Perasaan Diandra mulai gusar, beberapa kali ia mengintip lewat jendela ruang tamu berharap menemukan tanda- tanda kehadiran suaminya. Namun tak juga nampak.
Tak mau terus menunggu dalam gelisah, Diandra mencoba membuka komunikasi dengan mengirim sebuah pesan singkat, berharap Rangga mau membalasnya.
Mas, pulanglah. Dimana kamu?
pesan terkirim!
hingga beberapa saat tak ada jawaban, Diandra mengalah. Ia meletakkan gawainya di atas nakas dan berusaha menyibukkan diri di dapur mempersiapkan makan malam.
Usai makan malam siap tersaji, ia kembali mengecek layar gawainya. Tak ada notifikasi pesan dari Rangga.
"Baiklah mas, kutunggu sampai marahmu reda." batinya pasrah.
Ia tak lagi menunggu kepulangan Rangga, Diandra mengajak kedua buah hatinya makan malam tanpa menunggu Rangga pulang. Diandra beralasan Ayah mereka sedang lembur untuk meyakinkan kedua buah hatinya.
Hingga malam mulai larut Diandra masih terjaga, berharap Rangga segera menghubunginya jikapun malam itu ia tak pulang. Tetap Nihil.
Barulah menginjak tengah malam, suara motor Rangga terdengar memasuki halaman rumah. Bergegas ia bangkit dan membukakan pintu.
Alih- alih memberi penjelasan, Rangga memilih berlalu begitu saja meninggalkan Diandra di ruang tamu.
Tak mau berlarut dalam perang dingin, Diandra mengalah. Ia mengekor mengikuti suaminya yang telah hilang di balik pintu kamar. Ia melangkah ke dapur, menyeduh secangkir teh panas untuk Rangga dan membawanya ke dalam kamar, bersamaan dengan itu Rangga yang baru keluar dari Kamar mandi masih bertelanjang d**a usai membersihkan diri.
Diandra meletakkan secangkir teh panas yang ia bawa di atas nakas. Berlahan ia menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang. Ia begitu menikmati aroma tubuh Rangga yang menguarkan bau wangi segar yang menenangkan.
"Maaf." Diandra berbisik lirih namun masih bisa di dengar oleh Rangga.
Bibir tipisnya berlahan mencumbui punggung bidang Rangga. Hembusan nafas Diandra dapat Rangga rasakan saat bibir itu mulai mendaratkan ciuman disekitar ceruk lehar dan telinganya menimbulkan desiran halus yang meremangkan bulu roma.
Sementara tangan Diandra bermain- main di d**a bidangnya hingga menelusup ke area sensitif miliknya yang masih terbalut handuk mandi.
Rangga memejamkan mata menikmati sentuhan lembut itu. Sebagai laki- laki normal mendapat perlakuan seperti itu tentu membangkitkan kelakiannya, terlebih sudah beberapa hari Ia dan Diandra tak melakukan keintiman sama sekali.
Diandra menggeser tubuh hingga keduanya berhadapan tanpa jarak. Kedua lenganya mengalung di leher Rangga, matanya mulai sayu menatap bibir Rangga seolah tak sabar untuk menyatukan dengan bibirnya.
Rangga yang sudah terbakar syahwat segera melumat bibir Diandra yang menggoda, mereka berbalas ciuman semakin dalam.
Rangga membopong tubuh Diandra dan menghempaskannya di atas Ranjang. Setelahnya, kebekuan itu mencair terbakar gelora yang tak terbendung.
_______________________________________________________________________________
Usai saling meluapkan hasrat, keduanya terkulai lemas berpelukan larut dalam perasaanya masing- masing.
Tangan kekar Rangga menangkup tubuh mungil Diandra yang terlelap di atas d**a bidangnya. Nafasnya masih sedikit memburu setelah permainan panas yang mereka lakukan.
Rangga memandangi wajah cantik wanita yang telah menemaninya selama sepuluh tahun itu. Ada perasaan bersalah mengingat pertengkaran mereka sebelumnya.
Rangga menyadari ia teramat mencintai Diandra, tetiba muncul perasaan takut kehilangan wanita yang amat ia cintai itu.
Apa yang ia lakukan sekarang hanya ingin melindungi dan membahagiakan Diandra. Rangga tak mau Diandra menderita seperti sebelum ia bertemu denganya.
Sebagai seorang laki- laki mapan, Rangga merasa mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sebenarnya ia tak mengizinkan Diandra bekerja, ia lebih senang istrinya di rumah mengurus keluarga mereka.
Namun, kegigihan Diandra meyakinkanya iapun akhirnya mengizinkan Diandra tetap berkarir selama tidak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Dan terbukti Diandra menjalankan kedua perannya dengan baik.
Hingga hari itu, dimana ia tanpa sengaja bertemu dengan seseorang di masa lalu yang membuat Rangga merasa terusik.
Ia merasa promosi jabatan kepala bagian adalah alasan yang tepat untuk membawa Diandra jauh dari seseorang itu.
Akhirnya ia membuat keputusan mendadak, memaksa Diandra melepas pekerjaanya dan mengikutinya tugas ke daerah. Tentu hal itu mengejutkan istrinya, berbagai alasan yang sebenarnya logis coba Diandra sampaikan tetapi tak bisa ia terima.
Seandainya kamu tau alasan dibalik keputusanku Andra?
bisiknya dalam hati.
****
Keesokan harinya suasana rumah kembali hangat. Usai menyantap sarapan pagi, mereka sekeluarga bersiap untuk pergi mengunjungi orang tua Rangga.
Rangga masih bersiap di kamarnya, saat Diandra menariknya duduk di tepi Ranjang.
Diandra menyerahkan sebuah amplop berwana putih pada suaminya.
Rangga mengernyitkan dahi,
"Apa ini?"
"Bukalah!"
tampak penasaran Rangga menuruti perintah istrinya untuk membuka amplop,
surat persetujuan pengunduran diri.
Rangga menoleh pada Diandra, meminta penjelasan.
"Iya, aku sudah menentukan pilihan." jawab Diandra penuh keyakinan,
"Aku resignt Mas,"
"Aku siap mendampingi kemanapun kau pergi." lanjutnya lagi meyakinkan.
"Kau yakin?" selidik Rangga dan kali ini dijawab anggukan mantap dari istrinya.
"Terimakasih sayang." Ucap Rangga penuh haru. Ia meraih kedua tangan Diandra dan menciumnya.
Keintiman itu harus berakhir saat terdengar terikan dari luar kamar yang memanggil mereka,
"Ayah.....Bunda.....cepetan dong!"
"Ayo, kita berangkat." Rengek Rania dan Rayan yang sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan nenek dan kakek mereka.
" Baik sayang," Jawab keduanya serempak dengan senyum mengembang.