Sementara itu di kantor barunya, Rangga terlihat sibuk membuka- buka lembaran file yang sudah disiapkan oleh Aryo seperti keinginannya semalam. Keningnya sedikit berkerut, Ia nampak serius mengamati tiap lembar yang ia buka.
tok- tok!
Suara pintu ruang kantornya di ketuk,
"Masuk." ucapnya mempersilakan,
pintu terbuka, nampak Aryo memasuki ruanganya itu dengan sebuah stopmap di tangannya,
"Selamat pagi Tuan," Sapa Aryo,
"Selamat pagi Aryo," jawab Rangga sambil memberi isyarat mempersilakan Aryo duduk di kursi di hadadapannya.
"Ada informasi tambahan Yo?" tanya Rangga setelah Aryo duduk di kursinya,
"Ada Tuan," Aryo menyerahkan stop map merah yang ia bawa di meja kerja Rangga.
Brakk!!!
Rangga dan Aryo tersentak kaget mendengar pintu di dobrak dari luar, sontak pandangan keduanya terfokus ke arah pintu yang telah terbuka itu.
Aryo bangkit hendak menghardik tamu tak diundang yang datang dengan tidak sopan.
Tiga orang laki- laki masuk ke ruangan Rangga dengan raut muka tidak bersahabat. Seorang yang di depan adalah laki- laki setengah baya dengan perut buncit tengah melotot ke arah Rangga dengan tatapan mengintimidasi. Rangga tetap bergeming, menatap balik ketiga orang itu dengan raut datar. Tak ada gurat khawatir atau ketakutan sama sekali.
Laki- laki buncit itu tampak mengeram sambil satu tangannya memelintir kumis tebalnya. Sedang dua orang lainnya, laki- laki berbadan tegap berotot yang kemungkinan besar adalah centeng Si kumis.
"Jadi ini pemuda kencur yang dikirim Bramantyo kesini!" suara Si Kumis terdengar memenuhi ruangan.
Aryo tak terima majikannya diperlakukan dengan tidak sopan. Ia hendak maju menghardik orang itu, namun Rangga menahannya dengan memberi isyarat agar Ia tetap tenang di tempat.
"Iya benar. Perkenalkan ... saya Rangga, pimpinan baru di sini! Pak Bram mengirim saya untuk memimpin anak perusahannya yang saya dengar sedang tidak baik- baik saja. Silahkan duduk!" Jawab Rangga tetap dengan ekspresi datarnya.
Cuihh!!!!
Mendengar jawaban Rangga, Si Kumis semakin geram.
"Jangan sok jagoan kamu anak muda. Jangan pikir kamu bisa berbuat seenaknya di wilayahku!!!" ucapnya mengultimatum, tangganya menunjuk ke muka Rangga.
"Jangan kurang ajar kamu!" Bentak Aryo yang tampak terprofokasi dengan sikap Si Kumis.
Melihat Aryo bereaksi, dua orang centeng yang sedari tadi diam mematung kini pasang badan melindungi Tuannya.
Aryo tak gentar, pemegang sabuk hitam beladiri Taekwondo itu menatap dengan menantang.
Melihat situasi makin memanas. Tak mau terjadi keributan yang lebih besar, Rangga memilih bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat, membuat Si Kumis dan kedua centengnya mengambil sikap berjaga.
Masih dengan sikap santai, Rangga kini duduk bersandar di depan meja kerjanya. Kedua tanganya masuk ke saku celana, dengan tenang berkharisma Ia balik memperingatkan Si Kumis agar jangan mencoba macam- macam degannya.
"Sebaiknya Anda yang harus berhati- hati! Jangan mencoba macam- macam selagi saya ada disini!"
Rangga memperingatkan, matanya menatap tajam ke arah Si Kumis.
Tak segarang di awal kedatanganya tadi, melihat tatapan elang dari Rangga nyali Si Kumis menciut. Ia tak menyangka akan mendapati reaksi menantang seperti itu sebelumnya.
"Kurang Ajar!!" kedua tangan Si Kumis mengepal geram. Ia terlihat sangat kesal, kemudian memberi isyarat pada kedua centengnya untuk pergi meninggalkan ruangan Rangga.
Aryo tak terima ketiga orang itu lolos begitu saja, Ia hendak melangkah untuk menghadang ketiganya. Namun, lagi- lagi Rangga mencegah dan menyuruhnya untuk tetap di tempat.
Setelah ketiga orang itu keluar, Aryo yang masih tersulut emosi memprotes sikap Tuannya yang melarangnya menghajar ketiga orang kurang ajar tadi. Bagi Aryo sangat mudah menumbangkan ketiganya dalam sekali waktu.
Rangga kembali ke tempat duduknya, Ia menyuruh Aryo duduk dan mencoba untuk kembali tenang.
"Kau kenal Dia?" tanya Rangga,
"Namanya Darto, awalnya dia adalah bagian dari pabrik ini." terang Aryo,
"Dia termasuk dalam lingkaran orang dalam yang menyelewengkan dana perusahaan, Bos." Rangga manggut- manggut, Ia mulai memahami,
"Jadi Dia salah satu yang di depak oleh Pak Bram?" Tanya Rangga memastikan,
"Betul." Aryo mengiyakan dugaan Bosnya itu,
"Kenapa dia masih bebas?" Tanya Rangga lagi masih penasaran,
"Dia licik. Ia berkhianat pada komplotannya. Orang- orang Pak Bram tidak bisa menemukan bukti kuat yang bisa menjebloskanya ke penjara seperti komplotanya yang lain."
"Sepertinya kita perlu waspada pada orang itu Tuan, saya masih menyelidiki apakah dia juga ikut terlibat dalam aksi unjukrasa beberapa waktu lalu." jawab Aryo memperingatkan,
"Baiklah, awasi dia dan orang- orang yang ada di sekitarnya! Jangan sampai ia menimbulkan masalah dikemudian hari!" perintah Rangga.
"Siap Tuan."
"Kalau tidak ada yang penting, sementara kau boleh kembali ke pekerjaanmu!" ucap Rangga dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, ia mengambil stop map yang baru saja diserahkan Aryo beberapa saat yang lalu dan mulai memeriksanya.
Namun pekerjaanya kembali terhenti saat ia menyadari bahwa Aryo masih berada ditempatnya, Rangga kembali menatap tangan kanannya itu dan bertanya,
"Masih ada yang ingin kau sampaikan?"
Sedikit ragu Aryo mencoba menyampaikan usul pada Rangga,
"Sepertinya kita perlu mengadakan pertemuan dengan ormas yang kemarin terlibat dalam aksi Tuan," Aryo menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya,
"Pengaruh mereka sangat kuat pada pekerja kita."
Rangga mulai tertarik menyimak usul yang baru saja Aryo sampaikan. Ia mengganti posisi duduknya agar lebih nyaman dengan menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
"Seberapa kuat pengaruh mereka?" tanyanya kemudian,
"Sangat kuat! Mereka ormas non profit. Dari hasil penyelidikan saya, aksi mereka pure membela kepentingan para pekerja. Mereka menuntut kesejahteraan dan program yang berdampak pada peningkatan SDM para pekerja kita."
"Menurut saya mereka bisa menjadi sumber masalah baru jika tidak kita tangani dari sekarang, Tuan?"
Mendengar penjelasan Aryo, Rangga kembali manggut- manggut.
"Usul yang bagus Aryo. Coba kau atur pertemuan dengan mereka! Namun kau juga harus tetap waspada dengan orang- orang dalam. Sebar orang- orangmu disetiap lini. Jika ada yang mencurigakan, kita harus segera ambil tindakan!"
"Baik,Tuan!" jawab Aryo mengiyakan perintah Bosnya itu.
"Masih ada yang lain?" tanya Rangga lagi,
"CukupTuan. Saya izin undur diri." Pungkas Aryo kemudian meminta izin untuk keluar dan kembali pada pekerjaanya.
Baru saja membuka pintu ruangan, Rangga kembali memanggil Aryo,
"Aryo, buat jadwal kunjungan ke lapangan untuk besok! Aku ingin melihat langsung kondisi yang ada di sana." pinta Rangga.
Aryo mengangguk tanda siap melaksanakan.
Setelah Aryo keluar dari ruanganya, Rangga kembali menyandarkan kepalanya di kursi. Ia merasa sedikit penat. Sesaat Ia memejamkan mata mencoba mengusir kepenatan yang ia rasakan.
Dreettt .... Dreeettt ... Dreett ...
Beberapa saat terpejam, ponselnya bergetar, ada notifikasi telephon masuk dari Diandra.
Rangga segera mengangkat panggilan itu,
"Hallo, Sayang. Ada apa?" Terdengar Rangga menyapa sesaat setelah menekan tombol terima di ponselnya.
"Halo, Mas. Bagaimana hari pertamamu di kantor?" Suara Diandra terdengar sangat ingin tahu,
"Baik, semua berjalan lancar." Rangga berbohong,
"Syukurlah! Mas, Apa kau sedang sibuk? Jika tidak, Aku mau siang ini kita makan siang bersama di rumah." pinta Diandra,
"Tentu, Aku akan pulang sebelum jam makan siang." Janji Rangga.
"Terimakasih,Mas. Sampai jumpa nanti."
"Ok."
Tutt .. Tuttt ...Tuttt ...
Diandra mengakhiri sambungan telephon.
Rangga menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Masih ada waktu kurang lebih satu jam sebelum tengah hari. Rangga ingin beristirahat sebentar di kantornya agar kembali bugar.
Tentu Ia tak mau terlihat kusut didepan Diandra saat pulang nanti, tak mau istrinya menjadi khawatir dan mengetahui kekacauan di hari pertamanya di kantor.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa tamu, mencoba memejapkan mata dan terlelap.