Hari sudah sore saat Cheng Xiao selesai melakukan hukumannya. Saat ini pukul lima sore dan dia sedang berada di halte bus untuk pulang. Sambil menunggu bus datang, dia memainkan game di ponselnya.
Tring..
Sebuah pesan masuk membuat gadis itu mengernyitkan keningnya. Melihat pesan itu dari kakaknya, dia segera membukannya.
"Kamu dimana bocah?"
Melihat kakaknya memanggilnya bocah, Cheng Xiao mendengus kecil.
"Siapa yang kamu panggil bocah?!"
Sambil merengut gadis itu membalas pesan kakaknya.
"Apa di rumah kita ada bocah lain?"
"Jika hanya ingin menggangguku jangan mengirim pesan!"
"Kenapa dia harus menjadi kakakku!? Harusnya akulah yang kakak dan lihat bagaimana aku akan menindasnya!"
Cheng Xiao menggerutu dengan bibir mengerucut.
Karena kesal, dia memasukkan nomor kakaknya ke dalam daftar hitam.
Saat sibuk memainkan ponsel, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gadis itu. Cheng Xiao yang mengenali mobil itu hanya melirik dan kembali fokus pada game diponselnya.
Saat jendela mobil terbuka, seorang pria dengan senyum sejuta watt melambaikan tangan pada gadis itu.
"Halo bocah."
Cheng Xiao bergegas mendekati jendela mobil dan melihat kakaknya memasang senyum jelek padanya.
"Berhenti memanggilku bocah!"
"Kamu masih bocah, jadi tidak ada salahnya aku memanggilmu bocah."
Cheng Yao memasang ekspresi mengejek saat melihat adiknya kesal karena tidak terima dipanggil bocah. Meskipun kenyataannya Cheng Xiao memang masih bocah. Dia baru berusia 13 tahun dan tingginya hanya 145 cm. Tapi, gadis itu tidak terima dengan panggilan bocah yang menurutnya mirip ejekan.
Cheng Xiao merasa panggilan itu seperti mengejek dirinya yang pendek. Dia selalu sensitif dengan tinggi badannya. Apa lagi saat melihat Cheng Yao yang tingginya 185 cm, dia jelas merasa iri.
"Ge, percaya atau tidak aku akan mengatakan pada mama dan papa bahwa kamu pernah mengintipku saat sedang ganti baju."
"Hei bocah.. Kamu boleh makan apa pun sesukamu, tapi kamu harus berhati-hati pada ucapanmu! Lagi pula, aku tidak pernah mengintipmu. Saat itu aku tidak tahu bahwa kamu sedang ganti baju."
"Memangnya apa yang bisa dilihat dari bocah kecil sepertimu!"
Cheng Xiao yang merasa ditindas oleh kakaknya dan tidak tahu bagaimana harus membalas, merasa sangat kesal dan marah, matanya mulai merah dan bibirnya bergetar.
Saat dia merasa kalah dan tidak bisa menjawab ucapan kakaknya, dia akan melakukan usaha terakhir. Menangis.
Melihat adiknya akan menangis, Cheng Yao panik dan segera turun dari mobil untuk menghampiri adiknya.
Dengan suara panik pria itu membujuk adiknya, "Jangan menangis.. Jangan menangis. Aku hanya bercanda. Ini tempat umum, ada banyak orang di sini. Mereka mungkin akan berpikir aku menindasmu."
Cheng Xiao tidak peduli dengan kakaknya dan mulai meneteskan air matanya.
"Hiks...hiks.. Mama.."
Melihat adiknya menangis, Cheng Yao hanya bisa menghela nafas dan mulai memeluk adiknya. Dia menepuk kepala adiknya dengan lembut agar merasa tenang.
Mereka berdua sering berkelahi layaknya adik-kakak. Melihat adiknya menangis sudah menjadi hal biasa bagi Cheng Yao. Tapi, ini adalah pertama kalinya adiknya menangis di tempat umum.
Cheng Yao suka mengganggu dan menjahili adiknya. Dia tidak akan berhenti sebelum adiknya menangis. Bahkan saat Cheng Xiao menangis pun, dia tetap akan mengganggunya sampai adiknya mengadu pada kedua orang tuanya.
"Berhentilah menangis. Gege minta maaf."
Mendengar permintaan maaf kakaknya, Cheng Xiao merasa menang. Dia mendongak dan berkata, "Kamu harus memberiku 300 yuan sebagai permintaan maafmu."
"Pintar sekali memanfaatkan situasi. Dasar bocah menyebalkan!"
Cheng Yao hanya bisa menggerutu melihat adiknya memeras uangnya. Tapi, dia tidak bisa menolak, jika dia menolak Cheng Xiao pasti akan mengamuk dan mengadu yang tidak-tidak pada orang tuanya.
Cheng Xiao melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang kakaknya. Sambil menyeringai licik, gadis itu meraih jaket yang dipakai Cheng Yao untuk membersihkan ingusnya.
"Dasar setan kecil!"
Cheng Yao yang merasa jijik segera melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke dalam mobil.
"Hapus nomorku dari daftar hitam."
"Beri aku 200 yuan dan aku akan menghapus nomormu dari daftar hitam."
"Benar-benar bocah nakal."
Cheng Xiao tersenyum puas melihat kakaknya merasa kesal. Bisa membalas dendam pada kakaknya merupakan kepuasan untuk Cheng Xiao.
"Ge, tentang aku yang dihukum Guru Li, kamu tidak boleh mengatakan hal itu pada mama dan papa!"
Dengan wajah penuh ancaman, Cheng Xiao menatap kakaknya tajam.
"Hei bocah, kamu mengancamku?"
"Kamu pikir ancamanmu akan membuatku takut? Jika aku bilang pada mama dan papa, uang jajanmu pasti akan dipotong."
Cheng Yao berkata sambil menyeringai dingin pada adiknya. Dia tidak bisa jika tidak membuat adiknya kesal dan marah.
"Ge, kamu benar-benar kejam! Jika kamu mengadu, aku akan bilang pada mereka kalau kamu berkencan dengan anak SMA!?"
"Terserah! Mama dan papa tidak akan percaya pada bualanmu."
Cheng Yao hanya mendengus mendengar ancaman adiknya yang tidak berguna. Melihat hari semakin gelap, dia berhenti berdebat dengan adiknya.
"Ayo pulang. Mama pasti sudah memasak makan malam dan papa akan segera pulang dari perusahaan."
Cheng Xiao juga merasa lelah dan memutuskan untuk diam dan tidak melawan.
Keduanya memasuki mobil dan segera pulang ke rumah.
.
.
.
"Ge, bukankah seharusnya kamu ada di asrama kenapa kamu pulang ke rumah?"
Cheng Xiao merasa aneh dengan kakaknya yang pulang ke rumah. Jika bukan hari libur kakaknya jarang mau pulang ke rumah. Biasanya Cheng Yao lebih suka menginap di rumah temannya atau di asrama kampus.
"Aku sedang melakukan kerja praktek, kebetulan tempatnya tidak begitu jauh dari rumah. Daripada harus mencari apartemen, lebih baik aku tidur di rumah."
"Berapa lama kamu tinggal di rumah?"
"Kenapa, kamu tidak suka melihatku di rumah?"
Mendengar ucapan kakaknya, Cheng Xiao mendelik tajam padanya. Mulut kakaknya memang tidak pernah bisa berkata-kata bagus.
"Aku hanya bertanya, kenapa kamu berpikir buruk?!"
Cheng Yao yang melihat adiknya kesal merasa lucu dan tidak tahan untuk tidak menggodanya.
"Bukankah bagus jika aku tinggal lama di rumah, kamu bisa melihat wajah tampanku setiap hari."
Dengan ekspresi sok gantengnya, Cheng Yao menatap adiknya sambil mengangkat sebelah alisnya dengan bangga.
Cheng Xiao tidak tahu harus bereaksi seperti apa melihat tingkah kakaknya yang menjijikkan.
"Ge, jangan membuatku muntah di tengah jalan."