Dira memejamkan kedua matanya untuk memanjatkan doa, oh ya jangan lupakan kedua pipi gadis itu masih tetap mengembung atas godaan dari pacar nya itu dengan kalimat satu tahun lebih tua itu.
Oh ayolah, bahkan saat ini usianya saja belum mencapai kepala tiga. Jadi bukan kah wajar jika dirinya tidak terima dengan kata satu tahun lebih tua itu.
"Aminn," turut Raffa saat Dira sudah membuka matanya dan mulai meniupkan lilin yang sedari tadi sudah menyala.
"Terimakasih atas suprise tak terduga ini, walaupun sebenarnya konsepnya agak random ya pak," kekeh Dira.
"Jangan panggil pak dong honey," Dira terkekeh mendengar Protesan dari Raffa. Memang selalu seperti ini Raffa selalu tidak mau dipanggil pak. Katanya itu seakan memberikan kesan ia seperti sudah tua saja, terkadang Dira heran sendiri dengan tingkah pacar nya itu yang tidak mau dipanggil pak. Padahal jelas-jelas di wilayah jam kerja nya pasti pacar nya itu dipanggil pak oleh junior nya.
Seperti sepasang kekasih pada umumnya,
Dua orang dewasa itu juga melakukan hal yang sama dalam sesi menghabiskan waktu bersama untuk melepaskan kerinduan yang melanda usai beberapa waktu tak berjumpa.
Didalam mobil taksi yang disewa oleh Raffa itu, keduanya bercengkrama bersama menceritakan segala aktivitas keseharian keduanya usai beberapa waktu tak bersama. Sebenarnya sesi cerita itu lebih didominasi oleh Dira yang menjadi pencerita sedangkan Raffa lebih ke pendengar yang setia dalam menanggapi setiap cerita yang dikatakan oleh Dira.
"Trus nasib orang nya sekarang gimana? " tanya Raffa sambil sesekali menyuapkan cake yang tadi sempat ia beli untuk Dira.
"Alhamdulillah nya sekarang orang nya itu sudah bisa kumpul bareng keluarga nya. Aduh sumpah deh mas aku baru kali ini dapet kejadian begini."
"By tolong ambilin tisu didalam situ!"
Tangan Dira terulur membuka dasbor mobil,
Gerakan tangan nya terhenti saat tak sengaja memegang sesuatu hal yang agak mengganjal.
"Ini apa mas? "
Raffa menahan senyuman nya itu, membiarkan sang kekasih menerka-nerka benda apa yang ada didalam dasbor tersebut.
"Coba ambil!"
Dahi Dira menyerit bingung saat mendapati kotak kecil dengan hiasan pita diatasnya.
Dengan wajah menahan gemas, Raffa menarik kotak tersebut dari tangan Dira.
Didalam kotak kecil tersebut, terdapat sebuah kotak bludru berwarna merah,
Dengan gerakan cepat tanpa sadar kotak tersebut sudah terbuka menampilkan sebuah cincin dengan permata indah berbentuk hati di tengah-tengah nya.
"Faldira Winara, Are You Marry Me?"
Jantung Dira berdetak dua kali lebih cepat, matanya mulai berkaca kaca. Tanpa sadar mulut nya sudah terbuka akibat terkejut dengan lamaran tiba-tiba yang dilakukan sang kekasih.
Kedua sorot mata Dira mencoba menelisik ke dalam iris mata indah dari Raffa, mencari sebuah fakta apakah sang kekasih beneran serius dalam melamar nya saat ini, apakah ada tersirat kebohongan didalamnya.
Nyatanya itu semua tidak ditemukan oleh Dira, dan berarti Raffa saat ini memang tulus dan sungguh-sungguh meminta nya untuk menjadi pasangan nya kelak.
Sama halnya dengan Dira,
Raffa juga mengalami hal yang sama, Jantung nya berdetak tak beraturan. Menunggu jawaban kepastian dari sang kekasih, rasa risau mulai memenuhi otak dan hatinya.
Takut-takut jika Dira menolak lamaran nya saat ini.
"Sorry mungkin kamu mengira ini terlalu cepat by, tapi kalau aku merasa ini memang waktu yang tepat disaat kita sudah lama bersama. Aku tidak ingin membuat kamu berdosa terus menerus karena harus berhubungan dengan aku tanpa ada ikatan yang sah, aku ingin bisa melihat mu setiap hari tanpa ada batasan apapun yang menjadi penghalang. Aku sayang sama kamu by, rasanya aku gak bisa kalau sedetik saja harus berjauhan dari kamu. Aku ingin membawa mu berkelana bersama menjelajahi dunia ini, yang pasti nya sudah dalam ikatan yang diridhoi oleh Allah"
"Faldira Winara,Will You Marry Me?" kata Raffa sekali lagi,
Dira diam tak bergeming, ia masii terkejut dengan lamaran dadakan ini. Memang untuk kurun waktu hubungan mereka terbilang sudah cukup lama.
Akan tetapi ada satu hal lagi yang masih sangat mengganjal untuk mereka bisa melangkah lebih jauh lagi.
Restu mama Raffa, yah itu dia masalahnya saat ini.
Otak Dira berputar putar menelisik apakah mama Raffa sudah bisa menerima dirinya menjadi seorang menantu, mengingat bagaimana sikap dari ibunda sang pacar yang secara terang terangan menunjukkan ketidak sukaanya tersebut.
"By-" panggil Raffa dengan lembut, melihat Dira yang masih tetap diam dengan mata yang berkaca kaca.
Sedetik kemudian tangis Dira pecah, yang membuat Raffa tentu saja kalang kabut,
Tangan nya meletakkan kotak cincin tadi,
Dengan cepat ia langsung menarik Dira ke dalam dekapan nya, membiarkan sang kekasih menumpahkan seluruh kesedihan yang tengah dirasa.
"It's okay jika kamu masih belum siap jika kita melangkah lebih jauh. Aku enggak akan maksa kamu untuk nerima, tapi aku akan selalu menunggu waktu sampai dimana kamu akan nerima aku kembali by."
Dira menggelengkan kepala didalam dekapan Raffa, pasti nya dengan tangis nya itu yang semakin menjadi.
Bagaimana caranya memberi tahu Raffa jika mamanya beberapa hari silam telah jauh-jauh datang ke Australia hanya demi menemui dirinya yang saat itu tengah bertugas disana.
Dengan sangat tegas bahkan ibunda Raffa itu menentang hubungan keduanya, sang ibunda meminta Dira untuk segera mengakhiri hubungan keduanya jika tidak ingin membuat Raffa semakin menjadi anak yang durhaka.
"Fa--" panggil Dira dengan suara lemah
Raffa menatap lekat wajah Dira,
Sepasang netra mata yang selalu membuat nya jatuh cinta saat memandang nya, tak perduli sudah sejauh mana Raffa mencintai gadis di dekapan nya ini.
"Maaf bukannya aku bermaksud buat nolak kamu, aku selalu ingin bisa merasakan hubungan yang jauh dari ini, akan tetapi--" bibir Dira terkatup, tak sanggup untuk kembali melanjutkan perkataan nya atas alasan ia belum bisa menerima Raffa.
"Restu mama? " tebak Raffa yang membuat Dira mengangguk.
Raffa mendengus sebal, selalu saja seperti itu. Kenapa mamanya begitu egois tidak mengijinkan nya bahagia dengan gadis pilihan nya.
Bukankah wajar jika Raffa bersikeras mempertahankan gadisnya, disaat ia sudah lelah dengan semua aturan yang dibuat sang mama.
"Aku engga mau fa buat kamu harus jadi anak durhaka terus menerus, tapi aku juga engga mau kehilangan kamu" tangis Dira lagi
"Hustt, jangan nangis. Aku engga akan ninggalin kamu ra. Aku sayang sama kamu, bahkan aku lebih sayang dan cinta kamu ketimbang diri aku sendiri."
"Lalu bagaimana dengan mamamu? Aku pasti akan jadi orang paling berdosa karena sudah membuat seorang anak durhaka terhadap ibunya sendiri."
Raffa menggelengkan kepala dengan tegas "Tidak, aku bukan menjadi anak durhaka ra. Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang aku miliki" jeda Raffa "sedari kecil aku selalu dituntun untuk bisa mendapatkan apa yang aku mau, sesusah itu aku mendapatkan nya maka aku juga diajarkan untuk mempertahankan dan menjaga apa yang aku miliki. Dan sampai saat ini aku masih melakukan hal yang sama, termasuk mempertahankan hubungan kita."
'Sama Fa, aku juga melakukan hal yang sama. Sadari kecil aku harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang aku, aku juga diajarkan untuk mempertahankan apa yang aku miliki. Bedanya jika kamu akan mendapatkan nya dengan cuma-cuma tanpa harus merasakan kerja keras yang amat melelahkan. Lihat bukankah perbedaan diantara kita sangat ketara? Wajar jika mama mu menentang hubungan dengan perbedaan kasta ini' batin Dira.
"Dir, please stay with me!"
"Kita masih bisa tetap menikah walau tanpa restu mamaku. Selagi kedua orang ayah kamu merestui kita."
Dira mengangguk dengan agak ragu, sejujurnya ia masih sangat takut dengan ancaman mama Rafa, ia takut mama nya Raffa berbuat nekat terhadap keluarga nya.
Usai kelelahan menangis, kedua mata Dira terasa amat berat untuk sekedar dibuka.
Mobil Raffa sudah sampai tepat didepan apartemen milik Dira.
Tapi dirinya masiih enggan membangunkan sang kekasih yang masih asik bergelut dalam dunia mimpi nya itu.
Dirapikan dengan perlahan anak-anak rambut nakal yang menutupi wajah cantik sang kekasih,
"Maaf. M-maafin aku by, karena ulah mamaku kamu sampai harus seperti ini. Aku janji akan terus berjuang untuk restu mama, aku yakin suatu saat nanti pasti mama akan menerima kamu, bahkan aku bisa memastikan jika mama akan sangat menyayangi kamu melebihi diriku."
Akan kah ucapan Raffa itu bisa menjadi kenyataan? Atau justru sebaliknya...
Bersambung...