Hay hay, apa kabar kalian?
Author doakan, semoga kalian selalu sehat dan bahagia ya??
Selamat Membaca!!!
********************
Setelah sekian lama usaha Dimas yang selalu gagal untuk bisa berkenalan dengan gadis yang pernah menabraknya. Akhirnya di suatu pagi, kesempatan itu berpihak padanya.
Ketika dia sampai di lobby kantor, di lihatnya receptionis tersebut sudah berada di tempat kerjanya. Dan yang lebih penting, tidak ada Sinta di sana.
Asyikkk. kesempatan" batin Dimas.
Dimas melanjutkan jalannya, dengan gagah dan berwibawanya, memasang wajah ramah. Sesampainya di meja resepsionis, gadis itu segera berdiri dan menyapa nya.
"Selamat pagi pak", ucapnya seraya tersenyum manis dan membungkuk hormat.
"Pagi....", jawab Dimas sambil berhenti, kemudian dia berusaha mencari informasi dengan cara natural.
"Receptionis baru ya?" tanyanya.
"Iya pak, pengganti mbak Dewi", jawab gadis itu. Tapi bukannya aku sudah sering menyapa bapaknya, setiap pagi malah."batin gadis itu tanpa dia ingat bahwa dia pernah menabrak pria di hadapannya beberapa hari yang lalu.
"Pantas, saya jarang lihat. Perkenalkan saya Dimas" ucap Dimas seraya mengulurkan tangannya.
Gadis itu nampak bimbang, mau menjabat tangan Dimas atau tidak. Tapi akhirnya dia menjabat tangan Dimas.
"Mayang....", jawabnya sembari tersenyum kikuk.
Dimas tersenyum ketika akhirnya dia tahu nama gadis yang membuatnya tertarik belakangan ini. Di tengah kegembiraannya, dia memutar otak, mencari alasan agar bisa mendapat kontak Mayang.
"Kok tumben Sinta tidak kelihatan, kemana dia?', tanya Dimas celingukan seolah sedang memcari keberadaan Sinta. Padahal dalam hatinya bersyukur tidak ada Sinta.
"Orangnya izin pak hari ini, sedang sakit", jawabnya dengan nada sopan dan formal.
"Yahh....padahal saya mau minta tolong, kamu mau gantikan?" tanya Dimas.
"Kalau boleh tau, apa ya pak?', tanya nya formal.
"Tapi kalau saya mau menjelaskan sekarang kepanjangan, saya sudah harus naik ke atas, bisa tidak saya kirim lewat pesan WA", jelas Dimas, yang tentunya itu adalah kebohongan.
"Tapi bapak bisa pakai......" belum sempat menyelesaikan bicaranya, sudah di potong oleh Dimas.
"Aduh, pliss, ini saya buru-buru soalnya", ucapnya seraya bmemasang wajah gelisah.
Karena sepertinya memang sedang terburu-buru, akhirnya mayang memberikan ponsel miliknya ke Dimas agar menuliskan nomornya. Dimas yang melihat itu, langsung saja mengambil ponsel dari tangan Mayang kemudia menulis nomor ponselnya di ponsel Mayang kemudian mendialnya. Ketika sebuah panggilan dengan nomor tidak diketahui masuk di Hp nya, senyum gembira mengembang di bibirnya, "yessss, dapat" batinnya.
"Terimakasih ya, nanti saya hubungi kalau ada perlu." ucapnya seraya mengembalikan ponselnya ke Mayang.
"Ya sudah, saya mau naik dulu, Salam kenal Mayang", ucapan Dimas dengan senyum termanis sebelum meninggalkan Mayang.
"Baik pak.." jawab Mayang sembari membungkukkan badan.
Dimas meninggalkan Mayang dengan langkah penuh semangat. Bukan main gembiranya. Baru kali ini dia merasa seolah tersihir oleh wanita seperti Mayang. Yang pertama cantik, yang kedua dia tidak berusaha menggodanya seperti yang dilakukan Sinta. Entah tidak menggodanya atau belum saja, karena masih karyawan baru. tapi masa bodoh bagi Dimas. Dimas senyum sumringah menuju lift.
Berbeda dengan Dimas, Mayang justru agak kikuk atas kejadian barusan. Ketika dia hendak memasukkan ponsel nya dalam laci, sebuah pesan masuk.
[Hay...saya Dimas. Save nomor saya ya]
[Baik pak], balas Mayang dengan sangat formal.
Setelah membalas pesan, Mayang memasukkan ponsel nya ke dalam laci. Mayang tidak terlalu peduli dengan ponselnya karena menurutnya tidak ada yang penting disana, kecuali pesan dari satu orang yang selalu di cintainya, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya sendiri.
****
Dimas berjalan menuju ruang kerjanya dengan sangat riang. Senyum yang tersungging di bibirnya tidak dapat dia sembunyikan. Sebegitu bahagianya dia dapat berkenalan dengan Mayang. Satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hatinya selain Reva.
Reva adalah cinta yang pernah dia perjuangkan.Reva memang sosok cerdas dan cantik. Dia berpacaran dengan Dimas hampir 4 tahun. Sudah lama sekali, tapi sangat membekas di hati Dimas. Bagaimana tidak membekas?
Dahulu Reva dari keluarga kurang mampu, tapi cita-citanya tinggi. Karena keadaan ekonomi orang tuanya, Reva terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah. Tapi suatu kebetulan dia berkenalan dengan Dimas kemudian berpacaran dengannya. Dimas sudah dekat dengan keluarga Reva. Karena memang Dimas tidak ingin bermain-main dengan cintanya. Tapi ternyata selama itu Reva hanya memanfaatkan Dimas, agar mau membayar biaya pendidikannya. Dan ketika dia sudah bekerja, dirinya memacari laki-laki lain yang lebih kaya dari Dimas. Semenjak itu dimas seperti takut dan risih kepada para gadis dan wanita yang mengintilinya.
***
"Waduh... lupa gak beli sarapan.." ucapnya menepuk jidat.
Bisa bisanya dia sampai melupakan ritual wajibnya gara gara bisa berkenalan dengan Mayang.
"Tapi kok gue seneng banget sih." gumamnya. Bahkan senyum yang tersungging di bibirnya tidak bisa dihentikannya.
"Apa enaknya gue turun aja, ke kantin, trus ngajak Mayang sarapan bareng. Kan enak double kill..."
"Eh eh tapi, gue kan tadi dah terlanjur bilang sedang buru buru..." gumamnya mengerucutkan bibirnya.
"Eh tapi enaknya gimana dong? Mau turun nanti ketahuan bohong, gak turun cacing cacing di perut butuh makan.."
Dimas masih terus berbicara sendiri, sampai suara pintu tanda terbuka membuatnya kaget..
"Heh... lo ngagetin aja.." Dimas jarang kaget begini. Tapi karena dia sedang memikirkan berbagai kemungkinan, membuatnya tidak fokus, takut kalau dia ketahuan berbohong oleh Mayang.
"Hahaha. kenapa lu, gak biasa biasanya kaget..." ucap Radit yang tanpa babibu langsung membuka pintu ruang kerja Dimas.
"Dah, bukan urusan lo. Mau apa pagi pagi kesini?" tanya Dimas sewot.
Radit berjalan mendekati Dimas. Mendekatkan wajahnya ke telinga Dimas.
"Dia tadi sendirian di bawah" ucapnya berbisik
"Ha. siapa....?" tanya Dimas bingung dengan menatap mata temannya. Dia Benar benar tidak tau siapa orang yang dimaksud Radit.
'"Hilih, sok lagak gak tau.... tu si receptionis baru.."
"Lah, apa hubungannya sama gue?" ucap Dimas mengelak.
"Hahaha, udah Dim dim, gausah ngelak. Elu mau ngelakpun, gue dah terlanjur tau...". timpal Radit.
"Tau apa an?" jawab Dimas masih berusaha mengelak bahwa dirinya menyukai gadis yang pernah menabraknya di kantin.
"Elu suka kan sama si receptionis baru. Dah lah gak usah ngelak? orang kelihatan banget"
Ucapan Radit membuat Dimas menganga. Bagaimana dia bisa tau.
"Kok bisa tau?"
"Ya, gimana aku gak tau, orang kita temenan dah lama. Gue gak pernah ngeliat elu terima di ganggu orang, eh ini di tabrak orang malah senyum manis sampai kehilangan otak. Yang ada biasanya lu maki tu orang orang yang lain" jelas Radit.
"Hust...Dah dah balik kerja sana. Ganggu orang kerja aja." Dimas berusaha mendorong Radit agar keluar dari ruang kerjanya. Sebenarnya hal itu agar tidak menambah panjangnya bakat ceramah Radit. Mengingat, Radit mulai tambah cerewet sesudah memiliki anak.
Dimas mulai mengerjakan berkas berkas yang ada di mejanya. Sembari menunggu pesanan sarapan datang. Dimas memesan drmari kantin. Delivery seperti biasa.