Pagi itu, langit tampak pucat. Cahaya matahari yang menembus jendela tidak lagi hangat seperti biasanya—lebih seperti pantulan dingin dari kaca yang tak berperasaan.
Di meja makan, secangkir kopi Arga masih mengepul, sementara lelaki itu duduk memegang kepalanya, kedua matanya terpejam rapat.
“Ga?” panggil Dira lembut sambil mendekat.
“Kepalamu masih pusing?”
Arga membuka matanya perlahan. Senyum tipis muncul, berusaha menenangkan.
“Cuma sedikit... mungkin karena kurang tidur.”
Namun tangan kanannya bergetar halus ketika meraih cangkir. Getaran kecil itu, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat d**a Dira menegang.
Ia duduk di depannya, memperhatikan setiap gerak halus Arga, seperti seseorang yang takut kehilangan detik-detik kecil dari waktu yang mungkin akan berhenti.
“Kau yakin masih mau berangkat kerja?”
“Kau tahu aku nggak suka diam di rumah.”
“Tapi—”
“Dira,” potongnya lembut, “aku baik-baik saja.”
Kalimat itu terdengar seperti mantra kosong.
Dira tahu Arga sedang berbohong, tapi ia tak punya keberanian untuk memaksanya berhenti.
Kadang cinta bukan tentang menyembuhkan — tapi tentang ikut berpura-pura bahwa luka itu belum ada.
Beberapa jam kemudian, Arga sudah di tempat kerjanya, kantor percetakan kecil di pinggir kota.
Suara mesin printer berulang-ulang, bercampur dengan dengung AC dan aroma tinta yang tajam. Ia mencoba fokus pada layar komputer, tapi huruf-huruf di hadapannya mulai menari—kabur, berputar.
Satu tangan menekan pelipis, sementara pandangannya mulai gelap di tepi.
“Arga, lo nggak apa-apa?” tanya Rendy, rekan kerjanya yang duduk di sebelah.
“Nggak, aku cuma…,” suaranya melemah, lalu tubuhnya jatuh perlahan, menabrak kursi di belakang.
Kertas-kertas beterbangan, tinta tumpah ke meja.
Rendy langsung berteriak memanggil bantuan.
“Panggil ambulans! Cepat!”
Sirene kecil dari ambulans klinik terdekat menggema di udara beberapa menit kemudian—menusuk keheningan pagi yang baru saja mulai hidup.
Suara langkah Dira bergema cepat di koridor rumah sakit. Napasnya memburu, rambutnya sedikit berantakan, matanya basah tapi tak sempat menangis.
Ia berlari menembus lorong yang dipenuhi aroma antiseptik dan lampu putih yang terlalu terang untuk pagi yang suram itu.
>“Pasien atas nama Arga Prasetya, ruang mana, suster?”
“Ruang observasi 3, Bu. Baru dibawa masuk dari kantor percetakan dekat sini.”
Dira hampir tidak mendengar sisa kalimat itu. Ia langsung berlari.
Setiap langkah terasa seperti mimpi buruk yang tak mau berhenti.
Jantungnya berpacu lebih cepat dari langkahnya sendiri.
Ketika sampai, Arga sudah terbaring di ranjang rumah sakit—pucat, dengan selang oksigen tipis di hidungnya.
Matanya masih terbuka setengah, menatap langit-langit.
Dira menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang nyaris pecah.
“Ga...” suaranya nyaris tak terdengar.
“Kau... kenapa nggak bilang kalau kau nggak kuat lagi?”
Arga berusaha tersenyum, meski wajahnya tampak kelelahan.
“Aku cuma… jatuh sedikit. Mungkin karena kopi pagi tadi terlalu pahit.”
Candaan kecil itu terdengar getir.
Dira menggenggam tangannya erat, seolah ingin memastikan ia masih nyata.
Tangannya dingin. Terlalu dingin untuk pagi sehangat ini.
Dokter Dimas masuk beberapa saat kemudian, mengenakan jas putih dengan ekspresi serius yang berusaha tetap tenang.
“Istri pasien?”
“Ya, saya,” jawab Dira cepat.
“Kami sudah lakukan pemeriksaan awal. Tekanan darahnya turun, dan ada beberapa hasil lab yang... perlu kami periksa lebih lanjut. Tapi untuk sekarang, biarkan beliau istirahat dulu.”
Dira menatap dokter itu, ingin bertanya lebih, tapi suara tercekat di tenggorokannya.
“Ada yang serius, Dok?”
“Belum bisa dipastikan. Kami perlu hasil lanjutan.”
Dokter itu meninggalkan mereka.
Dira duduk di sisi ranjang, memandangi wajah Arga yang tertidur dengan napas pelan.
Ruang itu sunyi, hanya suara mesin monitor jantung berdetak tenang, ritmenya seperti pengingat bahwa waktu mereka mungkin mulai dihitung.
Ia menggenggam tangan Arga lebih erat.
“Jangan pergi dulu… aku belum siap kehilangan.”
Arga mengerang pelan, lalu tanpa membuka mata, berbisik,
“Aku di sini, Dir… Selalu di sini.”
Tapi di balik kata-kata itu, ada sesuatu yang menggantung—seolah ia sendiri tak yakin berapa lama lagi bisa menepati janji itu.
Waktu berjalan pelan di ruang tunggu rumah sakit—seolah setiap detiknya enggan berlalu.
Dira duduk di kursi logam dingin, menggenggam tas kecil di pangkuannya. Ujung jarinya membeku, bukan karena udara, tapi karena rasa takut yang menjalar sampai ke tulang.
Di seberang ruangan, dokter Dimas menatap hasil pemeriksaan yang baru saja keluar. Ada beberapa lembar kertas di tangannya, sebagian bertuliskan angka, sebagian grafik detak dan kadar enzim. Garis-garis itu terlihat seperti bahasa asing yang menakutkan.
“Dira,” panggil dokter itu pelan.
“Kita perlu bicara sebentar.”
Langkah Dira terasa berat. Setiap suara gesekan sepatunya seperti gema di lorong panjang, menyayat ketenangan. Ia duduk di depan meja dokter, mencoba tersenyum, tapi rahangnya kaku.
Dokter menatapnya dengan tatapan profesional, tapi ada sesuatu di mata itu—semacam empati yang sudah terlalu sering melihat akhir yang tak diinginkan.
“Hasil lab Arga… belum bisa disimpulkan sepenuhnya,” ucapnya perlahan.
“Tapi ada beberapa hal yang perlu kami perhatikan.”
Dira menelan ludah. “Maksud Dokter?”
“Ada peningkatan enzim hati yang cukup signifikan. Biasanya ini bisa disebabkan oleh kelelahan, stres berat, atau...”
Dokter berhenti sejenak, memilih kata dengan hati-hati.
“...kemungkinan ada kelainan fungsi pada organ tertentu. Tapi, saya tidak ingin membuat kesimpulan tanpa tes lanjutan.”
Dira terdiam. Setiap kata “kemungkinan” terasa seperti jarum halus yang menusuk jantungnya.
“Jadi, belum ada kepastian apa pun?” suaranya nyaris bergetar.
“Belum. Tapi tolong, pastikan dia istirahat total dulu. Minggu depan, kita lakukan CT-scan dan pemeriksaan darah lanjutan.”
Dira mengangguk, matanya menatap meja dokter yang dingin.
Di benaknya, kata “belum pasti” bergema seperti doa yang menggantung di antara harapan dan keputusasaan.
Sebelum pergi, dokter sempat menatapnya lama.
“Ibu Dira, saya tahu ini berat. Tapi jangan tunjukkan rasa cemas di depan Arga. Pasien seperti dia biasanya lebih tenang kalau orang terdekatnya terlihat kuat.”
Kalimat itu menempel di pikirannya, seperti perintah yang menyesakkan.
Begitu keluar dari ruangan itu, Dira berhenti sejenak di koridor. Ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela rumah sakit—mata sayu, wajah pucat, tapi harus tetap tersenyum.
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan kembali menuju ruang rawat.
Ketika Dira membuka pintu ruang perawatan, Arga sedang duduk di ranjang, bersandar lemah tapi mencoba terlihat santai.
Di tangan kirinya ada gelas air putih, di tangan kanan ada novel lama yang sering mereka baca bersama — “Hujan di Bulan Mei”.
“Eh, aku pikir kau udah pulang,” ujarnya dengan senyum kecil yang hampir nakal.
“Kau pikir aku tega ninggalin kamu sendirian di sini?”
“Tega sih enggak… tapi kau biasanya takut rumah sakit.”
Nada suaranya ringan, tapi Dira tahu Arga sedang menutupi ketidaknyamanannya. Napasnya masih berat, dan ada bayangan letih di bawah matanya.
Dira mendekat, duduk di tepi ranjang.
Ia mengelus punggung tangan Arga perlahan, lalu berkata,
“Dokter bilang kau cuma kecapekan. Harus banyak istirahat.”
Arga menatapnya, seolah mencoba menebak apakah ia sedang jujur.
“Hanya kecapekan?”
“Iya. Katanya... kau terlalu keras bekerja. Harusnya lebih banyak tidur.”
Dira tersenyum kecil, tapi matanya sedikit bergetar.
Arga tahu itu. Ia sudah terlalu lama mengenal setiap detik kebohongan kecil dalam nada suara Dira.
“Dir,” katanya lembut, “kalau memang ada sesuatu... kau janji, kau akan bilang, ya?”
Dira berpaling sejenak, lalu mengangguk.
“Aku janji. Tapi sekarang bukan waktunya mikir yang aneh-aneh. Fokus sembuh dulu.”
Hening beberapa detik.
Lalu Arga tiba-tiba tertawa pelan.
“Kau tahu, aku baru sadar... bahkan roti gosong buatanmu lebih enak daripada makanan rumah sakit.”
Dira terkekeh pelan meski matanya basah.
“Kau selalu tahu cara bikin aku kesal.”
“Tapi kau tetap di sini, kan?”
“Ya, karena aku bodoh.”
Mereka tertawa pelan bersama. Tapi di balik tawa itu, ada retakan halus di udara—retakan yang Dira rasakan tapi pura-pura tidak mendengar.
Ketika suster masuk membawa obat, Dira menyingkir sedikit.
Ia menatap Arga menerima suntikan kecil di lengan, ekspresi tenangnya seperti seseorang yang sudah berdamai dengan rasa sakit.
Di luar jendela, langit mulai mendung.
Hujan turun pelan, membasuh kaca dengan ritme monoton.
Dira menatap butiran air yang mengalir, lalu memejamkan mata sejenak.
Dalam batinnya, ia berbisik:
“Tuhan, kalau aku harus kehilangan, jangan sekarang...”
Dan saat ia membuka mata, Arga sedang menatapnya—dengan pandangan yang terlalu lembut untuk seseorang yang tengah menyembunyikan rasa sakit.
“Dira...”
“Hmm?”
“Aku nggak tahu kenapa... tapi aku suka sekali lihat kau tersenyum, bahkan saat matamu mau menangis.”
Dira menahan napas.
Kali ini, ia tak mampu menjawab.
Ia hanya memegang tangan Arga lebih erat, berharap genggamannya cukup kuat untuk menahan waktu agar tak terus berjalan.
Senja sudah lama jatuh ketika mereka keluar dari rumah sakit.
Udara di luar lembap, aroma hujan yang baru reda masih menempel di udara. Langit berwarna abu-abu pucat, memantulkan sisa cahaya dari lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Dira memegangi lengan Arga, membantu langkahnya yang masih goyah.
Tangan mereka bersentuhan—hangat, tapi ada gemetar halus di ujung jari. Arga tersenyum, mencoba menenangkan,
“Aku nggak selemah itu, Dir.”
Dira menatapnya sebentar, lalu membalas pelan,
“Tapi aku tetap mau di samping kamu.”
Taksi berhenti di depan lobi. Supirnya, seorang pria tua dengan wajah lelah tapi ramah, mempersilakan mereka masuk. Bau kulit kursi yang lembap bercampur dengan parfum mobil murah yang terlalu manis.
Arga duduk di sebelah kanan, menatap ke luar jendela. Dira di sampingnya, menunduk, memandangi tangan mereka yang saling menggenggam di atas paha. Tak ada percakapan—hanya suara wiper yang menyapu sisa gerimis dari kaca depan.
Lampu-lampu jalan berlari mundur di luar jendela, seperti bayangan waktu yang melintas terlalu cepat.
Setiap kali mobil berhenti di lampu merah, Dira mencuri pandang ke arah Arga. Wajahnya pucat, tapi masih berusaha tersenyum setiap kali mata mereka bertemu.
Senyum itu seperti cahaya kecil di dalam badai—indah tapi rapuh.
“Dir,” suara Arga pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin.
“Hm?”
“Kau ingat waktu kita naik taksi pertama kali?”
“Yang waktu kamu hampir muntah gara-gara supirnya ngebut?”
“Iya,” ia tertawa pelan, “aku baru sadar, tiap kali aku sakit, kau selalu ada.”
Dira menelan napas yang terasa pahit di tenggorokannya.
“Aku selalu ingin ada.”
“Tapi kalau suatu saat aku nggak bisa...”
“Jangan lanjut,” potong Dira cepat.
Ia menggenggam tangan Arga lebih erat, seolah genggaman itu bisa menghentikan kata-kata yang menakutkan.
“Jangan bicara kayak gitu, Ga. Aku capek dengar kalimat yang ada ‘kalau aku nggak bisa’-nya.”
Hening lagi. Suara hujan tipis mulai turun kembali, menetes pelan di atas atap mobil.
Arga menatap ke luar, lalu berbisik,
“Aku cuma takut ninggalin kamu sendirian.”
Dira menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya dengan keras kepala khas dirinya.
“Kau nggak akan ke mana-mana. Aku janji,” katanya pelan, tapi matanya tidak berani menatap.
Dan sepanjang perjalanan pulang itu, hanya ada suara deras hujan, degup mesin yang monoton, dan dua hati yang diam-diam saling takut kehilangan—tapi tak berani mengakuinya.
Malam itu, udara di kamar mereka terasa berbeda—lebih berat, lebih sunyi.
Arga sudah tertidur di ranjang, wajahnya tenang tapi napasnya agak cepat. Lampu meja menyala temaram, menyorot selembar buku catatan yang terbuka di pangkuan Dira.
Ia duduk di tepi ranjang, menulis perlahan dengan tinta hitam.
Tulisan tangannya bergetar, tapi setiap huruf terasa seperti usaha untuk menegakkan diri di tengah ketakutan yang samar.
Hari ini aku takut. Tapi aku tidak boleh panik.
Dokter bilang hasilnya belum pasti. Aku harus percaya itu.
Aku harus kuat. Untuk dia. Untuk kami.
Ia berhenti menulis. Ujung penanya meneteskan tinta ke kertas, membentuk noda kecil—seperti titik air mata yang ia tahan dengan paksa.
Dira memandangi Arga yang tidur di sampingnya.
Ia tampak damai, tapi Dira tahu betul... ketenangan itu rapuh. Setiap tarikan napas Arga terasa lebih berat dari biasanya.
Ia ingin membangunkannya, hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja, tapi ia tahu itu hanya akan membuatnya tampak panik.
“Aku nggak boleh kelihatan lemah,” bisiknya pelan.
“Aku harus bisa bikin kamu percaya kalau semuanya akan baik-baik aja.”
Ia menutup bukunya, meletakkannya di atas meja.
Tangannya bergerak pelan ke wajah Arga, membelai rambutnya yang sedikit basah oleh keringat.
Wajah itu masih sama—hangat, sederhana, tapi sekarang terasa begitu berharga, seolah waktu bisa mengambilnya kapan saja.
Lalu Dira berbisik pelan,
“Kau tahu, Ga? Aku paling takut kalau kehilanganmu sebelum sempat bilang betapa aku... masih mencintaimu.”
Ia berhenti, menatap jam di dinding yang berdetak pelan.
Setiap detik terasa seperti tanda pengingat waktu yang tak mau berhenti.
Hujan di luar mulai deras. Lampu kamar berkedip pelan.
Suara petir terdengar jauh di langit.
Dira menarik selimut menutupi tubuh Arga, lalu memeluknya dari samping.
“Nggak apa-apa, ya,” bisiknya di telinga Arga.
“Aku di sini. Aku janji nggak akan pergi.”
Matanya akhirnya menetes juga. Tapi kali ini tanpa suara.
Air mata itu jatuh di bantal, menyatu dengan sisa hujan di luar sana.
Di tengah keheningan itu, Arga bergerak sedikit, masih dalam tidur, dan menggenggam jari Dira perlahan—seolah tubuhnya tahu, bahkan tanpa sadar, bahwa ia sedang dipegang oleh seseorang yang berjuang menolak kenyataan.
Dan di buku catatan yang terbuka di meja, kalimat terakhirnya belum sempat dikeringkan tinta:
Tidak boleh panik.
Tidak boleh menangis.
Tidak boleh kehilangan dia.
Suara jam di dinding terdengar pelan—tik… tak… tik… tak—menginjak malam yang semakin larut.
Hujan di luar sudah berhenti, tapi udara di kamar tetap dingin dan berat, seperti menyimpan sisa-sisa ketegangan dari rumah sakit tadi.
Arga masih berbaring, setengah sadar, tapi matanya terbuka perlahan. Ia melihat Dira duduk di kursi dekat ranjang, kepalanya bersandar ke tangan, wajahnya tampak lelah.
Cahaya lampu meja yang kekuningan membuat bayangan lembut di pipi Dira, menonjolkan lingkar hitam halus di bawah matanya.
“Dir…” suara Arga serak, nyaris berbisik.
“Hm?” Dira langsung menegakkan kepala, matanya memantul cahaya lampu, seolah baru tersadar dari lamunan panjang.
“Kamu belum tidur?”
“Aku mau pastiin kamu nggak demam,” jawabnya pelan. “Kau tadi sempat panas.”
Arga tersenyum samar. “Kamu kayak perawat yang nggak digaji, tapi rajin banget.”
Dira mencibir kecil. “Kalau aku digaji, kamu nggak sanggup bayar.”
Arga terkekeh pelan, lalu batuk kecil. Dira buru-buru mengambil segelas air dari meja dan menyerahkannya.
Arga meneguknya perlahan. Setelah itu, ia menatap Dira lama—tatapan yang terlalu lembut untuk seseorang yang sedang sakit.
“Kamu tahu, Dir?” katanya akhirnya. “Orang bilang, kalau seseorang terlalu dijagain, berarti dia bakal panjang umur.”
“Heh, kamu mau bilang aku jaga kamu biar panjang umur?” Dira mengangkat alisnya, setengah tertawa.
“Iya. Tapi siapa tahu, umur panjangnya bukan buat aku.”
“Maksudmu?”
“Mungkin karena kamu bakal hidup lama. Jadi Tuhan minta aku nggak usah khawatir ninggalin kamu.”
Dira langsung menatapnya tajam.
“Ga, jangan ngomong kayak gitu.”
“Kenapa? Kan cuma bercanda.”
“Candaanmu nggak lucu.”
Ada jeda panjang.
Hening.
Lalu Arga menatap langit-langit dan berkata pelan,
“Aku cuma nggak mau kamu takut, Dir. Kadang… kalau aku pingsan, aku denger kamu nangis di sampingku. Aku pura-pura tidur aja.”
Dira membeku. Tangannya mengepal di pangkuan.
“Kamu tahu?” suaranya bergetar.
“Iya,” jawab Arga tenang, “dan tiap kali itu terjadi, aku berdoa semoga aku bisa bangun biar bisa ngelihat kamu lagi.”
Dira menunduk, menahan napas yang tiba-tiba terasa berat di d**a.
Senyum Arga masih sama—hangat, tapi kali ini terasa seperti sedang berpamitan tanpa kata.
Setelah beberapa menit, Dira berdiri. Ia berjalan ke arah jendela, menyingkap sedikit tirai.
Langit di luar berwarna biru gelap, dengan sisa hujan yang masih menggantung di dedaunan. Suara serangga malam terdengar lirih, bercampur dengan detak jam di dalam kamar.
Dira memejamkan mata sejenak, menenangkan diri, tapi pikirannya terus berputar—hasil lab, tatapan dokter, suara detak jantung Arga di ranjang rumah sakit… semuanya seperti film yang berulang tanpa henti di kepalanya.
Aku nggak boleh panik… tapi kenapa semua terasa salah?
Ia berbalik. Arga sudah menatapnya lagi, masih tersenyum, matanya separuh terpejam.
“Kamu kenapa berdiri di situ? Takut aku hilang pas kamu nggak lihat?”
“Iya,” jawab Dira jujur, nyaris tanpa suara.
Arga tertawa kecil, lalu menepuk kasur di sebelahnya.
“Sini.”
Dira mendekat, duduk di sisi ranjang. Arga meraih tangannya dan menggenggamnya pelan.
“Aku nggak mau kamu jadi kayak tadi siang. Wajahmu kayak orang kehilangan arah.”
>“Aku nggak kehilangan arah, aku cuma takut kehilangan kamu.”
Arga terdiam. Matanya berkaca, tapi senyumnya tetap ada.
Ia mengangkat tangan Dira, mencium punggungnya perlahan. “Kamu tahu, Dir… kadang aku mikir, mungkin cinta itu bukan tentang seberapa lama kita bareng, tapi seberapa berani kita tetap ada meski takut kehilangan.”
Dira menatapnya lama, lalu menunduk.
Ia mencondongkan tubuh, mencium dahi Arga dengan lembut.
“Kalau kamu terus ngomong kayak gitu, aku bisa nangis lagi.”
“Ya udah, jangan nangis. Nanti aku tambah sayang.”
Dira tersenyum, tapi air matanya jatuh juga.
Arga tertawa pelan, lalu berbisik,
“Kau tahu, jam itu berisik banget.”
“Jam?”
“Iya,” katanya, menatap jam di dinding, “rasanya kayak dia yang paling tahu waktu kita udah makin sedikit.”
Dira langsung berdiri dan melepas jam itu dari dinding, meletakkannya di laci.
“Sekarang diam. Waktu nggak boleh ngomong soal kamu.”
Arga terkekeh lemah. “Kamu gila.”
“Gila karena kamu,” balasnya, tersenyum dalam air mata.
Beberapa menit kemudian, Arga akhirnya terlelap kembali. Napasnya tenang.
Dira masih duduk di sisi ranjang, menatapnya, lalu berbisik,
“Kau boleh tidur… tapi jangan pergi dari mimpiku.”
Lampu kamar tetap menyala. Di luar, hujan mulai lagi—pelan, lembut, seperti lagu pengantar yang tak pernah selesai.
Hujan turun pelan di luar jendela, seperti berusaha membisikkan sesuatu yang tak ingin didengar.
Tetes air beradu dengan atap seng, ritmenya pelan, tidak deras — tapi cukup untuk membuat suasana kamar itu terasa lebih sepi dari sebelumnya.
Dira duduk di kursi, matanya tak lepas dari wajah Arga yang tertidur di ranjang.
Cahaya lampu meja menyorot lembut pada tubuh lelaki itu, menampilkan kulit yang kini tampak lebih pucat dari biasanya.
Urat di lehernya menonjol halus saat ia bernapas, dan tiap kali dadanya naik turun, Dira berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya *baik-baik saja*.
Napasnya masih teratur... tidak apa-apa… dia cuma lelah… cuma itu…
Namun dalam setiap desah napas itu, ada irama yang tidak sama seperti dulu — lebih pelan, lebih berat, seperti ada jarak di antara setiap helaan.
Lampu di sudut ruangan tiba-tiba berkedip dua kali.
Dira mendongak refleks.
Lampu itu memang sering begitu kalau hujan deras, tapi malam ini, kedipannya terasa aneh—terlalu senyap di antara dua cahaya.
Ia berdiri perlahan, berjalan ke arah jendela.
Udara lembap menyelinap lewat celah tirai, membawa aroma tanah basah yang dingin. Di luar sana, langit seperti retak oleh kilat yang tak jadi menyambar, seolah dunia sendiri menahan napas.
Arga bergumam pelan dalam tidurnya.
Dira menoleh cepat.
“Ga?”
Tak ada jawaban.
Hanya gerakan kecil di bibirnya, seolah ia sedang memanggil nama seseorang—mungkin dirinya, mungkin seseorang dari masa lalu yang tak pernah Dira tahu.
Dira duduk lagi, meraih tangan Arga, menggenggamnya erat.
Tangannya terasa dingin.
“Kamu nggak boleh pergi malam ini…” bisiknya, setengah doa, setengah ancaman lembut.
Lampu kembali berkedip—sekali ini lebih lama.
Bayangan wajah mereka berdua bergeser di dinding, seperti dua jiwa yang masih berusaha saling menahan di dunia yang perlahan menjauhkan.
Suara "vibrasi" dari ponsel di meja memecah keheningan itu.
Dira menoleh.
Layar menyala, menampilkan satu nama yang membuat jantungnya seketika menegang: bu Ratna.
Ia menatap layar itu lama, ragu antara menjawab atau membiarkannya.
Nada deringnya pelan, tapi menusuk.
Seolah Tuhan sengaja memilih waktu paling rapuh untuk mengetuk hati seseorang.
Arga menggeliat pelan, matanya belum benar-benar terbuka.
“Telepon siapa?” suaranya parau.
“Ibu…” jawab Dira pelan.
“Jawab aja.”
“Nanti aja, kamu istirahat dulu.”
Nada dering berhenti.
Lalu muncul lagi beberapa detik kemudian—kali ini dengan suara yang lebih menusuk karena hening yang terlalu panjang di antara mereka.
Dira menggigit bibir. Ia tahu ibunya sakit; batuk-batuknya di telepon beberapa hari lalu masih terngiang. Tapi ia juga tahu… kalau menjawab sekarang, ia tak akan bisa menahan tangisnya.
Ia menatap Arga. Lelaki itu sudah memejamkan mata lagi, tenang seperti tak ada apa-apa.
Bagaimana kalau nanti aku kehilangan dua-duanya sekaligus?
Air matanya menetes tanpa suara. Ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, tapi tangis yang ditahan justru membuat dadanya semakin sesak.
Telepon berhenti berdering.
Keheningan menggantung lama, seperti hujan di luar yang kehilangan ritmenya.
Lalu, dari kejauhan, terdengar bunyi petir kecil—grrum…—disusul cahaya yang memantul di wajah Arga.
Dira menatapnya, lama sekali.
“Kau tidur tenang sekali, seolah dunia nggak lagi punya waktu,” katanya lirih, hampir tidak terdengar.
Tangannya meraih ponsel di meja, menatap nama “Ibu Ratna” di layar yang masih menyala.
Jari-jarinya gemetar. Tapi ia tidak menekan tombol apa pun.
Sebaliknya, ia mematikan layar, meletakkannya perlahan di atas meja.
Ia menunduk ke arah Arga, mencium punggung tangannya, lalu berbisik di telinganya—
“Aku nggak tahu harus milih siapa kalau kehilangan kalian berdua.”
Hujan masih turun di luar, kali ini lebih pelan, seperti ikut menangis bersama seseorang yang tidak berani bersuara.
Saat Dira menunduk memejamkan mata, ponsel di meja tiba-tiba bergetar lagi — kali ini bukan panggilan, tapi pesan masuk:
“Hasil pemeriksaan Arga sudah keluar. Segera hubungi saya.” — dr. Rendra.
Lampu kembali berkedip.
Dan dalam cahaya yang sebentar-sebentar mati, wajah Dira tampak tegang—antara takut dan pasrah.
Malam itu, waktu berhenti untuknya, tepat saat detak jam berdetak pelan dari dalam laci.