Typo tolong tandain yaakkk.....
Happy reading gengs ??
*************
Mayang terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat kemudian menatap ke arah luar jendela kamarnya. Masih gelap. Mayang beranjak dari dari tempat tidurnya. Dia menatap dirinya di cermin.
"Yah bengkak, mana jadi tambah sipit lagi, aduh gimana ini?" gumamnya panik melihat matanya yang bengkak. Bagaimana tidak bengkak, dari sepulang kerja dia menangis.
"Masih pagi ini, kayanya masih ada waktu buat kompres ni mata", Mayang keluar dari kamarnya, hendak mengambil es di lantai bawah kontrakannya. Tapi dia berhenti sejenak, melihat meja mesin jahit tua yang dia taruh di dekat pintu kamarnya.
"Apa kabar mas? Semoga baik baik saja" ucapnya tertahan sembari mengelus mesin jahit itu. Air matanya menetes, hatinya perih setiap kali melihat mesin jahit itu.
"Kamu gak boleh nangis Mayang, semua sudah tidak bisa berubah. Kamu tidak bisa kembali." ucap Mayang mengusap air mata, menyuarakan semangat yang justru membuatnya ingin menyerah.
Mayang lekas beranjak ke kamar mandi, mandi. Meskipun masih jam 4. Mayang memang terbiasa bangun pagi. Untuk memasak dan membersihkan rumah sebelum berangkat bekerja. Rutinitas itu sudah menjadi kebiasaan Mayang.
Selesai mandi, terdengar suara adzan. Mendengar itu, Mayang menyegerakan sholat subuh. Satu-satunya cara Mayang untuk mengingat bahwa masih ada yang menyayangi dirinya, dan selalu bersamanya. Tuhan.
Sebelum berangkat bekerja, Mayang mengompres matanya yang bengkak.
"Lumayan lah, tidak terlalu besar seperti tadi" gumamnya melihat matanya di cermin. Mayang segera berganti pakaian kerja. Mayang memang pandai memilih warna untuk mempercantik dirinya. Make up tipis dan lipstik peach. Membuat dirinya terlihat lebih muda dari umurnya. Tak lupa dia mengenakan Mantel besar dan panjang, hampir setumit untuk menutup rok kerjanya yang hanya selutut.
"Oke, mari berangkat Mayang." ucapnya menyemangati diri.
Mayang keluar dari kontrakannya, berjalan menuju halte bus.
Sesampainya di sana, dirinya duduk menunggu bus datang.
Dia melihat sekeliling, dilihatnya sebuah mobil terparkir tidak jauh dari tempatnya duduk. Mayang tidak mengenalinya. Mayang mengeluarkan ponsel dari tasnya. Menyekrol sosial media di ponselnya.
Sementara itu, Dimas memandang Mayang dari dalam mobil miliknya. Ya, mobil yang terparkir tidak jauh dari halte bus tempat Mayang duduk tersebut adalah mobil Dimas. Dimas sudah rapi dengan pakaian kerjanya sepagi ini. Dari semalam dirinya tidak bisa tidur. Mengingat wanita pujaannya menangis gara gara dirinya. Dimas menunggu Mayang kembali ke kontrakannya tadi malam. Dirinya hanya bida melihat Mayang dari dalam mobilnya.
Bahkan, sampai saat ini, Dimas merasa sangat bersalah. Dia tidak tau, jika menarik lengan Mayang membuat wanita itu menangis seperti itu. Saat wanita diluar sana menggoda dirinya agar bisa menempel padanya, tapi Mayang, satu-satunya wanita yang membuat nya tertarik justru seperti ketakutan.
***
Sesampainya di kantor, Mayang segera meletakkan tas dan mantelnya di ruang istirahat. Segera dia menuju meja kerjanya. Tapi disana sudah ada satu botol jus jambu kemasan dan satu bungkus roti. Secarik kertas tertempel pada kemasan jus tersebut.
[To : Mayang. Semoga kamu selalu berbahagia].
Mayang melihat sekeliling, tak ada seorang pun disana. Bahkan Santi pun belum datang. Doni juga belum datang.
"apa mungkin pak Dimas?" batinnya.
Mengingat hal itu, Mayang tidak ingin mengambil minuman tersebut. Dia justru ingin membuangnya. Tapi ketika hendak membuangnya, tiba tiba Dimas baru saja masuk loby kantor. Sepertinya Dimaa baru saja sampai di kantor.
"Selamat pagi pak.." sapa Mayang profesional terhadap pekerjaannya.
"Iya, selamat pagi.." jawab Dimas, tenang, melewati Mayang begitu saja. Seolah olah tidak pernah terjadi apa apa diantara mereka berdua. Bahkan biasanya Dimas hanya membalas sapaan receptionis hanya dengan senyuman, bahkan senyumannya terlihat dipaksakan.
Mayang memandang kearah perginya laki laki yang telah membuat dirinya menangis kemarin. Dia memandang pada botol minuman dan Dimas secara bergantian. Dia ternganga heran.
"Apa ini? Kok tumben dijawab?" gumamnya
"Kalau pak Dimas baru berangkat, trus minuman ini dari siapa dong?" lanjutnya lirih. Mayang frustasi mengingat hal itu. Dia meletakkan minuman itu, kembali ke atas meja.
"Gak pa pa lah, lagian aku juga untung, dapat minum gratis. Semoga harimu juga membahagiakan" lanjutnya, memberikan ucapan kepada orang yang memberikan minuman itu kepadanya, yang entah siapa orangnya. Mayang kemudian melanjutkan pekerjaannya.
***
Dimas duduk di ruang kerjanya. Menikmati minuman yang sudah dia beli.
"Ah, segarnya.." ucapnya lirih.
"Semoga Mayang mau meminum jus tadi'" lanjutnya.
Iya benar, jus jambu yang ada di meja Mayang memang pemberian dari Dimas. Dimas yang terlebih dahulu sampai di kantor, membelikan jus jambu untuk Mayang, dan menaruh di meja kerja Mayang. Kemudian Dimas kembali keluar gedung, menunggu agak jauh, sembari menikmati sarapan, di warung depan kantor.Hal itu dilakukan, agar Mayang tidak tau siapa yang menaruh minuman tersebut. Dan benar saja, setelah dirasa Mayang sudah sampai, Dimas berjalan masuk ke loby kantor. Seolah olah dirinya baru saja tiba di kantor.
"Padahal sudah bertahun-tahun aku gak tertarik dengan wanita, sekali tertarik justru aku membuat dirinya benci kepada ku" ucapnya mengacak rambut frustasi.
"Gimana sih dim gimana?" imbuhnya.
"Aish, masa bodoh, kita mengalir saja. Sekarang mari kita kerja, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab", ucap Dimas, mulai memantapkan diri mengerjakan berkas yang belum terselesaikan kemarin. Dia berusaha fokus, tapi kadang pikirannya mengingat kembali betapa kacaunya hubungan dirinya dengan Mayang. Eh, bukan hubungan, tapi tahap pendekatan dengan Mayang.
***
"Pagi dek..." ucap Mayang menyambut kedatangan Santi. Tapi yang terjadi, Santi justru langsung duduk, tanpa menjawab sapaan Mayang. Bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tidak seperti biasanya.
Mayang kemudian menoleh "emm..." ucapnya tertahan. Melihat mimik muka Santi yang tidak bersahabat, Mayang mengurungkan niatnya. Bahkan sampai siang menjelang, Santi diam seribu bahasa. Tidak mengajak Mayang mengobrol seperti biasanya. Hal tersebut Membuat Mayang sadar kalau Santi sedang tidak ingin berbicara dengan dirinya. Tapi masalahnya, dia tidak tau salah apa yang telah dirinya perbuat, sehingga Santi bersikap seperti itu kepadanya. Mayang menepis pikiran negatif nya, "mungkin dia sedang ada masalah" batinnya.
Saat jam sudah menunjukkan jam makan siang, setelah bekerja dalam diam, akhirnya Mayang memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"San, mau beli makan bareng atau nitip", tanyanya dengan nada selembut mungkin, seperti seorang ibu yang sedang bertanya kepada anak kesayangannya. Bukannya mendapat respon baik, justru Santi menoleh dengan pandangan tak suka kepada Mayang. Tidak sampai situ, Santi bahkan melengos pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Mayang sedikit pun. Hal itu membuat Mayang sadar, kalau Santi sedang marah kepadanya.
#Terimakasih sudah mampir ke cerita ku ya. ?