Kalau ada yang typo tandain ya!!!!
Selamat membaca✨✨
***************************
Jam makan siang pun akhirnya tiba. Waktu yang sudah ditunggu-tunggu oleh Dimas. Angan-angan untuk menikmati makan siang bersama Mayang sudah membuatnya tersenyum bahagia sejak tadi. Dengan semangat, Dimas meninggalkan ruang kerjanya. Dan segera menuju tempat kerja gadis pujaannya. Tapi sesampainya di bagian receptionis, Dimas hanya mendapati lelaki penjaga pintu masuk perusahaan, yang sepertinya sedang menggantikan Mayang.
"Mas, dimana Mayang nya..? tanya Dimas pada Doni. Doni memiliki badan tegap atletis, tampangnya juga lumayanlah. Hanya saja terlihat lebih muda dari Dimas. Eh, bukan terlihat. Tapi memang jaaauuuuh lebih muda dari Dimas.
Doni mendongak ketika mendengar ada orang yang bertanya kepadanya, "Mbak Mayangnya sedang ke ruang istirahat sebentar pak, ada yang bisa saya bantu pak? tanyanya sopan.
Memang di perusahaan tersebut, disediakan sebuah ruang kecil tepat dibelakang meja receptionis. Ruang tersebut digunakan jika ada orang yang menitip barang kepada receptionis dan kadang memang digunakan receptionis untuk beristirahat.
"Tolong dong mas, panggilin Mayang, bilang sama dia kalau dicari pak Dimas.." ucap Dimas meminta tolong kepada Doni.
Ngapain coba orang punya jabatan tinggi nyariin receptionis segala" batin Dino. Meskipun begitu, Dino tetap melaksanakan permintaan tersebut. Toh tidak ada ruginya, lagian memang tadi Mayang meminta bantuannya untuk menjaga meja resepsionis sebentar. Dino segera menuju ruang yang ada di belakangnya, Tapi baru saja dirinya membuka pintu, Doni mundur dan menutup kembali pintu tersebut. Mengetahui tindakan Doni tersebut, Dimas yang tadinya memasang mimik muka santai agak tidak sabar mendadak mimik mukanya menjadi serius seolah bertanya kenapa.
"Maaf pak, mbak Mayangnya masih sholat", jawaban Doni setelah kembali ke meja resepsionis. Namun siapa duga, jawabannya tersebut membuat orang yang ada di depannya menganga kagum. Benar baru ini dia menemukan gadis seperti Mayang. Hidup di tengah hingar bingar ibu kota, yang hampir semuanya sudah hidup dalam pergaulan bebas dan melupakan kewajiban mereka sebagai muslim. Hal itu membuat Dimas semakin terenyuh dan kagum pada sesosok Mayang. Dan terbesit di otaknya "aku harus memilikinya". Apalagi kapan hari dia mendengar Mayang dan Sinta sedang berbincang di kantin. Kala itu dirinya sedang makan siang di kantin bersama Radit. Kebetulan dirinya duduk membelakangi Mayang. Sebenernya Dimas ingin makan bersama, tapi karena ada Santi yang genit dia mengurungkan niatnya.
**
Flashback on
"Owh, jadi Mbak Mayang dulu kerja di AR Grup" ucap Santi manggut-manggut.
"Eh mbak, tapi kenapa keluar? Padahal udah bagus lo AR grup. Trus ada di kota kelahiran mbak lagi" tanyanya penasaran.
"Emm... pengen aja. Lebih ke cari kenyamanan aja."
"Trus sekarang mbak tinggal sama siapa di sini..?"
"Sendirian.."
"La suami mbak?" tanyanya kepo.
"Emmm... gapunya suami san.."
Flashback off
**
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Mayang keluar. Dia keluar dengan rambut depan yang sedikit basah dan tentunya tanpa polesan make up. Ketika melihat Dimas berdiri dihadapan Dino, Mayang segera menghampiri dengan sedikitb berlari.
"Ada perlu apa ya pak?" tanyanya sopan.
"Emm...mbak Mayang sudah makan siang? Kalau belum sekalian makan siang bareng saya.". jawab Dimas dengan sopan. Dimas melakukan PDKT senatural mungkin agar tidak terlalu kentara. Eh. Tapi bukannya udah sangat kentara ya kan baru kenal langsung ngajak makan siang.
Berbeda dengan wanita pada umumnya, Mayang justru terlihat biasa saja dengan hal tersebut. Bahkan terlihat seperti masa bodo dan tidak tertarik. Padahal banyak sekali karyawan kantor ini, yang ingin dekat dengan Dimas.
"Mohon maaf pak, saya tadi membawa bekal dari rumah, niat mau saya makan di sini saja", ucapnya lembut. Benar saja, karena tidak ada Sinta, Mayang tidak bisa pergi lama lama meninggalkan meja receptionis, karena tidak ada yang diajak bergantian berjaga.
"Baiklah kalau begitu", jawab Dimas seraya meninggalkan Doni dan Mayang, tentunya dengan perasaan kesal. Bagaimana dia bisa gagal dalam PDKT dihari pertama nya. Mau maksa gak enak, takut membuat citra nya jadi buruk.
Begitu Dimas sudah tak terlihat Doni memberanikan diri untuk bertanya kepada Mayang. Doni memang menyukai Mayang. Doni juga anak baru di perusahaan tersebut. Meskipun Doni sudah tau, kalau wanita yang disukai nya memang terlihat lebih tua darinya, tapi menurut Doni mungkin rentang umur mereka sekitar dua tahun. Toh zaman sekarang usia bukanlah penghalang untuk sebuh hubungan.
"Mbak kenal sama bapak bapak tadi?" tanyanya seraya melihat kearah hilangnya Dimas
Mayang mengikuti arah pandang Doni, "Oh. Pak Dimas? Kenal, karyawan disini kan." jawabnya santai.
"Bukan itu maksudku mbak, kenal secara personal". jelasnya.
"Emm. Enggak sih. Pak Dimas tadi pagi memang mampir sini, nyari Sinta, katanya mau minta tolong. Karena Sinta gak ada akhirnya mau minta tolong sama mbak, tapi sampe sekarang belum minta tolong" ucap Mayang menjelaskan.
Doni yang mendengar jawaban itu langsung tau, kalau mungkin Dimas juga menyukai Mayang sama sepertinya. Memikirkan hal itu dia langsung berinisiatif memepet Mayang lebih dulu.
"Kenapa..?"
"Gak papa mbak. Eh mbak, jangan makan dulu ya. Tunggu aku disini. Saya juga anak baru, gak punya banyak kenalan. Kita makan bareng aja mbak", ucapnya sembari meninggalkan Mayang. Padahal Mayang belum menjawab apakah setuju dengan niatnya atau tidak.
"Kamu makan aja di kantin", tapi kelihatannya ucapan Mayang sudah tidak terdengar oleh Doni.
"Rambut dan mata Doni mirip sekali dengannya" batin Mayang.
Mayang mengambil ponselnya, menulis sebuah pesan.
[Jangan lupa sholat dan makan ya sayang. Kalau ada waktu mampir ke rumah?]
***
Sesampainya di kantin, Dino segera memilih dan memasukkan makan siang yang ingin disantapnya ke dalam sebuah tempat makan yang di sediakan. Memang kantin kantornya ini menyediakan makan prasmanan, jadi tinggal memilih, kecuali minuman. Kalau minuman mereka harus memesan terlebih dahulu. kecuali minuman kemasan.
Setelah mengambil makanannya, Dino tinggal memesan minuman. Sembari menunggu minumannya selesai dibuat, dirinya duduk di kursi kantin. Pandangan matanya menatap sekeliling kantin. Hingga tatapannya berhenti pada seseorang. Tapi seseorang itu juga sedang menatap orang lain. Siapa lagi kalau bukan Dimas.
Ya benar. Dimas sedang menyantap makan siangnya sendirian. Tetapi dia mengunyah makanannya sembari menatap seorang wanita yang sedang berada di luar kantin. Mungkin hanya orang bodoh yang tidak tau arti dari pandangan Dimas. Dapat di lihat jika pandangan Dimas, adalah pandangan mata lelaki yang terlihat tulus dan teduh.
Tapi wanita di seberang sana tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya sedari tadi.
Melihat itu Dimas sedikit merasa tidak terima, hanya saja dia hanya memandangnya dari jauh. Toh dirinya juga bukan siapa siapa Mayang. Apalagi dirinya juga tidak bisa mengusik Dimas, mengingat dirinya juga hanya karyawan baru di sana.