Tak mau berlama- lama berada di tempat yang telah memberinya banyak kenangan itu, Diandra bergegas meninggalkan sekolahan dimana ia mengabdikan diri dan merajut impiannya. Rasanya akan semakin menyakitkan jika harus menambah lagi tabungan memori yang akan ia bawa pergi.
Hal pertama yang ingin ia lakukan sekarang adalah menemui sahabatnya, Erika -sahabat karib Diandra sejak mereka masih berseragam putih abu. Hanya dengan sahabatnya itu ia bisa meluapkan emosi dan perasaannya saat ini.
Diandra memacu sepeda motor maticnya menuju sebuah caffeshop langganan. Usai memarkirkan motor, pandangannya tertuju pada sosok wanita berkacamata yang tengah memberi isyarat dengan melambaikan tangan padanya. Bergegas ia mengambil langkah lebar menghampiri bangku dimana Erika telah menunggunya.
Tanpa berkata- kata Diandra langsung membenamkan diri dipelukan sahabatnya itu. Beberapa saat ia terisak hingga akhirnya mereda dan melerai pelukannya.
"It's Ok. take a breath! just relax, honey." Erika mencoba menenangkan sambil menepuk- nepuk lembut punggung sahabatnya.
Setelah kembali menguasai diri, Diandra mencoba duduk nyaman dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Sesekali ia masih menarik nafas dalam berusaha menenangkan perasaanya.
Erika tak mau banyak bertanya, ia memberi ruang agar Diandra siap untuk bercerita.
"Er, aku sudah mengambil keputusan. Tapi aku masih ragu, apakah benar ini keputusan terbaik?" Diandra membuka percakapan,
"Aku tak mau kehilangan keluarga utuk kedua kalinya." Matanya menerawang jauh ke masa lampau,
Erika paham, trauma kehilangan masih membayangi hidup sahabatnya. Setelah kecelakaan maut yang merenggut kedua orang tuanya, Diandra hanya hidup sebatang kara.
Hidup yang sulit setelah kehilangan orang tua, sering diremehkan dan dipandang sebelah mata membuat Diandra menjadi sosok wanita yang dingin namun berkepribadian kuat serta mandiri. Berkat kerja kerasnya tersebut, hingga akhirnya ia mampu meraih mimpi dan kesuksesan dalam karirnya.
"Aku nggak mau kehilangan mas Rangga Er," kaca bening kembali menggenang di pelupuk mata Diandra.
"Di, aku mendukung apapun keputusanmu." Erika memberi dukungan,
"Satu hal yang harus kamu ingat! Jangan jadikan apapun atau siapapun sebagai alasan dari apa yang telah kamu pilih."
"Yakinkan pilihanmu, bukan keterpaksaan!" imbuhnya menegaskan.
*****
Sepanjang perjalanan pulang Diandra terus mencoba meyakinkan hatinya bahwa keputusan yang telah ia ambil memanglah yang terbaik. Keluarga yang teramat ia cintai terlalu berharga dipertaruhkan hanya demi egonya.
Tersadar dari lamunannya,tak terasa ia telah sampai di halaman rumah mungilnya yang asri. Setelah memarkirkan motor di carport ia melangkah menuju teras. Belum juga ia membuka pintu rumah, tak berapa lama sebuah mobil antar jemput sekolah berhenti tepat di depan gerbang. Disusul riuh dua bocah berlarian berebut menjangkaunya lebih dulu.
"Sore Bunda ..." Ucap keduanya hampir bersamaan,
"Hai sayang, Selamat sore. Kesanyagan bunda sudah pulang?" Diandra membentangkan kedua tanganya menyambut mereka.
Lagi- lagi keduanya berebut mencium tangan Diandra. Kali ini dimenangkan oleh Rayan karena curang dengan menyenggol lengan kakaknya hingga terhuyung.
"Bunda, Rayan curang!" protes Rania kesal,
Yang diadukan tak ambil pusing, justru semakin jahil dengan menjulurkan lidahnya tanda mengejek membuat sang kakak semakin kesal. Tak mau pertengkaran itu semakin berlanjut, Diandra segera mengajak keduanya untuk masuk ke dalam rumah.
"Sudah.....sudah, yuk masuk!" Ajak Diandra sambil merangkul kedua bocah itu di kedua sisi tubuhnya.
Diandra mengantar kedua anaknya hingga di ambang pitu kamar mereka,
"Ehmm ... Bau acem!" Goda Diandra sambil berpura menutup hidungnya karena bau,
"Cepetan mandi nanti bunda buatkan makan malam yang special. Ok?" bujuknya kemudian.
"Siap, Bunda sayang ... " Jawab mereka memamerkan senyum lebar dan kembali berlomba untuk mandi duluan.
_______________________________________________________________________________________________________
"Rangga, saya tunggu jawaban kamu hingga lusa." suara berat penuh penekanan dari seseorang yang duduk di hadapanya itu membuyarkan lamunan Rangga.
"Jika sampai lusa kamu belum bisa memberi kepastian, maka...." sedikit menjeda.
" Kesempatan ini terpaksa saya alihkan kepada yang lain." membuang nafas kasar,
"Posisi ini memang tidak mudah Rangga, tapi Saya yakin kamu bisa menanganinya dengan baik. Jadi tolong pertimbangkan!" lanjutnya lagi mengakhiri percakapan.
Rangga hanya diam, pikiranya masih dipenuhi dengan banyak pertimbangan. Ia menghembuskan nafas berat. Rangga bangkit dari duduknya, Ia menjabat tangan Pak Bram kemudian undur diri.
Keluar dari ruangan atasanya tersebut keprileksala Rangga terasa semakin berat. Ingin segera pulang namun ia masih enggan bertemu dengan Diandra. Akhirnya ia putuskan untuk rehat sejenak, menjernihkan pikiran di caffeshop yang berada tepat disamping kantornya itu. Sampai di kafe tersebut Rangga menghampiri Barista dan membuat pesanan. Kemudian mengambil tempat di sudut ruangan yang lebih tenang.
Tak perlu menunggu lama secangkir Flat White telah disajikan. Rangga mulai menikmati kopi pesanannya ditemani alunan musik yang membuat pikiranya mulai rileks.
Dreet ... Dreet ... Dreet
Ponselnya bergetar di atas meja, sebuah notifikasi pesan masuk nampak di layar ponselnya.
My Wife
Nama kontak dari pesan itu, untuk sesaat Rangga hanya menatap layar gawainya itu. Kemudian memilih untuk mengabaikanya.
Saat ini Ia hanya butuh menenangkan diri sampai bisa kembali berpikir jernih dan menetralkan perasaanya.