Pukul empat pagi di unit trauma terasa seperti dunia bekerja nonstop tanpa jeda. Lampu lorong tetap terang. Monitor tetap berbunyi. Dan manusia-manusia di dalamnya bergerak seperti mesin yang dipaksa hidup terlalu lama.
Aeris menyeret langkah memasuki nurse station sambil membawa tiga chart pasien, satu gelas kopi yang tinggal separuh, dan harga diri yang sudah menurun drastis sejak beberapa jam lalu.
“Miss Lunetta.”
Dan ya. Tentu saja. Belum juga duduk, suara itu sudah datang menghantuinya.
Aeris memejamkan mata sepersekian detik sebelum berbalik. Kael berdiri beberapa meter darinya dengan jas putih sempurna tanpa kusut sedikit pun. Mustahil. Pria itu terlihat terlalu segar untuk seseorang yang baru keluar dari ruang operasi hampir enam jam.
“Ya, Dok?” jawab Aeris setenang mungkin.
Tatapan amber Kael turun ke chart di tangannya. “Kenapa laporan pasien nomor tujuh belum diperbarui?”
“Karena saya baru selesai mengambil hasil CT scan pasien nomor tiga dan—”
“Memperbanyak alasan tidak akan membuatmu terdengar lebih kompeten.”
Deg.
Aeris menggigit bagian dalam pipinya. Bagus. Hari bahkan belum benar-benar pagi dan pria itu sudah mulai melancarkan serangannya. Kalimatnya begitu pedas. Namun Aeris harus tetap bersikap profesional.
“Saya kerjakan sekarang.”
“Seharusnya sudah selesai tiga puluh menit lalu.”
Aeris tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip ancaman pasif agresif. “Baik, Dokter Yang Mulia.”
Kael menatapnya datar. “Kalau energimu masih cukup untuk sarkasme, berarti kau belum cukup sibuk.” Lalu pria itu pergi begitu saja.
Aeris mematung beberapa detik sebelum menoleh ke salah satu residen di sampingnya. “…Aku boleh dorong dia dari rooftop nggak?”
Residen itu nyaris tersedak kopi.
***
Rotasi trauma ternyata jauh lebih mengerikan dibanding semua cerita horor senior-seniornya dulu. Semua hal di sini tidak punya ritme pasti. Bahkan, tidak akan membiarkanmu punya waktu berpikir terlalu lama. Pasien datang silih berganti seperti dunia sedang berlomba menciptakan kecelakaan paling tragis.
Dan Kael? Pria itu seperti monster terakhir yang menjaga gerbang neraka departemen bedah.
“ABCDE trauma assessment.” suara Kael terdengar tajam di tengah trauma bay yang sibuk. “Miss Lunetta. Mulai.”
Pasien baru saja datang karena kecelakaan motor. Dia datang dalam keadaan wajah penuh darah, saturasi turun, dan napas berat.
Aeris langsung bergerak mendekat. “Airway clear…” gumamnya cepat sambil mengecek jalan napas pasien.
“Lebih akurat.” potong Kael.
Aeris langsung menegang.
“…Airway patent. Pasien masih bisa bicara meski terbatas.”
“Lanjut.”
“Breathing…” Aeris memperhatikan d**a pasien yang naik tidak simetris. Suara napas kanan melemah. Otaknya langsung bekerja cepat.
“Tension pneumothorax?” katanya terdengar ragu.
Kael otomatis menatapnya. “Kenapa?”
“Deviasi ekspansi d**a… suara napas menurun unilateral… saturasi turun…”
“Baru sekarang kau terdengar seperti calon dokter.”
Aeris nyaris memutar mata. “Wow. Terima kasih atas penghargaan luar biasa itu.” Batinnya.
“Chest tube tray.” perintah Kael cepat pada perawat.
Seluruh tim langsung bergerak. Dan seperti biasa, Kael berubah total begitu berada di tengah kasus. Semua gerakannya presisi. Begitu cepat, begitu tenang. Bahkan cara pria itu mengambil keputusan terasa mengintimidasi. Tidak ada panik atau bahkan keraguan. Hanya satu keputusan setelah keputusan lain yang keluar seperti refleks.
Aeris benci harus mengakuinya, tapi Kael memang luar biasa. Yang membuatnya makin menyebalkan.
“Miss Lunetta.”
Aeris langsung siaga lagi. “Ya?”
“Kalau tekanan darah terus turun setelah chest tube terpasang, apa yang harus dilakukan?”
“Cari sumber perdarahan lain.” Kali ini Aeris menjawab dengan yakin.
“Dan?”
“FAST ulang. Evaluasi abdomen dan pelvis.”
Kael mengangguk tipis. Tapi tampaknya itu bukan akhir. Sebab, selanjutnya dengan tanpa dosa, pria itu berkata, “Lihat? Ternyata otakmu bisa dipakai kalau dipaksa.”
Aeris hampir menjatuhkan gunting operasi.
Perawat di sampingnya langsung menunduk pura-pura sibuk demi menyembunyikan senyum.
SIALAN.
***
Tiga jam kemudian, Aeris resmi kehilangan hak asasi manusianya. Bagaimana tidak, dia belum makan apapun beberapa jam terakhir ini. Hanya minum kopi—yang tentu saja lambungnya bahkan sudah merengek protes karenanya. Lalu, dia juga belum duduk. Bahkan belum sempat ke toilet.
Dan Kael masih terus muncul seperti boss final game yang tidak punya cooldown.
“Miss Lunetta, antar sampel darah ke lab.”
"..."
“Miss Lunetta, revisi chart pasien.”
"..."
“Miss Lunetta, jangan berdiri menghalangi jalan.”
"..."
“Miss Lunetta, fokusmu ke pasien, bukan melamun.”
"..."
Aeris ingin pindah jurusan saja rasanya. Atau pindah negara sekalian. Atau minimal pindah dimensi sekarang dimana tidak ada Kael di sana. Pasalnya pria itu makin menjadi-jadi saja gila nya.
Seperti sekarang, Ia baru saja selesai mengetik laporan ketika sebuah map dijatuhkan di depannya.
Plak.
Aeris mendongak perlahan. Tentu saja Kael. Manusia paling menyebalkan dengan hobi menyiksa koas.
“Urutannya salah.” katanya singkat.
Aeris menatap chart itu tidak percaya. “Dok… saya cuma menukar posisi riwayat alergi dan pengobatan.”
“Cuma?” Kael menaikkan satu alisnya. “Mudah sekali kamu mengatakan itu seolah itu hal sepele.”
“Isinya benar. Saya sudah memastikan semua diisi dengan akurat.” Aeris membela diri.
“Format tetap penting.”
Aeris menarik napas panjang. Jujur saja tingkat kesabarannya makin menipis tiap kali berhadapan dengan Kael.
“Dokter Kael,” katanya akhirnya sambil tersenyum manis penuh penderitaan. “Apakah Dokter lahir langsung dalam bentuk sempurna atau sempat menyusahkan orang tua dulu?”
Hening. Seorang perawat yang lewat langsung mempercepat langkah demi bisa menahan tawa.
Kael menatap Aeris tanpa ekspresi. “Pertanyaanmu tidak relevan.”
“Karena saya penasaran.”
“Penasaran tidak meningkatkan kompetensimu.”
“Sayangnya membunuh saya juga tidak meningkatkan mood dokter.”
“Aku bahkan belum mempertimbangkan itu.”
“Wow.” Aeris berdecak tak percaya. Dia tidak peduli apakah itu akan terdengar sopan atau tidak—yang jelas, dia sudah mulai muak dengan pria diktator di hadapannya ini.
Kael mengambil kembali chart itu lalu meletakkannya lebih rapi di meja. “Perbaiki.” Dan pergi.
Aeris menatap punggungnya dengan ekspresi kosong. “… serius deh, kalau bisa aku bakal santet dia.”
Namun bagian paling menyebalkan bukanlah bentakan Kael. Bukan juga komentar sinisnya. Melainkan fakta bahwa pria itu ternyata tahu cara bersikap manusiawi.
Hanya saja… bukan kepada Aeris.
Karena satu jam kemudian, Aeris melihat Kael berdiri di depan kamar Marie sambil membawa kopi hangat.
Dia seperti sedang memainkan peran lain saking berbedanya dari yang Aeris terima. Kamu tau? Bahkan suaranya berubah. Dia tidak terdengar dingin atau sinis. Kalimatnya cenderung lembut—walau masih tanpa ekspresi—tapi kalimatnya tidak setajam yang diberikan pada Aeris.
“Sudah makan?” tanyanya tenang. Marie balas mengangguk kecil.
“Dih, sok perhatian.” Sinis Aeris. Tentu saja, itu cuma bisa dibatin. Namun raut mukanya tak bisa bohong—kelihatan julid sekali. “Gue bahkan belum makan dari kemarin siang karena lo, dokter durjana.” lanjutnya membatin.
“Masih sulit tidur?” tanya Kael lagi sambil memperbaiki selimut Marie. Kontan pipi perempuan itu bersemu.
“Sedikit.”
“Kabari perawat kalau mimpi buruknya muncul lagi.”
“Sok jadi pengusir mimpi buruk orang—padahal dia sendiri si mimpi buruk itu.” cibir Aeris tanpa suara. Kalau dilihat, cuma dia yang menggerakkan bibir dalam gaya komikal.
Awalnya Aeris berdiri beberapa meter dari sana sambil membawa setumpuk hasil laboratorium hanya untuk mengecek Marie. Dia tidak berniat berdiri di ambang pintu buat julidin adegan di depannya. Dia bahkan sempat mematung kaget sewaktu menemukan Kael dan tingkah ‘tak biasanya’. Mulut Aeris nyaris menganga tak percaya.
OH. JADI BISA.
BISA NGOMONG NORMAL.
MENARIK SEKALI.
Kael bahkan membantu mengatur posisi selang infus Marie yang sedikit berantakan.
Aeris merasa pembuluh darahnya hampir pecah. Menyadari betapa kontrasnya perlakuan pria itu padanya dan pada orang lain—khususnya Marie.
Lalu beberapa detik kemudian Kael menoleh. Tatapan amber itu langsung kembali datar begitu melihat Aeris.
“Kenapa hasil labnya lama sekali?”
“…” Aeris speechless tiba-tiba disemprot begitu. Pria itu seperti punya tombol switch otomatis. Lembut ke Marie, kejam ke Aeris.
“LIHAT?! LIHAT PERBEDAANNYA?!” Teriak Aeris dalam kepalanya.
Aeris tersenyum sangat manis sampai-sampai terlihat menyeramkan alih-alih memukau.
“Maaf mengecewakan Anda, Dokter, karena saya belum bisa teleportasi ke laboratorium.”
Marie spontan menahan tawa. Dan anehnya—sudut bibir Kael seperti bergerak sepersekian detik. Seperti sebuah refleks yang berusaha dihilangkan. Yah, walau, Aeris berhasil menangkapnya juga. Cukup membuat gadis itu membeku.
“…Barusan dia hampir senyum? Mustahil.” Aeris berkedip cepat. “Pasti efek kurang tidur.”
“Masuk.” Ujar Kael tiba-tiba, menyentak pikiran Aeris.
Aeris berjalan masuk, masih curiga pada realitas yang barusan dia lihat.
Marie menoleh dan tersenyum kecil pada Aeris. “Kamu kelihatan capek.”
Aeris terharu. Akhirnya ada manusia yang peduli padanya di rumah sakit ini.
“Kelihatan banget, ya?” katanya dramatis. “Beginilah kalau hidup di bawah sistem tirani.”
Kael bahkan tidak mengangkat kepala dari chart pasien ketika menimpali. “Kamu terdengar masih cukup cerewet. Tampaknya Tiran itu terlalu baik padamu.”
“Karena kalau saya diam, saya bisa meninggal.”
“Menarik. Bisa diuji nanti.”
Marie benar-benar tertawa kali ini. Sementara Aeris menatap Kael tidak percaya. Pria itu menyiksa dirinya. Tapi entah kenapa… dia juga terus memperhatikannya.
Dan itu justru lebih membingungkan.