Amplop itu sampai ke tangan Bimo pada Selasa sore, di antara tanda tangan-tanda tangan rutin. Sekretarisnya kemudian menceritakan kepada staf lain bahwa CEO mereka mengunci diri di ruang kerjanya selama tiga jam, dan ketika keluar, wajahnya seperti orang yang baru kehilangan sesuatu yang besar.
Bimo membaca tiga lembar itu berulang-ulang. Catatan pembayaran. Frame-frame yang dihapus — di mana ia bisa melihat dengan mata sendiri bahwa 'kemesraan' itu adalah jarak satu setengah meter dan tawa empat puluh orang. Dan foto kecil di paling belakang, yang ia pandangi lebih lama dari semuanya: bayi perempuan dengan matanya sendiri, dengan tulisan tangan yang ia kenal lebih baik dari tanda tangannya sendiri.
*Anakku.*
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh empat tahun hidupnya, Bimo Sjarifudin masuk ke ruang tengah rumah besar bukan sebagai anak yang patuh — melainkan sebagai lelaki yang membawa pertanyaan.
'Mama.' Ia meletakkan salinan-salinan itu di meja teh ibunya. 'Ini ada di mejaku hari ini. Jelaskan.'
Laksmi menatap kertas-kertas itu tanpa menyentuhnya. Dan dalam sedetik jeda itu — jeda seorang ibu yang menghitung apakah akan berbohong kepada anaknya — Bimo menemukan jawabannya. Ibunya tidak bertanya 'ini apa'. Ibunya tidak kaget. Ibunya menghitung.
'Kamu membawanya ke rumah ini,' kata Bimo, dan suaranya pecah di tengah. 'Foto itu. Kalian yang buat. Danu, fotografer, semuanya. Aku menceraikan istri yang tidak bersalah, Mama. Aku membiarkan kalian mengusirnya dengan dua koper—' Suaranya naik. '—dan dia sedang mengandung anakku!'
'Anak itu belum tentu—'
'MAMA!' Bimo menggebrak meja. Teh tumpah. Seluruh rumah besar membeku; pembantu-pembantu menempel ke dinding. 'Foto itu dihapus empat puluh tujuh frame untuk mendapatkan tiga! Ada pembayarannya! Cempaka yang tandatangani! Jangan dustaiku. Tidak malam ini. Tidak lagi.'
Cempaka turun dari tangga, membaca suasana dengan cepat, dan memilih jalannya: 'Kamu berteriak pada Mama demi perempuan yang—'
'Tutup mulutmu, Cempaka.' Bimo berbalik, dan kakaknya mundur selangkah — lelaki itu tidak pernah sekalipun berbicara seperti itu. 'Selama ini kamu makan dari perusahaan yang kupimpin, tinggal di rumah yang kubiayai, dan menghancurkan pernikahanku dengan tanganmu. Mulai malam ini, jangan pernah lagi bicara padaku.'
Ia berbalik menghadap ibunya — ratu rumah besar, wanita yang telunjuknya membesarkannya — dan untuk pertama kalinya, ia melihat bukan ibu, melainkan arsitek dari seluruh kehancurannya.
'Aku mencintainya, Ma,' kata Bimo, dan kali ini suaranya tenang — tenang yang lebih menakutkan dari teriakan. 'Dan kamu tahu itu. Makanya kamu tidak pernah mencoba membencinya secara terbuka. Kamu membuatku yang melepaskannya, supaya dia membenciku, bukan membencimu. Kamu memakai anakmu sendiri sebagai alat pembersih.'
'Semua yang Mama lakukan—'
'Untuk keluarga, iya, aku tahu lagunya.' Bimo mundur selangkah. 'Mulai malam ini aku pindah dari rumah ini. Dan dengarkan baik-baik: kalau satu saja orang dari keluarga ini mendekati Amara atau anakku dengan cara-cara kalian — aku sendiri yang akan membuka semua ini ke publik. Nama Sjarifudin tidak akan selamat dari itu, dan aku tidak peduli lagi.'
Ia naik ke sayap timur, mengemas koper dalam dua puluh menit, dan berjalan keluar dari rumah besar tempatnya dibesarkan — melewati papan foto keluarga yang tidak pernah memuat nama istrinya, melewati ruang makan tempat ia memilih diam, melewati pintu yang dulu tertutup di belakang Amara.
Kali ini, pintu itu tertutup di belakangnya.
Dan di dalam, di kursi singgasana ruang tengah, Laksmi Sjarifudin duduk sendirian di tengah kerajaan yang baru saja kehilangan satu-satunya ahli warisnya — karena benteng yang dibangun untuk menahan serangan dari luar ternyata selalu paling rapuh dari dalam.