“Kamu benar-benar mengerti ucapanku! Hebat!” Aeris antusias sendiri.
Caz berjalan mendekati sandwich dengan langkah penuh martabat. Seolah-olah ia bukan burung yang lima belas menit lalu mencuri kentang dan merampok lolipop anak kecil.
Dengan gerakan anggun ia mulai mematuk makanannya. Aeris tertawa kecil, puas dengan apa yang dilakukan gagak itu.
Aeris perlahan ikut duduk di sampingnya. Amat perlahan, takut membuat burung itu kaget lantas kabur.
“Kamu tau—” Aeris mendongak ke langit sebentar, lalu kembali memperhatikan gagak itu makan. “—aku sedang kesal dengan seseorang.”
Caz mendongak dari roti lapisnya hanya untuk memberikan tatapan seolah—aku mendengarmu.
“Dia menyebalkan.”
“Kra.”
“Aku tahu kamu setuju.”
Caz sebenarnya tidak setuju. Justru dia sangat penasaran.
“Lanjutkan.” Batinnya.
Aeris menghela napas panjang. “Dia suka mengatur orang seenaknya.”
"Kra." Caz menyahut sembari mematuk sisa roti lapisnya.
Sementara Aeris semakin menggebu-gebu mengeluarkan unek-uneknya. “Dia juga merasa dirinya selalu benar.”
"Kra."
“Dan dia memperlakukan semua orang dengan baik kecuali aku.” dia berdecak. “Apakah itu adil?”
Caz berhenti mengunyah. Oh. Menarik. Sangat menarik.
“Serius.” Aeris menunjuk gagak itu seolah sedang berbicara pada teman lama. “Aku pernah lihat dia memperbaiki selimut pasien. SELIMUT.”
“Kra?” Caz memiringkan kepala. Fokusnya sepenuhnya pada Aeris sekarang.
“Ya! Selimut!” Aeris mengangkat kedua tangan. “Padahal ke aku? Dia bahkan tidak akan menolong kalau aku terbakar.”
Caz hampir tersedak roti.
Kalau Kael mendengar ini, pria itu mungkin akan menghabiskan tiga hari berikutnya menatap tembok sambil merenungkan hidup.
“Menurutku dia menikmati penderitaanku.”
“Kraa.”
“Itu bukan teori. Itu fakta.” Aeris mendengus. Ia menendang batu dengan kesal.
“Kraa.”
Perempuan itu melirik sekilas pada Caz sebelum menata nyalang ke depan—seolah Kael ada di hadapannya. “Aku yakin dia bangun pagi hanya untuk mencari cara membuat hidupku lebih sulit.”
Caz mengangguk-angguk penuh minat. “Bagus sekali. Teruskan.”
Aeris baru saja akan membuka mulut lagi ketika ponselnya bergetar di saku jasnya. Ia melirik layar. Senyumnya langsung hilang. Nama perawat jaga Marie muncul di sana.
Entah kenapa, perasaannya mendadak terasa tidak nyaman.
Aeris segera mengangkat panggilan itu. “Ya?”
Di seberang sana terdengar suara napas yang terburu-buru. Dia kedengaran seperti sedang panik. “Miss Lunetta!”
Aeris langsung menegang. “Ada apa?”
“Marie—”
***
Aeris tiba di depan kamar Marie dalam keadaan ngos-ngosan. Tangga darurat tujuh lantai ternyata ide buruk. Dia pikir itu akan lebih cepat dibanding mengantri lift—salah-salah kakinya bisa copot melewati tujuh lantai sekaligus.
Dadanya masih naik turun saat melihat kerumunan kecil di depan kamar. Dua perawat. Seorang diantaranya adalah residen, dan satu lagi—tentu saja—Kael.
Jantung Aeris mendadak ingin menyerah, pilih jatuh ke perut dibanding menghadapi amukan pria itu.
Meski begitu, Aeris tetap nekad mendekat. Marie adalah prioritasnya saat ini.
"Bagaimana kondisinya?" tanyanya cepat.
Tidak ada yang menjawab. Karena semua perhatian tertuju pada Marie. Gadis itu terduduk di atas ranjang dengan tatapan kosong. Tubuhnya gemetar. Wajahnya sudah basah oleh air mata.
Dan pergelangan tangannya—
Aeris membeku.
Perban putih yang baru dipasang mulai berubah merah. Tidak terlihat banyak darah. Tidak juga separah sebelumnya. Tapi cukup membuat seluruh ruangan menegang.
Marie bahkan tidak menangis keras. Itu justru yang membuatnya lebih mengkhawatirkan. Dia hanya duduk dalam diam. Seolah sudah terlalu lelah untuk sekedar mengasihani diri sendiri.
Aeris melangkah mendekat. "Marie..."
Gadis itu tidak menoleh, apalagi merespons. Aeris kembali melangkah lebih dekat, berniat menyentuh pundaknya. Tau-tau suara Kael terdengar.
Begitu dingin dan berbahaya. "Dari mana saja kau?"
Seisi ruangan langsung hening.
Aeris menoleh. Tatapan amber itu tepat mengarah padanya. "Aku—" belum selesai, Kael sudah memotong tak sabar.
"Pertanyaanku sederhana." Nada Kael semakin rendah. Justru itu lebih menakutkan daripada nada tinggi meledak.
"Di mana kau saat pasienmu mencoba melukai dirinya sendiri?”
Aeris otomatis bungkam. Kalimat itu berhasil menancap pas di jantungnya. Untuk sesaat, seolah oksigen ditarik paksa darinya. Ada nyeri tumpul di dadanya. Setidakbecus itukah aku?
"Aku hanya keluar sebentar." Akhirnya dia berhasil menguasai dirinya kembali. Meski dengan suara bergetar.
"Sebentar?" Kael mengulang kata itu. Seolah alasan itu terlalu dibuat-buat.
Ada jeda sebentar sebelum Kael akhirnya melanjutkan, “Pasien bunuh diri tidak mengenal konsep sebentar.”
Aeris langsung menegang. Tapi egonya tidak ingin kalah. "Aku tidak meninggalkannya berjam-jam."
"Tetap saja kau meninggalkannya."
"Aku juga manusia, Dok.”
“Dan menurutmu pasienmu tidak?”
Double kill.
Aeris benci itu. Kenapa Kael selalu benar dan seolah-olah sekarang dia yang bersalah di sini. Itu membuatnya sangat kesal.
"Aku bahkan tidak tahu dia akan—"
Dengan tangkas Kael memotong. "Kau tidak tahu karena kau tidak ada.”
"Jadi sekarang semuanya salahku?" Nada suara Aeris naik satu oktaf. Dia berusaha menahan emosinya, percayalah, tapi itu sulit sekali.
Kael diam. Dan diam itu cukup dianggap sebagai jawaban.
Aeris tertawa pendek. Tawa yang lebih mirip frustrasi. "Hebat!" Dia berputar. Menatap ke luar jendela. "Aku bahkan belum seminggu rotasi kemari tapi sudah berhasil menyebabkan kiamat rupanya."
"Aeris—"
"Tidak." Untuk pertama kalinya Aeris memotong. Matanya mulai memanas. "You know what? I'm f*****g tired.”
“...”
“Aku benar-benar capek.” Aeris mengusap wajahnya dengan kasar. “Setiap kali ada sesuatu yang salah, aku selalu jadi orang pertama yang disalahkan.”
Aeris akui dia benar-benar sedang emosional sekarang. Yang mana seharusnya dia tidak membawa perasaan dalam pekerjaan. Tapi sangat sulit baginya mengabaikan itu.
“Kalau kau tidak siap menghadapi konsekuensi pasien.” Kata Kael. “Sebaiknya tidak usah jadi dokter.”
***
Setidaknya sudah tiga puluh menit berlalu dan Aeris masih menangis. Alih-alih segera pulang dan istirahat, dia justru mojok di ruang obat. Wajahnya memerah. Ia memeluk lutut dengan menyedihkan.
Emosinya sedang campur aduk. Dia kembali menyalahkan setiap keputusannya menjadi dokter. Sebab Kael benar—dia terlalu egois untuk tidak ingin disalahkan atas segala konsekuensi keadaan pasiennya.
“... Belum terlambat buat bilang ke Bang Eros buat—” suaranya serak. Ia sesenggukan. “—buat pindah jurusan.”
Lalu tangisnya pecah lagi begitu teringat wajah ayahnya. Pria itu hanya ingin melihat putri satu-satunya sukses menjadi dokter seperti anak-anaknya yang lain.
Sekonyong-konyong sepasang lengan kokoh merengkuhnya. Menarik kepala Aeris bersandar di dadanya. Ia tak mengatakan apapun. Tapi aroma cologne itu familiar. Elian. Pria itu lagi-lagi datang saat Aeris terluka. Bedanya kali ini yang terluka perasaannya.
“Mana yang sakit?”
Elian tidak bertanya kenapa—dia malah menanyakan kondisi Aeris. Dan itu justru membuatnya semakin sesenggukan di dadanya. Membuat baju pria itu seketika basah oleh air mata.
“Did someone hurt you?” Kalimat itu meluncur dengan lembut, penuh perhatian. Elian bukan tipe yang perayu. Dia teman yang baik dan tulus.
“Me.” balasnya diantara sesenggukan. “I hurt myself.”
Elian terdiam sesaat. Tangannya yang sejak tadi mengusap pelan punggung Aeris berhenti sepersekian detik. Lalu kembali bergerak. Kali ini semakin lembut dan lebih sabar. Seolah ia sedang menenangkan anak kecil yang ketakutan.
“Aku ragu itu benar.”
Aeris menggeleng keras. “Faktanya aku memang melakukannya.”
“Kedengarannya sangat meyakinkan.” gumam Elian tak serius. Seolah hanya menggodanya.
Tangis Aeris kembali pecah. “Aku ceroboh. Aku lalai.”
Elian mendengarkan tanpa menghakimi.
“Aku tidak ada di sana saat dia butuh. Aku membahayakan nyawanya.”
Satu per satu kalimat itu keluar seperti daftar hukuman yang ia jatuhkan untuk dirinya sendiri. Sampai Aeris kehabisan napas untuk menangis. Baru kemudian pria itu bicara.
“Aeris.” Panggilnya lembut. Gadis itu mendongak demi memperlihatkan mata sembabnya.
Tanpa sadar Elian membawa jarinya demi mengusap sisa air mata di pipi Aeris. Gerakannya begitu lembut penuh kehati-hatian. Seolah takut gadis itu bisa terluka olehnya.
“Kalau seorang pasien demam lalu tidak membaik setelah satu dosis obat, apa artinya dokternya gagal?”
Aeris mengerutkan alis. “Itu pertanyaan bodoh.”
“Nah. Bagus.”
Aeris mengibaskan bulu matanya yang basah. Ekspresinya tampak polos dan lucu. “Apanya?”
“Karena jawabanmu juga bodoh.” Elian tak bisa menyembunyikan kegemasannya. Ia terkekeh, sambil menarik gemas hidung gadis itu.
Aeris cemberut. Walau kalimat Elian itu benar, dia masih tak bisa menyingkirkan pikiran buruk itu darinya. “Kondisi Marie tidak dimulai hari ini." Aeris menghela napas lelah.
“Dan tidak ada yang bisa menjamin akan selesai hari ini juga.” Sambung Elian dengan suara tenang. “Jadi berhenti bersikap seolah kau penyebab seluruh dunia runtuh.”
“Still, He's mad at me.”
Elian menghela napas pelan. Akhirnya sadar masalah utamanya. Ini bukan hanya soal Marie. Tapi karena Marie lah triggernya. “I see.”
“Apa?”
“Itu menjelaskan banyak hal.”
“Dokter Kael memang masalahnya!” Keluhnya, terdengar agak menggebu.
Elian menahan tawa. “Aku tidak bilang begitu lho.”
“Dia bilang aku tidak cocok jadi dokter.”
“Memang.” Balasan Aeris langsung dihadiahi plototan dari Aeris. “Kamu memang nggak cocok jadi dokter—cocoknya jadi tukang sapu.”
Aeris makin melotot. “Dih?? Yang bener aja masa tukang sapu sih?” Ekspresinya berubah jadi cemberut lucu. Bikin Elian tertawa.
“Soalnya kamu sudah berhasil menyapu antrian para wanita di hidupku.” Gombalnya. Yang langsung direspon dengan ekspresi pura-pura muntah Aeris. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
Bermenit-menit kemudian, tiba-tiba Elian menatapnya dalam. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus—ramah dan menghangatkan khasnya. “Aku percaya suatu hari nanti kamu akan jadi dokter yang hebat.”
Aeris tertawa kecil. “Aku tidak yakin.”
“Aku yakin.”
Lalu ponsel Aeris berbunyi. Ada sebuah pesan baru masuk. Dr. Milani—dokter psikiatri yang sempat ia hubungi.
Saya sudah meninjau kondisi pasien Marie Moreau.
Pasien membutuhkan observasi psikiatri intensif sesegera mungkin
Dugaannya benar—unit trauma bukan tempat yang sebenarnya Marie butuhkan, tapi Psikiatri. Dan Aeris akan memastikan Marie tertangani dengan baik.
Dengan atau tanpa persetujuan Kael.
***