Kota Beijing, China.
SMP Jingshan.
Cuaca hari ini sangat panas, bahkan udara terasa sangat menyengat di kulit. Kipas di dalam kelas seperti tidak ada gunanya. Hanya mengeluarkan suara berdengung yang mengganggu telinga.
Para siswa di kelas mulai merasa mengantuk. Namun, udara panas membuat mereka tidak sanggup untuk memejamkan mata.
Di ruang kelas 8A, terlihat Guru Li yang sedang menerangkan pelajaran matematika di depan kelas dengan serius.
"Fungsi f ditentukan oleh f(x) = ax + b. Jika pasangan-pasangan berurutan (p, −3), (−3, q), (r, 2), (2, −2), dan (−2, 6) adalah anggota dari fungsi itu, maka nilai p, q, dan r adalah..."
Brakk..
Suara penggaris kayu yang dibanting ke arah meja menggema di ruang kelas yang sunyi.
Beberapa siswa di kelas yang bersandar malas di meja mulai duduk tegak dan memaksa membuka mata mereka yang mengantuk.
Guru Li menatap seluruh murid yang ada di kelas. Saat tatapan matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang tertidur di pojok kelas, matanya menyipit dan guru itu berkata, "Cheng Xiao. Jawab soal yang saya tulis di papan tulis!"
Cheng Xiao yang sedang asyik tertidur tidak mendengar gurunya memanggil. Teman sebangkunya yang merasa khawatir Cheng Xiao akan dihukum tiba-tiba mengguncangkan lengan gadis itu dan membangunkannya.
"Xiao Xiao, Guru Li memintamu menjawab soal." Ucap Shen Yue dengan suara cemas.
Cheng Xiao yang merasa tidurnya terganggu karena guncangan ditubuhnya mulai menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Saat dia membuka matanya, dia mendapati teman-teman sekelasnya sedang memandangnya dengan berbagai macam ekspresi.
Guru Li sekali lagi berkata, "Apa kamu mendengarkan saya?"
Cheng Xiao yang merasa bersalah karena tertidur di kelas segera menundukkan kepalanya dan meminta maaf. "Maaf Guru Li.."
"Jawab soal yang ada di papan tulis!"
Cheng Xiao melihat ke arah papan tulis dan berkata, "Jawabannya, nilai p = 5/2, q = 8, dan r = 0."
"Jelaskan caranya!"
"Yang pertama temukan persamaan fungsi dari dua himpunan pasangan berurutan (2, -2); dan (-2, 6) melalui bentuk umum dari f(x) = ax + b. Setelah itu nilai p, q, dan r berdasarkan persamaan fungsi yang diketahui. Jadi, nilai p = 5/2 , q = 8, dan r = 0."
Mendengar jawaban dari Cheng Xiao, Guru Li menghela nafas dalam.
Gadis ini sangat pintar tapi kenapa dia suka sekali tidur di kelas!
"Cheng Xiao, saya tahu kamu murid yang pintar. Tapi bukan berati kamu bisa seenaknya tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan materi di kelas." Jelas Guru Li.
Cheng Xiao yang mendapat teguran dari Guru Li hanya menundukkan kepalanya dan tidak bersuara.
"Sebagai hukuman karena kamu tidak memperhatikan pelajaran di kelas, bersihkan seluruh toilet di lantai bawah setelah pulang sekolah. Jangan pulang sebelum toilet bersih." Jelas Guru Li.
"Baik."
Bel berbunyi..
Saat pelajaran selesai, Cheng Xiao bergegas keluar kelas untuk pergi ke kantin. Dia hari ini tidak membawa bekal makan siang, jadi mau tidak mau dia harus ke kantin untuk antri makanan. Meskipun dia sangat malas, karena antriannya pasti sangat lama.
Cheng Xiao memang terbiasa membawa bekal makan siang dari rumah. Ibunya selalu membiasakan putrinya untuk makan makanan sehat buatan rumah.
Cheng Xiao mengedarkan pandangannya ke arah kantin untuk mencari temannya. Saat dia melihat teman sebangkunya melambai ke arahnya dia segera menghampirinya.
"Xiao xiao, kamu tidak membawa bekalmu?"
"Tidak, mamaku bangun kesiangan jadi tidak sempat membuatkan bekal."
"Yue yue, aku akan antri makanan dulu."
"Baiklah. Aku tunggu di sini."
Menu makanan hari ini tidak menarik perhatian Cheng Xiao, dia hanya mengambil dua pangsit, tiga potong b4bi kecap dan satu buah jeruk. Dia juga membeli ari mineral.
Setelah itu dia kembali ke meja untuk makan bersama Shen Yue.
"Xiao xiao, hari ini kamu dihukum lagi oleh Guru Li."
Shen Yue yang sedang menggigit separuh pangsitnya tidak tahan untuk tidak berbicara.
"Aku merasa bersalah pada Guru Li. Tapi, dia terlalu membosankan, jadi aku mengantuk." Cheng Xiao menjawab sambil mengunyah makanannya.
"Apa kamu tidak takut jika orang tuamu dipanggil ke sekolah?"
"Aku akan meminta bantuan Gegeku nanti."
"Kamu tidak takut kakakmu marah?"
"Gegeku memang menyebalkan, tapi dia pasti mau membantuku."
.
.
.
Sepulang sekolah Cheng Xiao segera menuju toilet di lantai bawah. Saat sampai di depan toilet ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat sang kakak menelepon Cheng Xiao merasa gugup, sepertinya wali kelasnya menghubungi kakaknya karena dia lagi-lagi dihukum karena tidur di kelas.
"Halo Ge.."
"Kamu masih punya nyali untuk mengangkat teleponku?"
"Ge, aku harus membersihkan toilet sekolah. Bisakah Gege memarahiku nanti saat aku sudah menyelesaikan hukumanku?"
"Dasar bocah nakal! Selesaikan hukumanmu dan jangan coba-coba sembunyi dariku!"
"Ge, jangan beritahu mama dan papa jika Guru menghukumku."
Tut..
"Huh.. Dasar tidak berperasaan!"
Cheng Xiao segera masuk ke dalam toilet dan mulai membersihkan bilik toilet satu per satu.
.
.
.
Universitas Tsinghua.
Di kamar asrama, Cheng Yao terlihat menggerutu karena memikirkan tingkah adiknya yang suka sekali membuat marah guru kelasnya.
"Dasar bocah! Susah sekali diatur!"
"Ada apa bro?"
Cheng Yao yang mendengar teman satu asramanya bertanya hanya mendengus dingin.
"Huh. Kau anak tunggal, jadi kau tidak akan mengerti meskipun kujelaskan."
"Apa adikmu membuat masalah dan dihukum lagi?"
"Xu Kai, kalau kau punya kenalan yang menerima tukar tambah anak nakal tolong hubungi aku."
Apa dia berniat menjual adiknya?