Marie duduk di tepi tempat tidur ketika Aeris masuk bersama seorang perawat yang membawa alat pemeriksaan rutin.
“Pagi,” sapa Aeris riang, seperti biasa. Senyumnya begitu lebar, suaranya ringan. Sedikit memberi penyegaran pada ruangan yang bau antiseptik dan obat-obatan ini. “Kamu kelihatan lebih baik hari ini.”
Marie mendongak. Ada rona pucat di wajahnya, tapi pagi itu matanya tampak lebih jernih dari kemarin. Rambutnya yang lurus disibakkan ke belakang telinga, dan bibirnya membentuk senyum lebar.
“Aku memang harus terlihat lebih baik, bukan?” jawabnya separuh bercanda.
Aeris mengerjap. Lalu tertawa kecil. “Itu semangat yang bagus.”
Perawat mendekat, memeriksa tensi dan infus dengan gerakan terlatih. Aeris memperhatikan sebentar, lalu tangannya bergerak reflek membuka gorden.
“Pagi yang indah,” katanya sambil menyingkirkan kain itu ke samping. Cahaya matahari langsung tumpah ke ruangan, membuat debu-debu kecil di udara tampak berkilau. “Mau melihat dunia lebih dekat?”
Marie menoleh ke arah jendela. Di luar, taman rumah sakit terbentang dengan jalur setapak kecil, bangku kayu, dan beberapa pohon yang daunnya bergoyang pelan tertiup angin. Tidak ada yang istimewa, tapi pagi itu taman itu terlihat seperti tempat yang jauh lebih baik daripada kamar yang terlalu putih dan terlalu sunyi ini.
“Bagaimana?” Aeris kembali menanyakan.
Marie berkedip bingung. “Hm?”
“Aku mau nyulik kamu ke taman.” Aeris menunjuk ke luar jendela dengan dramatis. “Lihat itu. Matahari. Pohon. Rumput. Fotosintesis. Hal-hal yang tidak bisa kita nikmati di ruang rawat beraroma alkohol begini.”
Marie tertawa. Suara tawanya pelan namun cukup membuat Aeris merasa seperti baru memenangkan penghargaan kemanusiaan.
“Mau, ya?” Aeris membungkuk sedikit di depan tempat tidur. “Aku janji tidak akan menabrakkan kursi rodamu ke dinding.”
Perawat di samping Marie langsung menyela, “Jangan percaya. Minggu lalu dia menabrak pintu otomatis.”
“Itu fitnah,” balas Aeris cepat. “Pintunya saja yang terlalu sensitif. Itu bahkan hanya senggolan kecil.” Cengirnya tanpa dosa.
Marie kembali tertawa, kali ini lebih kencang.
Dan untuk sesaat, wajahnya benar-benar terlihat seperti perempuan seusianya. Bukan pasien suicide risk yang sempat ditemukan berdarah di rooftop rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di taman rumah sakit. Udara terasa lebih segar di sana, bercampur aroma rumput basah dan tanah yang mulai menghangat karena matahari. Burung-burung kecil melompat di rerumputan, dan di kejauhan ada beberapa keluarga pasien yang duduk diam di bangku, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Aeris mendorong kursi roda Marie perlahan di jalur setapak. Ia bicara tanpa jeda. Menyebut bunga yang mekar di pot teras misalnya. Atau pohon yang rimbun. Dan betapa rumah sakit ini setidaknya berusaha terlihat ramah terlepas dari image unit trauma kebanggaannya yang garang.
“Lihat.” katanya tiba-tiba. “Bunga yang warna ungu itu cantik banget.”
Marie mengikuti arah pandangnya. “Wisteria.” gumamnya pelan.
“Kamu tahu namanya?”
Marie mengangguk kecil. “Ibuku suka bunga. Aku belajar beberapa darinya.”
Aeris tersenyum. “Bagus ya? Rasanya dunia jadi sedikit lebih hidup kalau ada bunga.”
Marie diam sebentar sebelum berkata lirih, “Kadang sesuatu terlihat indah hanya karena kita tidak punya pilihan selain menyukainya.”
Aeris mengernyit bingung. “Hm?”
Marie tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”
Aeris hanya mengangguk. Melanjutkan perjalanan menyusuri taman.
“Oh ya, ngomong-ngomong soal indah…” Aeris mulai mengoceh lagi. “Aku kemarin lihat dokter anestesi tidur sambil duduk dan itu mengerikan banget. Mulutnya kebuka.”
Marie terkekeh. “Itu bukan pemandangan indah, Aeris. Itu aib.” Komentarnya.
“Aib juga pemandangan indah bagiku. Lebih berharga daripada lukisan jutaan dolar.”
Jawaban konyol itu kembali dihadiahi tawa Marie. Namun tawa itu perlahan hilang setelahnya. Digantikan kesunyian yang janggal. Tatapannya berhenti ke satu titik di seberang taman. Seketika tubuhnya menegang.
Di kejauhan, seorang pria bertubuh tinggi sedang berdiri membelakangi mereka sambil berbicara di telepon. Hanya terlihat punggung. Hanya siluet tubuhnya yang jelas. Namun jari-jari Marie perlahan mencengkeram selimut di pangkuannya. Napasnya berubah lebih pendek.
“Aeris.” panggilnya pelan.
“Hmm?”
“Aku mau kembali.”
“Okay.” Aeris langsung memutar kursi roda. “Kayaknya lebih baik memang kita kembali. Aku tidak mau dituduh menculik pasien dan bikin tambah sakit.”
Marie tersenyum kecil. “Itu resikomu. Kamu yang bilang mau menculikku tadi.”
Aeris terkekeh. “Benar juga.” Ia mendorong kursi roda Marie menyusuri lorong rumah sakit.
Sepanjang perjalanan kembali ke bangsal, Marie tidak lagi menoleh ke arah taman. Terlalu takut melihat apakah pria itu masih ada di sana. Bahkan yang lebih ia takuti—jika ternyata pria itu memang tidak ada.
Karena itu berarti ketakutannya belum pergi. Ketakutannya tinggal di dalam kepala.
Seorang petugas kebersihan laki-laki lewat sambil mendorong troli. Bahu Marie langsung menegang. Lalu dua pria paruh baya berjalan berpapasan di ujung lorong. Jari-jarinya otomatis mencengkeram selimut di pangkuan. Kemudian ada seorang dokter laki-laki tertawa keras di dekat lift. Marie refleks menoleh.
Tidak ada satu pun dari mereka yang ia kenal. Namun tubuhnya tetap bereaksi berlebihan terhadap mereka. Seolah sedang menunggu sesuatu yang buruk muncul dari balik sudut mana pun.
“Kamu yakin nggak pusing?” tanya Aeris tiba-tiba. Marie tersentak kecil.
“Hm?”
“Kamu dari tadi diam terus.”
“Aku cuma sedikit capek.”
Aeris mengangguk begitu saja. Lift berdenting pertanda mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju.
***
Siang harinya, Marie sendirian di kamar saat ponselnya berdering di atas meja.
Unknown Number.
Jantungnya berdetak lebih kencang tanpa alasan. Dipandanginya layar itu berlama-lama—sampai dering kedua, panggilan mati. Lalu ponsel itu bergetar lagi. Kali ini sebuah pesan singkat masuk. Tangannya dingin, gemetar begitu membuka pesan itu.
Masih dari nomor yang sama.
Aku lihat kamu hari ini.
Tubuh Marie langsung membeku. Siapa dia? Apakah Marie sedang diintai? Pikiran-pikiran itu membuat tangannya makin dingin.
Pesan kedua masuk.
Wisteria masih bunga favoritmu?
Napas Marie nyaris tersangkut di tenggorokan. Tidak banyak orang yang tahu tentang fakta itu. Hal itu semakin membuatnya merinding.
Tak berselang lama pesan ketiga muncul.
Senang melihatmu masih tersenyum.
Jari Marie gemetar ketika ia memberanikan diri mengetik balasan. “Siapa ini?”
Namun sebelum sempat dikirim, sebuah foto muncul. Rona di wajahnya langsung menghilang. Dia sepenuhnya memucat begitu melihat foto itu.
Foto Marie menangis di bawah Kungkungan dua lengan kokoh. Foto yang selama ini ia harap tidak pernah ada. Foto yang tidak pernah ia izinkan untuk diambil.
Pesan berikutnya datang dalam hitungan detik.
Kamu cantik sekali waktu menangis.
Marie langsung mematikan layar. Ponsel itu terlepas dari tangannya. Jatuh ke atas selimut. Sayangnya ia bergetar lagi—menampilkan utas demi utas pesan berikutnya.
Jangan bikin aku khawatir lagi.
Aku nggak suka kalau kamu jauh dariku.
Sejauh apapun kamu pergi
Aku selalu bisa menemukanmu.
Selalu.
Air mata langsung menggenang di mata Marie. Ia mulai menyadari siapa si pengirim.
Sekonyong-konyong ia melempar ponsel itu ke bawah bantal—ke bagian paling jauh agar ia tak bisa menjangkaunya dalam waktu dekat. Dadanya naik turun—emosi, frustasi, kesedihan bercampur dengan gejolak panik yang tumbuh terus naik. Kepalanya dipenuhi satu skenario yang paling ia takuti: Bagaimana jika foto itu tersebar dan dijadikan bahan lelucon orang-orang?
Tok tok.
Marie tersentak keras saat pintu kamar diketuk. Sebuah suara terdengar tepat setelahnya.
“Aku masuk yaa—” Suara Aeris terdengar setelah ketukan.
Marie langsung mengusap wajahnya cepat-cepat sebelum perempuan itu masuk membawa dua cup pudding.
“Aku berhasil mencuri dessert dapur sebelum habis.” kata Aeris bangga.
Marie merekahkan senyum lebar. “Asyiiikk!”
***
Sore menjelang malam, suasana kamar Marie jauh lebih santai. Aeris duduk di sofa sambil mengupas permen. Marie sedang membaca buku tipis di atas ranjang, meski sejak tadi halaman bukunya tidak benar-benar berpindah. Pikirannya melayang jauh entah kemana.
Lantas sekonyong-konyong suara pintu diketuk terdengar. Aeris menoleh lebih dulu. “Masuk.”
Seorang pria muncul dari balik pintu.
Wajahnya tampan dengan senyum hangat yang langsung tampak ramah sejak detik pertama. Rambutnya tertata rapi. Kemeja kremnya mahal. Di tangannya ada buket bunga wisteria ungu.
“Marie.” Senyum di wajah pria itu melembut.
Marie membeku sepersekian detik. Buku di tangannya bahkan terjatuh ke lantai tak sengaja. Membuatnya agak tersentak sendiri. Sontak ia tersenyum balik tak kalah lebar begitu menyadari pria itu. “Kak Adam?"
Aeris otomatis berdiri. “Oh! Keluarga pasien?”
Adam mengangguk sopan. “Sepupu.” jawabnya lembut. “Maaf baru bisa datang sekarang.”
Cara bicaranya begitu tenang. Menenangkan. Bahkan terdengar seperti pria idaman.
Ia menghampiri Marie perlahan lalu menyerahkan bunga itu padanya. “Aku bawakan favoritmu.”
Marie menerimanya sambil bergumam terimakasih pelan.
Aeris memperhatikan interaksi mereka sambil tersenyum kecil. Hangat sekali. “Andai aku punya kakak,” batinnya. Dia jadi berandai-andai sendiri—agak iri dengan mereka.
Adam duduk di sisi ranjang lalu mengusap lembut kepala Marie seperti kakak yang benar-benar menyayanginya. “Kamu bikin aku khawatir.” katanya lirih.
Marie menunduk. Dan kalau diperhatikan baik-baik—jemarinya seperti gemetar. Namun Aeris terlalu sibuk merasa lega melihat Marie punya keluarga yang perhatian.
“Kalau begitu aku keluar dulu.” kata Aeris sambil berdiri. “Biar kalian ngobrol.”
Marie refleks mengangkat wajah cepat. Tatapannya sempat berubah janggal. Namun hanya satu detik. Karena Adam langsung menggenggam tangannya lembut.
“Tidak apa-apa.” katanya sambil tersenyum manis pada Aeris. “Terima kasih sudah menjaga Marie.”
Aeris langsung tersenyum canggung. “Ah, tentu.”
Lalu ia benar-benar pergi. Pintu itu tertutup pelan. Menyisakan ruangan yang mendadak terasa lebih sunyi.
Adam masih tersenyum. Masih terlihat sama seperti beberapa detik sebelumnya. Kali ini Ia bergerak lebih leluasa, meraih sesuatu dari meja.
Pria itu bersandar di kursi, mulai mengupas jeruk. Posisinya begitu santai dan nyaman, seolah mereka hanya dua saudara yang sedang menghabiskan sore bersama.
“Rumah sakit ini lumayan bagus.” ia memulai, sembari sedikit menatap ke luar jendela besar di ruangan itu.
Marie tidak menjawab. Adam tetap mengupas jeruk. Kulit jeruk terlepas panjang, nyaris tidak putus.
“Katanya kamu hampir mati.” Ia kembali bicara. Sayangnya lagi-lagi yang ia temui hanya keheningan.
“Bikin aku takut.” lanjutnya. Suaranya lembut, tersirat kekhawatiran yang tulus.
Adam meletakkan satu potong jeruk ke piring kecil. “Makan.” Ia meletakkan piring itu ke pangkuan Marie. Sementara Marie tidak bergerak.
“Makan, Marie.” Nada suaranya tetap tenang, tapi lebih menuntut sekarang. Dan itu justru membuat perut Marie seolah dilanda mual.
Mau tak mau perlahan ia mengambil potongan jeruk itu.
Adam tersenyum puas. “Begitu dong.” Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Marie.
“Beberapa hari ini aku susah tidur.”
Marie menunduk. Mengunyah dalam diam. Hingga… ia mendongak. Tatapan matanya tanpa emosi.
“Tolong jangan datang lagi.” katanya untuk pertama kalinya setelah lebih dari tiga puluh menit diam.
Adam tertawa kecil. Bukan karena lucu. Melainkan karena ia benar-benar menganggap permintaan itu mustahil. “Aku nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku sayang sama kamu.”
Marie langsung memejamkan mata. Sementara Adam melanjutkan. “Dan kamu tahu aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”
Kalimat itu terdengar seperti pengakuan cinta. Padahal tidak. Itu justru ancaman.
***