Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai kafe kecil yang baru saja dibeli Arka. Suasana di dalamnya masih terasa sepi, hanya diisi oleh aroma cat baru dan debu tipis yang belum sepenuhnya hilang. Nayla berdiri di tengah ruangan, memandangi setiap sudut dengan perasaan campur aduk—antara rasa syukur karena bisa menyelamatkan ibunya, dan rasa canggung karena harus berada di dekat pria yang begitu dingin dan asing baginya.
Arka berdiri tidak jauh dari sana, tangannya diselipkan di saku celana panjangnya, memandangi ruangan itu dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata yang tidak perlu. Baginya, tempat ini hanyalah aset yang harus dikembangkan, sama seperti perjanjian yang baru saja ia buat dengan Nayla.
“Baiklah, dengarkan baik-baik,” suara Arka memecah keheningan, tegas dan tanpa nada lembut sedikit pun. “Sebelum kita mulai bekerja, ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi selama kontrak ini berlangsung. Tidak ada pengecualian.”
Nayla menegakkan punggungnya, mendengarkan dengan saksama. Ia tahu posisinya—ia ada di sini bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari kesepakatan yang mengikat.
“Pertama, di dalam kafe ini kamu adalah kepala koki dan manajer operasional. Kamu bebas menentukan menu, mengatur tata letak, dan mengawasi karyawan yang akan saya rekrut minggu depan. Tapi ingat, semua keputusan besar harus tetap saya ketahui dan persetujui. Bisnis ini harus menguntungkan, bukan sekadar tempat hobi.”
Arka berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, seolah ingin menanamkan batas yang jelas di antara mereka.
“Kedua, di depan publik, keluarga, dan rekan bisnis saya, kamu adalah istri saya. Kamu harus bersikap sopan, menjaga sikap, dan tidak menimbulkan skandal apa pun. Tapi di luar itu—di sini, di rumah, atau saat kita berdua saja—kita tetaplah dua orang asing yang bekerja sama. Jangan berharap ada perlakuan istimewa, dan jangan pernah berani melanggar batas pribadi saya.”
Nayla menelan ludah, sedikit merasa tertekan namun tidak terkejut. Ia sudah menduga hal ini. “Saya mengerti, Tuan. Saya di sini hanya untuk bekerja dan memenuhi kesepakatan. Saya tidak akan mengganggu urusan pribadi Anda.”
“Bagus,” jawab Arka singkat. “Ketiga, saya sudah mengurus administrasi rumah sakit. Ibumu akan segera mendapatkan jadwal kemoterapi minggu depan. Semua biaya akan langsung dibayar oleh tim keuangan saya. Kamu tidak perlu khawatir soal itu, asalkan kamu juga menjalankan tugasmu dengan baik. Jika kamu berkhianat atau gagal menjalankan kewajiban, perjanjian ini batal, dan saya akan menarik kembali semua bantuan yang sudah diberikan. Paham?”
Kalimat terakhir itu terdengar seperti peringatan keras. Arka ingin memastikan Nayla sadar sepenuhnya akan konsekuensinya. Bagi pria itu, emosi hanya akan menjadi penghalang dalam urusan bisnis.
“Saya paham sepenuhnya,” jawab Nayla mantap, meski hatinya sedikit teriris mendengar kata-kata yang begitu dingin. “Saya akan berusaha membuat kafe ini sukses. Saya punya resep-resep turunan yang sudah saya kembangkan sendiri, rasanya berbeda dari kafe lain di kota ini. Saya yakin ini bisa menarik pelanggan.”
Mendengar itu, ekspresi Arka sedikit berubah. Ia menatap Nayla lebih dalam, menilai ketulusan di mata gadis itu. “Kita lihat saja. Jangan hanya janji manis. Saya butuh hasil nyata.”
Setelah itu, Arka memimpin Nayla menuju bagian belakang kafe, di mana dapur besar sudah dilengkapi dengan peralatan modern dan bahan-bahan berkualitas yang baru saja dikirimkan. Melihat semua itu, mata Nayla berbinar tanpa sadar. Selama ini ia hanya memasak dengan peralatan seadanya di dapur rumahnya yang sempit. Di sini, ia bisa mengekspresikan bakatnya dengan leluasa.
“Silakan coba buat sesuatu. Saya ingin tahu seberapa hebat rasa yang kamu miliki, sebelum saya percayakan tempat ini sepenuhnya padamu,” tantang Arka sambil bersandar di ambang pintu, siap mengamati setiap gerak-gerik Nayla.
Tanpa banyak bicara, Nayla segera membasuh tangan dan mulai bergerak. Gerakannya lincah dan terlatih. Ia memilih tepung terigu terbaik, gula aren asli, santan segar, dan sedikit ekstrak pandan yang ia bawa dari rumah. Saat ia mulai mengaduk adonan, aroma harum perlahan mulai tercium, memenuhi seluruh sudut dapur.
Arka mengamati dari kejauhan. Awalnya ia hanya melihat sekadar proses pembuatan kue, namun seiring berjalannya waktu, aroma yang keluar mulai membuatnya tertegun. Wanginya alami, tidak menyengat seperti perasa buatan, melainkan menenangkan dan menggugah selera.
Tak lama kemudian, sepotong kue lapis legit dan beberapa kue cubit hangat tersaji rapi di piring keramik. Nayla meletakkannya di meja kecil di hadapan Arka.
“Silakan dicoba. Ini resep andalan keluarga saya,” ucapnya sopan.
Arka mengambil sepotong kue lapis itu, menggigitnya perlahan. Seketika itu, matanya sedikit melebar. Teksturnya lembut, tidak terlalu manis, ada rasa gurih yang pas, dan aroma pandan yang meresap sempurna. Rasanya jauh lebih enak dibandingkan kue-kue mahal yang biasa disajikan di restoran mewah yang sering ia kunjungi.
Namun, Arka tidak ingin menunjukkan kekagumannya. Ia meletakkan garpunya kembali dengan ekspresi datar. “Cukup lumayan. Tidak buruk untuk permulaan.”
Nayla tersenyum tipis, tahu bahwa pujian terselubung itu sudah lebih dari cukup dari mulut pria sedingin ini. “Terima kasih. Saya akan terus berinovasi agar pelanggan betah datang kembali.”
Sebelum percakapan mereka berlanjut, ponsel Arka berdering nyaring. Wajahnya yang tadinya netral seketika berubah menjadi tegang saat melihat nama di layar. Ia mengangkat telepon dengan suara dingin dan rendah.
“Apa lagi? Saya sedang sibuk.”
Dari seberang sana, terdengar suara wanita paruh baya yang terdengar tinggi dan menyindir—suara Bibi Lestari, saudara perempuan mendiang ibunya yang selalu mengincar kekayaan keluarga Mahendra.
“Kau kira aku tidak tahu? Kau beli tempat usaha kecil di pinggiran kota? Arka, jangan buang-buang harta keluarga untuk hal yang tidak jelas. Lebih baik kau serahkan saja manajemen perusahaan tambang padaku, aku yang akan mengaturnya agar lebih menguntungkan.”
Arka mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Ini urusanku. Selama aku masih memegang hak waris, kau tidak berhak ikut campur. Jangan berharap bisa mengambil alih apa yang menjadi hakku.”
Telepon ditutup dengan kasar. Suasana menjadi hening kembali. Arka membuang napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia menoleh ke arah Nayla yang diam saja, tidak berani bertanya.
“Jangan pedulikan apa pun yang kau dengar atau lihat tentang keluarga saya,” ucapnya tegas. “Ingat posisimu. Fokus saja pada kafe dan ibumu. Urusan lain bukanlah hal yang harus kau pikirkan.”
Nayla hanya mengangguk mengerti. Ia sadar, di balik kekayaan dan wibawa Arka, ternyata ada pertarungan dan tekanan yang tidak kalah berat dari masalah yang ia hadapi.
“Hari ini kamu bisa beristirahat dan membiasakan diri dengan tempat ini. Besok mulai persiapan pembukaan. Saya akan datang memeriksa kemajuanmu secara berkala,” lanjut Arka sambil berjalan menuju pintu keluar.
Sebelum pergi, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. “Oh ya, satu hal lagi. Jangan pernah berharap perjanjian ini akan berubah menjadi sesuatu yang lain. Ini hanya bisnis. Jangan sampai salah paham.”
Setelah sosok Arka menghilang di balik pintu, Nayla menghela napas panjang. Ia memandangi kue yang tersisa di piring, lalu tersenyum kecil. Setidaknya, untuk saat ini, ia punya jalan untuk menyelamatkan ibunya. Dan kafe ini… mungkin bisa menjadi tempat pelariannya dari kenyataan yang pahit.
Namun, Nayla tidak tahu, bahwa sikap dingin dan batas yang Arka bangun setinggi tembok, perlahan akan mulai terguncang seiring berjalannya waktu.
Bersambung...