Maaf ya guys...
Masih edisi revisi, belum bisa up bab selanjutnya.
Mohon maaf sekali.
Wemoga hari kalian menyenangkan.
Happy reading gengs??
*********
Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Artinya jam kantor sudah usai. Waktunya menyudahi segala hubungan dengan tumpukan berkas yang selalu setia menemani seharian. Dimas dengan semangat beranjak dari tempat duduknya, mas bodoh dengan kerjaan yang belum selesai. Dia harus segera menyelesaikan misinya. Apalagi kalau bukan mendekati Mayang.
Setelah melihat kedekatan Mayang dan Doni tadi siang, dia memantapkan hatinya, untuk melakukan sedikit kemajuan dalam mendekati Mayang. Dia tidak mau kalah start dengan Doni.
"Akhirnya, sore juga._," ucapnya seraya menyimpan file pekerjaan dan mematikan komputer. Tak luap, untuk melancarkan aksinya, dia menulis pesan untuk Mayang.
[Mayang, tolong tunggu saya sebentar, ada yang mau saya bicarakan]
Namun sayang, pesan itu tidak mendapatkan balasan. Dengan sigap, dia menyaut jas dan tas kerjanya, kemudian segera berlari keluar dari ruangannya. Bahkan ketika menuju lift, dirinya menabrak karyawan lain yang juga akan pulang. Mereka hanya menatap heran, tidak biasanya Dimas bersikap seperti itu, Dimas akan selalu menunjukkan kesan berwibawa kepada setiap orang yang ditemuinya. Tapi kali ini, sepertinya dia memang sangat tergesa-gesa. Radit yang menjadi korban tabrakannya pun bingung,
"Woe... mau kemana?" teriaknya, hanya saja tidak ada jawaban dari Dimas. Semua orang hanya saling pandang. Kemudian melanjutkan langkah mereka..
Sesampainya di lobby, Dimas tidak mendapati sosok yang dicarinya. Pandangan nya mengitari sekeliling lobby. Tetapi dia tidak menemukan Mayang juga. Dengan sigap dia berjalan keluar gedung, dan benar saja dia mendapati Mayang sedang berjalan beriringan dengan Doni, sepertinya mereka akan menuju hal bus.
Tanpa pikir panjang, Dimas langsung berlari ke arah mereka. Dimas menarik lengan Mayang dari belakang hingga tubuhnya terbalik mengadap Dimas. Mayang kaget dengan hal itu.
."Aw..sakit pak, sakit" Mayang berusaha melepas cengkraman tangan Dimas tapi tidak bisa. Tapi rintihan itu tidak digubris oleh Dimas
"Maaf mas, saya pinjam Mayang sebentar", tanpa menunggu jawaban, Dimas langsung menarik Mayang menjauh dari Doni. Hatinya hanya ketar katir melihat apa yang baru saja dilihatnya. Tapi hal itu dibiarkannya, mengingat dia sudah tahu siapa Mayang dan bagaimana pandangan Mayang terhadap dirinya. Dirinya berpikir keras, apakah rasa sukanya pada Mayang benar adanya? Apa yang harus dia lakukan? Hal itu membuat Doni hanya bisa diam mematung.
Melihat Doni yang tidak mengikuti mereka, Dimas melunakkan cengkraman tangan pada Mayang. Dan berjalan menuju parkiran perusahaan.
"Pak tolong lepasin pak, sumpah sakit ini pak?" Dari tadi Mayang berusaha melepaskan cengkraman tangan Dimas, tapi tidak bisa. Bahkan sepanjang jalan dari depan gedung perusahaan dirinya sudah merintih, meminta Dimas agat melepaskan cengkraman tangannya, tapi sepertinya Dimas tidak mendengar suara Mayang.
Dimas berhenti dan berbalik melihat gadisnya. Benar, mukanya merah seperti kesakitan.
"Maafkan saya,", ujarnya sembari melepaskan cengkraman tangan Mayang. Mayang jelas marah, tapi di tahannya, mengingat dia hanya karyawan biasa.
"Bapak ada perlu apa, sampai menarik saya seperti itu?" tanya Mayang sambil menahan rasa sakitnya atau malah mungkin air matanya. Bahkan nada bicaranya sudah mulai bergetar, tapi tetap ditahannya. Dia tidak ingin memperburuk keadaan dirinya.
"Ayo ikut saya sebentar.." Dimas mulai menarik tangan Mayang lagi. Tapi Mayang tidak bergerak sama sekali. Hal itu membuat Dimas menengok ke arah Mayang.
"Apakah bapak tidak bisa bicara dengan baik sebelum menyeret saya? Apakah bapak pikir, bapak boleh melakukan ini pada saya? Apakah menurut bapak saya semurah itu? Apakah........", Belum selesai Mayang berbicara, tapi dia sudah tidak bisa menahan air matanya. Dirinya merasa begitu rendah dan tidak berharga. Isak tangisnya semakin menjadi. Entah apa yang membuat dirinya berkata seperti itu.
Melihat Mayang menangis, Dimas melepaskan tangan Mayang. Dimas mendekat dan memeluk gadis yang ada depannya. Dimas mengelus dengan lembut kepala Mayang.
"Maafkan saya, saya tidak bermaksud seperti itu..." belum selesai Dimas berbicara, Mayang sudah mendorongnya menjauh.
"Tidak bisakah bapak menghormati karyawan seperti saya" ucapnya sesenggukan. "bukan, bukan menghormati, setidaknya hargai saya pak, saya memang karyawan rendahan pak, tapi tak bisakah bapak memperlakukan saya selayaknya orang lain? Tanpa memandang jabatan, tapi sebagai manusia kepada manusia yang lain?" imbuhnya.
Dimas berusaha mendekati Mayang dan meraih tangan gadis itu dalam genggamannya.
"Bukan, bukan begitu maksud saya..." belum selesai dirinya berbicara, Mayang sudah mengibaskan tangannya. Dia berbalik, berjalan pergi meninggalkan Dimas.
"Mayang.... bukan begitu maksud saya..." ujarnya, mengejar Mayang.
"Lalu apa maksud bapak?", Mayang berhenti sejenak berbalik melihat ke arah Dimas yang sudah berada di belakangnya.
"Ee...e...e maksud saya...." Karena terlalu lama Dimas tidak bisa menjelaskan, Mayang sudah berbalik meninggalkan dirinya di tempat parkir.
Dimas yang melihat hal itu menendang ban mobilnya.
"Sial...." teriaknya frustasi.
"Padahal aku cuma mau bilang kalau aku cemburu dia dekat dengan Doni" makinya dalam hati
Meskipun dia sedang frustasi, Dimas tidak ingin meninggalkan gadis tersebut. Dia tidak akan membiarkan gadis tersebut menangis sendirian. Dimas kemudian berjalan meninggalkan parkiran perusahaan. Mengejar Mayang yang telah meninggalkan dirinya sendirian.
Ternyata, di ujung parkiran ada sepasang mata yang melihat pertengkaran mereka. Ada sedikit rasa kecewa dan juga iri. Kedua rasa itu sekarang sedang menjelma menjadi sebuah kebencian. Dirinya menerawang kejadian beberapa hari yang lalu.
POV Santi
"Pagi pak..." sapa Santi kepada Dimas. Dia sudah memasang senyum manis. Bahkan, dia memakai minyak wangi yang banyak, sudah seperti habis mandi minyak wangi.
Tapi ternyata sapaan tersebut, juga di acuhkan oleh Dimas seperti biasanya. Dia segera kembali ke meja kerjanya.
"Coba saja pak Dimas itu agak ramah dikit, pasti gak bakal jadi perjaka tua" ucap Santi sedikit kesal.
"Pak Dimas siapa san?" tanya Mayang.
"Itu loh mbak, yang barusan ku sapa" jawab Santi sambil menunjuk ke arah perginya Dimas menggunakan dagu.
"Oowwhhh...namanya pak Dimas" ucap Mayang manggut manggut. Dia tidak melihat dengan jelas bagaimana wajah pria yang dimaksud oleh Santi, karena dia selalu menunduk. Tapi Mayang sedikit mengerti, kalau Santi mungkin menyukai lelaki tersebut. Karena gaya menyapa Santi pada lelaki tersebut sangat berbeda.
"Mbak jangan suka sama dia loh, itu punya aku"
"Hahaha, enggaklah San. Kamu sendiri kan tau siapa mbak, masa iya lelaki seperti itu mau sama embak, terlalu rugi" jawab Mayang sembari tertawa kecil
"Betul juga sih mbak, aku aja begini di abaikan ya kan? Mungkin orang di atas beda pemikiran dengan kita kan ya mbak?"
"Bisa jadi..." jawab Mayang manggut manggut
"Tapi gak pa pa mbak, aku akan tetap mencoba, barangkali luluh suatu saat" jawab Santi semangat.
"Semangat Santi, kamu cantik" imbuhnya, memuji dirinya sendiri.
"Iya san, Semangat..kamu cantik" jawaban Mayang itu membuat Santi merasa ada orang yang memihak dan menyemangati dirinya.