"Aku sudah muak!” Bentak Rangga
“Aku adalah kepala Keluarga disini. kamu harus memilih! Keutuhan keluarga ini atau karir yang kau banggakan itu?” intonasi suara Rangga masih setinggi sebelumnya.
Diandra bergeming, otaknya masih berusaha menjaga kewarasan untuk menyusun kata- kata yang tepat. Dia paham betul watak laki- laki yang sudah ia nikahi selama sepuluh tahun itu.
Tak ada gunanya berdebat dengan Rangga dalam kondisi yang penuh emosi. Meski dadanya sudah sangat bergemuruh, sekuat tenaga ia tahan agar tak menanggapi setiap kata- kata suaminya yang terdengar bagai silet yang meyayat habis perasaanya.
“Ingat Diandra! sehebat apapun kamu diluar sana, disini kamu adalah seorang istri! Sudah habis kesabaranku mendengarmu terus membantah setiap perintahku dengan argument- argument sombongmu itu!”
“Kembali pada kodratmu, atau lepaskan! dan nikmati kebebasanmu mengejar mimpi2 congkakmu!!” pungkas Rangga dan berlalu meninggalkan Diandra yang masih membisu di kamar mereka.
Diandra menghela nafas panjang, berusaha mengeluarkan beban yang sekuat tenaga ia tahan sebelumnya. Ini bukan pertengkaran pertama mereka, tentu sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi perjalanan sebuah rumah tangga. Suka duka telah mereka lewati bersama, pun bumbu- bumbu perbedaan pendapat atau pertengkaran sudah mewarnai rumah tangga mereka. Namun kali ini, sepertinya sedikit berbeda. Rangga tidak main- main dengan ancamannya. Sekuat tenaga Diandra berusaha menjelaskan pada suaminya itu, nyatanya hanya dimentahkan oleh Rangga.
Malam ini Diandra benar- benar harus bisa mengambil sebuah keputusan besar bagi hidupnya.
Malam terasa sangat panjang bagi Diandra, sesekali ia melirik ke arah jam dinding di kamar tidurnya. Jarum jam sudah menunjuk pukul dua dini hari, tak seperti biasanya Rangga belum pulang sampai selarut ini. Selepas pertengkaran mereka tadi, Rangga memilih untuk pergi dari rumah.
Dimana kamu mas? batinnya gusar.
Diandra terus memainkan HP ditanganya, sambil sesekali mengecek layar gawainya berharap ada kabar dari suaminya. Namun nihil.
Bertepatan dengan kumandang adzan subuh, terdengar deru sepeda motor memasuki halaman rumah, Diandra bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu dan menyambut suami yang semalaman tak pulang.
“Mas?” Sapa Diandra sesaat setelah pintu terbuka.
Rangga masih tak acuh dan memilih berlalu begitu saja melewati istrinya. Raut mukanya tampak kusut, jelas sekali semalaman Ranggapun sepertinya tak bisa memejamkan mata.
***
Aktivitas pagi itu masih berjalan seperti biasa, Diandra sibuk mempersiapkan sarapan dan mempersiapkan keperluan sekolah kedua buah hatinya, Rania dan Rayan. Setelah semua rapi, mereka pun sarapan bersama di meja makan, tak tampak sedikitpun di hadapan kedua anak mereka bahwa kedua orang tuanya baru saja bertengkar hebat semalam.
Diandra dan Rangga memang sudah sepakat, anak- anak mereka tidak boleh melihat orang tuanya bertengkar atau terlihat tidak harmonis. Jadi mereka akan bersikap baik- baik saja ketika dihadapan anak- anak, seperti pagi ini.
“Daa Bunda.” Rania dan Rayan melambaikan tangan pada Diandra sesaat setelah mereka masuk ke mobil jemputan sekolah.
“ Daa sayang” Balas Diandra diiringi senyuman mengantar anak- anak berangkat sekolah.
Saat Diandra berbalik untuk masuk kerumah, ia melihat Rangga sudah bersiap hendak pergi lagi.. Padahal hari ini hari Sabtu, harusnya Rangga libur kantor.
“Mas, mau kemana?” tanya Diandra diambang pintu rumah
Tak ada jawaban
“Mas, kita harus bicara!” kali ini nada suaranya lebih dengan penekanan, Rangga tetap bergeming tanpa jawaban.
Saat Rangga hendak melangkah keluar pintu, lenganya dicekal oleh Diandra.
“Mas, masalah ini tidak akan pernah selesai jika kamu selalu menghindar.” Kali ini Diandra menghadang langkah Rangga yang memilih mengabaikan istrinya itu.
“Apa lagi yang mau dibicarakan? Toh aku sudah tau jawaban kamu akan tetap sama seperti sebelum- sebelumnya kan?”
“Diandra, aku sudah capek berdebat denganmu. Kali ini hanya ada dua pilihan, kamu ikut mauku atau kita sudahi saja pernikahan ini!” tegas Rangga dan sekali lagi berlalu meninggalkan Diandra dalam bisu.
_________________________________________
Di Kantor, Ruang Kepala Sekolah.
“Bu Andra, bukankah sebaiknya ibu pertimbangkan kembali keputusan ini? Rasanya ini terlalu mendadak.” Pak Jaya, Kepala Sekolah tempat Diandra bekerja mencoba memberikan saran.
Ya, Diandra sudah memutuskan untuk mengajukan resingt dari tempatnya bekerja, meski sebenarnya ia sedang mendapatkan promosi jabatan dari pihak sekolah kepada Yayasan.
“Maaf pak, keputusan saya sudah bulat. Saya mengajukan pengunduran diri karena saya memilih ikut mengabdi bersama suami yang ditugaskan ke daerah pak.” Jelas Diandra mantap.
“Bu Andra, mohon maaf. Bukan saya hendak mencampuri urusan keluarga ibu. Tapi mungkin lebih baik jika masih bisa dibicarakan kembali, lagi pula jarak tempat tugas pak Rangga yang baru juga tidak terlalu jauh dari sini bukan?” Pak Jaya masih berusaha meyakinkan,
“Benar pak, tapi ini sudah kami pikirkan matang- matang. Dan ini keputusan terbaik yang saya ambil. Mohon maaf.” Kali ini Diandra tetap kekeh dengan keputusanya.
“Baiklah Bu Andra, jika ini memang sudah menjadi keputusan ibu kami hanya bisa ikut mendoakan, semoga sukses di tempat yang baru bu Andra.”
“Terimakasih Pak.” Diandra menjabat tangan atasanya tersebut sebelum akhirnya berpamitan.
Hari itu sekaligus menjadi hari terakhir bagi Diandra di sekolah yang sudah membesarkan namanya itu, rumah kedua yang ia cintai dan ia anggap seperti keluarga sendiri. Perpisahan sederhana menjadi penghormatan terakhir dari rekan kerja dan murid- muridnya. Diandra adalah sosok yang menyenangkan bagi rekan guru dan murid- muridnya, tentu perpisahan mendadak itu cukup mengejutkan bagi mereka. Namun mereka tetap mendukung dan menghormati keputusan yang Diandra pilih.
****
Sementara itu ditempat lain, ada seseorang yang sedang gusar dengan keputusan mendadak yang telah dipilih oleh Diandra. Ada kekhawatiran yang tetiba menguasai hatinya, perasaan takut kehilangan namun tak bisa berbuat apa-apa. Bisakah ia menahan wanita itu untuk merubah pikirannya?