Surya dan Rangga sedang berbincang di teras depan, sementara itu Diandra tengah sibuk membantu Soraya menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Papa sudah dengar tentang tawaran yang diberikan Bramantyo padamu. Apa kau akan mengambil jabatan itu Rangga?" Tanya Surya pada anaknya tersebut.
"Iya Pa, menurutku tawaran itu cukup menantang." jawab Rangga.
Surya menghela nafas dan menghembuskanya pelan,
"Rangga, tawaran itu memang menarik, tapi- cukup beresiko! Kau paham?" Surya kembali memberikan pertanyaan retorik pada Rangga.
"Tentu Pa." Jawab Rangga singkat.
"Lalu kapan rencana kepindahanmu?"
"Mungkin pekan depan pa, memastikan semua siap dulu. Aryo yang mengurusnya." jawab Rangga, kali ini Surya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Aryo adalah orang kepercayaan Rangga. Selain ia menyuruh Aryo menyiapkan segala urusan terkait kepindahannya, ia juga memberi misi khusus pada asistennya itu.
Sebenarnya Surya sedikit keberatan dengan keputusan Rangga tersebut, pun dengan istrinya. Dengan menyetujui tawaran Bosnya- yang tak lain juga temannya- berarti anaknya itu akan tinggal cukup jauh dari mereka.
Namun mendengar jawaban Rangga tadi, Surya mengurungkan niatnya untuk mencegah. Ia sangat memahami putra semata wayangnya, ia yakin Rangga mempunyai alasan lain di balik keputusannya tersebut.
Suasana menjadi hening. Beruntung tak berapa lama terdengar suara Soraya memanggil suami dan anaknya itu untuk segera ke ruang makan. Rupanya makan siang telah siap disajikan.
Mereka makan siang sambil sesekali bercengkrama, hangat. Rania dan Rayan nampak sangat menikmati hidangan yang dibuat oleh Nenek dan Bundanya. Soraya memang sengaja menyiapkan menu favorit kedua cucu kesayangannya itu. Disela makan siang,
"Sayang, mama dengar kamu akan pindah tugas ke kantor cabang?" tanya Soraya pada putranya,
" Iya ma," jawab Rangga setelah mengakhiri suapan terakhirnya.
"Mama sebenarnya kurang setuju Rangga," Protes Soraya dengan nada sedih,
"Mama gak mau kalian jauh dari mama dan papa." lanjutnya lagi.
Rangga sebenarnya sangat memahami perasaan kedua orang tuanya, tapi demi alasan lain---kekhawatiranya yang mungkin berlebihan-- ia harus mengambil keputusan sulit ini.
Rangga menggenggam tangan Soraya yang duduk di sampingnya,
"Ma, mama gak usah khawatir. Kami pasti akan tetap meluangkan waktu untuk mengunjungi mama sama papa." jawab Rangga menenangkan mamanya.
Sedingin apapun sikap Rangga, ia akan bersikap hangat dan lembut jika berhadapan dengan wanita paruh baya itu.
Meski masih sedikit kecewa dengan keputusan anaknya, mendengar jawaban Rangga ia pun mengalah.
Diandra yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, tersenyum haru melihat keakraban suami dan ibu mertuanya tersebut.
Di dalam hatinya, Diandra merasa sangat beruntung dipertemukan dengan Rangga. Dibalik sikapnya yang keras kepala serta dingin dan cuek, Diandra tau Rangga sangat mencintainya. Di tambah mertua yang sangat menyayanginya seperti anak sendiri, membuatnya benar- benar merasa menemukan kehangatan keluarga yang pernah hilang dari hidupnya.
"Andra, bagaimana denganmu? Apa kau dan anak- anak siap tinggal di desa terpencil?" kali ini Surya bertanya pada menantunya,
"Iya pa, insyaAllah siap." jawab Diandra diiringi senyum,
"Rayan sudah gak sabar Opa, pengen mandi di kali kayak di cerita- cerita yang pernah Rayan baca." suara Rayan terdengar riang ikut menimpali.
"Enakan renang di kolam renang Rayan, banyak wahana permainannya.Iya kan Opa?" Soraya merasa mendapat celah untuk membujuk Rayan,
"Ah, itu sudah biasa oma. Rayan mau yang lebih menantang. Mandi dikali sepertinya lebih asyik." Rayan tak mau kalah,
semua terkekeh melihat perdebatan Soraya dan Rayan.
*****
Tak terasa waktu sudah sangat sore, merekapun berpamitan untuk pulang. Surya dan Soraya mengantar anak dan cucu mereka hingga mobil Rangga menghilang di belokan gerbang rumah mewah itu.
"Pa, coba bujuk Rangga untuk mengubah keputusannya." Soraya merajuk pada suaminya,
Surya hanya mengangkat kedua bahunya dan merangkul istrinya untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Belum puas dengan respon suaminya, Soraya sedikit jengkel.
"Besok mama akan menemui Bramantyo dan menyuruhnya membatalkan tawaranya itu." ucapnya jengkel,
"Ma! Rangga itu sudah dewasa. Biarlah ia menentukan keputusannya sendiri. Kita tak perlu terlalu ikut campur." Surya mencoba menenangkan istrinya,
"Tapi perasaan mama gak enak pa, kasihan anak- anak. uuhuukk....uuuhuukkk."Soraya tak bisa menyembunyikan kekhawatiranya, ia menangis dipelukan suaminya. Soraya merasa tak tega dengan kedua cucunya yang masih kecil.
"Bagaimana kalau kita minta Rania dan Rayan tinggal sama kita Pa. Apa mungkin mereka menyetujuinya?" mendengar permintaan istrinya Surya hanya menggeleng kemudian membawa Soraya beristirahat di kamar mereka.
Ia tak mau Soraya terus terbebani dengan keputusan Rangga. Apalagi kondisi istrinya itu tidak baik jika terlalu banyak pikiran.
"Mama istirahat dulu, jangan terlalu dipikirkan. Kita do'akan saja."
"Biarlah mereka menjalani pilihan mereka. Toh anak- anak sepertinya sangat senang?"
"Tapi Pa--?"protes Soraya,
"Ssssstttt......Nanti, kalau sekiranya mereka tidak nyaman. Biar papa yang bicara sama Bram." Janji Surya. Kali ini cukup membuat Soraya menuruti suaminya.
Rangga memang keras kepala. Sebagai anak tunggal ia adalah pewaris satu- satunya di keluarga Surya. Jika saja Rangga menyetujui permintaan Surya, tentu ia sudah pensiun dari mengurus bisnis keluarga mereka. Sayangnya, Rangga menolak dan memilih bekerja di perusahaan milik sahabatnya, Bramantyo.
Rangga memang beda, ia tak mau bergantung pada orang tuanya. Ia memilih hidup sederhana dengan keluarga kecilnya meski sebenarnya ia sangat mampu jika sekedar memberi kemewahan pada anak dan istrinya.
Salah satu alasanya adalah ia tak mau Diandra merasa terbebani dan tak enak hati. Mengingat latar belakang Diandra dan keinginan istrinya itu yang lebih nyaman dengan hidup sederhana seperti yang mereka jalani sekarang.
Setelah memastikan Soraya bisa beristirahat. Surya keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerjanya.
Tanganya memencet sebuah kontak di telepon genggamnya,
Tuutttt
Tak menunggu lama panggilanya telah tersambung dengan seseorang di ujung sana,
"Halo? Selamat Sore Surya, apa kabarmu?" Sapa seseorang di ujung telepon.