Riou berdiri di depan pintu ruang klub seni, merasa ada dunia baru di depannya iya seolah-olah kakinya dipaku ke lantai. Udara di sekitarnya terasa berat, dan detak jantungnya begitu kencang hingga nyaris terdengar di telinganya. Pintu itu tampak begitu besar, seperti penghalang raksasa yang memisahkannya dari kenyamanan dunianya yang sepi.
Tania, yang sudah beberapa langkah di depannya, menoleh dengan cemas. “Riou? Kenapa kamu nggak masuk?” tanyanya, alisnya sedikit terangkat.
Riou menatap pintu itu dengan tatapan kosong, pikirannya berputar-putar dengan berbagai keraguan. *Apa aku bisa? Apa aku benar-benar bisa masuk dan jadi bagian dari mereka?* bisiknya dalam hati,mungkin aku lebih baik pergi saja dari sini pikirnya. Rasa ragu merayap di benaknya, memupuk ketakutan yang telah lama ia simpan dalam diam. Pikiran tentang segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi berputar seperti pusaran air yang tak berujung.
Tania menghela napas pendek dan kembali mendekati Riou. “Hey, semuanya bakal baik-baik aja. Mereka nggak bakal makan kamu, kok,” katanya dengan senyum setengah menggoda, mencoba meringankan suasana.
Riou masih tidak bergerak, tatapannya tertuju pada gagang pintu yang kini tampak seperti sesuatu yang asing. Tubuhnya gemetar sangking gugup nya tangan nya pun berkeringat sedikit—hampir tak terlihat—tapi cukup bagi Tania untuk menyadarinya. Dia ingin mundur, kembali ke zona nyamannya yang sunyi, tetapi Tania berdiri di sampingnya, senyumannya lembut, menenangkan seperti hembusan angin yang menyejukkan di tengah terik matahari.
“Ayo, Riou,” Tania akhirnya mengulurkan tangan, kali ini lebih tegas. “Kalau kamu terus di sini aja, kamu nggak bakal tahu apa yang bisa kamu lakukan ayo aku akan menemanimu.”
Riou terdiam sejenak, menimbang-nimbang kata-kata Tania. Dia tahu temannya ini benar, tapi ketakutan masih mencengkeramnya erat. Dengan ragu, dia akhirnya meraih tangan Tania dan membiarkan dirinya dituntun masuk. Namun, meski tangannya terasa berat, ia berhasil mendorong pintu itu terbuka. Di balik pintu, dunia baru yang terang dan penuh suara menyambutnya. Riou merasa seperti arus besar yang menariknya masuk, membuatnya hampir tersedak oleh rasa panik yang tiba-tiba membanjir.
Namun, langkahnya terhenti. Saat Tania melangkah masuk, Riou justru mematung di ambang pintu.Dadanya sesak oleh ketidakpastian, dan dia menoleh ke belakang, ingin kabur. *Apa aku benar-benar bisa melakukannya? Apa aku bisa menghancurkan dinding yang selama ini kubangun?* pikirnya, perasaan takut menguasai dirinya. Tapi sebelum Riou sempat bergerak, Tania berbalik dan menarik tangannya dengan lembut, memaksanya masuk ke dalam ruangan.
Di dalamnya samar_samar suara asing yang mulai terdengar, tiga gadis sudah menunggu mereka. Karin, yang berdiri paling dekat, menyambutnya dengan senyum ramah dan antusias. “Hei, Riou! Senang akhirnya bisa ketemu kamu. Aku Karin. Udah denger banyak tentang kamu dari Tania,” katanya, suaranya penuh kehangatan yang membuat Riou sedikit tenang.
Di sampingnya, Rahma menyusul dengan senyuman yang tidak kalah hangat dengan rasa malu_malu. “perkenlakan aku Rahma. Jangan khawatir, di kamu bisa menggap seperti rumahmu sendiri dengan suara yang begitu lembut dan sedikit terbata_bata. semoga kita bisa menjadi teman”ucapnya dengan nada lembut.
Namun, ketika Riou menoleh ke arah gadis ketiga, ia merasakan hal yang berbeda. Sarah memandangnya dengan tatapan tajam dan sinis, ekspresinya jauh dari ramah. tidak ada sambutan senyuman di bibirnya dan terlihat dari raut wajahnya yang sangat tidak menyukai ke datangan Riou,namun entah mengapa iya tersenyum tipis tapi itu bukan senyuman yang menyambut—melainkan senyum yang penuh skeptisisme.
“Oh, jadi ini Riou yang sering dibicarain Tania?” Sarah bertanya, suaranya terdengar ringan tapi dengan nada sinis yang membuat Riou merasa tidak nyaman. Riou hanya bisa mengangguk canggung, tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan tajam Sarah seolah menyelidiki Riou, mencari kekurangan yang mungkin tersembunyi. Kekhawatiran yang sempat mereda kini kembali menyerangnya dengan kekuatan yang lebih besar iya merasa tertekan namun iya berusaha menenangkan dirinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sarah memutar tubuhnya dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Riou dalam kebingungan. *Apa aku memang nggak seharusnya di sini?* pikirnya, perasaan tidak aman kembali menyerangnya dengan kekuatan penuh. Tatapan sinis itu masih terukir jelas dalam benaknya, memperkuat perasaan bahwa dia mungkin tidak benar-benar diterima di tempat ini kali ini pikirannya benar kacau ini baru pertama iya merasakan.
“Sarah...” Karin mencoba memanggilnya, tapi Sarah tidak menoleh. Pintu tertutup dengan suara yang lebih keras dari yang seharusnya, menciptakan keheningan canggung di antara mereka yang tersisa.
Tania mencoba mencairkan suasana dengan tersenyum dan menepuk pundak Riou. “Jangan diambil hati. Sarah emang gitu orangnya, tapi dia sebenarnya baik.”
Riou hanya bisa mengangguk, meskipun di dalam hatinya masih ada perasaan ragu. Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa bahwa mungkin Sarah benar—mungkin ia hanyalah beban yang tak berguna bagi klub ini.
sore itu, saat meninggalkan ruang klub seni,Riou berjalan sambil memikirkan sikap Sarah pikirannya penuh dengan kekhawatiran. *Bisakah aku bertahan di sini? Bisakah aku memenangkan kepercayaan mereka? Atau... apakah aku hanya akan mengecewakan semuanya?*
Namun, meskipun keraguan itu terus menghantui, ada sesuatu yang lain tumbuh dalam dirinya—sebuah rasa ingin tahu, sebuah harapan kecil bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa menemukan tempatnya di sini.
"Mungkin ini hanya soal waktu, lagipula ini pertama kalinya aku keluar dari zona nyaman. Mungkin butuh sedikit waktu hingga aku bisa beradaptasi dengan baik. Bagaimanapun, aku sudah berjanji untuk membantunya."
"Huh..."
"Sekarang, sepertinya aku akan terlambat pulang. Jadi, begini rasanya memiliki kegiatan dan berkumpul dengan orang lain," pikirnya sambil berjalan, merenungkan apa yang telah terjadi.
"Walaupun merepotkan, aku cukup senang dengan pertemuan pertamaku dengan klub seni itu. Namun, aku tidak tahu berapa lama aku akan berada di sana. Mungkin sampai janji yang kubuat selesai. Ketika janji itu terpenuhi, mungkin aku akan kembali ke tempat di mana aku sendiri lagi. Atau mungkin, aku akan memulai sesuatu yang baru bersama mereka. Ya, apapun itu, untuk sekarang aku akan menjalani dan menikmati masa-masa ini."
Tak terasa, Riou sudah sampai di depan gerbang sekolah. Sekilas, dia melihat Sarah di sana. Ketika Sarah melihatnya, dia hanya memandang Riou sebentar sebelum memalingkan pandangannya. Riou hanya diam, berjalan melewati Sarah tanpa sepatah kata. Namun, di dalam hatinya, ia bertanya-tanya, "Kenapa? Apa yang salah dengan diriku?"
Akankah masalah yang di alami Riou akan bisa iya selesaikan dan apakah Sarah akan dapat menerima kedatangan Riou ke dalam klub seni ??