Sembilan bulan berikutnya adalah tahun terberat dan terbersih dalam hidup Amara.
Berat, karena ia menjalaninya sendirian: kontrakan kecil, kehamilan yang makin besar, dan pekerjaan lepas yang ia kerjakan dari laptop — membaca kontrak dan laporan kepatuhan untuk firma-firma kecil yang tidak bertanya mengapa konsultan sekalibernya bekerja dari kamar kontrakan. Bersih, karena untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada satu pun hari yang harus ia lewati dengan menelan penghinaan di meja makan orang.
Anaknya lahir di rumah sakit umum pada malam hujan — perempuan, sehat, dengan suara tangis yang membuat Amara tertawa dan menangis bersamaan. Di kolom nama ayah pada akta kelahiran, Amara menuliskan kenyataan dengan tenang: nama Bimo Sjarifudin. Bukan untuk membuka pintu bagi keluarga itu — tetapi karena anak ini berhak atas identitasnya, dan kebenaran tidak boleh dipalsukan bahkan oleh ibu yang sedang marah.
Nama anak itu: Naraya. 'Cahaya yang berjuang.'
Dan sambil menyusui di malam-malam panjang, Amara mulai menarik benang pertamanya.
Benang itu bernama Danu Wicaksono — teman kampus yang 'menghilang' tepat setelah foto-foto itu beredar. Konsultan kepatuhan dalam diri Amara tahu: orang tidak menghilang; orang dipindahkan. Ia mulai dari hal yang paling kecil: jejak digital Danu sebelum menghilang. Lalu rekening-rekening yang berhubungan. Lalu satu nama perusahaan event kecil yang membayar 'jasa konsultasi' kepada Danu dua minggu setelah reuni — perusahaan yang pemiliknya, setelah ditelusuri tiga lapis, adalah sepupu dari Cempaka.
Amara menatap layar laptopnya jam dua pagi, dengan Naraya tidur di dadanya, dan merasakan seluruh tubuhnya dingin.
Dugaan selama ini sudah ia kunci di dadanya. Tetapi melihatnya dalam bentuk dokumen adalah hal lain: fotografer dibayar, teman lama dibayar, dan ujung-ujungnya mengalir ke lingkaran Cempaka. Perceraiannya bukan tragedi keluarga. Perceraiannya adalah proyek — dengan anggaran, jadwal, dan eksekutor.
Ia tidak meledak. Ia malah tersenyum kecil di kegelapan kontrakan, sambil menepuk punggung bayinya.
'Nak,' bisiknya, 'Mama baru menemukan pintu mereka. Sekarang Mama tinggal berjalan masuk.'
Pekerjaan selanjutnya memakan waktu berbulan-bulan, dikerjakan di sela-sela popok dan susu: membangun rantai bukti yang sah — karena Amara tahu, melawan keluarga seperti Sjarifudin dengan bukti yang lemah sama dengan bunuh diri. Setiap dokumen ia verifikasi, setiap benang ia ikatkan ke dokumen pendukung, setiap langkah ia konsultasikan diam-diam kepada satu-satunya pengacara yang ia percaya: Pak Hendra, dosennya dulu, yang menangani kasusnya dengan tarif pertemanan dan amarah seorang guru.
'Ini bukan lagi soal perceraianmu,' kata Pak Hendra setelah membaca berkasnya. 'Ini rekayasa terencana. Pemalsuan bukti, fitnah terstruktur. Kalau kamu menang, putusan lama bisa digugat ulang, dan nama baikmu dipulihkan resmi.'
'Aku tidak butuh dipulihkan, Pak,' jawab Amara, menggendong Naraya yang mulai tengkurap. 'Aku butuh mereka berdiri di depan semua orang yang dulu menontoniku memegang tas-tas mereka — dan menjelaskan dari mana foto itu datang.'
Dan pada suatu sore, ketika Naraya berusia sembilan bulan, telepon kontrakan Amara berdering dari nomor yang tidak dikenalnya.
Suara di seberang ragu-ragu, suara perempuan muda: 'Benar ini Ibu Amara? Saya... saya Vina. Mereka menjodohkan saya dengan Bimo bulan depan. Saya menemukan nomor Ibu di catatan lama Cempaka. Saya cuma mau tanya satu hal, Bu, dan tolong jawab jujur.' Suara itu bergetar. 'Rumah besar itu... apakah seburuk yang mereka ceritakan tentang Ibu, atau seburuk yang saya takutkan tentang mereka?'
Amara menatap putrinya yang sedang bermain di lantai, dan tersenyum tipis.
'Bahkan lebih buruk dari yang kamu takutkan,' jawabnya. 'Duduk, Vina. Kita perlu bicara lama.'