Bangun pagi dan migrain, sepertinya sudah jadi rutinitas bagi Aeris. Terbangun dengan suara-suara ribut—kalau tidak tangisan bocah, ya suara jeritan, atau bahkan gedoran. Seolah-olah para penghuni rumah ini tidak akan membiarkan Aeris bangun layaknya princess yang anggun. Boro-boro bangun cantik terus ngopi di teras menikmati matahari Roma—nggak kebagian jadi zombi saja sudah untung.
Dengan langkah gontai, sambil menekan pelipisnya yang berdenyut, Aeris mendekati sumber gedoran. Semalam dia begadang bikin laporan—belum sempat dua jam tidur, malah dibangunkan dengan cara ekstrem.
“Tan—teeeee!!!”
Gedoran itu makin brutal. Aeris buru-buru membuka pintu dengan wajah datar level dewa kesabaran yang terusik.
Dua bocah sudah berdiri di sana. Rambut mereka acak-acakan dengan mata bulat penuh tuntutan, dan energi yang terlalu besar untuk ukuran manusia kecil.
“Papa nggak ada!” yang lebih besar menunjuk ke arah kamar orang tuanya.
“Mama juga!” yang kecil ikut menimpali, nadanya setengah panik. Di kepalanya bahkan sudah tercetus adegan menakutkan: orang tuanya diculik tikus super besar dan disekap di lubang tanah. Otomatis membuat dia jadi makin panik sekarang.
Aeris menatap mereka beberapa detik. Otaknya yang masih loading pelan-pelan mulai menyusun fakta.
Pagi yang sunyi dan mencurigakan. Dua anak berkeliaran tanpa pengawasan.
Oh!
Aeris menghembuskan napas panjang. Sudah pasti alasannya karena ‘itu’. Apa lagi jika bukan. Eros dan Athena tidak mungkin meninggalkan dua bocah ini hanya untuk olahraga keliling kompleks sepagi ini. Satu-satunya jenis olahraga yang masuk akal untuk mereka adalah berkeringat bersama. Dan itu tidak mungkin dilakukan di dekat para bocil mereka.
“Lagi bikin adik baru, paling.” jawabnya asal.
Kedua bocah itu langsung diam. Mereka saling pandang. Kepanikan otomatis berubah jadi kebingungan.
“Bikin… adik?” Aaron mengerutkan dahi. Tampak berpikir keras.
“Iya,” balas Aeris santai. “Nggak usah dicari.”
Mereka makin bingung. Jelas mereka belum siap secara mental untuk menerima informasi sepagi ini. Sudah begitu, Aeris terlalu malas menjelaskan.
Perempuan itu berbalik, menggendong si kecil tanpa aba-aba. Sementara bocah yang lebih besar ia gandeng.
“Daripada kalian muter-muter kayak anak ayam kehilangan induk, mending sarapan sama tante.”
“Aku mau pancake pakai syrup, pakai banyak topping, tante,” Aaron berbinar-binar. Dia sedikit melompat-lompat antusias yang dibalas anggukan oleh Aeris.
Sementara yang kecil tak mau kalah. Ia menarik hidung Aeris demi menarik perhatiannya. “Aku mau coklat, Onty.”
“Nggak ada coklat. Coklatnya udah dimakan dinosaurus.”
Aaron cekikikan mendengar itu. Sedangkan Asher—bocah yang lebih kecil—memiringkan kepala, berusaha mencerna. Mungkin di kepalanya yang ajaib itu dia sedang membayangkan bagaimana dinosaurus benar-benar menginvasi rumah dan mengambil alih semua persediaan coklat.
Aeris tidak berniat meluruskan imajinasi liar itu. Ia terlalu lelah untuk berdebat dengan logika anak usia dua tahun. Apalagi ini Eros versi sachet—sudah bisa dipastikan bagaimana absurdnya itu.
“Kalau mau coklat, cari dinosaurusnya sendiri.” katanya santai sambil menurunkan Asher di kursi.
Asher langsung menoleh ke sekeliling dapur dengan ekspresi waspada.
“Dino…?” bisiknya pelan, seolah makhluk itu benar-benar mengintai dari balik lemari.
Aaron malah makin semangat. “Kalau ketemu, aku tangkap! Aku pahlawan!”
“Iya, Pahlawan. Cuci tangan dulu.”
“Tapi aku udah bersih!”
“Kamu tadi ngupil.”
Aaron langsung diam. Perlahan menatap tangannya sendiri dengan ekspresi bersalah.
Asher menunjuk kakaknya dengan ekspresi jijik. “Che schifo! Ew!” (jorok banget, ew!)
“Aku nggak jorok!”
Asher memiringkan kepala. Senyum jahil terbit membelah parasnya. “Tapi Kamu makan upil.”
“Aku nggak makan!” Aaron bersikeras.
Aeris menutup mata sebentar. Migrainnya terasa berdenyut lebih kencang. Ia menarik napas dalam-dalam. Meletakkan tangan di pinggang. “Dua-duanya ke wastafel. Se-ka-rang.”
Lima menit kemudian, dapur resmi berubah jadi zona bencana.
Tepung bertebaran di meja. Telur pecah entah bagaimana bisa sampai ke lantai. s**u hampir tumpah karena Asher bersikeras menuang sendiri dengan tangan kecilnya.
“Aku bisa! Aku bisa!”
Aeris memutar mata. “Iya, kamu bisa bikin berantakan.”
“Ini bukan berantakan. Ini s**u jatuh.”
“Bedanya apa?”
Asher berpikir. Lalu mengangkat bahu polos. “Sama saja.”
Aaron di sisi lain sedang sibuk mengaduk adonan dengan semangat berlebihan. Setengah adonan berhasil keluar dari mangkuk. Menciprat kemana-mana.
“Tante lihat! Ini kayak lumpur!”
“Itu memang hampir jadi lumpur.”
“Aku mau main!”
Aeris menghela napas. Tersenyum sabar padanya. “Kalau kamu main, kita bakal makan lumpur beneran.”
Aaron tertawa keras. Bukannya berhenti, dia malah sengaja mengaduk lebih cepat. Cipratan adonan mendarat di lengan Aeris. Membuatnya melotot.
Aaron langsung berhenti. “Hehe…”
Asher ikut menatapnya, lalu menunjuk lengan Aeris sambil cekikikan. “Onty jadi kue.”
“Iya. Tante sebentar lagi masuk oven juga.”
Asher terlihat berpikir serius. “Nanti tante jadi roti?”
“Kalau kalian nggak berhenti main-main, iya.”
Ajaibnya, setelah melalui perjuangan yang tidak masuk akal, pancake mereka akhirnya jadi. Bentuknya—yah, jangan ditanya—jelas tidak berbentuk. Tapi masih bisa disebut makanan.
Ketiganya kemudian duduk di meja. Aaron mendahului dengan langsung menuang syrup. Nahasnya itu terlalu banyak sampai hampir tumpah.
“Cukup!” Aeris berniat mengambil alih. Tapi Aaron bersikeras.
“Ini belum cukup!”
“Itu sudah cukup, Aaron. Kebanyakan gula bisa bikin gigimu ompong”
“Gigiku memang sudah ompong, Tante. Papa bilang itu normal untuk anak seusiaku.” Aaron nyengir. Memperlihatkan gigi depannya yang memang ompong.
Balasan polos Aaron sejenak membuat Aeris kehilangan kata-kata. Sial! Anak ini tidak hanya mewarisi kekonyolan ayahnya, tapi juga otaknya.
“Papamu bohong. Gigimu ompong karena banyak ulatnya. Ulat datang karena kebanyakan gula.”
Aaron malah cekikikan. “Setidaknya ulat itu tidak akan kelaparan.”
Obrolan dengan Aaron mengalihkan pengawasan Aeris dari Asher. Waktu dia kembali ke bocah itu, bocah berambut pirang itu sudah jadi manusia berselimut syrup.
Asher menatap tangannya, lalu menjilatnya. Matanya dipenuhi binar kepuasan. “Mm.. Enak!”
Aeris menyerah. Ia menyandarkan kepala ke tangan sambil menatap dua bocah di depannya. Helaan napas tak biasa langsung menarik perhatian Aaron. “Tante?”
“Hmm?”
“Kalau Mama lagi bikin adik…”
Aeris sudah merasa ini akan jadi pertanyaan berbahaya.
“…adik keluarnya dari mana?”
“…” Aeris speechless. Sepenuhnya bungkam.
Mendengar pertanyaan kakaknya, Asher ikut menatap penuh rasa ingin tahu. “Onty?”
Aeris menarik napas panjang. “Dari… toko.” jawabnya akhirnya.
“To-koooo?” Asher berkedip polos.
“Iya. Mama sama Papa beli.”
Untungnya keduanya langsung terlihat puas. Tiba-tiba Aaron punya gagasan bagus (baginya). “Aku mau beli dinosaurus!”
“Silakan. Kalau mau lihat semua stok coklat kita habis.”
Aaron cekikikan, tidak masalah dengan gagasan itu. Sementara Asher mengangkat tangan kecilnya. “Aku mau beli coklat.”
“Mau ngasih makan dinosaurus, hm?”
Asher langsung melihat ke sekeliling lagi dengan waspada. Aeris nyaris tertawa kalau saja kepalanya tidak terasa mau pecah.
Dan di tengah kekacauan itu—tau-tau Aaron sudah menghilang. Dan begitu dia kembali, dia cekikikan sambil memasang stetoskop milik ayahnya—yang entah dia dapat dari mana—di telinga. Berlaga seperti dokter sungguhan. Ia menekankan ujung stetoskop ke boneka buaya miliknya.
Sontak hal itu bikin Aeris membelalak. Otaknya otomatis bergerak seperti disentak, disadarkan oleh sesuatu. Sekonyong-konyong ia melihat jam.
08.30
“…” Aeris membeku. Lalu— “ASTAGA!”
Hari pertama koas di stase baru dan dia datang terlambat. Sempurna!
***
Aeris menapaki lorong IGD rumah sakit dengan napas tersengal. Sepasang mata hazelnya menatap sekeliling, mencoba membiasakan diri dengan kegaduhan yang menyergap.
Lampu sorot remang-remang berseliweran di depannya. Tabung oksigen dan mesin EKG berbunyi nyaring. Ia menatap sekitar, barulah tampilannya memantul di pintu kaca. Bajunya kusut dan sedikit berantakan. Noda adonan pancake bahkan masih tertinggal di lengan bajunya. Rambutnya masih acak-acakan.
Jangankan dandan, begitu lihat jam tadi dia langsung kalang kabut. Makanya tidak sempat bersih-bersih. Dengan tampilan begini, rasanya seperti buronan yang menyelinap masuk rumah sakit alih-alih calon dokter yang siap magang.
Langkah kaki Aeris semakin cepat saat mendengar pengumuman mendadak, “Code Blue!”
Suasana langsung mencekam. Segera dokter, perawat, dan petugas medis berlarian dengan alat-alat di tangan. Aeris pun terbawa arus. Ia melewati lorong panjang yang gemuruh, pintu steril tertutup otomatis, aroma desinfektan menusuk hidung, menyesakkan dadanya. Pikirannya berkecamuk, perasaanya campur aduk.
Di ujung koridor, terdengar suara sirine gawat. Di pintu ruang yang terbuka, Aeris tertahan terpukau. Di dalam sana, seorang pria berbaju dokter tengah berlutut di samping tempat tidur pasien. Bajunya terdapat noda darah mengering di bagian lengan dan dadanya—tertoreh seperti kanvas kekacauan.
Aeris sempat lupa bernapas.
Bukan karena pria itu tampan. Oke, itu bohong. Tentu saja tampan. Terlalu tampan, bahkan. Tetapi yang membuatnya tercekat bukan cuma wajahnya yang nyaris tidak sopan untuk ukuran seorang manusia—melainkan auranya. Dingin. Tenang. Menekan. Seperti seseorang yang bahkan tidak perlu menaikkan suara untuk membuat seluruh ruangan langsung berdiri lebih tegak.
Pria itu mengangkat kepala. Tatapan matanya jatuh tepat pada Aeris.Dan dalam sekejap, sesuatu di wajahnya mengeras.
“Who are you?”
Suara itu terdengar rendah dan tajam. Tidak berteriak, tapi cukup untuk membuat Aeris merasa seperti baru saja disiram air dingin.
Aeris berkedip. “Aeris Mo—Lunetta. Aeris Lunetta, Dok.” Nyaris saja ia memperkenalkan diri sebagai Moretti. Itu bisa jadi bencana. Masalah ini bakal langsung sampai ke telinga keluarganya—tidak ada yang tidak mengenal Moretti di kota ini.
Pria itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Aeris merasa seperti ditelanjangi terang-terangan. Ekspresi pria itu berubah makin dingin.
“Koas baru,” katanya pelan, seolah sedang mencicipi kalimat itu dan memutuskan rasanya tidak enak. “Datang terlambat.”
Aeris mengerjap. “Saya—”
“Jam berapa sekarang?”
Aeris refleks menoleh ke jam dinding. “08.45, Dok.”
“Dan jam berapa seharusnya kau datang, Miss Lunetta?”
Aeris menelan ludah susah payah. Jemarinya saling meremas ujung bajunya. “... 08.00, Dok.”
Kael melepas sarung tangannya yang berlumuran darah. Ia melangkah menuju Aeris. Setiap langkah terasa seperti hitungan mundur menuju pengeksekusian.
“Empat puluh lima menit.” Ucapnya dingin dan menusuk. “Apa kau tau berapa banyak orang mati dalam waktu selama itu?” Pria itu berdiri tepat sejengkal di hadapannya. Tingginya yang menjulang membuat Aeris spontan merasa kecil, dan ia benci fakta itu
Aeris menutup mulut. Untuk beberapa detik, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Bukan karena takut. Oke, sedikit takut. Tapi lebih karena pria ini memancarkan energi menakutkan—aura membunuh, katakan saja begitu.
“Jawab aku, Miss Lunetta.” Tuntutnya. “Aku yakin mulutmu itu masih berfungsi normal. Kecuali jika pita suaramu jatuh entah dimana—terlupakan seperti kau melupakan waktu.”
“Maaf, Dok.”
“Maaf tidak akan mengembalikan waktu.” Matanya menatapnya lagi—begitu tenang namun tanpa belas kasihan. “Apalagi kalau kau memilih datang dengan penampilan seperti habis bergulat dengan anak kecil dan tepung.”
Itu memang benar. Aeris tidak bisa menyangkal. “...Saya memang habis bergulat dengan anak kecil dan tepung.”
Untuk pertama kalinya, sesuatu yang nyaris menyerupai emosi melewati wajah pria itu. Bukan terhibur. Bukan juga simpati. Lebih seperti ketidakpercayaan murni.
Di belakangnya, seorang perawat menyela dengan nada hati-hati, “Dokter Kael, pasien mulai stabil. Kami sedang menunggu tindakan lanjutan.”
Kael.
Jadi begitu namanya.
Nama itu cocok untuknya. Singkat, dingin, tajam. Sama sekali tidak ramah. Aeris langsung paham kenapa orang-orang di rumah sakit sepertinya menahan napas di dekatnya. Dia lebih seperti malaikat pencabut nyawa alih-alih penyelamat nyawa.
Kael tidak membuang waktu.
“Bawa pasien ke ruang tindakan. Kita lanjutkan evaluasi.” Suaranya tenang, tapi setiap kata terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditawar.
Brankar segera didorong. Tim bergerak cepat.
Aeris masih berdiri di tempatnya.
“Miss Lunetta.”
Nada panggilan itu membuatnya refleks menegakkan badan. “Ya, Dok.”
“Kalau kau berniat hanya berdiri dan menonton, lebih baik keluar.” Tatapan Kael menusuk. “IGD bukan bioskop.”
Aeris mengatupkan rahang.
Baik.
Kalau ini neraka—
dia sudah tahu siapa iblisnya.
***