Riou selalu merasa nyaman dalam kesendirian. Selama ini, dia terbiasa duduk di sudut ruang kelas, mendengarkan dunia dari kejauhan. Tatapannya sering kosong, menatap layar ponselnya atau jendela, seolah-olah dinding tak terlihat memisahkannya dari orang-orang di sekitarnya. Ketika bel berbunyi, Riou selalu yang pertama keluar, menghindari interaksi dengan siapa pun. Baginya, berbaur hanya berarti membuka diri untuk kecewa.
Namun, setelah pertemuannya dengan anggota klub seni, ada sedikit perubahan dalam dirinya. Meskipun masih ada rasa ragu dan takut, dia mulai merasakan keinginan untuk membuka diri, walau hanya sedikit.
Hari ini, Riou memutuskan untuk datang lebih awal ke ruang klub seni. Pikirannya bergejolak, penuh dengan keraguan tentang apakah dia benar-benar bisa melakukannya. Tapi, ada juga dorongan kecil yang membuatnya melangkah masuk.
Saat dia membuka pintu ruang klub, Riou melihat Sarah yang sedang berdiri di tengah ruangan, membelakanginya. Riou menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku harus mencobanya," pikirnya. Meskipun hatinya berdebar kencang, dia memutuskan untuk menyapa Sarah terlebih dahulu.
"H-hi, Sarah," ucap Riou dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan. Suaranya terdengar canggung, dan matanya menunduk, takut bertemu dengan tatapan Sarah.
Sarah berbalik perlahan, dan saat matanya bertemu dengan Riou, dia tidak menunjukkan tanda-tanda ramah. Tanpa sepatah kata pun, Sarah hanya memandang Riou sejenak dengan ekspresi dingin, lalu segera berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Langkahnya cepat, seolah-olah dia ingin segera meninggalkan tempat itu. Pintu tertutup dengan suara yang terdengar begitu keras di telinga Riou, meninggalkannya sendirian di dalam ruangan.
Riou berdiri mematung di tempat, rasa gugup yang tadi perlahan berubah menjadi kekecewaan. "Apa aku salah sudah mencoba?" pikirnya. Namun, meskipun rasa ragu itu masih menggantung di hatinya, ada sedikit kebanggaan karena setidaknya dia telah mencoba untuk berinteraksi, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dia lakukan sebelumnya.
Saat Riou menatap pintu yang tertutup, dia tahu bahwa ini baru permulaan. Meskipun hasilnya tidak seperti yang dia harapkan, dia merasa sedikit lebih kuat. "Mungkin lain kali akan lebih baik," gumamnya pelan.
Dia memutuskan untuk tetap tinggal di ruang klub, mencoba menenangkan pikirannya dan bersiap untuk bertemu dengan anggota klub lainnya. Meski langkahnya kecil, Riou tahu dia sedang berjalan ke arah yang benar—meskipun jalan itu penuh rintangan yang belum pernah dia temui sebelumnya.
Setelah kepergian Sarah, Riou merasa kesepian kembali menyelimutinya, seakan-akan dinding-dinding ruangan klub seni semakin mendekat. Dia menatap kertas-kertas sketsa yang berserakan di meja, mencoba mengalihkan pikirannya. Hatinya masih berdebar kencang, tapi kali ini ada rasa lega karena dia tidak lagi harus berhadapan dengan tatapan dingin Sarah.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar di koridor. Riou segera menoleh ke pintu, jantungnya kembali berdebar. Pintu terbuka, dan Karin muncul dengan senyum cerah di wajahnya.
“Eh, Riou! Kamu datang lebih awal hari ini,” ujar Karin sambil meletakkan tasnya di atas meja. Dia tampak senang melihat Riou sudah berada di sana.
Riou mengangguk pelan, mencoba tersenyum meskipun masih canggung. “Iya, aku pikir... mungkin baik untuk datang lebih awal.”
Karin mendekat dan duduk di kursi di sebelah Riou. “Bagus! Jadi, kamu bisa lebih banyak berlatih atau sekadar bersantai sebelum yang lain datang.”
Kehadiran Karin membuat Riou sedikit lebih tenang. Tidak seperti Sarah, Karin memiliki aura yang menenangkan, dan dia selalu tahu bagaimana membuat orang lain merasa diterima.
Tak lama setelah itu, Rahma muncul, membawa beberapa buku sketsa besar dan kotak alat gambar. “Pagi, Riou, Karin,” sapanya dengan senyum hangat yang selalu menenangkan. Rahma selalu membawa banyak alat gambar, seolah-olah dia siap untuk mengerjakan proyek besar kapan saja.
Riou membalas sapaan Rahma dengan anggukan. Meski dia masih merasa canggung, kehadiran Karin dan Rahma membuatnya merasa tidak terlalu terasing. Mereka tidak memaksanya untuk berbicara lebih banyak dari yang dia inginkan, yang membuatnya sedikit lebih nyaman.
“Sarah tadi sempat ke sini?” tanya Rahma sambil mengeluarkan pensil warna dari kotaknya.
Riou terdiam sejenak, mencoba menahan kekhawatiran yang kembali muncul. “Iya, tapi... dia langsung pergi,” jawabnya dengan suara pelan.
Karin dan Rahma saling pandang sejenak, sebelum Karin menepuk bahu Riou dengan lembut. “Jangan terlalu dipikirin, Riou. Sarah emang kadang bisa agak susah didekati, tapi dia nggak seburuk itu kok.”
Riou hanya mengangguk pelan, meskipun di dalam hatinya dia masih merasakan kegelisahan. Dia berusaha untuk percaya pada kata-kata Karin, tetapi bayangan tatapan dingin Sarah masih membayangi pikirannya.
“Yang penting, kamu tetap coba buat ikut berinteraksi,” tambah Rahma, suaranya lembut. “Kami semua ada di sini buat saling mendukung, dan aku yakin seiring waktu, semuanya akan lebih baik.”
Riou tersenyum tipis, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang Rahma katakan adalah benar. Meskipun sulit, dia mulai merasakan bahwa mungkin, dengan waktu dan usaha, dia bisa benar-benar menjadi bagian dari kelompok ini.
Mereka bertiga kemudian mulai beraktivitas masing-masing, dengan Karin yang sibuk membuat sketsa baru dan Rahma yang mengeksplorasi ide-ide untuk karya berikutnya. Riou, meskipun masih merasa sedikit canggung, mulai mengambil pensilnya dan mulai menggambar di sudut meja. Ada perasaan aneh yang muncul—sebuah perasaan bahwa dia tidak sepenuhnya sendirian lagi.
Waktu berlalu dengan tenang, dan meskipun Riou masih merasakan bayang-bayang keraguan, ada percikan harapan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Hari ini, dia telah mengambil langkah kecil, dan meskipun itu tidak mudah, dia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa menemukan tempatnya di sini.
Setelah beberapa jam berlalu dengan kesibukan masing-masing, Riou mulai merasa lebih nyaman meskipun sesekali masih diliputi kecanggungan. Karin dan Rahma sibuk dengan sketsa mereka, sementara Riou mulai menumpahkan imajinasinya ke atas kertas. Perlahan, dia mulai melupakan kepergian mendadak Sarah dan semakin tenggelam dalam aktivitas menggambarnya.
Tak lama kemudian, pintu ruang klub terbuka kembali. Tania muncul dengan senyum lebar, membawa tas besar yang terlihat penuh. "Hei semuanya, waktunya istirahat! Aku bawa bekal," serunya dengan semangat.
Karin dan Rahma langsung berhenti bekerja dan menyambut Tania. Riou menoleh, sedikit terkejut tapi juga merasa sedikit lega melihat Tania. Mereka mulai mengatur meja di tengah ruangan, menyiapkan tempat untuk makan bersama. Tania mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
"Kalian pasti lapar, kan? Ayo, kita makan bareng-bareng," ajak Tania sambil membuka kotak-kotak itu, memperlihatkan aneka makanan yang sudah dia siapkan.
Riou duduk di sebelah Karin, merasa sedikit canggung di tengah suasana yang tiba-tiba berubah menjadi lebih santai. Tapi kali ini, ada perasaan yang berbeda. Biasanya, Riou selalu makan sendiri, di tempat yang sepi, jauh dari orang lain. Tapi sekarang, dia berada di tengah-tengah orang yang mau berbagi waktu dan makanan dengannya.
Saat mereka mulai makan, Tania menatap Riou dan bertanya dengan nada hangat, "Riou, gimana? Suka makanannya?"
Riou mengangguk pelan sambil mengunyah. "Iya... enak. Biasanya... aku makan sendiri, sih," jawabnya dengan suara yang nyaris terdengar. Kata-katanya keluar lebih sulit dari yang dia bayangkan, tapi ada rasa lega setelah dia mengucapkannya.
Karin tersenyum, menatap Riou dengan penuh pengertian. "Aku ngerti. Kadang makan sendiri itu bikin kita lebih fokus, tapi makan bareng kayak gini juga bikin lebih menyenangkan."
Riou mengangguk, meskipun di dalam hatinya dia tahu itu bukan hanya tentang fokus. "Aku... sebenarnya nggak pernah punya teman untuk makan bareng," katanya dengan suara pelan. "Aku biasanya sendirian... dan aku juga nggak pernah... ingin berinteraksi dengan orang lain."
Suasana hening sejenak. Karin, Rahma, dan Tania saling pandang, merasakan beratnya perasaan yang dibawa oleh pengakuan Riou. Tapi tidak ada rasa kasihan di mata mereka, hanya pemahaman dan penerimaan.
Rahma, yang duduk di seberang Riou, tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, Riou. Kadang kita butuh waktu untuk bisa terbuka sama orang lain. Yang penting sekarang, kita semua di sini buat kamu. Dan kamu nggak perlu terburu-buru untuk merasa nyaman. Ambil waktu kamu sendiri."
Riou menatap Rahma, merasakan kehangatan yang tulus dari kata-katanya. Dia merasa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tidak benar-benar sendirian. Perlahan, tembok yang dia bangun selama ini mulai sedikit retak, memberi ruang bagi orang lain untuk masuk.
Tania menambahkan dengan nada ceria, "Dan kita bisa bikin makan bareng ini jadi kebiasaan, gimana? Supaya kamu nggak perlu makan sendiri lagi."
Riou mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya, dia tersenyum sedikit lebih lebar. "Mungkin... itu ide yang bagus," katanya.
Dengan percakapan sederhana itu, Riou merasakan perubahan kecil dalam dirinya. Meskipun rasa takut dan ragu masih ada, dia mulai menyadari bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya. Dan dengan langkah kecil ini, dia mulai membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan baru.