Sampai di rumah Diandra langsung mengultimatum suaminya atas tingkah anehnya barusan.
"Kamu apa-apaan sih Mas, jadi aneh gitu?" protes Diandra,
Rangga tak menggubris omelan istrinya,
"Malu kan sama Kak David." Imbuh Diandra, sambil berlalu menuju dapur.
Rangga menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, Diandra kembali dari dapur membawa segelas minuman dingin dan menyerahkanya pada Rangga.
Usai menenggak habis minuman yang dibawa untuknya, Rangga merapatkan duduknya di samping Diandra dan mengalungkan kedua lengannya di leher istrinya, wajah mereka kini berhadapan tanpa jarak.
"Memang kenapa? Salah ya kalau mesra ke istri sendiri?"
Diandra mendengus,
"Ya nggak gitu juga kan ... ? lagian lucu saja tiba- tiba kamu bersikap kekanakan seperti tadi." jelasnya.
Tak lagi menjawab protes istrinya, Rangga justru langsung melumat bibir Diandra.
Diandra memejamkan mata. Untuk sesaat mereka larut dalam kenikmatan hingga Rangga melepaskan ciumannya.
"Sayang, kita berangkat lusa." Ucap Rangga kemudian,
Diandra sedikit kaget, Ia membetulkan posisi duduknya yang miring akibat permainan panas tadi.
"Kok mendadak gitu?" tanyanya,
"Aryo mengabarkan bahwa semua sudah siap. Jadi aku tidak mau membuang waktu." terang Rangga sambil mengusap rambut indah istrinya yang sedikit berantakan.
"Surat pindah sekolah anak- anak?" tanya Diandra lagi,
"Semua sudah beres, Aryo sudah mengurus semuanya." jawab Rangga memastikan.
"Baiklah. Kapan kita pamitan sama Mama Papa?"
"Nanti bisa, sekalian kita menginap semalam di sana."
"Ok." Jawab Diandra
*****
Suasana di rumah keluarga Surya malam itu berbeda. Rumah besar yang biasanya lenggang, malam itu menjadi riuh karena gelak tawa dua orang bocah, Rania dan Rayan.
Soraya terlihat sangat bahagia dan menikmati waktu bermain bersama dua cucu kesayanganya. Hingga malam semakin larut. Rayan dan Rania memilih tidur bersama Surya dan Soraya, mereka mau menghabiskan malam terakhirnya bersama Opa dan Oma sebelum pindah mengikuti orang tuanya.
"Cepat istirahat, besok pagi kita harus pulang lebih awal." titah Rangga pada kedua buah hatinya.
"Yahhh, kan masih seru Ayah." protes Rayan sambil bersungut.
"Rania ... Rayan, besok kalian gak mau kesiangan kan? kita masih harus mempersiapkan beberapa barang bukan?" bujuk Diandra,
akhirnya kedua bocah itu menurut dan beranjak ke kamar bersiap untuk tidur.
Sebelum menyusul kedua cucunya ke kamar, Soraya menyempatkan diri menemui menantunya yang juga beranjak ke kamar tidur.
"Andra, mama mau ngomong sebentar." ucap wanita paruh baya yang masih menyisakan kecantikan di wajahnya itu,
"Iya Ma," Diandra menghentikan langkah, Rangga juga ikut menunggu di samping istrinya.
"Andra, Mama sudah menyetujui kepindahan kalian meski berat. Tapi ... Mama gak tega sama anak- anak." Ucap Soraya dengan wajah sendu,
"Bagaimana kalau anak- anak tinggal sama Mama dan Papa disini?" pintanya penuh harap,
Mendengar permintaan Soraya, Diandra dan Rangga saling berpandangan sebelum menjawabnya,
"Ma, Mama tenang saja. Anak- anak akan baik- baik saja." Jawab Rangga kemudian meyakinkan ibunya.
"Andra janji Ma, akan sering mengabari Mama." imbuh Diandra mencoba menghibur ibu mertuanya itu.
"Mama gak usah kepikiran terus, kami akan baik- baik saja. Istirahatlah Ma, " Rangga membujuk Soraya dan memapahnya menuju kamar tidur utama miliknya.
Soraya pasrah meski hatinya masih diliputi rasa sedih dan khawatir akan nasib cucu- cucunya nanti.
____
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Pagi- pagi sekali Aryo sudah sampai di kediamaan Bosnya itu. Ia terlihat sibuk ikut membantu merapikan barang bawaan Keluarga Rangga ke dalam bagasi mobil.
"Sudah cukup?" tanya Rangga pada istrinya,
"Sepertinya sudah Mas," jawab Diandra sambil memindai kembali barang- barang yang sudah tertata rapi di bagasi.
"Ok, kita berangkat." Ajak Rangga dan memberi isyarat pada Aryo untuk bersiap,
"Hore, Rayan udah gak sabar Yah, mau lihat rumah baru kita!" Seru Rayan girang. Sementara Rania yang cenderung anteng hanya menggeleng melihat tingkah adiknya itu dan kembali fakus pada halaman buku yang tengah di bacanya.
Tak lama mobil pun melaju membelah Jalan Raya meninggalkan rumah keluarga Rangga.
Perjalanan menuju lokasi anak perusahaan tempat Rangga bekerja memang cukup jauh, butuh waktu setengah hari perjalan hingga sampai di tempat tujuan.
Beberapa kali mereka beristirahat untuk sholat, makan atau sekedar melepas penat sejenak. Matahari sudah mulai condong ke Barat saat mobil mereka memasuki kawasan daerah yang berhawa sejuk dengan pemandangan kebun tebu terbentang luas di kanan dan kiri jalan. Rayan dan Rania tampak takjub melihat pemandangan yang tidak pernah mereka saksikan di kota.
Hingga akhirnya mobil berhenti tepat di halaman rumah lawas peninggalan Belanda yang nampak masih terawat dengan baik. Halamannya cukup luas dan tampak ditumbuhi beberapa pohon mangga yang rindang.
Setelah mobil berhenti, tampak pintu rumah di buka oleh seseorang. Disusul dua orang yang langsung berlari kecil menyambut kedatangan mereka.
"Selamat sore mbok Darmi, Pak Manto?" Sapa Aryo seraya membuka bagasi mobil hendak mengeluarkan barang- barang bawaan.
"Selamat sore Tuan Aryo," jawab mbok Darmi, wanita yang masih tampak "ethes" di usianya yang tak lagi muda itu.
Mereka bersiap membantu Aryo membawa beberapa tas dan koper ke dalam rumah namun urung saat melihat Rangga dan Diandra turun dari mobil diikuti kedua anak mereka.
"Selamat datang Tuan ... Nyonya" Sapa mereka ramah seraya menunduk sopan kepada Diandra dan Rangga.
"Terimakasih Pak ... Bu." Balas Diandra tersenyum dan mendekat untuk menyalami keduanya,
"Saya Darmi, Nyonya. Panggil saja Mbok Darmi. Dan ini suami saya, Sumanto." Mbok Darmi memperkenalkan diri pada majikan barunya.
Setelah beramah tamah sebentar, Mbok Darmi dan Pak Manto mempersilakan Rangga dan keluarganya untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka tampak lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Setelah mengantar dan menunjukkan kamar masing- masing pada majikannya untuk beristirahat, Mbok Darmi bersiap untuk mempersiapkan makan malam yang sudah ia siapkan.
Diandra dan anak- anak memilih untuk segera membersihkan diri, sementara Rangga masih menikmati teh hangat yang dihidangkan mbok Darmi bersama Aryo di ruang tamu.
"Bagaimana perkembangan misimu Aryo?" tanya Rangga pada orang kepercayaannya,
"Sudah 75% Tuan. Data dukung yang dibutuhkan sudah terkumpul, tinggal menunggu eksekusi!" jawab Aryo yakin.
"Bagus, Aku mau semua siap di mejaku besok pagi!"
"Siap, Tuan."
***
Usai makan malam Aryo berpamitan untuk pulang ke Mess yang berada di area pabrik. Begitu juga dengan Pak Manto dan Mbok Darmi yang juga minta undur diri.
"Tuan, rumah kami hanya di bawah sini. Jika Tuan butuh sesuatu silahkan memanggil kami kapan saja." Ucap Pak Manto saat berpamitan pada Rangga,
"Terimakasih Pak Manto ... Mbok Darmi atas bantuannya. Maaf merepotkan kalian." jawan Rangga di dampingi oleh Diandra mempersilakan kedua orang pembantu rumah tangganya untuk pulang.
Hari yang melelahkan. Usai solat Isyak semua orang memilih untuk segera beristirahat. Sebelum berangkat tidur, Diandra memeriksa kedua anaknya di kamar mereka masing- masing yang telah tertidur pulas. Rupanya kedua bocah itu benar- benar kelelahan. Tak lupa ia merapikan selimut Rania dan Rayan, memberikan kecupan kecil pada keduanya dan mengganti penerangan kamar dengan lampu tidur yang temaram. Kemudian beranjak ke kamar menyusul Rangga yang sudah menunggunya.
kkkrriiikkkkk....kkkrrriiikkk.....
Terdengar suara jangkrik mengerik saling bersahutan, menjadi lagu pengantar tidur yang membawa pasangan itu dalam lelap.
Malam pertama di rumah baru, lingkungan baru, suasana baru, dan tentu cerita baru yang menanti hari- hari mereka selanjutnya.