Pandangan mata mereka bertemu. Aeris refleks berdeham lalu berbalik badan berniat akan pergi . “Maaf, Saya tidak bermaksud—”
“Miss Lunetta.” Kael memotong kalimatnya. Langkah Aeris otomatis berhenti.
Suara itu tidak terdengar tajam seperti biasanya. Tetap datar, tetap rendah, tetapi… tidak menusuk. Aneh sekali.
Aeris kembali menoleh perlahan. Kael masih berlutut di lantai rooftop, satu tangan menopang bahu pasien perempuan itu yang tampak kelelahan setelah menangis terlalu lama. Perempuan itu bersandar lemah di dadanya dengan mata sembab dan napas belum sepenuhnya stabil.
Entah kenapa pemandangan itu terasa terlalu personal untuk dilihat.
“Bantu aku.” lanjut Kael tenang.
Aeris berkedip kaget.
Biasanya pria itu memanggilnya seperti sedang memanggil terdakwa sidang hukuman mati. Tapi sekarang, bahkan nadanya terdengar nyaris sopan.
“Bawa dia turun.” kata Kael lagi. “Dia tidak boleh sendirian.”
Pasien itu menunduk sedikit, tampak malu karena baru saja menangis seheboh itu di depan orang lain. Sementara Aeris masih berdiri agak kaku di tempatnya. Tidak menyangka bakal menghadapi situasi semacam ini.
“O-oke.” jawabnya akhirnya.
Kael berdiri perlahan. Tingginya langsung kembali terasa mendominasi rooftop sempit itu. Tatapan amber-nya turun ke tangan Aeris yang sudah dibalut perban.
“Kau terluka?”
Aeris spontan menyembunyikan tangannya ke belakang. “Tidak apa-apa.”
Matanya menyipit sedikit, namun tidak mempersalahkannya. “Kau calon dokter, seharusnya paham betapa pentingnya menjaga dirimu utuh.”
Dan anehnya—itu terdengar seperti perhatian. Bukan kritik atau sarkas. Aeris malah makin tidak nyaman.
“Sudah dijahit.” jawabnya cepat.
Kael mengangguk tipis. Tidak mengomentari lagi. Ia justru beralih pada perempuan di sampingnya yang diketahui namanya Marie (dari gelang pasien di lengannya).
“Bisa berdiri?”
Perempuan itu mengangguk pelan.
Begitu Marie sedikit goyah saat bangun, Kael refleks menahan sikunya. Gerakan itu sederhana. Hampir seperti otomatis. Namun tetap saja terlalu lembut untuk seseorang seperti Kael Noire.
Dan Aeris melihatnya. Jelas sekali ada yang berbeda dari pria itu.
Lorong rumah sakit terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya ketika mereka turun dari rooftop.
Atau mungkin hanya perasaan Aeris saja. Karena setiap orang yang berpapasan tampak memperhatikan.
Kael berjalan di sisi Marie dengan langkah tenang. Tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk menangkapnya kalau sewaktu-waktu perempuan itu limbung lagi. Sementara Aeris berjalan di sisi lain sambil sesekali melirik keadaan Marie.
Namun tatapan orang-orang di sekitar mereka punya banyak arti.
Dua perawat di nurse station bahkan sampai berhenti mengetik. Seorang residen muda nyaris salah menjatuhkan clipboard saat melihat Kael sendiri yang mengantar pasien rawat inap.
“Kenapa mereka melihat kita kayak habis lihat alien?” bisik Aeris pelan. Marie hampir tertawa kecil di sampingnya.
Karena memang aneh.
Kael Noire terkenal bukan hanya karena kemampuannya di ruang operasi, tapi juga karena sifatnya yang nyaris tidak manusiawi kalau sedang bekerja. Dia tidak pernah terlihat terlalu dekat dengan pasien atau sesama tenaga medis. Tidak pernah berbasa-basi. Tidak pernah melakukan hal yang tidak perlu.
Dan sekarang? Dia bahkan mengantar sendiri pasien ke bangsal. Tentu saja seluruh rumah sakit langsung curiga.
Begitu mereka tiba di nurse station bangsal trauma, seorang kepala perawat langsung berdiri. “Dokter Noire.” sapanya cepat.
“Aku ambil alih kasus pasien ini.” ujar Kael tanpa basa-basi.
Perawat itu tampak sedikit terkejut. “Maksud Dokter… secara penuh?”
“Ya.”
“Tapi pasien ini sebelumnya tercatat untuk observasi umum sebelum konsultasi psikiatri—”
“Dia suicide risk.” potong Kael tenang. Seketika suasana di sekitar nurse station terasa lebih sunyi.
“Pasien baru saja mencoba melukai diri lagi beberapa menit lalu.” lanjutnya. “Jahitannya terbuka kembali. Dan dia berhasil lolos dari pengawasan rumah sakit sambil membawa benda tajam.” Tidak ada nada emosi di sana. Hanya fakta yang begitu dingin dan profesional.
“Pindahkan ke VIP trauma unit.” kata Kael. “Observasi dua puluh empat jam. Aku akan bertanggung jawab penuh atas kasusnya.”
Kalimat terakhir itu sukses membuat beberapa pasang mata langsung tertuju padanya.
Bertanggung jawab penuh?
Aeris bahkan melihat seorang perawat saling pandang dengan rekannya. Jelas sekali itu berarti satu hal—besok pagi gosip rumah sakit pasti meledak.
“Dokter…” kepala perawat itu terdengar hati-hati. “Apa tidak lebih baik pasien segera dipindahkan ke psikiatri setelah kondisi lukanya stabil?”
“Tidak bisa.” jawab Kael singkat. Tatapannya turun ke Marie yang tampak diam sejak tadi.
“Aku tidak akan mengambil resiko. Kondisinya belum stabil.” Kael melanjutkan.
Dan sekali lagi— kalimat itu terdengar terlalu personal. Marie terlihat sedikit tertegun. Sementara Aeris diam-diam mulai merasa janggal.
“Kenapa dengan pria ini?” Batinnya. “Bukankah biasanya dingin setengah mati? Lalu kenapa sekarang terdengar seperti seseorang yang tidak akan membiarkan pasien itu lepas sedikit pun dari pandangannya?”
Akhirnya setelah banyak negosiasi yang tentu saja didominasi Kael—kepala perawat tak berani membantah—Marie dipindahkan ke VIP room.
Bagian VIP trauma unit ternyata jauh lebih sunyi dibanding bangsal biasa. Lampunya lebih redup. Lorongnya tidak terlalu ramai. Bahkan suara langkah kaki pun terdengar agak menggema saking sepinya.
Marie duduk di ranjang sambil menunduk selama perawat mengganti perbannya. Kael berdiri tidak jauh dari sana dengan tangan masuk ke saku jas dokternya. Hanya mengawasi.
Sementara Aeris berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan semuanya diam-diam. Dan semakin dia melihat, semakin muncul perasaan aneh di dadanya.
Kael memeriksa sendiri hasil laboratorium Marie. Kael memastikan obatnya diganti. Kael bahkan meminta perawat melepas benda-benda tajam dari ruangan. Semua itu terlalu detail. Terlalu penuh perhatian.
Dan ironisnya… Kael tidak pernah sekalipun memperlakukan Aeris sebaik itu. Bahkan untuk sekedar menganggapnya sebagai anak bimbingannya pun sepertinya tidak.
“Miss Lunetta.”
Aeris tersentak. Ia refleks menoleh.
“Besok pagi kau ikut visite pasien ini.”
“Oh.” jawabnya spontan. “Baik, Dok.”
Tatapan amber itu jatuh sebentar padanya. “Dan jangan terlambat lagi.”
Nah. Itu dia. Akhirnya pria itu kembali normal. Aeris bahkan nyaris lega mendengarnya.
Namun beberapa detik kemudian Kael menambahkan, “Pastikan luka tanganmu tidak menyulitkan pekerjaan.”
“….”
Aeris membeku. Marie juga tampak sedikit terkejut.
Kael sendiri sudah kembali membaca chart pasien seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Padahal tidak. Itu lebih seperti peringatan dini untuk sebuah masalah. Dan untuk banyak alasan, itu semakin membuat Aeris kesal.
Lucu. Jadi dia memang tahu cara memperlakukan orang dengan baik.
Hanya saja… mungkin kemampuan itu tidak berlaku untukku.
***
Keesokan harinya, rumor mulai menyebar luas. Seperti debu yang tertiup angin. Cepat sekali mencemari udara.
Rumah sakit memang tidak pernah kekurangan manusia kepo.
“Aku dengar Dokter Noire sampai turun tangan langsung.”
“Katanya pasiennya dipindah ke VIP.”
“Dia bahkan datang tengah malam buat cek kondisi pasien.”
“Serius?”
“Kael Noire? Yang itu?”
Aeris memejamkan mata pelan saat mendengar bisik-bisik itu di pantry—bahkan sepanjang lorong rumah sakit.
Hebat. Kurang dari dua belas jam dan seluruh rumah sakit sudah terdengar seperti forum gosip ibu-ibu komplek.
“Aeris!”
Ia menoleh dan mendapati Marie melambai kecil dari kursi roda yang didorong seorang perawat. Perempuan itu terlihat jauh lebih baik pagi ini. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya matanya tidak sekosong kemarin.
“Aku boleh pergi dengan dia sebentar?” tanya Marie pada perawat.
Perawat itu terkekeh kecil. “Tanya Dokter Noire saja.”
Marie langsung salah tingkah begitu nama itu disebut. Dan itu tertangkap jelas oleh Aeris.
***
Dua hari kemudian, Marie resmi menjadi pasien paling populer di unit trauma. Bukan karena kasusnya. Tapi karena siapa dokter penanggung jawabnya.
“Dia datang lagi semalam,” bisik Marie pelan sambil memegang mangkuk sup hangatnya.
Aeris yang sedang menuliskan vital sign di clipboard mengangkat sebelah alis. “Dokter Kael?”
Marie mengangguk kecil. “Jam dua pagi.” perempuan itu nyengir.
“… Jam dua?”
“Iya.” Marie tampak menunduk malu-malu sekarang. “Aku bahkan harus pura-pura tidur waktu itu.”
Aeris berusaha terlihat biasa saja. “Mungkin hanya pemeriksaan rutin.”
“Masa dokter konsulen datang sendiri jam dua pagi cuma buat pemeriksaan rutin?”
Itu dia masalahnya. Aeris juga sebenarnya ingin tahu. Karena selama dua hari ini, perhatian Kael memang… agak keterlaluan.
Pria itu mengecek sendiri hasil darah Marie. Mengganti obat tidurnya karena dianggap terlalu kuat. Memastikan makanannya habis. Dan tadi pagi—Kael bahkan memarahi seorang perawat karena membiarkan Marie sendirian terlalu lama. Padahal cuma ditinggal ke kamar mandi lima menit!
Kalau bukan karena wajah Kael yang tetap sedingin kutub utara, Aeris mungkin sudah yakin pria itu jatuh cinta. Masalahnya, Pria itu sulit dibaca.
Marie memainkan ujung selimutnya pelan. “Menurutmu… dia memang seperti itu ke semua pasien?”
Pertanyaan itu membuat Aeris diam sepersekian detik terlalu lama.
“Mungkin,” ia berusaha terdengar objektif. “Dokter Kael memang sangat bertanggung jawab. Apalagi dengan pasiennya.”
Itu jawaban paling aman.
Marie tersenyum kecil. Namun senyum itu tampak rapuh. “Dia menyeramkan, ya.” gumamnya pelan. “Tapi anehnya… aku merasa aman waktu dia ada.”
Deg.
Aeris tidak suka kenapa kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang tumbuh perlahan menjadi lebih berbahaya. Dan yang lebih buruk—dia tidak bisa menyalahkan Marie. Karena Kael memang memperlakukan perempuan itu berbeda.
Rasanya justru seperti Aeris ingin memperingatkan Marie untuk hati-hati. Entah untuk alasan apapun.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Kael masuk bersama aroma kopi pahit dan hawa dingin khas dirinya. Jas putihnya masih rapi sempurna. Rambut gelapnya sedikit berantakan seolah baru selesai operasi panjang.
Tatapan amber itu langsung menuju Marie lebih dulu. “Sudah makan?”
Marie tampak sedikit gugup. “Sudah.”
“Obatnya?”
“Sudah juga.”
Kael mengangguk tipis sebelum berjalan mendekat. Jemarinya terampil memeriksa ulang perban di pergelangan tangan Marie dengan fokus penuh.
Dan lagi-lagi—gerakan itu terkesan lembut. Marie memperhatikannya diam-diam. Cara Kael menyentuh lukanya sangat hati-hati. Seolah takut membuatnya sakit lagi.
Aeris mendadak merasa dirinya seperti obat nyamuk di sudut ruangan. Ia berusaha menyibukkan diri dengan apapun di clipboard nya. Berusaha tidak menaruh perhatian berlebih pada mereka.
“Jahitannya masih bisa terbuka kalau kau banyak bergerak.” ujar Kael datar.
Marie mengangguk kecil. “Maaf.”
“Jangan minta maaf. Jangan ulangi.”
Kalimat itu masih kaku khasnya namun tidak sedingin biasanya. Dan Marie jelas menyadarinya. Karena itu pipinya perlahan memerah.
Aeris sedikit mengintip dari clipboard-nya sambil mencorat-coret asal kertasnya.
“Ya Tuhan,” batinnya. “Aku cuma mau jadi dokter. Tolong jangan buat aku jadi figuran drama mereka.”
Lima belas menit kemudian Kael akhirnya pergi setelah memberi sederet instruksi tambahan pada perawat.
Begitu pintu tertutup, Marie langsung menoleh cepat pada Aeris. “Aeris…”
“Mm?”
Marie menggigit bibir bawahnya ragu-ragu.
“… Apa menurutmu Dokter Kael membenciku?”
Aeris nyaris tersedak ludah sendiri.
“Membenci?” Dia berdecak dalam kepalanya. “Dokter itu bahkan hampir menaruhmu di singgasana.”
***