Pagi berikutnya, demamku tinggal menyisakan lemas di kaki. Mama berkali-kali bertanya apakah aku benar-benar sanggup berjalan ke rumah Ijo. Aku menjawab sanggup sambil menghabiskan nasi hangat yang disuapkan Mbah Putri. Barangkali tubuhku belum sepenuhnya sehat, tetapi rasa penasaran membuatku tidak mau tinggal sendiri di rumah.
Kami berangkat setelah matahari naik. Pakde berjalan paling depan membawa tas kainnya. Mama menggandeng tanganku di sisi kanan, sedangkan Mbah Putri berjalan pelan di sisi kiri. Jalan menuju rumah Ijo melewati kebun singkong dan parit kecil. Biasanya aku suka berhenti melihat capung di atas air, tetapi pagi itu aku hanya memperhatikan wajah Mama yang tegang.
Rumah Ijo lebih sepi daripada rumah kami. Pintu depannya terbuka, tetapi tidak ada radio atau suara orang memasak dari dalam. Ijo duduk di tikar ruang tengah dengan punggung membungkuk. Di depannya ada sebuah kotak anyaman kecil berwarna cokelat, sudah kusam seperti dinding kamar Buyut.
Begitu Mbah Putri masuk, Ijo berdiri. Matanya merah dan kedua tangannya gemetar.
"Mbah," katanya pelan. "Maafkan aku."
Mbah Putri tidak segera mendekat. Beliau menatap kotak itu lebih dulu. "Kau menyimpannya selama ini?"
Ijo mengangguk. "Aku membawanya waktu rumah Buyut dibersihkan. Waktu itu aku sedang marah. Kupikir tidak ada yang peduli padaku. Aku pikir kalau kotak ini ada padaku, setidaknya ada sesuatu dari Buyut yang tidak direbut orang lain. Tapi setiap kali mau membukanya, aku takut."
Mama melepaskan genggamanku, lalu duduk di dekat Mbah Putri. "Kenapa tidak bilang dari dulu, Mas?"
"Karena aku malu, Yah. Aku memang ingin menjual tanah itu. Aku punya utang dan aku merasa semua orang hanya menyalahkanku. Lalu aku bicara kasar di depan Buyut." Ijo menunduk semakin dalam. "Aku melihat beliau diam saja. Besoknya beliau sakit. Sejak itu aku tidak berani datang lama-lama ke rumah."
Pakde membuka kotak dengan hati-hati. Tidak ada benda aneh di dalamnya. Hanya beberapa foto hitam putih, sisir kayu, kain selendang kecil, dan selembar kertas yang dilipat berkali-kali. Pakde menyerahkan kertas itu kepada Mbah Putri.
Tulisan Buyut tidak rapi, tetapi Mbah bisa membacanya pelan. Kami semua menunggu tanpa berani memotong. Isi suratnya tidak panjang. Buyut menulis bahwa tanah bisa dibagi dengan cara baik, tetapi keluarga jangan sampai hilang hanya karena takut kekurangan. Beliau meminta anak-anaknya tetap menengok Mbah Putri, tetap membawa kabar baik maupun kabar buruk ke rumah, dan tidak membiarkan anak-anak kecil tumbuh mendengar pertengkaran orang dewasa.
Setelah selesai membaca, Mbah Putri memegang surat itu di dada. Air mata beliau menetes tanpa suara. Aku belum pernah melihat Mbah menangis seperti itu. Biasanya beliau hanya mengomel jika aku bandel atau tertawa saat melihat adik-adikku berebut singkong goreng.
"Aku juga salah," kata Mama tiba-tiba. "Waktu Mas Ijo dan yang lain bertengkar, aku memilih diam. Aku pikir itu bukan urusanku. Padahal Buyut duduk di situ dan mendengar semuanya."
Ijo mengangkat wajah. "Bukan hanya kamu. Aku yang paling keras."
"Sudah," ujar Mbah Putri. Suaranya tidak tinggi, tetapi membuat semua orang terdiam. "Hari itu memang tidak bisa diubah. Tapi kalian masih bisa memilih apa yang dilakukan setelah ini. Kalau tanah itu perlu dibicarakan, bicarakan dengan kepala dingin. Kalau ada yang susah, katakan. Jangan tunggu sampai orang yang kalian sayangi sudah tidak bisa menjawab."
Pakde memindahkan kotak itu ke dekat Mbah Putri. "Bawa pulang saja, Mbah. Tidak perlu ada lagi yang disembunyikan."
Ijo mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Aku akan datang tiap Jumat, Mbah. Bukan hanya kalau ada urusan tanah. Kalau pagar rusak atau beras habis, bilang. Jangan menunggu aku pura-pura tidak tahu."
Mama menatap kakaknya. "Kita juga harus bicara soal tanah itu bersama yang lain. Tidak perlu hari ini, tapi jangan lagi dibicarakan di belakang Mbah."
"Iya," jawab Ijo. "Kalau memang dijual, keputusan itu harus untuk keperluan Mbah dan disetujui bersama. Kalau tidak dijual, aku juga akan terima. Aku sudah terlalu lama memikirkan bagianku sendiri."
Mbah Putri menghela napas, lalu menarik tangan Ijo supaya duduk lebih dekat. "Datang saja dulu. Soal tanah bisa dipikirkan lain hari. Orang hidup jangan kalah sama tanah."
Aku tidak sepenuhnya mengerti mengapa kata-kata itu membuat mata Mama kembali basah. Tetapi aku melihat Ijo memegang tangan Mbah dengan dua tangannya, seolah takut tangan itu ditarik menjauh lagi.
Ijo lalu berlutut di depan Mbah Putri. Aku sempat takut Mbah akan marah atau menyuruhnya pergi. Namun Mbah hanya menaruh tangannya di kepala Ijo. Bukan kata-kata besar atau tangisan keras yang keluar. Hanya Ijo yang menangis seperti anak kecil, dan Mama yang akhirnya memeluk kakaknya dari samping.
Aku melihat wajah Pakde. Beliau menatap kami lalu berkata, "Kalian berdamai bukan supaya lupa. Kalian berdamai supaya kesalahan itu tidak diwariskan lagi."
Menjelang siang, kami pulang membawa kotak anyaman. Mama membiarkanku memegang selendang kecil Buyut di pangkuan selama perjalanan. Bahannya sudah tipis dan berbau kayu lemari. Anehnya, aku tidak merinding. Aku hanya membayangkan Buyut memakai selendang itu sambil duduk di kamar, menunggu anak-anaknya pulang.
Di rumah, Mbah Putri meminta Mama membuka kamar Buyut. Kamar itu tetap sama: dipan kayu, lemari tua, dan lampu kecil berwarna kuning. Mama membersihkan meja dekat jendela, lalu meletakkan foto Buyut dan kotak anyaman di atasnya. Mbah Putri menaruh sisir kayu di samping foto.
"Kalau mau menjenguk, tidak perlu bikin cucumu takut lagi," kata Mbah Putri sambil tersenyum tipis ke arah foto. "Kami sudah dengar."
Aku berdiri di belakang Mama. Saat lampu dinyalakan, bayangan kami terlihat di dinding. Di sudut mata, aku seperti melihat satu bayangan lain yang membungkuk dekat dipan. Namun ketika aku menoleh penuh, yang ada hanya selendang Buyut bergerak pelan terkena angin dari jendela.
Malamnya pawon sangat sunyi. Tidak ada piring beradu, tidak ada lemari terbuka sendiri, tidak ada langkah menyeret. Aku masih terbangun beberapa kali, tetapi bukan karena takut. Aku sedang mengingat tangan Mbah Putri di kepala Ijo dan surat Buyut yang dibaca dengan suara bergetar. Saat akhirnya tertidur, aku tidak bermimpi buruk.