Radit masih menunduk menatap sepatunya. Kantong kresek berisi keripik pare itu ia pegang dengan dua tangan, erat sekali, seolah benda itu bisa menyelamatkannya dari rasa malu.
"Mas," panggil Tari pelan.
"Iya." Radit mengangkat wajah. Telinganya merah sampai ke ujung. "Itu tadi refleks, Tari. Sungguh. Saya gak ada maksud apa-apa."
"Aku tahu." Tari menahan senyum. "Maafnya udah aku terima dari tadi. Yang belum diterima itu kreseknya, Mas. Nanti kantongnya bolong kalau dipegang sekuat itu."
Radit melirik kreseknya. Lalu ia mengendurkan genggamannya dan terkekeh canggung. Kan Radit jadi tengsin lagi!
"Pak Radit?"
Seorang perempuan berblazer krem menghampiri mereka. Langkahnya tenang, wajahnya profesional sekali, tapi sudut bibirnya berkedut seperti sedang menahan sesuatu. Radit langsung menegakkan punggung.
"Dewi. Kebetulan." Radit berdeham. "Tari, ini Dewi, staf saya. Dewi, ini Tari."
"Saya Dewi, Mbak." Dewi mengatupkan tangan di depan dada, dan Tari membalasnya dengan gerakan yang sama. "Pak Radit sering cerita, jadi rasanya saya sudah kenal."
"Saya gak sering cerita," sahut Radit cepat.
"Tiga kali dalam satu pekan, Pak. Saya hitung." Dewi menoleh pada Tari, matanya ramah. "Mbak, mari ke stand kami. Kino sama Teguh juga mau kenalan."
Stand makanan Berkah Group ada di ujung lorong, hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri. Dua pemuda menyambut dengan senyum lebar. Yang bertubuh kecil dan bicaranya paling cepat memperkenalkan diri sebagai Kino. Yang satunya lagi, berkacamata dan bersikap tenang, hanya mengangguk dan menyodorkan segelas teh dingin ke tangan Tari.
"Teguh," katanya singkat.
"Teguh ini memang hemat kata, Mbak. Tapi tehnya enak, percaya deh," bisik Kino. "Oh iya, Mbak sudah coba keripik pare? Itu produk andalan kami bulan ini. Pahitnya hilang, Mbak, hilang! Saya sendiri yang ngecek proses penggorengan-"
"Kino," potong Dewi halus.
"Siap, Mbak Dewi. Saya diem."
Tari tertawa kecil. Ia menyesap teh dingin itu, dan rasanya memang enak. Entah kenapa timnya Radit terasa seperti keluarga kecil yang saling meledek. Tari menyukainya.
"Mbak Tari kerja di bank, kan?" tanya Kino sambil menata bungkus keripik di rak. "Berarti Mbak ngerti dong soal laporan keuangan. Nanti kapan-kapan boleh kami minta tolong lihat angka-angka kami? Pak Radit suka bilang angkanya jujur, tapi saya gak yakin saya jujur ngisinya."
"Kino," ulang Dewi.
"Itu bercanda, Mbak Dewi."
"Saya tahu. Makanya saya manggil kamu."
Teguh nyaris tersenyum. Tari menutup mulut dengan punggung tangan, menahan tawa, dan ia sempat melirik Radit yang berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu pura-pura sibuk memeriksa tumpukan kardus, tapi bahunya bergetar. Radit ikut tertawa tanpa suara, dan itu pemandangan yang membuat Tari lupa sejenak pada semua yang menggantung di kepalanya.
Di dekat mereka, Dewi berdiri dengan jarak pas. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk terlihat dari mana pun. Tari baru sadar, Dewi ternyata tidak hanya kebetulan lewat tadi.
°°°°
"Pak Radit, ini ada Bapak yang mau tanya soal izin edar," kata Kino, menunjuk seorang pembeli paruh baya yang sudah menunggu di depan meja.
"Oh, sebentar." Radit menoleh pada Tari. "Kamu tunggu di sini ya. Saya tidak lama."
"Iya, Mas. Aku lihat-lihat dulu aja."
Radit pergi melayani bapak itu. Tari memutar badan, pura-pura membaca label kemasan di rak, padahal otaknya sibuk menghitung berapa kali ia sudah berbohong hari ini. Jawabannya, satu kali. Tapi rasanya seperti sepuluh.
"Tar."
Suara itu rendah dan dekat. Tari mematung. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
Akbar berdiri di dekat pilar besar, tepat dua langkah dari Tari. Bukan satu. Dua langkah penuh. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana, dan ia sama sekali tidak tersenyum. Itu saja sudah membuat Tari curiga.
"Kamu mau apa?" tanya Tari, setengah berbisik.
"Menagih janji," jawab Akbar. "Kamu bilang setuju, tapi kamu belum buka blokirnya."
Tari melirik ke sekeliling. Di seberang lorong, Radit masih sibuk dengan si pembeli. Dewi berdiri tak jauh dari rak, menatap ke arah mereka sambil pura-pura membaca daftar harga. Banyak orang lalu-lalang. Tidak ada yang sepi di sini.
"Kamu kira aku lupa?"
"Aku gak bilang begitu." Akbar menarik napas. "Kemarin-kemarin aku terlalu memaksa. Aku tahu itu. Jarak dua langkah ini aku pilih sendiri, supaya kamu gak merasa dikejar."
Tari mengerjap. Dua kalimat itu tidak masuk akal bagi Akbar yang ia kenal. Akbar yang dulu tertawa keras di kafe dan menolak berdiri sebelum ia setuju.
Di dalam kepalanya, Tari sudah menyiapkan sindiran panjang untuk menjawab Akbar yang biasa. Sekarang semua sindiran itu menganggur, dan ia tidak tahu harus memakainya untuk apa.
"Siapa yang ngajarin kamu bicara begini?" tanyanya curiga.
"Kamu. Waktu di kafe itu kamu bilang aku cuma memberimu luka." Akbar mengangkat bahu, sedikit meringis. "Sakit dengarnya, tapi benar. Jadi, buka blokirnya, Tar. Habis itu aku pergi."
Tari merogoh ponsel dari tasnya. Jarinya sedikit gemetar saat ia membuka daftar kontak yang diblokir. Nama itu masih di sana, sudah hampir empat tahun, tidak pernah ia sentuh. Ia mengangkat layar ponselnya setinggi dada, supaya Akbar bisa melihat sendiri, lalu menekan tombol buka blokir.
"Sudah," ucap Tari datar. "Puas?"
Akbar menatap layar itu beberapa detik. Matanya yang sipit melunak. "Terima kasih."
Ia tidak maju selangkah pun. Ia hanya mengeluarkan ponselnya sendiri, mengetik, lalu ponsel di tangan Tari bergetar. Satu pesan masuk, satu kata saja.
Akbar Fajriansyah: Terima kasih.
Setelah itu Akbar berbalik dan berjalan menuju stand batiknya tanpa menoleh sekali pun. Tari menatap punggung itu. Ia bingung, bukan lega.
"Mbak Tari?"
Dewi sudah ada di sampingnya. "Pak Radit sudah selesai. Katanya Mbak mau pulang sekarang? Sudah mulai ramai di luar."
"Iya, Mbak. Aku bawa motor, parkirnya di bawah."
°°°°
Radit mengantar sampai ke tempat parkir di lantai bawah, dengan Dewi berjalan dua langkah di belakang mereka. Radit sendiri berjalan agak jauh di sisi kanan Tari, jarak yang pas untuk dua orang yang belum boleh berdekatan, dan ia tampak sangat sadar akan jarak itu.
"Itu motor kamu?" Radit menunjuk motor matic merah yang diparkir di ujung barisan.
"Iya, Mas. Si Merah."
"Dia kelihatan sehat," ujar Radit serius. Dewi terbatuk di belakang mereka, entah karena apa.
"Motornya, Mas?" Tari menahan tawa.
"Motornya. Iya." Radit meringis, sadar ucapannya terdengar aneh. "Maksud saya, saya lega kamu pulang naik kendaraan yang kelihatan terawat. Tolong jangan ngebut."
"Aku gak pernah ngebut. Ditanya aja sama Mama."
"Kalau Tante Melati yang jadi saksi, saya percaya."
Dewi terbatuk lagi, lebih keras.
Tari memakai helmnya, lalu menaiki motor. Radit menyerahkan kantong kresek keripik pare itu dengan hati-hati, memastikan ujung jarinya tidak menyentuh tangan Tari. Tari memasangkannya di gantungan motor.
"Titip salam buat Om Rosidi dan Tante Melati," kata Radit. "Dan Arif. Kalau keripiknya habis dimakan dia sendiri, bilang saja itu bukan salah saya."
Tari tertawa. "Siap, Mas."
"Tari." Radit menahan kata-katanya sebentar. "Kabari kalau sudah sampai."
Tatapannya lurus dan sederhana, dan itu justru yang paling membuat dada Tari hangat sekaligus nyeri. Orang sebaik ini sedang ia bohongi.
"Iya, Mas. Pasti."
Tari menyalakan mesin dan melaju keluar dari area parkir. Di kaca spion, ia melihat Radit masih berdiri di tempatnya, melambaikan tangan setengah canggung, dengan Dewi di sampingnya yang pura-pura sibuk menatap langit-langit.
Ia baru sampai di lampu merah pertama ketika ponsel di dalam tasnya bergetar lagi. Tiga kali. Tari menepi dan merogoh tasnya dengan hati yang tiba-tiba tidak enak.
Nama yang muncul di layar bukan Radit.