Selain dilengkapi dengan fasilitas lengkap dan canggih, rumah sakit San Aurelio juga dilengkapi dengan CCTV super unik. Satu-satunya fitur yang hanya dimiliki oleh rumah sakit ini. Seekor gagak.
Burung itu akan berpatroli di jam-jam random. Kalau beruntung, penghuni rumah sakit mungkin akan bertemu dengannya. Atau justru tidak akan melihatnya sama sekali.
Konon, burung itu juga menjadi urban legend di sana. Dia hanya muncul di saat-saat tertentu. Misalnya keributan besar atau tengah malam yang mencekam.
Terlepas dari itu, jika sedang tidak patroli, burung itu akan hinggap di atap atau di pohon. Atau tidak dimanapun. Dia suka bersantai menikmati udara Roma.
Seperti saat ini, dia tengah bertengger di beton pembatas rooftop rumah sakit. Matanya yang tajam menyorot pada satu titik.
Tumpukan kentang goreng.
Kentang goreng itu milik seorang residen tahun pertama yang sedang menangis tersedu-sedu di kursi rooftop.
Gagak hitam itu memiringkan kepala. Lalu memiringkannya lagi.
Tangisan manusia selalu menjadi salah satu fenomena yang sulit dipahami Caz. Mereka menangis saat sedih. Menangis saat bahagia. Menangis saat marah. Menangis saat menonton film. Menangis karena mantan. Menangis karena nilai ujian.
Spesies yang aneh.
Sementara itu, sang residen masih sibuk menghapus air mata. “Kenapa hidupku begini…” gumamnya lirih.
Caz melompat satu langkah lebih dekat. Matanya tidak tertuju pada manusia itu. Melainkan pada kentang—panjang, keemasan, masih hangat. Sangat menggoda.
Residen itu kembali terisak. “Dokter senior bilang presentasiku seperti bencana alam—”
Caz mengangguk kecil. “Turut berduka.” Batinnya.
Lalu—Sret.
Satu kentang hilang.
Residen itu berkedip. “Hah?”
Seolah ada yang aneh, dia menunduk ke wadah kentangnya. Jumlahnya sepertinya berkurang. Namun sebelum otaknya memproses lebih jauh—
Sret.
Satu lagi menghilang. Kali ini matanya membelalak. Dia berhasil menangkap basah si pelaku. “Astaga!”
Caz sudah melompat mundur sambil membawa hasil curiannya di paruh. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
Residen itu berdiri. Dia menunjuk Caz menuduh—separuh kesal, separuh lagi masih tak percaya apa yang dia lihat. “Hei!”
Caz mengunyah dengan gerakan disengaja.
“Hei! Itu kentangku!”
Caz menelannya. Lalu mengeluarkan suara, “Kra!”
Yang dalam bahasa gagak kira-kira berarti: Dan sekarang menjadi kentangku.
Residen itu menatap tidak percaya. “Kau serius mencurinya saat aku sedang menangis?”
“Kraa!” (Tentu saja.)
“Dasar burung jahat!”
“Kra!” (Terima kasih.)
sedetik kemudian, residen itu justru tertawa. Tangisnya perlahan mereda. Dia seolah menertawakan hidupnya yang mendadak bergenre komedi.
“Kau tahu? Mungkin hidupku memang menyedihkan kalau sampai dirampok seekor burung.”
Caz menatapnya. Kemudian melompat ke pagar beton. “Kraaa!” (Atau mungkin presentasimu memang buruk.)
Residen itu menaikan satu alisnya curiga. “Entah kenapa aku merasa kau sedang menghinaku.”
Caz tersenyum mengejek. “Kra!” (Karena memang begitu.)
Residen itu cemberut. Ia meyakini bahwa burung itu benar-benar baru saja mengejeknya. Maka, dia mengambil ancang-ancang sebelum berlari menerjang Caz. Dan walau sudah secepat kilat, Caz tetap bisa kabur. Burung itu terbang tinggi—mengepakkan sayapnya angkuh. Bahkan ia sempat memberi si residen kenang-kenangan spesial sebelum pergi.
“Burung sialan!!” Pekiknya ke udara. Sementara tangannya dengan kesal mengusap kotoran burung dari rambutnya.
“Kraa kraa kraa!” Caz menertawakannya.
***
Caz sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Perut kenyang. Cuaca bagus. Manusia-manusia rumah sakit juga sedang memberikan hiburan gratis.
Ia melayang santai melewati jendela lantai tujuh. Di dalam, ia menemukan seorang dokter senior sedang marah-marah.
“Siapa yang menaruh hasil CT scan pasien di freezer ruang istirahat?!”
Caz langsung tahu pelakunya. Residen yang sama yang kentangnya baru ia curi tadi.
Burung itu tertawa dalam bahasa gagak. “Kraa!”
Bodoh sekali.
Caz kembali terbang. Beberapa meter setelahnya, ia melihat dua perawat sedang berbisik.
“Menurutmu Dokter Kael tidur nggak sih? Kok dia kelihatan nggak pernah capek.”
“Tidur.” Temannya membalas sambil menyedot es kopinya.
“Yakin?”
“...enggak.” Temannya nyengir konyol. Lalu lanjut dengan, “Menurutku dia mengisi baterai di lemari.”
“Kraa!” Caz hampir jatuh dari udara karena tertawa.
Kalau saja mereka tahu. Pria itu bukan mengisi baterai. Dia mengisi eksistensi. Jauh lebih aneh dari pemikiran mereka.
Kemudian, Ia kembali berpatroli. Kali ini melewati jendela ruang tunggu. Di sanalah ia melihat seorang anak kecil sedang menangis karena suntikan.
Ibunya mencoba menenangkan. Dokter mencoba menenangkan. Perawat mencoba menenangkan. Tidak satupun dari mereka berhasil. Anak itu tetap menangis.
Lalu Caz mendarat di luar jendela. Menatap anak itu dengan mata bulat. Anak itu menatap balik. Mereka saling tatap dalam diam.
Setidaknya ada sepuluh detik mereka saling tatap. Anak itu bahkan berhenti menangis. Semua orang tampak bernapas lega.
Anak itu akhirnya tersadar dan menunjuk Caz. “Burung.”
Caz mengedip jahil ke bocah itu lalu terbang pergi.
Saking leganya mendapati si bocah berhenti menangis, dokter itu tampak ingin mengangkat Caz sebagai staf tetap rumah sakit.
***
Perjalanan patroli Caz diakhiri dengan bertengger cantik di dahan pohon di taman rumah sakit. Sudah banyak gosip dan kejadian menarik yang ia saksikan hari ini.
Amunisi yang cukup untuk menghibur tuannya. Pria tampan super dingin itu pasti senang Caz dapat banyak oleh-oleh untuknya. Apalagi fakta tentang cewek gebetan bosnya itu.
“Dia pasti langsung ngamuk.” Caz cekikikan membayangkan ekspresi kael saat mendengar informasi darinya. “Lumayan—kapan lagi lihat bos ngamuk perkara cewek.”
Lalu sekonyong-konyong ia bersiul begitu matanya menangkap pemandangan indah. Cewek cantik. Lebih tepatnya perawat cantik dengan rambut cokelat muda dicepol rapi. Matanya bulat cokelat terang. Dia punya senyum yang manis.
Wanita itu berjalan sendirian sambil membawa beberapa berkas.
Caz langsung menegakkan punggungnya. Bulu-bulunya hampir mengembang. Matanya berbinar antusias.
Target.
Ia melihat ke sekeliling. Lantas memutuskan ia perlu sesuatu—perlu hadiah. Perlu kesan pertama. Perlu sesuatu yang romantis.
Kebetulan tatapannya jatuh pada seorang anak kecil yang sedang memegang lolipop masih terbungkus utuh. Tampaknya dia baru mau mengupas kulitnya.
Caz berpikir selama dua detik. Lalu terbang tanpa suara. Hap! Lolipop itu hilang.
Anak itu berkedip syok. Menatap tangannya yang kosong. Begitu ia mendongak, ia melihat seekor gagak yang sedang terbang menjauh membawa lolipop.
“IBUUUUU! BURUNGNYA MALING!”
Terlambat. Caz sudah terbang jauh.
Menit berikutnya, gagak itu sudah mendarat di area sepi belakang gedung. Seketika cahaya tipis mengelilinginya. Tubuh gagak itu memanjang. Kedua sayapnya berubah menjadi lengan-lengan kokoh. Bulu-bulunya menjadi sepasang pakaian trendy.
Dalam hitungan detik, berdirilah seorang pria tampan dengan senyum paling menawan. Tatapannya—campuran antara kejahilan dan daya pikat yang kuat.
Caz memeriksa lolipop hasil jambretan. Untungnya masih tersegel utuh.
Bagus!
Ia langsung melangkah mendekati sang perawat. Sontak saja perawat itu mendongak ketika mendengar langkah kaki.
Langkahnya otomatis berhenti. Bagaimanapun seorang pria tampan tiba-tiba menghadang jalannya.
Sekonyong-konyong Caz menyodorkan lolipop itu seperti sedang menyerahkan cincin lamaran.
“Untukmu.” Ucapnya dengan suara sok cool.
Perawat itu berkedip bingung. “...apa?”
Caz memberinya senyuman maut andalannya. “Hadiah.”
“Apakah Kita saling kenal?”
“Belum.” Caz menatapnya jahil. “Tapi aku ramal kau akan jadi pacarku suatu hari nanti.”
Perawat itu menatapnya selama tiga detik penuh. Tampak mencerna kalimat Caz yang absurd. “...apa?”
“Aku tahu.” Caz mengangguk bijak. “Sulit dipercaya. Aku juga kaget waktu tahu.”
“Kau tahu apa?”
“Bahwa masa depan secerah ini.” Nada bicaranya terdengar percaya diri.
Perawat itu memandangi wajahnya. Lalu lolipopnya. Lalu wajahnya lagi. “Aku bahkan tidak tahu namamu.”
Caz membalas cepat. “Caz.”
“Cuma Caz?”
“Cuma Caz.”
“Itu nama panggilan?”
“Itu nama yang diberikan semesta untuk mengakomodasi ketampananku.”
Perawat itu langsung tertawa.
Dan Caz merasa kemenangan kecil nomor satu berhasil diraih.
“Aku Sofia.” Siapa sangka perawat itu justru menyebutkan namanya alih-alih jijik dengan gombalan Caz.
“Sofia.” Caz mengulang nama itu pelan seolah sedang mencicipi anggur mahal. “Sofia.”
“Kau sengaja mengulanginya?”
“Aku sedang memastikan namamu terdengar secantik pemiliknya.”
Sofia menggeleng sambil tertawa. Rona merah muda menyebar lembut di kedua pipinya. “Apa Kau selalu seperti ini?”
Caz mengedikkan bahu. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Seberapa cantik lawan bicaraku.”
“Astaga.” Sofia tertawa salah tingkah.
Caz tersenyum puas dengan reaksi Sofia. Tepat sasaran. Sementara Sofia tampak sudah mulai menyesal berhenti berjalan.
“Kau kerja di sini?” tanya Sofia.
“Tentu.”
“Bagian apa?”
Caz berpikir sekian detik lamanya hanya untuk mendapatkan tatapan penasaran sofia. Kali ini perawat itu benar-benar fokus padanya.
“Tidak tetap.” Balas Caz akhirnya. Ia menyandarkan pinggulnya ke bangku terdekat.
“Itu bukan bagian.” Sofia nyaris saja cemberut. Jawaban itu tidak menjawab rasa penasarannya.
“Aku fleksibel.”
“Itu juga bukan jawaban.”
“Aku lebih suka menjadi misteri.”
“Kau lebih mirip masalah.” Kali ini dia benar-benar cemberut kesal.
“Ouch!” Caz menyentuh dadanya dengan dramatis seolah terluka.
Sial! Itu lucu. Sofia kembali tertawa.
Caz terpesona. Matanya bahkan tak berkedip memandangi Sofia. Tawanya memang manis.
Caz baru saja ingin membuka mulut untuk melanjutkan rayuan berikutnya ketika gerakan di ujung taman menarik perhatiannya.
Rambut hitam panjang. Wajah cantik. Jas koas. Kotak bekal di tangan.
Tidak salah lagi. Caz mengenal orang itu.
Aeris Lunetta.
Target utama bosnya.
Sofia mengikuti arah pandangnya. Sontak saja rona mukanya berubah. “Kau kenal dia?”
“Tidak.”
“Jawabanmu tidak terdengar meyakinkan.”
Caz mengangkat bahu santai. “Aku cukup profesional.”
“Kau bahkan tidak terlihat punya pekerjaan.”
“Itu tuduhan yang menyakitkan.” Ia mengedip menggoda ke Sofia. Meski begitu, perhatian Caz sudah teralihkan sepenuhnya.
Aeris berjalan ke bangku taman paling ujung. Bangku yang agak tersembunyi di bawah pohon besar. Tempat ideal untuk bergosip atau merenung. Tempat ideal untuk mengumpat. Tempat ideal untuk mencari masalah.
Aeris duduk. Membuka kotak bekalnya. Mengeluarkan sandwich isi dagingnya. Lalu langsung berkata, “Dokter sinting.”
Mata Caz membulat.
Oh. Menarik.
Sofia bahkan belum sempat menyadari apa yang terjadi ketika pria di hadapannya tiba-tiba menegakkan badan. Lalu mengecup tangan Sofia lembut, “Aku harus pergi.”
Sofia membelalak. Mendadak dia jadi gugup sendiri. “A-apa?” Secepat mungkin wanita itu menarik tangannya.
“Ada urusan negara.”
“Kau bahkan bukan anggota pemerintahan.”
“Ini lebih penting.”
Lalu sebelum Sofia sempat bertanya lagi—Caz sudah menghilang.
Sofia hanya bisa berdiri bengong. “...aku bahkan belum sempat mengembalikan lolipopnya.” Gumamnya.
Beberapa saat kemudian. Seekor gagak hitam bertengger di cabang pohon tepat di atas bangku Aeris. Jarak sempurna untuk menguping. Terlebih lagi Aeris sama sekali tidak menyadarinya.
Perempuan itu sedang sibuk membuka plastik sandwich. Wajahnya terlihat kesal.
“Aku bersumpah suatu hari nanti aku bakal melempar buku anatomi ke kepala dokter itu.”
Kepala Caz langsung menoleh.
Sempurna! Ini lebih bagus dari yang ia kira.
“Aku cuma salah satu milimeter.” Aeris menggigit sandwich. “SATU MILIMETER.”
Ia menjeda demi mengunyah.
“Dia menatapku seolah aku baru saja membunuh seseorang.”
“Maaf maaf saja kalau aku memang cuma manusia biasa.” Sejenak, Ia menelan sebelum melanjutkan dengan, “Bukan manusia yang hidup dua ratus tahun dan menghafal seluruh isi buku kedokteran di dunia.”
Caz hampir jatuh sebab menahan tawa. Kalau Kael mendengar ini—Oh, ini akan luar biasa.
“Aku yakin dia lahir langsung sebagai dokter.” Ia mengunyah lagi. “Bayi lain menangis. Dia langsung bikin diagnosis.”
Caz benar-benar kepayahan menahan suara tawanya. Tubuh kecilnya bergetar.
“Kraa!”
Selesai sudah. Caz tidak tahan lagi. Untungnya Aeris terlalu fokus mengomel untuk bisa menyadari suara aneh di dekatnya.
“Aku bahkan curiga dia tidak punya masa kecil.” lanjutnya mendumal. “Dia mungkin keluar dari rahim sambil mengoreksi diagnosis dokter kandungan.”
Caz terpingkal-pingkal.
Aeris berhenti mengunyah. Menyadari ada suara aneh di dekatnya. Pelan-pelan ia mendongak. Sepasang mata hitam mengilap langsung bertemu matanya.
"..."
"..."
Caz membeku.
Aeris menyipitkan mata. “Jangan bilang kamu barusan menertawakanku?”
Caz menatap langit. Berusaha terlihat senormal mungkin layaknya seekor gagak. Pura-pura tidak tahu apa-apa. Pura-pura tidak mengerti bahasa manusia.
“Kraa.”
“Bagus! Aku baru saja ketahuan sedang mengumpati supervisorku oleh seekor gagak.”
“Kraa.”
“Itu mungkin titik terendah dalam hidupku.”
Aeris terkekeh. Kemudian ia melihat sandwich di tangannya. Lalu melihat gagak itu.
“Sebentar.” Katanya tiba-tiba. Membuat Caz waspada.
Lantas tau-tau Aeris merobek sebagian sandwichnya. Mengambil potongan cukup besar. Ada dagingnya. Ada kejunya. Ada semuanya.
Lalu ia meletakkannya di bangku kosong sebelahnya. “Nih.”
Caz menatap bergantian pada roti lapis itu dan Aeris.
“Sini. Nggak usah malu-malu.” Bujuknya.
Caz masih diam, tak juga bergerak.
“Tenang.” Kata Aeris diiringi kekehan. “Aku tahu ini aneh—menawarkan makan siang pada seekor gagak.” Ia menatap gagak itu. “Tapi kamu kelihatan lebih ramah daripada sebagian dokter di rumah sakit ini.” Imbuhnya.
Caz langsung tersinggung mewakili para dokter. Lalu teringat sebagian besar dokter yang ia kenal. Terutama Kael. Kemudian memutuskan Aeris mungkin ada benarnya.
Aeris tertawa lagi. "Kupikir aku mulai gila berbicara pada gagak."
Ia menunjuk sandwich itu sekali lagi. "Ayo makan."
Akhirnya Caz melompat turun dan Hap. Mendarat tepat di bangku itu. Aeris langsung berbinar.
“Kamu benar-benar mengerti ucapanku! Hebat!”
Caz berjalan mendekati sandwich dengan langkah penuh martabat. Seolah-olah ia bukan burung yang lima belas menit lalu mencuri kentang dan merampok lolipop anak kecil.
Dengan gerakan anggun ia mulai mematuk makanannya. Aeris tertawa kecil.
Sementara itu, di dalam kepala Caz hanya ada satu pikiran. Bos.
Aku baru menemukan alasan kenapa kau ‘menyukai’ manusia ini.
Dan demi segala hal yang ada di bumi… Aku tidak sabar menceritakan semuanya nanti.
***