Seekor gagak hitam bertengger di ambang jendela ruang kerja Kael dengan ekspresi yang—kalau seekor burung bisa terlihat sok tahu—akan tampak sangat sok tahu. Persis yang dia tampilkan saat ini.
Ia mengetuk kaca dua kali dengan paruhnya. Mengabarkan kehadirannya.
Kael tidak menoleh. Matanya tetap pada berkas di tangannya. “Kalau kau datang hanya untuk mengotori jendelaku, aku bisa mengubahmu jadi debu sekarang juga.”
Gagak itu berdecak. Memperhatikan Kael dari tempatnya.
Lalu, dalam sekejap yang hampir tidak terlihat, sayap hitam itu mengendur. Tubuhnya meluruh seperti bayangan yang kehilangan bentuk. Dan ketika Kael akhirnya mengangkat kepala, di sana sudah berdiri seorang pria dengan mantel gelap dan senyum yang terlalu cerah, kontras dengan tampilannya yang gelap.
“Selamat sore juga untukmu, Tuan Noire yang tidak pernah ramah pada makhluk hidup mana pun,” kata Caz ringan. Ia melangkah masuk tanpa diundang, lalu mengibaskan debu khayalan dari bahunya. “Aku datang untuk mengecek saja—siapa tahu kau mendadak mati karena bosan.”
“Kalau aku mati karena bosan,” balas Kael datar, “itu berarti kau yang gagal menjaga kewarasan aku.”
Caz menyeringai. “Ah, jadi ini pengakuan bahwa keberadaanku itu penting.”
Kael menandatangani satu lembar, lalu melemparnya ke tumpukan dokumen di sisi meja. “Kau sudah bicara lima detik terlalu lama.”
“Itu namanya dialektika, Tuan.” Caz bersandar di jendela, mengamati langit Roma yang pucat. “Sesuatu yang sepertinya jarang kau praktikkan kecuali saat mengancam orang.”
“Aku tidak mengancam. Aku memberi arahan.”
“Dengan nada yang terdengar seperti vonis mati.” Senyum tengil merekah di wajahnya.
Kael tidak menggubris. Ia meraih cangkir kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Menyeruputnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan wajah tanpa emosi. Di luar, deretan bangsal bedah terus hidup. Langkah cepat perawat, roda troli, suara monitor yang sesekali terdengar dari lorong. Segala sesuatu bergerak cepat. Hanya Kael yang tampak seperti tidak pernah ikut terseret oleh waktu.
Caz memperhatikannya beberapa detik, lalu memiringkan kepala. “Kau terlihat buruk.”
“Aku memang selalu terlihat buruk menurutmu.”
“Tidak. Kadang kau terlihat seperti patung mahal yang tahu-tahu menatap balik.” Caz mengedikkan bahu. “Hari ini kau terlihat lelah.”
Kael diam. Tidak berniat membalas.
Caz tersenyum kecil, seolah baru menemukan celah yang menyenangkan. “Ah. Jadi benar.”
“Jika kau datang untuk mengomentari mataku yang kurang tidur, pintu tetap ada di sana.”
“Aku datang untuk memastikan tuanku masih hidup.” Caz menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Kael. “Dan, ya, untuk menyampaikan gosip. Karena aku tahu itu satu-satunya bentuk hiburan yang masih kau izinkan masuk ke ruangmu.”
Kael menghela napas pelan. “Cepat.”
“Baik. Kabar pertama, perawat shift malam bilang dokter radiologi tadi nyaris tertidur di atas hasil CT scan. Dia bahkan sempat nyaris membuat dua hasil Rontgen pasien tertukar.” Caz memulai.
“Kabar kedua, ada residen baru yang menangis di ruang obat karena salah panggil senior dan dipaksa mengulang seluruh protokol asepsis. Kabar ketiga…” Caz tersenyum lebar, “aku dengar kau mengusir dua residen sekaligus kemarin hanya karena mereka berdebat tentang cara menjahit luka.”
“Bukan aku yang mengusir mereka.”
“Benar. Kau hanya menatap mereka sampai salah satu hampir minta maaf atas keberadaannya.”
Kael menatapnya tanpa minat. Caz jelas sudah terbiasa. Ia malah makin senang, seolah itu bentuk perhatian kael.
“Dan kabar terbaik,” lanjut Caz, “kau masih saja bekerja seperti tidak tidur selama dua abad.”
“Aku memang tidak tidur selama dua abad.”
“Lihat? Itulah yang kutakutkan. Kau bicara seolah itu kebiasaan sehat.”
Kael membuka berkas berikutnya. Bahunya sedikit kaku. Matanya yang tajam memang tidak pernah benar-benar kehilangan fokus, tetapi hari ini ada sesuatu yang berbeda—keheningan di dalam dirinya terasa lebih berat dari biasanya. Seperti ada ruang kosong yang tidak berhasil ia isi, betapapun lamanya ia berdiri di tengah rutinitas yang sudah puluhan tahun dikenalnya.
Caz memperhatikan itu juga, meski ia tak mengatakannya langsung.
“Aku pernah berpikir,” katanya santai, “mungkin kau harus benar-benar liburan.”
Kael mengangkat alis. “Kau baru saja berkata hal paling konyol yang pernah keluar dari mulutmu.”
“Lihat? Aku membuatmu bereaksi.”
“Itu bukan tujuan hidup yang layak.”
“Tidak semua orang seambisius dirimu, Tuan.”
Pria berambut gelap itu meletakkan pena. Kali ini ia benar-benar menoleh. Tatapan ambernya tenang, tapi ada semacam peringatan di sana yang sudah cukup membuat Caz mengangkat kedua tangan.
“Aku tahu, aku tahu.” Caz menghela napas dramatis. “Kau tidak perlu menatapku seperti itu. Aku hanya bilang—kau tidak harus sendirian terus-menerus.”
Tidak ada jawaban. Hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
Caz menggeser tubuhnya, bersandar di kusen jendela. “Kau masih menunggu?”
Kael tidak memalingkan wajah. “Kau tahu jawabannya.”
“Ya.” Caz menurunkan suaranya sedikit, kali ini tidak bercanda. “Aku hanya ingin tahu apakah menunggu itu masih menyakitkan.”
Kael terdiam terlalu lama untuk seseorang yang tidak suka membuang waktu sepertinya. Lalu, dengan nada datar yang nyaris tak berubah, ia berkata, “Kebiasaan lama sulit hilang.”
Caz mendengus pelan, lalu memilih kembali pada peran yang lebih mudah—mengganggu. “Apa itu jawaban paling tragis yang pernah kudengar, atau kau memang berniat memenangkan penghargaan pria paling murung di dunia?”
“Aku sedang bekerja.”
“Dan aku sedang menyelamatkan kewarasanmu.”
“Kau terlambat.”
Caz mengangkat bahu santai. “Setidaknya aku datang.”
“Pengganggu.”
“Memang.” Caz terkekeh. Ia hendak mengatakan sesuatu lagi ketika Kael tiba-tiba membeku.
Bukan hanya membeku. Bahasa tubuhnya berubah seolah ada yang mengusiknya. Caz langsung diam. Dia mendeteksi sesuatu yang janggal dari tuannya.
Kael tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya rahangnya yang perlahan mengeras. Sekonyong-konyong ia menghirup udara. Seolah mendeteksi sesuatu di sana. Sampai dua kali ia menghirup demi memastikannya.
Wajahnya berubah—hanya sedikit, sangat sedikit—namun cukup bagi Caz untuk langsung sadar bahwa ada ini bukan ini cukup serius.
“Tuan?” suara Caz turun, terdengar lebih serius.
Kael berdiri begitu mendadak hingga kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi berlebihan. Pandangannya menyapu udara, bukan ruang. Bukan orang. Bukan benda. Seolah yang tengah ia cari adalah sesuatu yang tak kasatmata bagi siapa pun selain dirinya.
Dan kemudian aroma itu kembali menghantamnya.
Aroma darah. Bukan darah biasa. Bukan bau logam yang samar dari pasien di bawah sana, atau aroma antiseptik yang selalu menempel di lorong rumah sakit. Ini lain.
Aromanya hangat namun tajam. Nyaris manis di tepi inderanya. Dan terlalu familiar untuk disebut kebetulan.
Kael menahan napas. Dadanya—yang sudah lama tidak ia anggap sebagai sesuatu yang berarti—terasa seperti dihantam satu kali dari dalam.
Mustahil. Jari-jarinya menegang di sisi tubuh.
Aroma itu… tidak mungkin.
Namun tubuhnya sudah mengenalinya lebih dulu daripada pikirannya.
“Caz.” Suara Kael serak, nyaris seperti dicekik.
Pria di jendela itu langsung meluruskan tubuh. “Apa?”
Kael menatap ke arah pintu. Mata ambernya mulai menggelap, lalu perlahan berubah menjadi Crimson gelap. “Pergi. Jadilah berguna.”
“Hah? Sekarang?”
Kael tidak menjawab.
Langkah pertamanya cepat. Langkah keduanya lebih cepat. Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah melesat melewati ambang pintu. Ia meluncur ke koridor seperti bayangan yang lepas kendali. Caz terbelalak, lalu buru-buru menyusul dalam bentuk manusianya.
“Tuan, tunggu—ada apa?”
Tidak ada jawaban.
Kael berjalan tanpa ragu, menembus lorong rumah sakit yang sempit, berliku, dan penuh suara yang tiba-tiba memudar dari sekitarnya. Sepatunya nyaris tidak menimbulkan bunyi—seolah dia mengambang saking kilatnya langkahnya. Hanya satu hal yang memandu dirinya: aroma itu.
Makin lama makin kuat. Makin dekat.
Di kepalanya, sesuatu yang telah lama terkunci mulai bergerak. Bukan ingatan utuh—melainkan serpihannya. Suara samar. Panas. Darah. Dan sekelebat wajah yang ia simpan terlalu lama dalam kegelapan.
Ia mempercepat langkah. Dari lorong ia berbelok. Kemudian naik tangga.
Di setiap tikungan, aroma itu semakin jelas, seolah seseorang sengaja meneteskan jejaknya di udara untuk memancingnya datang. Kael tidak berpikir. Tidak perlu. Seluruh inderanya sudah berhasil menandai satu titik.
Rooftop.
Pintu besi itu terdorong terbuka dengan bunyi berat.
Angin petang langsung menyambar, dingin dan kuat, membawa bau langit yang basah bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih manusiawi. Darah.
Kael berhenti di ambang pintu.
Di sana, di bawah cahaya lampu rooftop yang redup, seorang perempuan tersungkur dengan wajah bersimbah air mata. Satu tangan menekan pergelangan tangannya sendiri. Bekas perban yang kembali berdarah. Darah mengalir di sela jari-jarinya. Di dekat kakinya tergeletak sebilah pisau kecil, bilahnya berkilat basah.
Kael tidak bergerak. Matanya tertuju pada perempuan itu, lalu turun ke darah, lalu kembali lagi ke wajahnya.
Bau itu ada di sini. Tepat di sini. Ia merasakannya begitu kuat hingga untuk sesaat, dunia seperti menyempit hanya menjadi satu titik.
Perempuan itu mengangkat kepala. Wajahnya pucat dan menyedihkan. Napasnya tidak stabil.
Kael menatapnya lama.
Ada sesuatu yang mengencang di dadanya—sesuatu yang tidak ia izinkan keluar selama ratusan tahun. Sesuatu yang hampir mirip harapan, tetapi terlalu berbahaya untuk diberi nama.
Bibirnya sedikit terbuka, lalu menutup lagi. Tidak satu kata pun keluar. Karena untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat panjang, Kael tidak tahu harus menyebut perasaan itu sebagai apa.
Ia hanya tahu satu hal. Aroma itu… milik seseorang yang sangat penting. Seseorang yang telah ia cari terlalu lama.
Dan kini, setelah semua tahun yang sunyi itu—ia mungkin akhirnya menemukannya kembali.
***