Konon departemen bedah menjadi bagian paling krusial di rumah sakit ini. Di sinilah garis tipis antara hidup dan mati paling sering dipertaruhkan—bukan dalam hitungan hari, tapi detik.
Orang-orang datang dalam kondisi nyaris habis. Tubuh remuk. Organ gagal. Darah keluar lebih cepat daripada yang bisa digantikan. Dan para dokter di sini bukan sekadar menyembuhkan. Mereka bertaruh melawan waktu.
Ada banyak jenis dokter bedah. Bedah umum misalnya. Lalu Bedah ortopedi dan bedah saraf. Tapi di antara semuanya, ada satu unit yang punya reputasi paling “liar”.
Trauma.
Unit trauma adalah tempat semua kekacauan berkumpul. Mulai dari Kecelakaan lalu lintas, luka tembak, ledakan, bahkan jatuh dari ketinggian. Semua yang datang tentu saja tanpa janji, tanpa persiapan, tanpa aba-aba—tiba-tiba datang dalam kondisi gawat.
Dan kalau ada satu nama yang selalu disebut setiap kali kata “trauma” muncul—Itu adalah Kael Noire. Rumor tentangnya beredar hampir seperti legenda urban di rumah sakit.
Katanya, dia tidak pernah panik. Katanya, dia bisa menentukan prioritas pasien hanya dengan sekali lihat—mana yang harus diselamatkan dulu, mana yang tidak punya harapan. Katanya, dia pernah menyelamatkan pasien yang secara teknis sudah mati selama beberapa menit.
Dan yang paling sering dibisikkan—kalau Kael sudah turun tangan, pasien itu akan hidup. Atau dipastikan mati dengan cepat. Tidak ada tengah-tengah.
Aeris baru berada di departemen ini kurang dari satu jam. Dan dia sudah ingin pindah saja.
Ia berdiri di sudut ruang trauma, berusaha mengecilkan keberadaannya di tengah hiruk-pikuk yang tidak ada jeda. Suara monitor jantung berdetak cepat. Perawat bergerak tanpa henti. Instruksi dilontarkan dengan singkat, tajam, tanpa pengulangan.
Semua orang tahu apa yang mereka lakukan. Kecuali dia.
“Miss Lunetta.”
Suara itu menyentak Aeris. Ia langsung menegang begitu menyadari sang sumber suara. Dan benar saja, begitu Ia menoleh. Kael sudah berdiri tidak jauh darinya. Entah sejak kapan. Tatapan amber itu jatuh padanya—dingin, menilai, seperti pisau yang siap melesat ke arahnya kapan saja.
“Ya, Dok?”
“Kalau kau ingin belajar, mendekat.” suaranya datar. “Kalau tidak, pintu keluar ada di belakangmu.”
Aeris mengatupkan rahang. Dengan langkah gugup Ia mendekat. Apapun yang terjadi dia tidak akan mundur.
Pasien laki-laki di atas meja operasi tampak kacau. Darah membasahi perban darurat di bagian perutnya. Napasnya tidak stabil. Monitor menunjukkan tekanan darah yang turun.
“Laporan,” pinta Kael tanpa melihat.
“Pria, 32 tahun, kecelakaan lalu lintas,” jawab seorang residen cepat. “Diduga trauma abdomen. Tekanan darah 80 per 50, nadi 130. Ada tanda syok hipovolemik (kehilangan darah).”
Kael mengangguk tipis. “FAST?”
“Positif, Dok. Ada cairan bebas di rongga perut.”
Aeris menelan ludah. FAST atau Focused Assessment with Sonography for Trauma adalah USG cepat untuk mendeteksi perdarahan dalam. Itu berarti satu hal. Pasien ini sedang berdarah di dalam tubuhnya sendiri.
“Siapkan laparotomi (Operasi buka perut).” Perintah Kael dengan cepat dan tegas. Aeris tak melihat keraguan setitikpun di sana.
Aeris berdiri di sisi meja, jantungnya berdetak tidak karuan. Ini pertama kalinya dia melihat kasus seberat ini dari jarak sedekat ini.
Sementara itu Kael sudah bersiap. Sarung tangan steril dan masker sudah terpasang. Matanya berubah menjadi semakin fokus—kelihatan semakin tajam dan… dingin. Seperti semua emosi lain dimatikan secara otomatis.
“Miss Lunetta.” Panggilnya, yang otomatis menyentak lamunan Aeris.
“Ya?”
“Jika pasien syok hipovolemik, apa prioritas awalnya?”
Pertanyaan itu datang seperti tembakan. Aeris membuka mulut—lalu menutupnya lagi. Kepalanya otomatis berputar sangat keras demi menemukan jawaban. “Resusitasi cairan… dan kontrol perdarahan,” jawabnya akhirnya. Kedengaran agak ragu.
“Hanya itu?”
Aeris merasa tenggorokannya kering. “Airway… breathing… circulation.”
“Urutannya?”
“… Airway, breathing, circulation.”
“Dan apa yang kau lihat di sini?”
Aeris menatap pasien. Darah. Monitor. Napas cepat. Hanya itu. Yang kepikiran di otaknya hanya, “Tampaknya dia… masih bernapas—”
“Tampaknya?” potong Kael tajam. Tidak puas dengan jawaban asal ceplos Aeris.
Aeris terdiam. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya. Setiap tekanan dan pertanyaan—apalagi di tempat seperti ini—membuat kepalanya mendadak blank. Setiap yang dia pelajari mendadak kabur entah kemana.
“Observasi, bukan asumsi.” tekan Kael. “Di sini kita tidak punya kemewahan untuk menebak, Miss Lunetta. Satu detik keraguanmu—pasien mati sebelum itu.”
Panas menjalar ke wajah Aeris. Perutnya mendadak bergejolak. Di sekelilingnya, beberapa perawat saling melirik. Tidak ada yang tertawa. Tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa… Dia sedang dipermalukan.
Di depan semua orang.
“Scalpel.”
Segera alat bedah diserahkan. Tanpa ragu, Kael membuat sayatan pertama. Gerakannya cepat dan presisi. Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Darah langsung mengucur. Aeris refleks menahan napas.
“Retractor.”
“Clamp.”
Instruksi mengalir tanpa jeda.
“Perdarahan aktif di kuadran kanan atas,” kata Kael. Ia bergerak lebih dalam. “Liver laceration… grade tiga.” gumamnya.
Aeris menelan ludah susah payah. Kondisi itu—hati robek. Itu buruk.
“Hisap.” Pintanya singkat. Suction bergerak, menyedot darah.
Lapangan operasi menjadi lebih jelas. Kael dapat melihat organ atau pembuluh darah yang sedang ditangani dengan sangat jelas tanpa terhalang cairan.
Pria itu bekerja seperti seseorang yang sudah melakukan ini… terlalu sering. Sangat lihai. Sampai-sampai kalau ada yang bilang dia ini prodigy, Aeris akan menyetujuinya. Operasi sulit tak ubahnya kegiatan yang mudah—kelihatannya.
“Miss Lunetta.”
Aeris menegang lagi. Entah sudah berapa kali Aeris nyaris kena serangan jantung karena panggilan mendadak kael.
“Iya, Dok?”
“Kalau perdarahan hati seperti ini, apa yang kau lakukan?”
Aeris menatap luka itu. Otaknya berusaha keras menemukan jawaban. “Packing… untuk menekan perdarahan?” Dia kedengaran tidak yakin.
“Lanjut.” balas Kael. Aeris sedikit bernapas lega. Untungnya dapat menerima itu.
“Ligasi pembuluh darah yang robek…” lanjutnya.
“Dan?”
Aeris diam. Tiba-tiba kosong. Dia tidak menemukan jawaban lain. Otaknya mendadak mandek. Ia meremas buku catatan di tangannya. Menatap Kael dengan takut-takut.
Kael tidak langsung bicara. Ada hening beberapa detik—yang terasa seperti hukuman. “Kalau kepalamu kosong, isi. Jangan bawa kekosongan itu ke meja operasi.” Katanya akhirnya. Lebih terdengar seperti sarkasme.
Meski dia tidak terlihat marah. Bahkan ekspresi wajahnya tetap datar bak tembok—tidak ada variasi rona apapun. Tapi itu jauh lebih menyakitkan.
Beberapa menit berikutnya berlalu dalam keheningan yang hanya diisi suara alat dan instruksi singkat. Lalu perlahan… Monitor berubah. Detak jantung terlihat lebih stabil. Tekanan darah juga mulai naik.
Setelah semua ketegangan dan kerumitan yang terjadi… Pasien bertahan.
Aeris menatap itu dengan campuran kagum dan tidak percaya. Kelegaan menyusup ke rongga dadanya. Bagaimanapun dia baru saja melihat seseorang yang hampir mati. Lalu seperti ditarik kembali.
Kael melepas sarung tangannya. “Catat kasusnya.” katanya tanpa melihat Aeris.
“Baik, Dok.”
Pria itu berbalik, hendak pergi—lalu berhenti. Sejenak, tatapannya kembali jatuh pada Aeris. “Kau masih di sini.”
Itu bukan pertanyaan. Lebih seperti penilaian.
Aeris mengangkat dagu sedikit. Pulpen di tangannya otomatis berhenti bergerak. “Saya belum selesai belajar, Dok.”
Hening sepersekian detik. Lalu—“Jangan memperlambat tim.” balas Kael.
Tak cukup dengan itu, sebelum pergi, ia kembali menambahkan, “Aku tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi aku tidak akan kehilangan pasien karena kebodohan.”
Aeris berdiri mematung di tempatnya. Jantungnya masih berdebar. Dan satu kesimpulan muncul di kepalanya, jelas dan tidak terbantahkan—
Dokter Kael Noire adalah manusia paling menyebalkan yang pernah ia temui.
…dan juga yang paling berbahaya.
***