Pagi yang indah, udara sejuk nan segar menerobos melalui jendela menyapu seluruh area rumah menebar aroma bunga tebu yang masih basah berbalut embun di lembah Lawu.
Tirai jendela menari- nari tertiup angin pagi. Sementara di luar, cahaya tampak semburat menembus kabut yang masih setia menyelimuti alam serupa jari- jari langit yang menjamah bumi.
Tak lantas bermalas menikmati suasana baru yang syahdu, Diandra sudah bersiap di Dapur. Tangannya terampil meracik sarapan pagi pertama dirumah baru mereka. Sederhana saja, nasi goreng dan telur ceplok.
Diandra mengeratkan kimono yang melapisi gaun tidurnya. Belum terbiasa dengan hawa baru di daerah itu, Diandra merasa tubuhnya sedikit menggigil. Ia menyedu teh hangat dan meminumnya, berharap sedikit mengusir dingin yang membuat kulit tubuhnya merinding kedinginan.
Sementara Rangga, seperti tak terpengaruh dengan perubahan cuaca yang jauh berbeda dengan di rumah lamanya. Ia tampak telah rapi, mematut diri di depan cermin di kamarnya. Tubuhnya menguarkan aroma segar dan wangi maskulin dari minyak wangi favoritnya.
Kali ini ia memilih tampilan yang casual dengan kemeja lengan panjang warna biru langit di padu celana bahan warna senada yang sedikit lebih gelap. Tak terlalu formal namun tetap elegan. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, khas para CEO di novel- novel.
Diandra membuka pintu kamar, membawa secangkir kopi panas yang langsung menebarkan wangi khas dari kepulan asapnya.
Melihat penampilan suaminya yang sudah rapi, Diandra tersenyum takjub. Ia mendekat dan menyerahkan cangkir kopi itu pada Rangga.
Rangga mencecapnya, dan terlihat menikmati kopi buatan istrinya itu. Diandra mengusap kemeja Rangga, merapikan dan memastikannya sudah sempurna.
"Perfect. " ucapnya kemudian nampak puas,
Rangga meletakkan cangkir kopi yang hampir kosong isinya, menyisakan ampas hitam di dasar cangkir. Rangga Menarik pinggang ramping Diandra dalam dekapannya.
Mereka saling pandang penuh cinta, sejurus kemudian Rangga membenamkan wajahnya di ceruk leher Diandra yang jenjang menggoda. Sesaat mereka larut saling berbalas ciuman.
Takut terbakar gelora lebih dalam, Diandra sedikit mendorong tubuh Rangga menjauh darinya,
"Kau tak mau terlambat di hari pertama ke kantor bukan?" ucap Diandra mengingatkan sambil menunjuk ke d**a bidang Rangga.
Rangga mendengus kesal,
"Ok, kita lanjutkan nanti. Bersiaplah, " Goda Rangga, matanya mengerling nakal.
"Hhhmmmmm." Diandra memutar bola matanya, berpura- pura kesal,
"Ayo cepatlah, sebelum kau terlambat. Jangan tinggalkan kesan buruk di hari pertamamu, Tuan."
Ia mendorong suaminya ke luar kamar dan mengajaknya sarapan di ruang makan.
Kali ini mereka sarapan berdua saja, Rania dan Rayan memilih kembali tidur setelah melaksanakan solat subuh pagi tadi.
Usai sarapan Diandra mengantar Rangga hingga ke halaman, bertepatan dengan mbok Darmi yang juga telah sampai disana.
Rangga membunyikan klakson dan melajukan mobil membelah kabut pagi yang mesih enggan pergi. Diandra melambaikan tanggan ke arahnya, dari kaca spion Rangga bisa melihat istrinya masih menyaksikannya dari kejauhan hingga bayangannya hilang dari pantulan kaca spionnya.
Rangga tersenyum penuh arti, tak tau kenapa hatinya merasa sangat bahagia sekali. Kini Ia merasa memiliki Diandra seutuhnya.
*****
Mbok Darmi kaget melihat sudah ada hidangan sarapan di atas meja makan, Ia merasa tak enak karena terlambat datang untuk menyiapkan sarapan.
"Maaf Nyonya, saya tidak tau kalau Tuan beranggkat lebih pagi hari ini." sesal Mbok Darmi,wajahnya menunduk merasa bersalah, mungkin juga takut kalau Nyonya barunya akan marah.
"Tidak apa- apa Mbok, saya sudah biasa melakukan ini dirumah." jawab Diandra enteng, tak ada raut marah atau tak suka dari mimik wajahnya.
"Kebetulan masih ada sisa nasi semalam, sayang saja kalau tidak dimanfaatkan." Lanjutnya lagi,
"Tapi Nyonya, itukan tugas saya," Mbok Darmi masih merasa tak enak,
"Sudahlah, tak masalah Mbok. Untuk urusan sarapan, selama saya masih bisa menyajikan sendiri maka itu jadi tugasku. Mbok Darmi bisa mengerjakan yang lainnya." Diandra meyakinkan,
Mbok Darmi menatap Diandra ragu- ragu,
"Benar mbok, tak apa! Bahkan dirumah saya mengerjakan semua hal sendirian. Saya tidak memiliki pembantu sebelumnya, dan bahkan saya juga bekerja. Percayalah saya sudah terbiasa." Diandra menambahkan, kali ini ia memberinya senyum lebar agar Mbok Darmi tak merasa bersalah lagi.
"Mbok Darmi bisa mengerjakan yang lain sekarang. Saya mau menghubungi Mama. Saya belum bisa mengabarinya sejak semalam, takut beliau menjadi khawatir." Ucap Diandra dan meninggalkan Mbok Darmi yang masih membereskan meja makan.
"Baik Nyonya."
***
Diandra masuk kekamarnya, mengambil HP di atas nakas kemudian memencet salah satu kontak di HPnya -- Mama --.
Tuttt ... Tutt ... Tutt ... (Menyambungkan )
Beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Soraya namun selalu gagal. Rupanya di daerah itu sedikit susah sinyal, terlebih jika cuaca mendung atau sedang berkabut seperti pagi ini.
Mbok Darmi menyarankan agar Diandra mencoba mencari sinyal yang lebih kuat di sekitar rumah. Diandra menuruti saran mbok Darmi, Ia keluar dan mencoba mencari lokasi yang mempunyai sinyal lebih kuat. Ia tak mau Soraya menjadi khawatir karena tak ada kabar dari mereka sejak kemarin.
Diandra mengelilingi halaman rumah, nihil.
No Signal!
Ia kemudian mencoba keluar dari area rumah, sedikit menjauh ke jalan utama.
"Oh segar sekali udara disini" Diandra membatin,
Langkah kakinya berhenti saat layar ponselnya menunjukkan ada sinyal yang cukup kuat.
Buru- buru Ia mencoba lagi menghubungi Soraya, takut signalnya keburu hilang.
Tuutttt ... Tuuuuttttt ... (Berdering)
"Halo Andra?" Akhirnya Suara Soraya terdengar dari ujung telephon.
"Selamat pagi, Ma." Sapa Diandra,
"Pagi, Andra."
"Kenapa baru hubungi Mama? Dari semalam Mama coba telephon kalian tapi gak bisa- bisa. Bikin Mama Papa khawatir saja!" Berondong Soraya, dari nada suaranya Diandra dapat membayangkan raut kekhawatiran mertuanya tersebut.
"Maaf Ma, signal disini agak sulit. Andra juga sudah berkali mencoba hubungin Mama, tapi selalu gagal," terangnya.
"Ini juga Andra harus keluar beberapa meter dari area rumah, baru dapat signal dan langsung telepon Mama."
Soraya menghembuskan nafas,
"Ya sudah, yang penting kalian sudah sampai dengan selamat. Bagaimana anak- anak Andra? Mereka gak rewel kan?" berondongnya lagi,
"Alhamdulillah aman, Ma. Mereka masih tidur. Hawa disini sejuk dan segar. Kapan- kapan Mama sama Papa harus kesini dech. Pasti bakalan betah." Bujuk Diandra,
Setelah puas mengobrol dan memberi kabar pada mertuanya, Diandra menutup telephon dan kembali kerumah. Ia berjalan santai sambil menikmati pemandangan pegunungan yang indah. Hamparan ladang tebu bermahkotakan bunganya yang menari- nari tertiup angin, sungguh sangat memanjakan mata yang memandang. Konon pemandangan seperti ini hanya bisa dinikmati setahun sekali, saat mendekati masa panen tiba. Beruntung baginya, sekali datang Ia bisa menyaksikan moment langka tersebut.
Di sepanjang jalan, Diandra beberapa kali berpapasan dengan para petani dan pekerja yang hendak berangkat ke ladang. Mereka baik dan ramah, selalu menyapa lebih dulu dengan sopan khas orang desa yang masih menjunjung tinggi norma dan adat istiadat ketimuran.
Ah, sepertinya akan menyenangkan sekali hari- harinya disini. Batin Diandra sambil tersenyum senang.
Tak terasa kini Ia sudah memasuki halaman rumah, Mbok Darmi terlihat tengah menyapu halaman yang cukup luas itu. Rania dan Rayan pun rupanya sudah bangun. Dua bocah itu sedang berada di teras samping yang menghadap langsung ke arah ladang tebu. Mereka nampak tengah berbincang sambil tertawa riang, hingga tak menyadari kehadiran Bundanya.
Diandra berjalan menghampiri keduanya,
"Selamat Pagi Sayang?" Sapa Diandra setelah sampai di teras dimana kedua anaknya itu berada.
"Pagi Bunda," Jawab Rania dan Rayan riang,
"Bagaimana tidur kalian? Nyeyak?" tanyanya kemudian,
"Nyenyak sekali bunda," Rania menjawab antusias,
"Rasanya pengen tiduran terus bunda," timpal Rayan, tangannya bersedekap di depan d**a dan menggoyangkan tubuhnya mengisyaratkan ia tengah kedinginan.
Diandra tersenyum melihat tingkah anaknya itu,
"Ok, biar tidak dingin. kita sarapan dulu. Bunda masak nasi goreng dan telur ceplok buat kalian." Diandra merangkul kedua bocah itu dan mengajaknya masuk untuk sarapan bersama.
*****
Sementara itu di kantor barunya, Rangga terlihat sibuk membuka- buka lembaran file yang sudah disiapkan oleh Aryo seperti keinginannya semalam. Keningnya sedikit berkerut, Ia nampak serius mengamati tiap lembar yang ia buka.
tok- tok!
Suara pintu ruang kantornya di ketuk,
"Masuk." ucapnya mempersilakan,
pintu terbuka, nampak Aryo memasuki ruanganya itu dengan sebuah stopmap di tangannya,
"Pagi Bos," Sapa Aryo,
"Pagi Aryo," jawab Rangga sambil memberi isyarat mempersilakan Aryo duduk di kursi di hadadapannya.
"Ada informasi tambahan Yok?" tanya Rangga setelah Aryo duduk di kursinya,
"Ada Bos," Aryo menyerahkan stop map merah yang ia bawa di meja kerja Rangga.
Brakk!!!