Tergerak karena rasa kasihan, Aeris benar-benar mengambil langkah nekat. Dan walau dia belum dapat izin dari Kael, dia tidak ragu menemui dr. Milani.
Ini semua semata-mata karena dia ingin Marie sembuh. Gadis itu sudah menderita cukup hebatnya. Melihatnya kesakitan membuat Aeris ikut merasakan pedihnya.
Jadi, pagi-pagi sekali sebelum briefing pagi dimulai Aeris bergegas diam-diam menuju unit psikiatri. Tangannya menggenggam map tipis berisi salinan rekam medis Marie yang telah disamarkan sesuai prosedur konsultasi antar spesialis. Semalaman ia hampir tidak tidur. Berkali-kali membaca ulang catatan observasi perawat malam, grafik tanda vital, hingga laporan psikolog skrining awal yang sebelumnya hanya dianggap pelengkap.
Instingnya terus mengatakan hal yang sama. Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada luka di tubuh Marie.
Unit Psikiatri berada di gedung berbeda. Suasananya jauh lebih tenang dibanding unit trauma. Di sini tidak ada bunyi monitor jantung. Tidak ada teriakan meminta crash cart. Tidak ada aroma darah yang samar bercampur antiseptik. Yang ada hanya suara langkah-langkah kaki yang sepi.
Begitu mengetuk pintu, Aeris langsung disambut oleh suara dr. Milani dari dalam. “Silakan masuk.”
Dr. Milani mengangkat wajah dari meja kerjanya. Perempuan sekitar lima puluh tahun itu mengenakan jas putih dengan senyum yang selalu berhasil membuat pasien sedikit lebih tenang.
“Aeris?”
Aeris tersenyum kecil. “Terima kasih sudah mau menerima saya, Dok.”
“Bukankah pasienmu yang ingin kau bicarakan?"
Aeris mengangguk. Lantas menyerahkan map itu. “Saya sudah mendapat izin konsultasi.” Bohong. Nyatanya dia bergerak diam-diam tanpa sepengetahuan Kael.
Dr. Milani membuka halaman demi halaman. Ruangan kembali sunyi—hanya terdengar suara lembaran kertas dibalik. Semakin lama, ekspresi psikiater itu semakin serius. Ia berhenti pada dokumentasi luka lama. Lalu berpindah ke catatan perawat. Kemudian laporan ketika Marie terbangun dari sedasi.
Dr. Milani menutup mapnya pelan. “Apa yang membuatmu datang kemari?”
Aeris menarik napas. “Insting.”
"Insting?"
"Saya merasa kami terlalu fokus pada luka fisiknya. Sehingga mengabaikan luka batinnya."
Dr. Milani menatapnya beberapa saat. "Lalu?"
“Banyak hal yang dia lakukan yang terasa janggal. Misalnya ketika dia terus meminta maaf untuk semua hal.” Ia menjeda. “Karena menumpahkan air. Karena meminta bantuan. Karena masih hidup.”
Suasana mendadak sunyi sebelum Aeris kembali berkata,
"Setiap kali seseorang menaikkan nada suara, pupilnya langsung melebar. Napasnya berubah memburu. Bahunya menegang." Ia menatap Dr. Milani. “Apalagi kejadian dua hari lalu—dia seolah mengamuk dan berusaha mengakhiri hidupnya lagi.”
“...”
“Saya tidak punya kewenangan mengatakan ini, hanya saja—Itu bukan respons seseorang yang hanya mengalami kecelakaan biasa. Saya melihat ada trauma di sana."
Psikiater itu mengangguk perlahan. "Kau mengamati cukup baik."
Dia kembali membuka rekam medis Marie dan mulai menjelaskan perspektifnya. "Kalau aku melihat keseluruhan pola ini..." Jarinya menunjuk beberapa bagian. "...aku tidak hanya melihat trauma."
Ia berhenti sejenak. Sebelum melanjutkan dengan, "Aku melihat seseorang yang terlalu lama hidup dalam rasa takut."
Aeris terdiam.
"Self-harm berulang. Luka sayatan di usia berbeda. Respons terkejut berlebihan. Hiperwaspada. Kesulitan mempercayai orang lain. Rasa bersalah yang tidak proporsional." Ia menyebutkan semua gejala yang persis dialami Marie.
Dr. Milani mengangkat wajah. "Ini mengarah pada trauma kompleks."
Aeris menggigit bibir bawah. Mulai ikut berasumsi. "C-PTSD?"
"Mungkin. Masih dugaan." Ia mengangguk. "Kemungkinan besar juga dia mengalami coercive control."
Aeris mengernyit.
"Hubungan yang membuat korban kehilangan kemampuan mengambil keputusan sendiri.” Jelasnya. “Pelaku mengontrol cara berpikirnya. Membuat korban merasa semua kesalahan adalah miliknya. Sedikit demi sedikit identitasnya hilang.”
Mata Aeris melebar. Jadi, ini bukan sebatas kecelakaan atau pengakhiran diri semata—tapi ada pelaku di baliknya. Ada otak yang mengendalikan hidupnya, kewarasannya.
Dr. Milani mencondongkan badan. "Pada tahap tertentu korban bahkan tidak lagi tahu mana pikirannya sendiri."
Kalimat itu membuat tenggorokan Aeris terasa kering.
"Dan self-harm? Itu bisa menjadi bentuk coping mechanism. Bukan karena ingin mati. Tapi karena rasa sakit fisik terasa lebih mudah dipahami daripada rasa sakit emosional."
Ruangan kembali sunyi. Dr. Milani menatap Aeris cukup lama. "Aku lebih khawatir pada risiko bunuh dirinya dibanding luka operasi yang sedang sembuh."
Kalimat itu menghantam Aeris. Ia menelan ludah susah payah. "Kondisinya seberbahaya itu?"
"Kalau dibiarkan tanpa penanganan psikiatri..." Ia menghembuskan napas. "Ya."
Lantas dia mengambil pulpen. Menulis sesuatu di kertas. "Aku merekomendasikan observasi psikiatri intensif." Ia menjeda. "Kalau kondisi bedahnya stabil, aku akan menyarankan transfer."
Aeris menatap lembar rekomendasi itu. Dadanya justru semakin berat. Karena ia tahu, ada satu orang yang hampir pasti tidak akan langsung menyetujuinya.
Dr. Kael Noire.
***
Kael berdiri sendirian di depan jendela ruangannya. Roma tampak basah oleh hujan tipis. Namun pikirannya justru kembali pada kejadian kemarin.
Bagaimana tatapan Aeris tertuju padanya. Mata yang biasanya penuh rasa ingin tahu itu, untuk pertama kalinya berubah dingin. Terluka.
Ia mengembuskan napas. "...Aku terlalu keras." Kalimat itu keluar nyaris tanpa sadar.
Tapi sesaat kemudian ia menggeleng sendiri. "Tidak." Ia menyilangkan tangan. "Aku pembimbingnya. Kalau dia membuat keputusan yang membahayakan pasien, aku memang harus menghentikannya."
Semuanya itu benar. Tetapi kenapa wajah gadis itu terus muncul? Kenapa justru ekspresi kecewanya seolah mengganggu?
Tanpa sadar Kael terus memikirkan itu. Semua itu berputar di kepala seperti bayangan yang menghantuinya minta diusut tuntas. Ia menarik rambutnya setengah frustasi.
Sekonyong-konyong pintu diketuk. Buru-buru ia menetralkan wajahnya. Ia kembali duduk di kursinya sebelum mempersilahkan siapapun itu masuk.
Pintu terbuka, membawa seseorang yang sejak tadi nyaris membuatnya jadi vampir gila.
Aeris. Berdiri di sana dengan begitu yakinnya. Raut mukanya tenang. Tapi Kael bisa membaca tatapan itu—masih sama—kecewa. Terlepas dari hal itu, gadis itu juga tampak lebih pucat dibanding biasanya.
"Ada yang ingin saya bicarakan."
Kael mempersilahkannya masuk dengan gestur tangan tanpa mengatakan apapun.
Aeris meletakkan map di meja. "Saya baru selesai berkonsultasi dengan dr. Milani." Nada suaranya terdengar lebih formal dan dingin dari biasanya.
Dr. Milani—Kael langsung mengenali nama itu. Psikiater senior. Dan itu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mendengus kesal. Genggamannya pada pulpen berubah jadi cengkeraman.
“Bertindak semaumu tanpa konsultasi padaku, huh?” Ia membalas sarkas. “Tentu saja. Kau yang paling pintar.”
Aeris mencoba tidak terpancing dengan kalimat sarkastik itu. Dia sudah memprediksi ini terjadi. Bahwa penolakan Kael sudah pasti terjadi. Pria dengan ego besar itu tidak akan mau didahului dalam segala hal—apalagi menyangkut pasien ‘spesial’ nya.
Jadi, Aeris hanya meletakkan surat rekomendasi yang dia dapat dari dr. Milani di meja. “Melihat dari rekam medis pasien dan diskusi panjang dengan dr. Milani, kami sependapat bahwa Marie tidak hanya memerlukan perawatan luka fisiknya saja. Namun dia juga kejiwaannya.”
“Rekam medis?” Kael menatapnya nyalang. Ia bangkit. Meletakkan tangannya di meja, tubuhnya condong ke depan. Membayang-bayangi tubuh kecil Aeris.
Aeris menelan ludah susah payah. Tampaknya Kael akan mengamuk. Tentu saja, dokter manapun tidak akan suka kalau data pasiennya dibagikan ke orang lain tanpa persetujuannya. Dan Aeris sudah melakukan hal fatal.
Kael tidak langsung meninggikan suara. Namun justru itu yang membuat suasana terasa jauh lebih mencekam.
Tatapan amber-nya jatuh pada map tipis di atas meja, lalu kembali ke Aeris. "Siapa yang memberimu izin mengakses dan mendistribusikan rekam medis pasienku?"
Setiap kata diucapkan perlahan dan terukur. Seolah ia sedang menginterogasi seorang saksi di ruang sidang.
Aeris menguatkan diri. "Saya tidak mendistribusikannya, Dok. Saya mengajukan konsultasi antar spesialis."
"Atas persetujuan siapa?"
"..."
Aeris bungkam. Dia tidak bisa menjadikan siapapun sebagai alibi.
"Atas persetujuan dokter penanggung jawab? Atas persetujuan saya? Atau atas persetujuan Kepala departemen?"
Aeris kembali diam. Kael menatapnya tajam. “Tidak ada.” Ia mengembuskan napas pelan. "Apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?"
Aeris menggenggam jemarinya sendiri agar tidak gemetar. "Saya melakukannya demi kepentingan pasien."
"Bukan itu yang kutanyakan." Nada Kael tetap datar. Tapi kalimat itu terasa menusuk. "Jawab pertanyaanku."
Sunyi. Aeris tak langsung membalas. Kael mengulang pertanyaannya, "Apakah kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"
"... Ya."
"Katakan.”
Aeris memejamkan mata sejenak. "Saya mengakses data pasien dan melakukan konsultasi antar spesialis tanpa lebih dulu berdiskusi dengan dokter penanggung jawab."
"Bukan hanya itu." Kael mengambil map tersebut. "Rekam medis bukan sekadar kumpulan hasil laboratorium atau foto CT."
Ia mengangkat beberapa lembar dokumen. "Ini identitas seseorang. Hak privasinya. Tanggung jawab hukum rumah sakit."
Tangannya menjatuhkan kembali map itu ke atas meja. "Kau memang menyamarkan identitasnya."
Tatapan Kael menajam. "Akan tetapi kau tetap membawa kasus aktif ke departemen lain tanpa koordinasi."
Ia berhenti beberapa detik.
"Kalau setiap koas bertindak berdasarkan keyakinannya sendiri, menurutmu apa yang akan terjadi pada sistem rumah sakit?"
Aeris tidak menjawab.
Kael melanjutkan sebelum ia sempat menyusun kalimat. "Dokter bedah meminta pendapat neurologi. Neurologi meminta pendapat nefrologi. Nefrologi memanggil penyakit dalam. Semuanya bertindak tanpa komunikasi. Menurutmu itu kolaborasi?"
Ia menggeleng pelan.
"Itu kekacauan."
Ruangan kembali sunyi. Lantas detik berikutnya Kael kembali melanjutkan, “Aku mengerti niatmu. Tapi rumah sakit tidak berjalan hanya dengan niat baik. Ia berjalan dengan prosedur."
Tatapan Aeris perlahan terangkat. "Kalau saya menunggu prosedur..." Ia menatap Kael. "...Marie mungkin sudah mencoba menyakiti dirinya lagi."
Kael tidak berkedip. “Dan menurutmu tindakanmu itu benar?”
"Saya tidak bisa hanya diam." Aeris masih teguh pada pendapatnya.
"Jadi kau memilih melanggar aturan." Itu bukan pertanyaan. Melainkan kesimpulan.
"Saya memilih menyelamatkan pasien."
Untuk pertama kalinya, rahang Kael mengeras. Dia bahkan nyaris tertawa karena kalimat itu. Sebentuk respon ketika dia mulai benar-benar kesal. "Oh please, Jangan menggunakan kalimat itu."
Nada suaranya masih rendah. Namun cukup membuat udara di ruangan terasa beberapa derajat lebih dingin.
"'Menyelamatkan pasien'." Ulangnya. "Kalian para koas terlalu sering memakai kalimat itu seolah-olah itu pembenaran untuk setiap keputusan emosional."
Aeris tersinggung. "Ini bukan keputusan emosional."
"Benarkah?" Kael menyilangkan kedua tangan. "Kalau memang tidak emosional, mengapa kau tidak datang menemuiku lebih dulu?"
"..."
"Mengapa kau memilih langsung ke psikiatri sebelum berdiskusi dengan dokter yang bertanggung jawab atas pasien itu? Berdiskusi dengan dokter pembimbingmu."
Aeris terdiam sesaat. Karena ia tahu jawabannya. Ia takut. Takut Kael kembali menolaknya seperti kemarin. Dan Kael tampaknya membaca keraguan itu dengan mudah.
"Kau sudah memutuskan kesimpulanmu terlebih dahulu. Bahkan sebelum berbicara denganku. Artinya kau datang ke sini pun bukan untuk berdiskusi."
Ia menggeser surat rekomendasi Dr. Milani ke arah Aeris.
"Kau datang untuk membuatku menyetujui keputusan yang sudah kau ambil sepihak."
***