Beberapa hari setelah kami pulang dari rumah Ijo, badanku benar-benar pulih. Mama mengizinkanku kembali ke sekolah dengan syarat aku tidak bermain terlalu jauh dan langsung pulang setelah bel terakhir. Aku menyanggupi semua syarat itu. Saat sakit, aku merindukan suara teman-teman di kelas, bahkan suara Widya yang suka meledekku penakut.
Pagi itu Mbah Putri membekaliku nasi dengan lauk tempe. Sebelum aku berangkat, Mama membenarkan tali tasku dan menyelipkan buku tulis baru di dalamnya.
"Buku lama kamu sudah penuh coretan," katanya. "Pakai yang ini kalau mau menggambar."
Aku membuka halaman pertama. Kertasnya masih bersih dan baunya seperti toko alat tulis di kecamatan. Entah mengapa, aku tidak ingin mengisinya dengan gambar rumah atau pohon seperti biasanya. Aku ingin menulis.
Di sekolah, pelajaran berjalan biasa saja. Pak Guru menjelaskan hitungan di papan tulis, Widya meminjam penghapus, dan aku sempat lupa bahwa beberapa hari lalu aku demam karena melihat Buyut marah. Namun pada jam istirahat, ketika teman-teman berlari ke halaman, aku membuka buku baru itu di atas meja.
Aku menulis nama Buyut di baris pertama. Tulisan tanganku masih besar-besar dan miring ke kanan. Setelah itu aku menulis tentang pawon, bunyi sendok, kamar yang lampunya kuning, serta kotak anyaman yang akhirnya kembali ke rumah. Aku tidak tahu apakah tulisanku bagus. Yang kutahu, ketika menuliskannya, dadaku tidak sesak seperti saat mengingat wajah Buyut yang marah.
Widya kembali ke kelas lebih dulu dan melihatku menunduk di meja. "Kamu nulis apa? Surat cinta?" tanyanya sambil tertawa.
"Bukan," jawabku cepat. "Aku cuma nulis cerita."
"Cerita hantu lagi?"
Aku hendak menjawab iya, tetapi lalu teringat Pakde. "Cerita keluarga," kataku. "Ada takutnya sedikit."
Widya mengerutkan hidung. "Aneh. Tapi kalau sudah selesai, aku mau baca."
Aku menutup buku sebelum ia sempat mengintip. Untuk pertama kalinya aku merasa cerita itu milikku, bukan karena aku ingin menyimpan rahasia sendiri, melainkan karena aku ingin menuliskannya dengan benar. Buyut tidak boleh hanya tinggal sebagai sosok yang membuat orang berlari dari pawon. Beliau juga pernah punya surat, selendang, dan harapan agar anak-anaknya tidak saling meninggalkan.
Sepulang sekolah, Mama sudah menunggu di depan rumah. Beliau tidak bertanya banyak seperti sebelumnya. Mama hanya menanyakan apakah aku lelah dan apakah pelajaran hari itu sulit. Kami berjalan masuk bersama sambil membawa beberapa daun singkong yang diberikan tetangga.
Di dapur, Mbah Putri sedang mengaduk sayur. Ijo datang tidak lama kemudian membawa gula merah. Ia berdiri di ambang pintu dengan canggung, tetapi kali ini Mama tidak memalingkan wajah. Mama menerima gula itu dan menyuruh Ijo duduk. Mereka lalu membicarakan kebun, harga pupuk, serta rencana memperbaiki pagar yang mulai miring. Percakapan mereka tidak selalu lancar, kadang ada jeda panjang, tetapi tidak lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Sore menjelang malam, aku membawa buku tulisku ke kamar Buyut. Mama melihatku dari ruang tengah dan langsung mengikuti. Aku sempat mengira beliau akan melarangku masuk.
"Mau apa di sana?" tanyanya.
"Mau menulis sebentar."
"Tentang apa?" Mama bersandar di kusen pintu.
"Tentang Buyut. Tapi bukan yang marah-marah saja. Aku mau tulis waktu Buyut masih suka menyiapkan teh." Aku terdiam sebentar, lalu menambahkan, "Aku ingat Mbah bilang Buyut suka memarahiku kalau makan terlalu lama."
Mama tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar. "Buyut memang begitu. Tapi setelah kamu menangis, dia yang paling dulu mencari pisang rebus buatmu."
"Kenapa Mama tidak pernah cerita itu?"
"Karena kadang Mama juga cuma ingat saat-saat yang membuat Mama sedih." Mama menghela napas. "Makanya menulis bisa baik. Kamu mengingat lebih banyak daripada marahnya saja."
Aku memikirkan kalimat itu cukup lama. Lalu aku menulis bahwa Buyut pernah membuat teh terlalu manis karena lupa mengurangi gula. Aku tahu cerita itu dari Mbah Putri, yang suka tertawa setiap mengulangnya. Aku menulis juga bahwa Buyut selalu menyimpan sisir kayu di dekat jendela dan menutup pintu kamar sebelum magrib. Hal-hal kecil itu membuat Buyut terasa seperti orang yang pernah hidup bersama kami, bukan hanya bayangan yang muncul saat lampu padam.
Mama membaca dua baris pertama dari atas bahuku. "Tulisanmu rapi sekarang," katanya.
"Belum rapi. Hurufnya besar-besar."
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu jujur waktu menulisnya."
Aku tersenyum. Sebelum keluar dari kamar, Mama membantu merapikan selendang Buyut agar tidak menjulur ke lantai. Aku memasukkan buku ke dalam tas dan berjanji pada diri sendiri akan menulis lagi setelah pulang sekolah besok.
Mama membuka pintu kamar, lalu menyalakan lampu kecil. Foto Buyut dan kotak anyaman masih ada di atas meja. Selendang kecilnya dilipat rapi di samping sisir kayu. Aku duduk di lantai dengan buku di pangkuan.
"Mama," kataku tanpa menoleh, "kalau aku ingat Buyut, apa Buyut jadi datang lagi?"
Mama tidak langsung menjawab. Beliau duduk di sebelahku, menaruh tangannya di punggungku. "Mengingat orang yang sudah pergi itu tidak salah. Yang membuat kita capek adalah kalau kita menyimpan marah dan tidak mau membicarakannya. Kamu boleh ingat Buyut. Kamu boleh menulis tentang Buyut. Tapi kalau kamu takut, bilang pada Mama. Jangan dipendam sendiri."
Aku mengangguk dan menulis satu kalimat lagi. Aku menulis bahwa Buyut mungkin ingin didengar, seperti semua orang yang pernah merasa sendirian di rumahnya sendiri.
Malam itu kami minum teh di pawon. Mama mengaduk gula, lalu menyerahkan gelas hangat kepadaku. Saat sendok menyentuh gelas, bunyinya pelan sekali. Kletik. Hanya sekali.
Aku menatap Mama. Mama juga menatapku. Tidak ada pintu yang bergerak, tidak ada langkah terseok, tidak ada rasa dingin yang tiba-tiba menyusup ke tengkuk. Setelah beberapa detik, kami justru tersenyum kecil.
"Sudah manis?" tanya Mama.
Aku mencicipi tehku. "Sudah."
Aku tidak tahu apakah bunyi itu benar-benar dari sendok Mama atau ada kenangan yang ikut singgah sebentar di pawon. Yang jelas, malam itu aku tidak ingin lari. Aku membawa buku tulisku ke kamar dan menaruhnya di bawah bantal. Kelak, ketika banyak pengalaman aneh lain datang dalam hidupku, aku ingin mengingat bahwa rasa takut juga bisa mengajarkan seseorang untuk mendengar, meminta maaf, dan pulang.
TAMAT