Menjelang sore, demamku belum benar-benar turun. Badanku sudah tidak sepanas pagi tadi, tetapi kepala masih berat dan selimut terasa seperti menekan dada. Mama duduk di samping dipan sambil mengaduk bubur. Setiap kali aku membuka mata, beliau menyuruhku makan dua sendok lagi. Aku menurut karena tidak ingin melihat wajahnya semakin cemas.
Pintu depan berderit. Dari balik tirai kamar, aku mendengar langkah Pakde masuk bersama suara sandal yang basah oleh tanah. Mama segera berdiri.
"Bagaimana, Kang?" tanya Mama pelan.
Pakde tidak langsung menjawab. Beliau meletakkan tas kainnya di atas kursi, lalu meminta Mama mengajaknya ke ruang tengah. Mbah Putri yang baru pulang dari kali ikut duduk di dekat pintu. Aku pura-pura terlelap, padahal telingaku tegang mendengarkan mereka.
"Ijo ada di rumah," ujar Pakde akhirnya. "Dia tidak menyangkal kalau beberapa hari sebelum Buyut sakit, dia membawa kotak anyaman dari kamar Buyut."
Mama menghela napas panjang. "Kotak yang dulu dicari Mbah itu? Kukira sudah dibuang waktu rumah dibersihkan."
"Tidak dibuang. Disimpan Ijo di lemari. Katanya dia takut menyerahkannya karena di dalamnya ada surat Buyut."
Mbah Putri yang sejak tadi diam menatap lantai. Tangannya yang keriput meremas ujung kain jariknya. "Surat apa? Buyut tidak pernah bilang padaku."
Pakde menatap Mbah cukup lama sebelum menjawab. "Surat itu ditulis ketika anak-anak ribut soal tanah kecil di belakang kebun. Buyut mendengar semuanya. Ijo ingin menjual bagiannya, yang lain tidak setuju. Kata-kata waktu itu keras. Buyut merasa rumah ini tidak lagi membuat anak-anaknya saling pulang, melainkan saling menjauh."
Aku tidak terlalu paham soal tanah. Yang kumengerti hanya suara orang dewasa jika sedang marah. Suara itu biasanya lebih menakutkan daripada suara langkah di pawon, karena tidak bisa hilang hanya dengan menutup telinga.
Mama duduk lagi di dekatku. Jari-jarinya membelai rambutku, tetapi matanya tetap menuju Pakde. "Aku memang tidak ikut bertengkar, Kang. Tapi aku juga tidak menghentikan mereka. Aku takut bicara malah ikut disalahkan."
"Diam juga bisa melukai," jawab Pakde pelan. "Itu yang membuat Buyut kecewa. Bukan karena tanahnya saja. Dia takut setelah dia tidak ada, Mbah Putri ditinggal sendiri dan anak-anaknya lebih sibuk menghitung bagian daripada saling menengok."
Tidak ada yang menjawab. Dari luar terdengar ayam turun dari kandang dan suara anak-anak bermain jauh di ujung jalan. Rumah kami terasa sangat sunyi meski matahari belum tenggelam.
Mbah Putri mengusap matanya dengan ujung selendang. "Aku tidak pernah minta tanah itu. Aku hanya ingin mereka datang kalau ada waktu. Buyut juga begitu."
Pakde mengangguk. "Ijo bilang dia akan membawa kotak itu besok pagi. Tapi ia malu datang sendiri. Dia meminta kalian datang ke rumahnya."
Mama memandangku. Mungkin beliau ingin menunda semuanya karena aku masih sakit. Aku justru merasa takut kalau besok mereka pergi tanpa menjelaskan apa pun lagi. Sejak pagi, wajah Buyut yang marah terus terbayang di kepalaku. Wajah itu bukan hanya marah. Ada sedih yang membuatku ingin menangis meski tidak tahu harus menangisi siapa.
"Mama," panggilku lirih.
Mama cepat menoleh. "Kamu bangun? Mau minum?"
Aku menggeleng. "Besok aku ikut. Aku sudah lebih enak."
"Tidak boleh. Kamu istirahat saja di rumah," jawab Mama, kali ini suaranya tegas.
"Aku takut kalau Buyut datang lagi." Kata-kata itu keluar begitu saja. Aku segera menunduk karena tidak ingin melihat Mama semakin sedih. "Kalau semuanya dibicarakan, mungkin Buyut tidak marah lagi."
Pakde mendekat ke dipanku. Telapak tangannya menyentuh keningku sebentar, seperti ketika beliau memeriksa demamku. "Kamu tidak punya kewajiban membereskan masalah orang dewasa, Mo. Tapi kamu boleh ikut kalau besok badanmu tidak panas dan Mama setuju. Yang penting, kamu tidak perlu mencari atau memanggil Buyut. Cukup dengarkan keluarga kalian bicara benar."
Mbah Putri mengulurkan tangannya. Aku menggenggam jari-jarinya yang dingin. "Besok kita antar Mbah," katanya. "Tidak ada yang perlu ditakuti kalau kita tidak saling menyimpan marah."
Mama masih tampak ragu. "Kalau di jalan demamnya naik lagi bagaimana?"
"Aku bawa air hangat dan kain kecil," kata Mbah Putri. "Rumah Ijo tidak jauh. Lagi pula Nimas tidak perlu ikut bicara. Dia cukup duduk dekat kita."
Aku buru-buru menoleh pada Mama. "Aku tidak akan lari-lari. Aku janji."
Pakde tersenyum tipis. "Janji itu untuk dirimu sendiri juga. Besok kalau tubuhmu capek, kamu bilang. Berani bukan berarti memaksa badan terus jalan."
Kalimat itu membuatku malu. Selama ini aku kira orang berani adalah orang yang tidak pernah takut dan selalu maju paling depan. Padahal Pakde tidak pernah berteriak atau memukul sesuatu yang tidak kami lihat. Beliau hanya datang, mendengar cerita Mama, lalu menyuruh kami bicara dengan orang yang sedang kami jauhi.
Mama mengambil mangkuk bubur dari meja kecil. "Selesaikan ini dulu. Kalau habis, Mama izinkan kamu ikut sebentar. Tapi kamu harus di antara Mama dan Mbah."
Aku mengangguk cepat. Bubur itu sebenarnya hambar, tetapi sore itu aku menghabiskannya tanpa protes. Mbah Putri bahkan tertawa kecil melihatku menyendok terlalu cepat. Tawa itu pendek, namun membuat ruang tengah tidak terasa sesempit tadi. Setelah mangkuk kosong, Mama menyentuh keningku sekali lagi dan berkata aku boleh tidur sampai subuh agar tenaga benar-benar kembali.
Menjelang malam, Pakde pulang. Mama membuatkan teh untuk Mbah, lalu mematikan lampu ruang tengah satu per satu. Dari kamar, aku mendengar bunyi sendok beradu dengan gelas. Tubuhku langsung menegang.
Mama menyadarinya. Beliau tidak lari atau memanggil Pakde. Mama hanya duduk di sampingku dan berkata, "Itu Mama yang membuat teh. Dengar baik-baik, ya. Tidak semua bunyi harus membuatmu takut."
Aku mendengarkan lagi. Benar, setelah bunyi sendok berhenti, terdengar langkah Mama kembali menuju kamar. Malam itu aku masih memeluk selimut erat, tetapi untuk pertama kalinya sejak Buyut muncul, aku ingin pagi datang bukan untuk lari dari rumah, melainkan untuk mengetahui apa yang selama ini kami sembunyikan.