Tangan Dira dengan cekatan meraih slingbag yang tergantung didalam lemari khusus tas milik nya.
Dipoles nya sedikit lip cream untuk menambahkan kesempurnaan pada make up tipis yang sudah melekat pada wajahnya.
"Lho, Mbak mau ke mana?" tanya Wita yang baru saja tiba di dalam kamar.
"Urusan orang gede," jawab Dira sambil tersenyum geli.
Alis Wita terangkat sebelah "Dih, bilang aja yang mau ngedate," cibir Wita seraya merebahkan tubuh nya diatas sofa kamar Dira.
"Nanti kalau mau balik kunciin apartemen nya ya dek!" pesan Dira sebelum ia benar-benar melangkah pergi.
Wita hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan.Usai itu gadis Jawa asal Solo itu sudah berkelana didalam dunia mimpinya.
Dira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah adik angkat nya itu yang segampang itu terlelap dalam tidur, tak perduli ditempat apa ia tengah berada.
Saat baru saja akan melangkah masuk kedalam lift,
Raffa baru saja mengirimkan sebuah pesan mengenai dirinya yang sudah tiba di basement apartemen milik Dira.
"I'm sorry Mas karena udah nunggu lama pasti," ucap Dira tak enak hati.
Raffa mendongak kan kepala nya,
Tangannya memasukkan bendah pipih nya itu kedalam saku celana.
Dan oh ya jangan lupakan wajah tampan nya itu yang selalu mengukir kan sebuah senyuman nan indah untuk sang pujaan tercinta.
"Enggapapa, aku juga enggak terlalu lama juga kok."
"Kenapa mas?" tanya Dira salah tingkah saat Raffa menatap penampilan nya dari atas hingga kebawah.
Raffa tersenyum kecil "kamu cantik banget by, kita ganti tujuan aja ya!"
"Lho, emang mau ganti kemana lagi?" tanya Dira dengan dahi berkerut bingung.
"Ke KUA, aku enggak rela kalau kecantikan kamu harus dilihat banyak orang. Pokoknya cuman aku aja yang boleh nikmati kecantikan kamu."
Blush
Rona merah benar-benar menguasai wajah Dira saat ini, apa lagi dengan kalimat manis penuh gombalan yang dilontarkan oleh Raffa.
"Udah akh, ngegombal mulu. Kapan jalan nya nih," sahut Dira yang berjalan meninggalkan Raffa untuk masuk kedalam mobil lebih dulu.
"Yaa... by, aku beneran ini bukan ngegombal. Apa kita langsung beli tiket ke Medan aja ya. Supaya aku bisa ngomong langsung keorang Ayah kamu."
"ARAFFA SATYAKI! udah buruan engga usah pakai acara wacana engga jelas segala, entar kita kejebak macet lagi."
"Ini bukan Wacana loh by!" tegas Raffa yang sudah masuk kedalam mobil
"Tetep bahas yang engga jelas, atau aku bakal turun nih?" ancam Dira yang membuat Raffa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Yah kali acara kencan mereka hari ini harus gagal perkara hal sepele seperti itu, sudah lh mencari waktu untuk kencan seperti ini adalah hal yang paling sulit. Mengingat keduanya sama-sama dibuat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Mau makan dulu atau langsung ketempat nya?" tanya Raffa sambil menutup pintu mobil untuk Dira.
"Hmm, makan dulu aja deh. Biar ada tenaga buat jalan-jalan."
"Okey let's go honey."
Kedua tangan sejoli itu selalu bertaut satu sama lain,
Banyak pasang mata yang menatap takjub dengan keduanya.
Tak jarang dari para pengunjung juga memuji kagum atas keserasian keduanya.
"Liat deh mas, ikan nya kok bisa segede itu?" tunjuk Dira pada spot pertunjukan ikan arwana yang berukuran tak biasanya.
"Mas kita foto disitu yuk! kayaknya bagus banget deh," ajak Dira yang dijawab anggukan serta senyuman oleh Raffa.
"Mas mas, boleh minta tolong fotoin saya dan tunangan saya?"
Desiran aneh dirasakan Dira saat Raffa menyebutkan dirinya sebagai tunangannya, padahal nyatanya usai kejadian itu ia masih belum memberikan jawaban pasti atas ajakan Raffa untuk menikah.
Salah seorang yang diminati Raffa mulai mengarahkan keduanya untuk berfose agar sesi pengambilan gambar segera dilakukan.
Perjalanan kencan keduanya berjalan sesuai dengan rencana.
Keduanya sama-sama menikmati masa kencan yang jarang sekali bisa terjadi dengan kesibukan keduanya,
Dira dibuat terharu dengan efffort yang dilakukan Raffa setiap kali keduanya melakukan kencan bersama, banyak sekali kejutan yang dilakukan oleh sang kekasih yang membuat Dira sampai berpikir.
'Apakah pria setampan dan seromantis Raffa tidak rugi jika bersanding dengan nya?'
"Heyy, kamu kenapa? Kok malah melamun?" Raffa menyadarkan Dira yang melamun usai keduanya sudah sampai tepat diparkiran apartemen Dira.
Untuk menyembunyikan kebohongan nya itu, Dira mengulas senyuman manisnya.
"Aku enggakpapa kok mas."
"Beneran?"
Dengan yakin Dira mengangguk.
"Terus kenapa dari tadi mas liat kamu kebanyakan ngelamun? Kamu gak senang dengan kencan kita hari ini? Atau mau kita kencan lagi sekarang."
Dengan cepat Dira menggeleng kan kepalanya "enggak usah mas, aku enggapapa beneran. Tadi cuman kepikiran sama deadline dari penerbit aja kok. Lagian kan kamu harus balik kerja lagi besok."
Raffa menghela napas, sambil tangannya mengelus lembut kepala Dira "Jangan terlalu dipaksain buat ngejar deadline, aku engga mau kalau kamu sampai kecapean."
Dira menepis pelan tangan Raffa, dan beralih untuk menggenggamnya dengan erat.
"Kenapa? Kok engga kayak biasanya by? seperti bakal berpisah lama," kekeh Raffa.
Dira tak menanggapi kekehan dari sang kekasih, justru gadis itu semakin menarik lengan Raffa untuk berada didalam pelukan nya.
Entah lah, untuk saat ini ia seperti merasa enggan untuk berpisah dengan Raffa. Seakan kencan mereka kali ini seperti akan menjadi kencan terakhir kalinya untuk keduanya.
"Aku takut banget kehilangan kamu," lirih Dira dengan mata yang kian terpejam.
Raffa diam beberapa saat, membiarkan Dira yang masih sangat nyaman memeluk lengan nya itu.
"Emang nya aku bakal ke mana by? Aku enggabakal pergi kok, selagi panggilan Tuhan belum menemui ku."
Dengan cepat mata Dira terbuka lebar, ditepis nya lengan Raffa yang menjadi bahan pelukan nya lagi.
Manik mata coklat nya itu menatap tajam ke arah Raffa yang justru ditanggapi dengan cengiran saja.
"Engga usah ngomong yang aneh-aneh," sungut Dira yang mulai membuka pintu untuk keluar dari mobil.
Pergelangan tangannya ditahan oleh Raffa "sorry by, tadi hanya bercanda!"
"Engga lucu," desis Dira.
###
"Udah selesai ngefoto nya?"
Wita mengangguk seraya tangannya meletakkan ponsel yang tadi ia pegang itu.
"Gimana cerita kencan hari ini?" tanya Wita dengan tangan yang menyendokkan spaghetti kedalam mulut nya
"Rasa spaghetti nya gimana? ada yang kurang atau gimana?" Dira seakan mengganti topik untuk menghindari menjawab pertanyaan dari Wita tadi.
Dengan kepala yang di goyang goyang kan dan senyuman ceria nya, Wita mengangguk setuju dengan mengapresiasi Dira dengan sebuah acungan jempol.
"Masakan Mbak Dira gak pernah gagal buat perut ku kesenangan. Udah bisa nih waktu nya mbak masakin mas Raffa juga."
Dira terkekeh "Mbak juga udah sering kali Wit masakin Mas mu itu."
Dengan tegas Wita menggelengkan kepala "Bukan masakin yang begitu loh mbak, tapi masakin secara khusus sebagai seorang istri."
Dira terdiam merenungi perkataan dari Wita barusan, apa yang dikatakan Wita sebenarnya ada benar nya.
Dilihat dari umur serta berapa lama hubungan nya dengan kekasih sudah terjalin, bukan kah sudah waktunya keduanya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius?
Bukan Dira tidak mau menjadikan Raffa teman sehidup semati nya, bukan karena Dira ragu dengan pria nya itu, akan tetapi masih ada setitik keraguan yang sering kali menutupi semua ketulusan dari Raffa.
"Mbak-"
"Mbak kenapa? Kok malah ngelamun?"
Dira tersenyum tipis seraya menggeleng kan kepala nya "Mbak bingung Wit--"
Oke seperti nya kali ini Dira akan menceritakan semua hal yang mengganjal harinya itu, semua keraguan yang sering kali bahkan menyita kewarasannya itu.
Wita mulai mengubah posisi duduknya menghadap Dira.
Melupakan segala rasa lezat dari spageti carbonara buatan mbaknya itu.
"Menurut kamu Mbak cocok ga sih kalau harus bersanding dengan Raffa?"
Terlihat kerutan yang menghiasi wajah ayu adik angkat nya itu,
Seakan mengerti dengan isi kepala Wita, Dira lantas kembali berujar.
"Mbak bingung dek, semuanya benar-benar menyita kewarasan Mbak. Bahkan sampai-sampai Mbak lupa sama ketulusan yang dikasih Raffa ke Mbak."