Maaf ya guys, banyak revisi dari bab pertama.
Manjangin cerita.
Mohon maaf sekali. Tapi alurnya tidak berubah kok.
Jangan lupa ya Kalau ada yang typo tolong tandain?
Happy reading..?
******************
Hari-hari berlalu seperti biasanya. Sejak insiden gagal makan siang dengan Mayang, dia belum mengajak Mayang makan siang bersama lagi. Selain karena masih ragu, ada Sinta yang selalu mengintilinya dan juga dirinya yang sibuk akhir akhir ini karena pekerjaan yang menumpuk. Meskipun begitu, Dimas tetap menyapa seperlunya. Maunya sih intens, hanya saja Dimas masoh dihantui rasa ragu karena pesannya sering diabaikan oleh Mayang dengan berbagai alasan. Bahkan bisa dibilang, Mayang hanya membalas pesannya yang ada hubungannya dengan pekerjaan.
Siang ini, Dimas benar-benar penat karena tugas yang sudah dikerjakannya seperti tidak berkurang. Ditambah suasana hati yang tidak ada tentram tentram nya karena selalu memikirkan Mayang. Dia berharap mendapatkan respon positif dari Mayang meskipun hanya sebuah pesan.
"Hhuuhhhhh..... kapan ini selesainya?" dengus Dimas kesal sembari membanting kertas yang di pegangnya. Banyak kerjaan, gak ada yang nyemangatin, malangnya nasib bujang lapuk.
"Dah lah bodo amat, mau makan biar bisa hidup." ucapnya beranjak dari tempat duduknya. Menyambar jas kerjanya di kursi.
Dimas berjalaan keluar dari ruang kerjanya, menuju ruangan Radit.
"Dit, makan yokk. Laper ini, sumpah otak gue capek ini, butuh refresh" ujarnya.
"Bayarin" tawar Radit.
"Tega bener bapak satu anak ini, malak orang teros"
"Ya mau gimana lagi, banyak kebutuhan hahaha, gimana? mau bayarin gak?"
" Yaudaah yok, bosen gue, butuh hiburan" jawab Dimas, karena malas tawar menawar dengan temannya satu ini. Toh ngasih makan mulut satu juga gak bikin miskin.
Radit dengan semangat beranjak dari tempat duduknya. Mereka berjalan bersama menuju kantin. Mimik muka Dimas yang kucel akibat banyak kerjaan sedikit berkurang karena ada Radit yang mau menemani dia makan.
"Ada kemajuan belom sama si receptionis.? tanya Radit di sela sela langkah mereka.
"Kemajuan yang gimana?" tanya Dimas berlagak bodoh.
"Hilih, ga usah sok ga tau. Tar beneran ga tau baru tau rasa" timpal Radit.
"Jangan gitu dong, jadi temen tega bener. Udah ada kemajuan. Dan kenalan, namanya Mayang" jawab Dimas dengan bangga karena sudah mengetahui nama dari wanita pujaannya.
"Lah itu doang?" tanya Radit menganga. Apakah tau nama bisa di katakan kemajuan dalam hubungan?
"Lah emang mau apa?
"Ya elah Dim, itu baru kenalan namanya. Ibarat orang datang bertamu, elu itu baru sampe depan rumah, belum ngetuk pintu, haha" jelas Radit tertawa terbahak-bahak.
"Ye.. enggak lah. Udah dapat nomor nya, cuma ya itu, gak di anggap"
Jawaban itu justru membuat Radit semakin tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak tertawa terbahak-bahak, Dimas adalah laki-laki yang sering mendapatkan pesan dari banyak wanita, yang tentu ingin menggodanya. Dan biasanya dia akan mengabaikan semua pesan wanita wanita itu, tapi kini seolah dia sedang mendapat karma, karena di acuhkan oleh Mayang. Mimik muka Dimas kesal melihat sahabatnya menertawakan nasib dirinya.
Dan mimik muka itu bertambah jadi lebih kesal, lebih tepatnya merah padam, karena pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
Ya apalagi kalau bukan pemandangan Doni dan Mayang yang sedang makan bersama dengan sedikit bersenda gurau. Hal itu membuat hati dan pikirannya panas, dirinya ingin sekali menyeret gadis itu pergi tapi untungnya otaknya masih berpikir, dia dan gadis itu tidak punya hubungan sejauh itu. Lebih tepatnya seperti hanya sebatas tahu bagi Mayang, tapi tidak bagi Dimas. Tangan dan giginya mengeras, Dimas tidak kuasa melihat pemandangan di depannya. Dia ingin memberi pelajaran kepada Doni tapi Radit yang tau kalau sahabatnya itu menyukai gadis receptionis pun menahannya.
"Sabar bro, sabar....." ucapnya menepuk-nepuk bahu Dimas
Dimas yang sadar kemudian mengatur nafas dan emosinya.
"Dit, gue harus apa?" tanyanya
"Apa apa gimana maksudnya?"
"Hah, taulah. mending ngomong sama tembok! , dah ke kantin aja, bisa bisa kebakar gue nanti" lanjutnya sewot. Dimas sudah malas mau membahas hal tersebut dengan Radit, kadang Radit ini emang rada lola.
Mereka berdua duduk di dalam kantin. Kantin mereka memang hanya dibatasi oleh kaca transparan, jadi bisa saja melihat keluar. Radit menikmati makan siangnya, berbeda dengan Dimas yang hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Dia malah fokus melihat interaksi dua insan di luar kantin. Siapa lagi kalau bukan Doni dan Mayang. Saat sedang melihat mereka yang serius bercerita, tiba-tiba Dimaa menggebrak meja, membuat Radit kaget. Radit yang menyadari itu langsung menoleh ke arah Mayang. dan benar saja, Mayang dan Doni sedang duduk sangat dekat dan Mayang sedang membisikkan sesuatu ke telinga Doni. Setelah Mayang selesai membisikkan sesuatu, Doni yang tadinya terlihat santai menikmati pembicaraannya, tiba-tiba menganga dengan mata membulat, seolah tak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Tapi sayang Dimas tidak tau apa yang mereka bicarakan.
************
Mayang POV?
************
"Eh mbak, mbak itu usianya berapa?", tanya Doni
"36 tahun" jawab Mayang santai
"Kalau kamu berapa Don?" tanya Mayang
"Aku baru aja 27 mbak" jawab Doni kikuk. Dia setengah kaget mengetahui umur Mayang. Dulu, dia mengira jika Mayang hanya terpaut 2 tahun lebih tua darinya. Tidak taunya terpaut sembilan tahun. Karena memang Mayang tidak terlihat setua itu.
"Kamu tau nggak? Kamu itu mirip sekali dengan dengan seseorang." ujar Mayang
",Siapa mbak?" tanya Doni penuh selidik
Mayang kemudian mendekatkan diri ke Doni.
"Hwaahhhh.....mbak serius?" tanya Doni kaget setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Mayang.
"Sumpah mbak? mbak ga bohong?" tanya Doni kembali meyakinkan, siapa tau dirinya hanya di prank.
"Serius," jawab Mayang dengan mata penuh kejujuran, "Mata kamu, rambut kamu, postur tubuh kamu itu persis sekali.." imbuhnya.
"Loh,, ku kira embak single?"
"Emang single kan?" jawab Mayang santai.
"Maksudnya kok bisa mbak.....'' tanya Radit, belum selesai dia berbicara sudah di potong Mayang.
"Ceritanya panjang, hemph" jawab Mayang berat.
"Makanya mbak seneng banget pas lihat kamu, rasa rindu mbak sedikit terobati" ujar Mayang.
"Oohh, jadi karena itu mbak perhatian banget ke aku, sampai sampai ngasih bekal ke aku", ucap Doni seolah dia tersadar, siapa dia dimata Mayang.
"Tapi mbak kok bisa ..." belum selesai Doni bertanya, sudah di potong oleh Mayang
"Udah kita jangan bahas itu lagi, walaupun kita bahas, tidam ada yang akan berubah" jawab Mayang. Dia menunduk. Seakan ada hal yang ingin dia sembunyikan. Bahkan dapat dilihat oleh Doni, jika Mayang sedikit bergetar ketika membicarakan hal tersebut. Mimik mukanya juga terlihat sedih ketika menceritakan hal itu. Matanya juga berkaca-kaca. Mengetahui hal itu Doni hanya bisa terdiam menuruti perkataan Mayang. Satu yang jelas, hal itu adalah hal menyakitkan bagi Mayang.