Kael menolak gagasannya. Dan semua usahanya menemui dr. Milani gagal total. Aeris jadi galau sendiri. Apalagi memikirkan setiap kalimat Kael barusan.
Mungkinkah dia terlalu emosional dalam bertindak?
Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih sekarang. Semua terasa jadi serba salah.
Yah, walaupun akhirnya Kael mengerti maksudnya—soal niat Aeris. Tapi tetap saja baginya yang dilakukan Aeris terlalu gegabah dan egois.
“Jidatmu sudah biru. Mau dibikin warna apa lagi?” Sebuah telapak tangan tau-tau menghalangi jidat Aeris mengetuk tembok.
“Minggir!” Dengus Aeris. Dia lagi mumet banget. Dia butuh sesuatu untuk menjadi pelampiasan.
Pria itu malah terkekeh. “Kamu bisa diseret ke unit jiwa dan jadi pasien.” Ia menangkap jidat Aeris yang kembali ingin dibenturkan ke dinding. “Self-harm yang kamu lakukan bisa dikira sebagai bentuk coping mechanism.” tambahnya.
“Aku nggak begitu. Aku cuma lagi mumet banget, Elian!”
Elian mengangguk pelan, masih menahan kepala Aeris menjauh dari dinding. "Aku tahu."
"Nggak, kamu nggak tahu."
"Aku tahu."
Pria itu akhirnya melepaskan tangannya, lalu menyandarkan punggung di tembok tepat di samping Aeris.
Koridor itu sedang lengang. Hanya terdengar suara roda troli dari ujung lorong dan bunyi monitor yang samar dari ruang perawatan.
"Aku lagi pengin mukul seseorang."
"Bagus."
Aeris menoleh.
"Minimal sekarang aku tahu targetnya bukan lagi bantal pasien yang nggak berdaya.”
"Elian!" Aeris merengek kesal.
"Apa?"
"Kamu tuh nyebelin."
Elian terkekeh pelan. "Aku lebih memilih dibilang nyebelin daripada harus menjahit jidatmu."
Aeris mendengus kesal, tetapi sudut bibirnya sempat bergerak tipis sebelum kembali muram.
Beberapa saat kemudian mereka sama-sama diam. Elian sengaja membiarkan keheningan itu. Ia tahu Aeris bukan tipe orang yang bisa dipaksa bicara.
Dan benar saja. Beberapa detik kemudian Aeris bersuara lebih pelan. "...Aku salah, ya?"
Elian tidak langsung menjawab. Menatap tepat di mata Aeris. Ada kegelisahan dan rasa bersalah bercampur di sana. Ia mengulum senyum jahil, "tergantung perkara apa. Kalau soal kamu dan dinding tak berdosa itu—jelas kamu yang salah.”
Aeris merotasikan bola mata. “Smartass!” Dengusnya. “Nggak jadi cerita deh. Kamunya begitu.”
Elian tertawa kecil. Melarikan jarinya untuk mencolek dagu Aeris penuh godaan. “Jangan ngambek dong, Manis.”
Perempuan itu malah buang muka. Mendengus keras-keras. Membuat Elian tak kuasa menahan gemas. Tapi akhirnya dia mengangkat tangan pura-pura menyerah.
“Okay, okay. Maaf.” Katanya. Tapi tak kunjung dapat respon. Perempuan itu masih saja ngambek. Praktis melahirkan kekehan geli Elian. Lalu sekonyong-konyong ia mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebotol kecil s**u pisang.
Botol itu bergoyang pelan di depan wajah Aeris. "Persembahan perdamaian."
Aeris melirik sekilas, lalu kembali membuang muka. "Nggak mempan."
"Serius?"
"Iya."
"Padahal ini rasa favoritmu."
"..."
"Nggak mempan juga?"
Aeris tetap diam.
Elian menghela napas dramatis. "Waduh. Berarti kasusnya berat." Tapi diam-diam menyeringai jahil. Tau-tau Ia membuka sendiri tutup botol itu. "Kalau gitu aku aja yang minum."
Baru saja botol itu hendak menyentuh bibirnya, Aeris langsung merampasnya. "Itu punyaku."
Elian tersenyum puas. "Berarti pasien masih punya refleks protektif."
"Aku bukan pasien! Kamu nyebelin banget ihh."
Protes itu cuma dibalas dengan pria itu mengedik santai.
Aeris mendecak pelan sebelum meneguk sedikit s**u pisang itu. Rasa manis yang dingin perlahan mengusir pahit di tenggorokannya sejak keluar dari ruangan Kael. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Tubuhnya merosot sampai lantai.
Elian mengikutinya. Duduk di samping perempuan itu di lantai. Dia tidak mengatakan apapun, membiarkan Aeris kembali mengambil alih. Takutnya kalau dia komen lagi, perempuan itu bakal ngambek lagi. Kelihatan banget lagi mode senggol bacok soalnya.
“Another day, another problem with Kael.” Katanya jenaka sarat ironi.
“Apa lagi kali ini?”
“Aku konsul ke dr. Milani tanpa sepengetahuan dia.” Terang Aeris. Sebelum Elian menyahut dengan guyonan jahil, Aeris tangkas melanjutkan. “Bukan aku. Tapi soal kondisi Marie.”
Elian otomatis mingkem, tidak jadi buka suara. Dia lanjut menyimak.
“Dr. Kael marah. Katanya aku sudah lancang mendistribusikan data pasien tanpa izin.” Ia melirik Elian sejenak sebelum melanjutkan. “Padahal aku nggak berniat begitu. Aku murni ingin membantu Marie. Melihat dia begitu tersiksa dengan keadaannya. Apalagi melihat self-harm yang dia lakukan—” Aeris menghela napas lelah. “itu menyakitkan juga.”
“Mau dengan perspektifku?” Tanyanya lembut.
Ini yang Aeris sukai dari Elian. Pria itu tidak langsung menghakimi, tidak juga berkomentar sok pintar. Dia akan selalu memberikan pandangan yang netral—lebih seperti bijak. Tapi tidak juga memihak.
Aeris spontan mengangguk.
Elian menatap lurus-lurus ke depan—ke arah lorong yang tampak seperti tak berujung. Ia melirik Aeris sejenak sebelum kembali buka suara, "Kalau dari sisi psikiatri—aku rasa kamu mengambil langkah yang masuk akal."
Aeris menoleh cepat. "Serius?"
"Iya." Balasnya. “Marie memang menunjukkan banyak red flags. Bahkan sebelum kejadian kemarin." Elian menyandarkan kepala ke dinding. Ia mengingat-ingat kembali gelagat aneh Marie yang dirasakan.
"Sekali waktu, Aku pernah ganti infusnya. Dia minta maaf tiga kali cuma karena lengannya bergerak. Padahal yang salah bukan dia."
Aeris mengangguk pelan.
"Terus waktu aku bantu dia duduk, refleks pertama yang dia lakukan bukan memegang lukanya. Melainkan menutupi kepala."
"..."
"Orang yang takut dipukul biasanya punya refleks seperti itu."
Kalimat itu membuat d**a Aeris kembali sesak.
"Jadi, Aku paham kenapa kamu buru-buru ingin melibatkan psikiater." Ada jeda beberapa detik sebelum Elian kembali melanjutkan. "Tapi..."
Aeris langsung mengembuskan napas. Membuat sebentuk senyum tipis terbit di wajah Elian. Ia menoleh pada Aeris.
"Menurutku yang salah bukan soal keputusanmu mencari pendapat psikiater. Melainkan cara kamu melakukannya."
Aeris menyimak sambil memandangi botol s**u pisang di tangannya yang sisa setengah isinya. Seolah-olah sedang merenungi tindakannya.
"Begini,” katanya lanjut menjelaskan. “Bayangkan kamu sedang jaga malam. Ada pasien dengan nyeri d**a. Kamu curiga itu infark. Lalu tanpa memberi tahu dokter jagamu, kamu langsung menelepon dokter jantung."
Aeris langsung menggeleng. "Itu bakal bikin kacau."
"Nah." Elian menjentikkan jarinya pelan. "Masalahnya bukan karena dokter jantungnya yang salah." Katanya. “Masalahnya karena tim yang menangani pasien tidak lagi berjalan sebagai tim."
Ia melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. "Rumah sakit itu bukan tempat dokter bekerja sendiri. Melainkan tempat keputusan dirangkai bersama. Kalau satu orang melompati alur komunikasi—keputusan medis bisa saling bertabrakan."
Aeris menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. "Lalu menurutmu dr. Kael marah karena itu?"
"Mungkin." Elian mengedik santai.
"Mungkin?"
Elian tertawa kecil. Lantas membalas dengan guyonan, "Karena dia Kael."
Aeris mendengus. "Itu bukan jawaban."
"Itu justru jawaban paling sederhana."
Elian merubah posisi, kali ini bersandar sambil menyilangkan kaki. Nada bicaranya kembali serius. "Kael itu konsulen. Begitu namanya tercantum sebagai dokter penanggung jawab, semua keputusan terakhir berhenti di mejanya. Kalau terjadi apa-apa pada Marie..." Ia menatap Aeris. Memperhatikan ekspresi perempuan itu. "...yang pertama dipanggil bukan kamu. Bukan aku atau perawat jaga. Tapi dia."
Aeris terdiam. Elian melanjutkan, kali ini lebih pelan. "Semakin senior seorang dokter, maka semakin besar tanggung jawab hukumnya. Dan semakin besar tanggung jawab biasanya semakin tidak suka kalau ada keputusan penting yang baru dia ketahui belakangan."
Sunyi sejenak. Aeris memainkan botol s**u yang hampir kosong itu di antara kedua telapak tangannya. "Jadi..." Nada suaranya kedengaran merasa bersalah. "...aku memang salah."
Elian memutar bola mata. "Kamu mulai lagi."
"Hah?"
"Kamu selalu melihat semuanya hitam atau putih. Benar atau salah." Kata Elian. "Padahal praktik kedokteran jarang yang sesederhana itu."
Aeris mengangkat alis.
Elian melanjutkan. "Kamu benar karena melihat sesuatu yang orang lain belum lihat. Kael juga benar karena melindungi keselamatan fisik pasien dan integritas tim."
"Lalu siapa yang salah?" Kali ini pandangan Aeris sepenuhnya terpusat pada Elian.
Elian mengangkat bahu kecil. "Mungkin ada pada cara kalian berdua berkomunikasi."
Aeris terdiam cukup lama. Kalimat itu terasa menohok justru karena tepat sasaran.
"Aku datang ke ruangannya dengan membawa rekomendasi."
Elian mengangguk.
"Bukan membawa pertanyaan." Dia mulai memahami kesalahannya. "Aku berharap dia menyetujui."
Elian tersenyum tipis.
"Dan Kael… kemungkinan melihat itu sebagai keputusan yang sudah jadi. Bukan ajakan berdiskusi."
Aeris menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Astaga—Aku benar-benar melakukannya, ya?"
"Kamu datang membawa jawaban. Bukan mencari jawaban bersama."
Hening kembali menyelimuti lorong. Beberapa perawat berlalu-lalang tanpa terlalu memperhatikan mereka yang duduk di lantai. Setelah beberapa saat, Aeris menurunkan kedua tangannya.
"Elian,” tatapan Aeris seolah berkata ‘aku benar-benar salah’. “Itulah yang coba dikatakan dr. Kael. Tapi aku terlalu egois dengan keputusanku sendiri. Aku terlalu jumawa dengan menganggap apa yang kulakukan sudah pasti benar. Tidak heran jika dia membenciku setelah ini.”
Raut muka Aeris otomatis murung membayangkannya.
“Dia tidak akan membencimu. Dia tau kamu masih belajar. Kita semua pernah melakukan kesalahan, Aeris. Dan kita semua belajar dari itu.”
“Tidak. Dia pasti membenciku.” Bisiknya getir. “Bukan tentang kesalahanku. Tapi tentang—”
“Miss Lunetta, ke ruangan saya. Sekarang.”
Kalimat Aeris tidak selesai. Ia mendongak kaget dan menemukan Kael berdiri di depannya.
Astaga! Sejak kapan dokter pencabut nyawa itu di sini?!!
***