-tiba bertepuk tangan. “Astaga! Itu keren.” Decaknya kegirangan. “Apa dia cantik?”
“Bukan urusanmu.” Balas Kael dingin.
“Itu artinya dia cantik.” Caz mengedik bahu santai. Ia terus mengekori Kael. “Laki-laki atau perempuan bayinya?”
“Tidak penting.”
“Penting. Siapa tau dia itu—”
Kalimat Caz tidak tuntas, keburu diserobot Kael. “Caz?”
“Ya?”
“Mau menelan batu atau dipotong paruhnya?”
Oke. Kael mulai muak. Caz bungkam otomatis dengar ancaman itu.
Namun bukan Caz namanya kalau cuma diam saja. Begitu mereka mencapai ujung tangga Caz kembali bersuara.
“Tapi serius deh! Jadi dokter kandungan itu keren.” Kata Caz antusias. “Profesi itu cocok untukmu. Atau—” Caz menyeringai jahil. “—Sebutan yang cocok itu… bidan hutan.”
Kael berhenti. Sepersekian detik mematung. Lantas perlahan menoleh pada Caz. Tatapan amber itu jatuh tepat padanya—dingin, tidak bersahabat, dan biasanya menjadi pertanda buruk.
Caz refleks mundur selangkah.
“Whoa—oke, oke.” Ia mengangkat kedua tangan cepat. “Aku tarik lagi. Bukan bidan hutan.” Ia mundur satu langkah lagi, mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Tidak perlu langsung menyerang juga—”
“Kau benar. Aku cocok jadi dokter.”
Balasan itu bikin Caz terbengong-bengong.
“HAH???”
“Kelahiran dan kematian akan selalu beriringan. Aku tidak boleh melewatkan keduanya.”
“KAU GILA??”
***