Perceraian itu berjalan dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh keluarga yang sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.
Pengacara keluarga sudah siap dengan berkasnya dalam seminggu. Bukti foto diterima tanpa bantahan yang berarti — Danu, teman kampus itu, menghilang entah ke mana; ketika Amara mencarinya untuk bersaksi, nomornya mati dan akun-akunnya menguap, seolah lelaki itu tidak pernah ada. Bimo tidak datang ke satu pun sidang; wajahnya diwakili kuasa hukum, dan kata-kata terakhirnya sampai ke Amara lewat selembar pesan yang diketik orang lain: *'Aku tidak sanggup melihatmu. Maafkan aku. Demi nama baik keluarga, ini harus selesai cepat.'*
Demi nama baik keluarga. Bukan demi kebenaran. Bukan demi tiga tahun mereka. Demi nama baik keluarga.
Putusan itu turun. Dan pengusiran itu datang pada sore yang sama.
Amara mengemas barangnya ke dalam dua koper di sayap timur, dikawal oleh dua pembantu yang tidak berani menatapnya dan satu mandor yang bertugas 'memastikan tidak ada barang keluarga yang terbawa'. Perhiasan pemberian Bimo dicek satu per satu ke daftar. Sebuah gelang pemberian ibunya sendiri nyaris disita karena 'tidak ada di catatan'.
Saat melewati ruang tengah dengan koper-kopernya, ia berhenti di depan kursi singgasana. Laksmi duduk di sana dengan tenang seorang ratu yang baru menang perang tanpa mengangkat senjata.
'Kamu tahu aku tidak berselingkuh,' kata Amara. Bukan tuduhan emosional — pernyataan, dingin, di antara dua perempuan yang sama-sama tahu kebenarannya.
Laksmi menyesap tehnya. 'Yang aku tahu, rumah ini bersih lagi. Pergilah baik-baik, Amara. Kamu perempuan pintar; kamu akan bertahan di luar sana.'
'Aku akan lebih dari bertahan.' Amara menatap mertuanya untuk terakhir kalinya. 'Aku akan kembali dengan jawaban. Dan ketika aku kembali, Ibu akan mengerti bahwa hari ini bukan akhir ceritaku — hari ini adalah awal dari akhir cerita Ibu.'
Laksmi tertawa kecil — tawa pemenang yang tidak repot-repot menyembunyikan kemenangannya. 'Semoga beruntung, Nak.'
Pintu rumah besar itu tertutup di belakang Amara dengan bunyi yang lembut dan final.
Dua minggu kemudian, di kamar kontrakan kecil di pinggiran kota, Amara duduk di tepi tempat tidur sempit dengan dua garis merah muda di tangannya.
Test pack itu tidak bohong.
Ia hamil. Enam minggu — dari minggu-minggu terakhir sebelum badai, dari sisa-sisa pernikahan yang masih hangat. Anak Bimo. Cucu Laksmi. Darah Sjarifudin yang sedang tumbuh di dalam perempuan yang baru saja dibuang dari daftar keluarga itu.
Amara menangis malam itu — tangis pertama yang benar-benar lepas sejak semuanya dimulai. Tangis untuk pernikahannya, untuk aib yang tidak ia buat, untuk anak yang akan lahir ke dunia yang rumit.
Lalu, di tengah malam, ia menyeka wajahnya dan mengambil keputusan yang akan menentukan segalanya.
Tidak ada yang boleh tahu.
Bukan karena malu. Karena ia sudah belajar bagaimana keluarga itu bekerja: mereka mengambil apa yang mereka inginkan dan membuang sisanya. Kalau mereka tahu ada bayi Sjarifudin di kandungannya, mereka akan datang — bukan untuknya, tetapi untuk anaknya. Mereka akan merebutnya dengan pengacara, dengan uang, dengan nama besar.
'Kamu bukan milik mereka,' bisik Amara pada perutnya yang masih rata. 'Kamu milikku. Dan mulai malam ini, aku bukan lagi perempuan yang dibuang. Aku adalah ibu yang sedang membangun benteng.'
Ia membuka laptopnya, dan mulai menulis rencana. Bukan rencana balas dendam yang membabi buta — rencana seorang konsultan kepatuhan yang tahu persis di mana tulang-tulang sebuah dinasti disembunyikan.