IkatanHari-hari berlalu sejak Riou pertama kali bergabung dengan klub seni. Meski sudah mulai merasa lebih nyaman dengan Karin, Rahma, dan Tania, bayangan Sarah terus menghantui pikirannya. Setiap kali berada di ruang klub, Riou selalu merasa waspada, takut bertemu lagi dengan tatapan dingin Sarah yang seolah menghakimi kehadirannya.
Sarah adalah sosok yang dikenal sebagai siswa teladan di sekolah—disiplin, pintar, rajin, dan sangat berbakat dalam seni lukis. Dia dihormati karena ketegasannya dan sikapnya yang tak kenal takut. Namun, di balik semua itu, Sarah menyimpan kekhawatiran yang tak pernah dia ungkapkan. Saat Riou bergabung dengan klub seni, Sarah melihatnya sebagai ancaman, seseorang yang bisa mengganggu dinamika yang telah ia bangun bersama teman-temannya.
Dia ragu apakah Riou bisa diandalkan dan merasa bahwa kehadirannya mungkin hanya akan menambah masalah.Suatu sore, ketika kegiatan di sekolah hampir usai, Riou masih berada di kelas untuk pelajaran tambahan. Setelah selesai, dia berjalan sendirian melewati koridor yang sepi. Langit senja mulai meredup, menciptakan bayangan panjang di lantai koridor.
Dari kejauhan, Riou melihat Sarah berdiri di samping dinding belakang sekolah, melukis dengan penuh konsentrasi. Riou berhenti sejenak, merasa tertarik untuk mengamati lebih dekat, tapi ia ragu untuk mendekat, tak ingin mengganggu.Namun, suasana tenang itu tiba-tiba rusak oleh suara tawa yang semakin mendekat. Beberapa siswa muncul dari arah yang berlawanan, mendekati Sarah dengan senyum sinis.
Mereka mulai mengejek karya Sarah tanpa belas kasihan."Hah, ini yang kalian sebut seni?" salah satu dari mereka berkata sambil tertawa. "Pantas saja klub seni kalian mau ditutup!""Betul," tambah yang lain, "mending kalian bubar saja, biar nggak buang-buang waktu."Salah satu dari mereka menyenggol kanvas Sarah, hampir menjatuhkan lukisannya.
Sarah tetap diam, mencoba menahan emosinya, tapi Riou bisa melihat bagaimana tangan Sarah bergetar menahan amarah dan kesedihan.Ada sesuatu dalam diri Riou yang terbakar. Tanpa pikir panjang, dia mendekat. "Hei, berhenti!" serunya dengan suara yang gemetar namun tegas.
Para siswa itu terkejut melihat keberanian Riou yang biasanya pendiam."Oh, lihat siapa yang datang," salah satu siswa mengejek, tapi mereka segera kehilangan nyali saat melihat tatapan Riou yang tak biasa. Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk pergi, meninggalkan Riou dan Sarah dalam keheningan yang canggung.
Riou, yang masih diliputi adrenalin, memandang lukisan Sarah yang kini tergeletak di tanah. Dengan hati-hati, dia mengambil kanvas itu dan memeriksanya. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara lembut.Sarah tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada lukisan yang rusak itu, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kemarahan.
"Kenapa kamu peduli?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar dingin namun rapuh.Riou menghela napas panjang sebelum menjawab. "Aku tahu... mungkin aku belum banyak berkontribusi di klub seni. Aku bahkan mungkin hanya membuat masalah.Tapi saat aku berada di dalamnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatku ingin mencoba.
Selama ini, aku selalu menjauh dari orang lain, takut untuk berinteraksi, tapi di klub seni, aku merasakan ikatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tidak ingin klub ini hanya sekadar tempat, aku ingin membantu kita mendapatkan pengakuan."Riou kemudian mengembalikan kanvas itu kepada Sarah, tetapi dia tidak hanya menyerahkannya begitu saja. Dengan jemarinya yang terlatih, Riou mulai memperbaiki bagian lukisan yang rusak. Garis-garis yang sebelumnya hancur kini mulai membentuk sesuatu yang baru—pemandangan langit malam yang memancarkan ketenangan, namun juga menyimpan kekuatan yang tersembunyi.
Sarah terdiam, matanya terpaku pada lukisan yang kini berubah. Ada sesuatu yang aneh bergejolak di dalam dirinya—sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil kembali kanvas itu, menyentuh permukaan cat yang masih basah dengan hati-hati.Kemudian, tanpa sepatah kata, dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Riou sendirian di sana.
Namun, sesuatu telah berubah di antara mereka. Tatapan Sarah yang tadinya penuh penolakan kini mulai menunjukkan rasa penasaran dan mungkin, sedikit kekaguman. Riou, meskipun masih merasa canggung dan bingung dengan apa yang terjadi, mulai merasakan bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Riou datang ke ruang klub seni dengan perasaan yang bercampur aduk. Setelah kejadian kemarin, dia tidak tahu apa yang harus diharapkan dari Sarah atau bagaimana suasana di klub akan berubah. Namun, ketika dia membuka pintu dan masuk ke dalam, dia dikejutkan oleh sesuatu yang berbeda.
Sarah sudah ada di sana, duduk di meja biasa dengan kanvas di depannya. Tatapan dingin yang biasanya dia berikan setiap kali Riou masuk, hari ini tidak lagi tampak. Sebaliknya, ada keheningan yang aneh, namun tidak sepenuhnya tidak nyaman. Riou ragu sejenak, tetapi kemudian memutuskan untuk duduk di sebelahnya.
Mereka berdua diam dalam keheningan untuk beberapa saat, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Riou mulai mengeluarkan laptopnya untuk mulai bekerja, merasa lebih tenang dari biasanya.
Tak lama setelah itu, pintu ruang klub terbuka, dan Karin serta Rahma masuk dengan senyum cerah di wajah mereka. "Pagi, kalian berdua!" sapa Karin riang.
"Selamat pagi," tambah Rahma sambil melambaikan tangan. "Kalian sudah mulai bekerja ya?"
Riou mengangguk pelan, merasa sedikit lebih nyaman dengan kehadiran mereka. Namun, ketika dia melirik ke arah Sarah, dia melihat sesuatu yang aneh—Sarah tampak lebih tenang, bahkan sedikit tersenyum, yang sangat berbeda dari sikapnya sebelumnya.
Saat Riou sedang menyiapkan laptopnya, dia mendengar suara yang sangat lembut dari sebelahnya.Riou menoleh, terkejut" Terima kasih untuk waktu itu," ucapnya pelan, hampir seperti berbisik.Riou menoleh, terkejut mendengar ucapan itu. "Aku hanya... tidak bisa diam saja," jawabnya, sedikit tersipu.Sarah mengangguk kecil.
"Awalnya, aku berpikir kamu hanya akan membawa masalah di sini. Tapi sekarang, aku mulai melihat bahwa mungkin aku salah menilaimu. Mungkin kita bisa bekerja sama untuk membuat klub ini menjadi lebih baik."
Sementara itu, Karin dan Rahma, yang memperhatikan interaksi itu, mulai merasa bingung. Mereka saling bertukar pandang, bertanya-tanya mengapa Sarah masih di sini. Biasanya, saat Riou datang, Sarah akan segera pergi tanpa sepatah kata, tetapi hari ini dia tetap duduk di sana, tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin meninggalkan tempat itu.
Karin, yang penasaran, memutuskan untuk bertanya. "Sarah, kok kamu nggak pergi? Biasanya kan kamu... ya, kamu tahu lah."
Rahma menambahkan dengan nada menggoda, "Iya, kamu biasanya langsung pergi kalau Riou datang. Ada apa nih?"
Sarah tampak tersipu dan dengan nada malu-malu, dia menjawab, "Tidak ada apa-apa. Lagipula... kita memang butuh satu anggota lagi di klub ini."
Karin dan Rahma saling berpandangan, lalu tersenyum penuh arti. Mereka tidak mendesak lebih lanjut, tetapi jelas bahwa sesuatu telah berubah antara Riou dan Sarah. Hubungan yang tadinya dingin dan penuh ketegangan kini mulai mencair, membuka kemungkinan baru bagi keduanya.
Riou merasa sedikit lebih lega. Meski perasaan canggung masih ada, dia merasakan bahwa ada harapan untuk membangun sesuatu yang lebih baik, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh klub seni. Dan yang lebih penting, dia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa menjadi bagian penting dari kelompok ini—dan dari hidup Sarah.