Aeris bahkan tidak ingat bagaimana ia keluar dari ruang operasi. Yang ia tahu, kakinya terus melangkah cepat—lalu makin cepat—hingga akhirnya ia mendorong pintu kamar mandi dengan tenaga berlebihan. Pintu itu terjeblak kasar. Buru-buru ia menerobos masuk.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia langsung jatuh berlutut di depan kloset.
“Ugh—”
Asam lambung naik tanpa ampun. Tenggorokannya perih. Dadanya sesak. Ia muntah dengan tubuh gemetar, satu tangan mencengkeram pinggiran kloset, tangan lain menahan rambutnya yang jatuh berantakan.
Bau antiseptik bercampur dengan rasa pahit di mulutnya. Lalu, bayangan darah di meja operasi tadi masih jelas di kepalanya. Membuatnya makin mual hebat.
“Tarik napas,” bisiknya pada diri sendiri, napasnya terputus-putus. “Tarik napas.”
Ia mencoba terus. Tapi gagal. Gelombang mual kedua datang tak kalah hebatnya. Ia kembali memuntahkan isi perutnya.
Beberapa menit kemudian, hanya suara napasnya yang tersisa. Lemah dan tidak teratur.
Aeris menyandarkan punggung ke dinding kamar mandi. Dingin keramik meresap sampai ke tulang. Lututnya ditarik mendekat ke d**a. Tangannya gemetar.
Ini… terlalu berat. Baru beberapa jam. Dan dia sudah hancur begini.
Matanya terasa panas. Lalu, tanpa bisa dicegah air matanya jatuh. Awalnya pelan. Kemudian berlanjut tidak bisa berhenti.
“Aku nggak bisa,” bisiknya lirih, suaranya pecah. “Aku nggak sanggup.”
Suara Kael terngiang di kepalanya.
Jangan menebak. Otakmu dipakai, bukan dipajang.
Jawab aku, Miss Lunetta—atau kau memang tidak punya jawaban?
Kalau setiap kali ditanya kau kosong, mungkin kau salah tempat.
Setiap kalimat terasa seperti ditusuk ulang ke dalam kepalanya.
Ia menggeleng pelan, seolah bisa mengusir semuanya. Tapi tidak bisa. Yang muncul justru lebih banyak. Ruang operasi. Darah. Monitor yang berbunyi. Kalimat nyelekit kael. Dan dirinya—yang berdiri di sana, tidak tahu harus berbuat apa.
Tidak cukup pintar. Tidak cukup siap. Hanya penonton bodoh.
Aeris menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa aku milih ini—” gumamnya putus asa. “Kenapa sih aku harus jadi dokter?!”
Ini bukan seperti belajar di buku. Ini bukan soal hafalan teori yang mudah ia pahami. Tapi ini manusia. Sebuah nyawa yang berharga. Kesalahan kecil bisa berarti… selesai.
Dan Kael—pria itu bahkan tidak memberi ruang untuk kesalahan sekecil apapun. Dia pasti paham benar konsekuensi profesi ini. Bagaimana semua hal saling berkesinambungan—salah diagnosa, salah menangani, maka nyawa mudah saja lepas dari tangan. Dan begitulah cara dia memberitahu anak magang seperti Aeris ini.
Itu membuat Aeris semakin overthink. Mempertanyakan kembali keputusannya. Dan sejujurnya itu membuatnya tertekan. Bagaimana jika dia tidak cukup cakap untuk ini? Bagaimana jika dia akhirnya hanya menyia-nyiakan waktu tanpa dapat hasil yang baik?
Kepalanya makin berputar hebat. Gejolak di perutnya semakin memperburuk. Pundaknya bergetar hebat. Air matanya tak terkendali. Ia mengusap wajahnya frustasi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Aeris tersentak.
Eros menelponnya. Ia menatap layar itu beberapa detik. Ia menarik napas dalam-dalam. Menyeka air matanya cepat-cepat. Kemudian berdeham sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
“Ya—” Ia berusaha terdengar normal.
“Kamu bilang apa sama anak-anak abang?!” Suara Eros langsung meledak di telinganya.
Aeris meringis. Ah. Soal itu. Dia lupa.
“Kenapa mereka dari tadi nanya ‘bikin adik’ terus?!” lanjut Eros, suaranya naik satu oktaf. “Gue lagi makan aja ditanyain! Di depan orang-orang!”
Aeris memejamkan mata sebentar. “Salah sendiri indehoy pagi-pagi,” balasnya datar, berusaha setenang mungkin. “Jam segitu orang normal udah bangun kali, Bang. Wajar mereka nyariin lo.”
“AERIS!”
“Dan aku nggak akan minta maaf,” lanjutnya tanpa dosa. “Daddy bilang kejujuran itu nomor satu.”
“Kejujuran apaan yang lo kasih ke anak umur tiga sama empat tahun?!”
Aeris memutar bola mata. Ia bahkan nyaris terkekeh—kalau saja perutnya tidak kembali bergejolak.
Dan begitu mual itu kembali lagi dengan tekanan yang lebih kuat, Aeris buru-buru membuka penutup kloset. Ia membungkuk, hampir menjatuhkan ponsel.
“Huek!” Dan ya, dia kembali muntah.
Di ujung sana, Eros langsung terdiam. Menyadari kondisi adiknya yang tak biasa. “… Dek?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara muntah yang jelas terdengar.
“Dek?!” nada suaranya berubah. “Lo kenapa muntah-muntah gitu? Hamil ya?!” Tuduhnya separuh bercanda.
Aeris berhenti. Menoleh ke arah ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Apa dia bilang? Astaga!
“Cowok mana yang hamilin lo?!” lanjut Eros tanpa jeda.
Aeris langsung menyambar ponselnya kembali. “Shut up!” geramnya. “Aku nggak hamil!”
“Terus kenapa muntah?!”
Ia menyeka mulutnya dengan air, napasnya masih belum stabil. “Muntah nggak selalu berarti hamil. Ada penyakit yang namanya Magh kalau abang lupa.” Desisnya jengkel bercampur frustasi.
Walau jelas Aeris berbohong. Ini bukan soal penyakit, tapi lebih seperti reaksi tubuhnya yang berlebihan menghadapi stress dan tekanan. Tapi lebih mudah mengatakan ini magh daripada menjelaskan semuanya.
“Magh?” ulang Eros curiga. “Jam segini? Lo makan apa sih semalam? Jangan bilang cuma kopi lagi.”
Aeris diam. Meskipun itu benar juga.
“Gue udah bilang berkali-kali—jangan kosongin perut!” omel Eros langsung. “Asam lambung naik itu bukan bercanda. Bisa gastritis, bisa tukak lambung. Lo mau masuk IGD jadi pasien rekan lo sendiri?!”
Aeris memijat pelipisnya. Ya Tuhan. Bisa nggak sih, sekali aja, dia nggak diceramahi?
“Terus pola tidur lo juga berantakan,” lanjut Eros tanpa ampun. “Kurang tidur bikin kondisi makin parah. Sistem imun drop, konsentrasi kacau—”
“Bang,” panggil Aeris pelan.
Eros tidak berhenti dan terus saja mengomel. “Lo tuh kalau dibilangin—”
“Bang,” ulangnya, kali ini lebih lemah.
Dan tiba-tiba—suaranya patah. Aeris menunduk. Air matanya jatuh lagi. Ia bahkan tidak tau kali ini soal apa. Yang jelas, sekarang semuanya terasa terlalu penuh. Terlalu sesak.
“Dek?” Eros melunak. Suara isakan Aeris membuatnya meringis. Dia tidak bisa melihat adiknya sedih—dia tega “Dek… lo kenapa?”
Aeris menggeleng, meski tahu kakaknya tidak bisa melihat. “Aku nggak apa-apa…” Tapi suaranya mengkhianatinya—Jelas sekali terdengar bergetar.
“Dek,” kali ini ia memanggil lebih pelan. Lebih hati-hati. “Sakit banget, ya?”
Aeris menutup mata. Sakit? Iya. Tapi bukan cuma fisik.
“Mau gue jemput?” lanjut Eros. “Gue bisa ngomong ke dokter pembimbing lo—”
“Nggak perlu.” potong Aeris cepat.
“Tapi lo kedengaran kayak—”
“Bang.” Kali ini tegas. “I’m okay.”
Eros tak langsung membalas. Ia tampak diam, memperhitungkan kalimatnya selanjutnya. Dia tau adiknya ini sama keras kepalanya dengannya. Hingga bermenit-menit kemudian yang terdengar hanya helaan napasnya yang tak biasa.
“Dek,” panggil Eros lagi. Kali ini… lembut. Tidak menghakimi atau menuntut. “Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Abang.”
Aeris menelan ludah.
“Kalau ada yang jahatin lo, bilang.”
Aeris masih tak membalas. Ia menatap lantai.
“Kalau ada yang bully—bilang.”
Entah kenapa seketika wajah Kael terlintas di kepalanya. Tajam. Dingin. Tanpa belas kasihan.
Aeris mengembuskan napas pelan. “…Iya.” lirihnya.
“Jangan diem aja, ngerti?”
“Iya, Bang.” jawab Aeris. Sejenak dia terdiam. Sempat terbesit di benaknya untuk jujur saja pada Eros, tapi kemudian ia mengurungkannya.
“Ya udah. Jaga diri lo. Minum obat trus makan. kalau nggak sempet pesen, gue orderin dari sini.”
Panggilan terputus.
“Aeris? Kamu di dalam?” Seseorang tau-tau mengetuk pintu bilik toiletnya. Itu suara temannya. Ketukan terdengar lagi lebih keras.“Dr. Noire nyari kamu.”
Hening sepersekian detik.
“Dia udah nanyain kamu dua kali.”
Napas Aeris langsung tercekat.
“Dan kali ini… dia kelihatan nggak sabar.”
Kalimat itu mengudara seperti bom asap yang dilempar ke udara. Sekonyong-konyong Aeris berdiri, membuka pintu toilet dengan paksa sampai bunyi dobrak mengagetkan.
“Sial!” Dia panik. “Dia dimana?!”
Kalau ini baru hari pertama… bagaimana dia bisa bertahan sampai akhir?
***