Vina datang ke kontrakan Amara pada hari Selasa, membawa kue dan wajah perempuan yang tidurnya sudah seminggu rusak.
Perempuan itu bukan seperti yang Amara bayangkan. Tidak ada gaya sosialita, tidak ada ambisi yang terlihat — hanya anak bungsu dari keluarga kecil yang berutang budi pada keluarga Sjarifudin, dan dijodohkan sebagai pelunasan.
'Mereka bilang Ibu perempuan tidak baik,' kata Vina, duduk di kursi kayu sempit sambil memperhatikan Naraya merangkak di lantai. 'Tapi kemudian saya menemukan catatan Cempaka — daftar pembayaran, foto reuni itu, jadwalnya. Mereka menyimpannya seperti menyimpan piala. Dan saya sadar: saya bukan calon menantu. Saya karyawan perekrutan baru.'
Amara mendengarkan, menakar kejujuran perempuan ini — dan memutuskan memercayainya. Bukan karena naif, tetapi karena Vina datang membawa sesuatu yang tidak bisa dipalsukan: catatan internal Cempaka yang ia salin diam-diam. Anggaran 'proyek reuni'. Pembayaran kepada Danu. Bahkan memo evaluasi pasca-perceraian, yang dibaca Amara dengan perut mual: *'Target tercapai. Klien puas.'*
Perceraiannya, dievaluasi seperti kampanye pemasaran.
'Dengan ini,' kata Pak Hendra ketika Amara membawa semuanya ke kantornya, 'rantainya tertutup. Fotografer dibayar perusahaan sepupu Cempaka. Danu dibayar. Catatan operasionalnya ada. Dan saksi hidup—' ia menunjuk Vina, '—bersedia bersaksi. Kita bisa menggugat ulang, Nak Amara. Dan kali ini mereka yang duduk di kursi terdakwa opini.'
Tetapi Amara menahan rencana itu satu minggu lebih lama. Karena ada satu pintu lagi yang harus ia buka sebelum hukum berbicara: pintu yang paling berat, pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Bimo.
Bukan untuk kembali. Bukan untuk memohon. Tetapi karena anaknya berhak punya ayah yang tahu kebenaran — dan karena benih keraguan yang ditanam di rumah besar itu harus ditumbuhkan dari dalam, bukan dari luar. Amara mengenal dinasti seperti Sjarifudin: mereka tidak runtuh oleh serangan luar. Mereka runtuh ketika bentengnya retak dari dalam.
Maka ia mengirim satu amplop ke alamat kantor Bimo — tanpa nama, tanpa pesan, hanya berisi tiga lembar: salinan catatan pembayaran kepada Danu, foto mentah reuni yang menunjukkan 47 frame yang dihapus, dan satu foto kecil yang ia selipkan di paling belakang.
Foto Naraya. Sembilan bulan, tersenyum tanpa gigi, dengan mata Bimo yang tidak bisa disangkal.
Di baliknya, tulisan tangan Amara — satu kalimat saja:
*'Semua yang kamu percaya tentangku adalah karya tangan keluargamu. Dan dia adalah bagian darimu yang tidak bisa mereka hapus dari daftar.'*
Amara tidak tahu kapan amplop itu akan tiba, apa yang akan terjadi setelahnya. Ia hanya tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya sejak diusir dari rumah besar, ia tidur nyenyak sambil menggendong putrinya.
Benang pertama sudah ditarik.
Sekarang tinggal menunggu sweter itu terurai.