kalau ada yang typo, maap yakk...
selamat membaca ?
***************
Sepanjang jalan Mayang hanya menunduk. Dia tidak ingin orang yang sedang lalu lalang melihatnya menangis. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya dengan sempurna. Meskipun banyak mata yang melirik, setidaknya mereka tidak tahu, jika dirinya sedang menangis. Tiba-tiba, berhenti dan duduk begitu saja, dia membenamkan wajahnya dalam lututnya, memeluk erat kedua kakinya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa........", Mayang menjerit sekencang-kencangnya, dia tidak peduli dengan orang yang memandangnya. Tapi tidak ada satupun orang yang berani mendekatinya.
Ya Tuhan, apa salah ku, kenapa aku harus mengalami ini?" jerit batinnya.
Dimas yang sedari tadi mengikuti Mayang sedikit jauh dibelakang, meras sangat bersalah. Dia ingin mendekat, tapi dia takut jika Mayang lebih takut lagi padanya. Dimas hanya bisa memandang nya dari jauh, tangannya mengepal keras. Ada rasa sesak di dadanya.
apakah sebesar itu kesalahanku?" kecamuknya dalam hati.
Setelah beberapa saat Mayang dalam posisi itu, dia beranjak berdiri, dan melanjutkan perjalanan menuju halte bus. Dimas yang melihat Mayang sudah bisa berjalan dengan tegap meski sesekali menunduk, dia yakin bahwa mungkin Mayang sudah merasa sedikit lebih baik. Dimas tetap mengikutinya dari kejauhan tanpa disadari oleh Mayang.
Tidak apa-apa Mayang, Kamu bisa, Tuhan selalu di sampingmu " batin Mayang yang menyuarakan semangat untuk dirinya sendiri.
Tak berselang lama, setelah sampai di halte bus, bus yang di tunggu tiba. Dari kejauhan, Mayang masih terlihat sesekali menyeka air matanya.
Mayang segera naik ke dalam bus yang biasa dia naiki. Dia duduk dibangku dekat jendela. Dirinya melihat kearah luar jendela bus. Dia melihat lalu-lalang kendaraan yang melintasi jalan itu. Sebenarnya, hal itu juga dilakukan, karena tidak ingin ada orang yang melihat matanya bengkak dan merah.
Bus mulai melaju. Mayang masih melihat' kearah luar jendela. Saat dirasa dia mulai lelah, dia mencoba ingin menyapa orang yang duduk disampingnya. Dia sejak tadi tahu ada orang yang duduk di sebelahnya. Tapi dia masih enggan menunjukkan wajahnya yang bermata bengkak. Mayang berbalik membelakangi jendela untuk menyapa orang yang duduk sebelahnya. Dia menundukkan kepalanya, memberi hormat disertai senyum manis.
Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika melihat orang yang duduk di sebelahnya adalah Dimas.
Seketika sneyum manisnya hilang, dia dengan sigap ingin berdiri, dan segera ingin meninggalkan tempat duduknya. Baru saja dia akan beranjak, masih dalam posisi setengah terduduk, Dimas sudah menarik pergelangan tangannya kembali. Posisi itu membuat dirinya justru semakin dekat dengan wajah Dimas
"Disini aja. Kalau kamu pergi semua orang tau kamu menangis. Kalau kamu teriak, mereka akan panik. Lihatlah, sekarang saja mereka sudah memperhatikan kita" ucap Dimas sedikit berbisik, dengan wajah datar.
Mayang melihat kearah penumpang yang lain, benar saj, mereka sedang memperhatikan mereka berdua. Mayang tersenyum canggung dan membenarkan posisi duduknya. Dia menarik tanganya, tapi ternyata cukup erat Dimas memegang nya.
Mayang hanya bisa mendesah berat. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela. Air mata yang tadinya sudah mulai kering, kini kembali menetas, bahkan semakin deras. Sesekali tangan kirinya mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Hatinya begitu perih.
Kenapa? Kenapa aku selalu seperti ini? jerit batinnya menangis.
Tiba-tiba, tangan yang sedari tadi memegangmya, kini berubah menjadi genggaman. Iya. Dimas menggenggam tangannya, meletakkan tangan itu diatas pahanya. Dimas mengelus lembut punggung tangan itu.
Tanpa Mayang sadari, hal itu sedikit menenangkan. Tapi dia lebih takut. Dia mencoba menarik tangannya, tapi tidak bisa. Pilihan terakhir hanyalah pasrah. Dia membiarkan Dimas mengelus lembut punggung tangannya. Dia tetap mengarahkan pandangannya kearah luar jendela. Air matanya semakin deras. Dia menahan diri agar, tangisnya tidak terdengar orang lain. Hal itu membuat dirinya menahan sesenggukannya, yang membuat hatinya semakin sesak.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam, tanpa sepatah katapun. Dimas masih tetap mengelus tangan Mayang. Sesekali dia mendengar tangisnya. Dimas sebenarnya ingin sekali berbicara, menjelaskan situasi ini. Tapi menurutnya, waktu itu tidaklah tepat. Bisa saja penjelasannya justru akan membuat permasalahan itu semakin rumit.
Saat bus hampir sampai di halte bus dekat kontrakannya. Mayang menekan tombol pemberhentian. Dia segera berdiri, tapi tangannya masih dalam genggaman Dimas.
"Mohon ijinkan saya turun pak. Saya ingin pulang", katanya lembut tapi tegas. Sorot matanya juga tidak bersahabat.
Dimas yang tau itu akhirnya melepaskan genggamannya, membiarkan Mayang turun. Saat bus mulai melaju kembali, Dimas segera menengok, ke arah mana gadis itu pergi. Benar saja, Gadis itu berjalan menuju gang di dekat halte bus tersebut. Dimas kembali berpikir, apakah Mayang akanq baik baik saja? mengingat sebelum naik bus, dia menjerit kencang seperti orang gila.
bodoh, lu bodoh. lu gegabah Dim. rutuknya pada diri sendiri.
*****
Sesampainya di rumah, dia memang lelah, lelah sekali. Tapi entah mengapa, dia tidak bisa tidur sama sekali. Otaknya masih dipenuhi pikiran tentang Mayang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Haish....." desahnya, mengacak-acak rambutnya frustasi.
Banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, tapi dirinya tidak tertarik sama sekali. Dirinya hanya tertarik pada Mayang..
Dan apa? Justru dia mengacaukan semuanya hanya karena cemburu buta. Padahal dia dan Mayang tidak memiliki hubungan apapun.
"Sial...." makinya frustasi. Dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang kamarnya.
apa gue kesana sekarang aja, melihat kondisinya. gue beneran gak tahan" batinnya.
Tanpa pikir panjang dirinya beranjak, mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Dia melesat meninggalkan apartemennya.
Dalam perjalanan, Dimas menyalakan musik melow untuk menenangkan emosinya.. Sebenarnya dia ingin menangis atau marah. Dirinya sendiri tidak tahu. Perasaan resah, gelisah yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dan itu gara-gara seorang wanita.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akibat macet, akhirnya dia tiba di halte bus tempat pemberhentian Mayang tadi siang. Dimas melihat sekeliling, dia mencari gang tempat Mayang berbelok tadi siang. Dan benar saja, ada gang di dekat halte bus itu.
Dimas mulai menginjak gas mobilnya, ketika akan berbelok, di dapatinya orang yang tidak asing olehnya. Benar sekali. Mayang.
Mayang sedang duduk sendiri di depan sebuah toserba. Di depannya ada segelas jus, entah jus apa. Rambutnya dikuncir tinggi. Dia memakai mantel besar, yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bisa dibilang mantel tersebut kebesaran untuk ukuran tubuh Mayang yang kecil ramping, tapi memang d*danya bagus. Mayang duduk termenung, dia memandang kosong jalan yang ada si hadapannya. Meskipun agak gelap, tatapan matanya sayu.
Dimas menepikan mobilnya. Memperhatikan Mayang dari dalam mobil itu
"syukurlah dia baik baik saja" gumamnya.
Dimas membuka pintu mobilnya, berniat mendekati Mayang untuk meminta maaf. Tapi hal itu di urungkannya ketika mendapati Mayang tengah mengusap kedua matanya, kemudian menjatuhkan kepalanya diatas meja yang ada di depannya. Melihat hal itu, Dimas semakin sesak dibuatnya.
Dia tidak mengira, bahwa menarik tangan Mayang, akan membuat luka sedalam itu untuk wanita idamannya.
Tes.. Air matanya jatuh. "Maafkan aku" gumamnya.