Tari mematikan mesin motornya di bahu jalan, tepat di bawah pohon yang daunnya mulai menguning. Ponselnya ia keluarkan dengan dua tangan, seperti memegang barang yang bisa meledak.
Tiga pesan berurutan. Semuanya dari nama yang selama hampir empat tahun hanya ada di daftar blokir.
Akbar Fajriansyah: Aku gak akan chat kamu lagi kalau kamu gak mau.
Akbar Fajriansyah: Tapi aku minta satu hal. Satu kali saja kamu dengar penjelasanku soal kenapa dulu.
Akbar Fajriansyah: Bukan untuk balikan. Boleh ada saksi. Boleh di tempat umum. Kamu boleh gak balas ini.
Tari membaca ketiganya dua kali. Lalu tiga kali. Ia tahu betul gaya mengetik Akbar, penuh huruf besar dan tanda seru bila sedang bercanda. Pesan ini tidak punya satu pun tanda seru. Itu yang membuat perutnya mulas.
Kenapa dulu. Dua kata itu sudah ia tanyakan pada langit-langit kamar kosnya entah berapa ratus malam, dan selama itu tidak pernah ada yang menjawab. Sekarang jawabannya ditawarkan lewat layar ponsel seperti diskon di ujung bulan, dan anehnya, ia justru takut mengambilnya.
"Gak usah dibalas," gumamnya pada diri sendiri. "Kamu cuma buka blokir. Cuma itu janjinya."
Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, menyalakan motor, dan pulang tanpa membalas apa pun.
°°°°
Rumah sedang ramai. Tari menaruh helm di rak, lalu baru ingat kalau ia belum mengabari satu orang yang berpesan tadi. Ia duduk di anak tangga teras dan mengetik cepat.
Lestari Ayu: Sudah sampai, Mas. Keripiknya aman.
Balasan datang sebelum ia sempat membuka kerudungnya.
Raditya Hermanto: Alhamdulillah. Terima kasih sudah mengabari.
Raditya Hermanto: Istirahat yang cukup ya. ^^
Tari menatap dua baris itu, lalu emotikon di ujungnya. Dua tanda sambung dan satu garis lengkung, begitu saja, tapi dari seorang Radit rasanya seperti kejutan kembang api. Ia menahan senyum sampai pipinya pegal.
"Kakak senyum-senyum sendiri. Pasti Mas Radit."
Arif berdiri di ambang pintu dengan tangan sudah terulur. "Setoran dulu, Kak. Katanya ada keripik."
"Ada. Tapi cuma kamu dapat satu bungkus." Tari menyerahkan kantong kresek itu. "Sisanya buat Mama sama Papa."
"Satu bungkus doang? Pelit." Arif sudah merobek kemasannya. Ia mengunyah sebentar, lalu alisnya naik. "Lho, enak. Gak pahit. Mas Radit jualan apa sebenarnya?"
"Jualan keripik pare, Rif."
"Pantes bayar mahal."
Mama keluar dari dapur dan ikut mencicipi keripik dari bungkus yang sudah dirobek Arif. Ia mengunyah dengan wajah curiga, seperti petugas yang sedang memeriksa barang bukti, lalu menelannya dan berkata, "Gak pahit. Kok bisa?" Ia mengambil satu lagi, lalu satu lagi, sampai Tari harus menyelamatkan sisa isinya.
Mereka masuk. Di ruang tengah, Papa Rosidi duduk di depan televisi dengan siaran ulangan bola, sedangkan Mama kembali menyiangi kangkung di meja makan dan langsung menyerbu Tari dengan pertanyaan.
"Gimana festivalnya? Ramai? Mas Radit sopan sama kamu? Dia ngenalin kamu ke siapa aja? Ada yang tanya-tanya?"
"Ramai, Ma. Mas Radit sopan banget. Dia kenalin Tari ke tiga stafnya." Tari duduk dan ikut memetik kangkung, supaya tangannya punya kerjaan. "Yang satu namanya Kino, ngomongnya cepat sekali. Yang satu Teguh, irit bicara."
"Terus?"
"Terus ya itu, Ma. Tari makan keripik, ngobrol sama staf, pulang."
"Mas Radit gendong-gendong kamu gak?" tanya Arif dari dapur, mulutnya penuh.
"Arif!" Mama dan Tari berseru bersamaan. Papa Rosidi hanya berdeham, tapi sudut bibirnya naik.
"Bercanda, bercanda. Kan Kakak bilang dia gak boleh nyentuh," sahut Arif, menyingkir sebelum sendok kayu Mama melayang.
Mama menatap anaknya lama-lama. Papa tidak menoleh dari layar televisi, tapi tangannya yang memegang remote berhenti bergerak sejenak. Tari tidak menyebut satu nama pun yang membuat lidahnya terasa pahit. Ia tidak berbohong, hanya melewatkan. Dan itu terasa jauh lebih licin dari bohong.
°°°°
Malam itu layar ponselnya terbagi dua. Di kiri ada Nida, duduk bersila di atas kasur dengan rambut dibungkus handuk. Di kanan ada Esti, bersandar di sofa sambil menggenggam toples kacang.
"Jadi dia klien pacar kamu?" Nida tidak sabar. "Klien taarufmu?"
"Calon, Nida. Belum pacar. Gak ada pacar-pacaran."
"Terserah. Intinya dia klien. Dan kamu buka blokirnya." Nida memelototi layar. "Tar, kamu waras?"
"Aku terpaksa. Itu syarat supaya dia mau tutup mulut di depan Mas Radit."
"Ya ampun." Esti menjatuhkan sebutir kacang. "Jadi Mas Radit belum tahu sama sekali?"
Tari menggeleng. "Dia tanya aku sama Akbar saling kenal atau enggak. Aku bilang enggak."
Hening sebentar. Nida menarik napas panjang, dan Tari bersiap menerima ceramah.
"Aku gak mau nyalahin kamu," kata Nida pelan. "Tapi bola salju itu cuma gede, Tar. Gak pernah ngecil."
"Aku tahu."
"Soal pesan Akbar," Nida melanjutkan, nadanya kembali keras, "abaikan. Dia pengecut yang menghilang empat tahun, sekarang datang minta didengar. Dulu dia yang ngotot kamu pindah ke Bandung, terus tiba-tiba bilang bosan. Gak ada penjelasan yang bisa membenarkan itu."
"Tapi Nida." Esti mengunyah pelan. "Mungkin ada. Tari kan gak pernah tahu alasannya. Satu kali, di tempat ramai, ada saksi. Apa salahnya? Daripada kamu penasaran seumur hidup."
"Penasaran itu cara dia masuk lagi!"
"Atau cara Tari bisa selesai."
Tari memandangi keduanya bergantian, dua sahabat yang paling ia sayangi, menarik kanan dan kiri. Ia tertawa kecil, getir. "Kalian berdua gak ada yang salah. Itu masalahnya."
"Dia udah pernah ngeliat kamu nangis di depan kos, Tar," Nida menambahkan. "Aku yang duduk di sebelahmu waktu itu. Jangan lupa."
"Aku gak lupa, Nida."
"Bagus. Karena kalau kamu lupa, aku bakal naik kereta dari Bandung cuma buat jewer kamu."
"Jewernya nanti aku temenin," timpal Esti santai, lalu menyuap kacang lagi.
"Pikirin, Tar," tutup Esti. "Tapi jangan pikirin sendirian."
°°°°
Sesudah sambungan putus, Tari membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan map plastik bening berisi tiga lembar kertas HVS. Tulisan tangan Radit rapi, tegak, dengan tinta biru. Lembar pertama dan kedua sudah ia baca berulang kali sampai ujungnya melengkung. Lembar ketiga baru sebagian.
Ia menaruh telunjuknya di nomor sembilan puluh.
Nomor sembilan puluh tiga: Siapa yang menurutmu sebaiknya mencuci piring? Jawaban Radit: Siapa pun yang sedang tidak sibuk mengomentari rasa masakannya. Tari terkekeh sendirian di kamar.
Nomor sembilan puluh enam: Apa yang paling kamu takutkan dalam pernikahan? Kali ini tinta Radit tampak lebih tebal. Menjadi orang yang pergi saat dibutuhkan. Tari berhenti sebentar di kalimat itu, lalu membacanya lagi.
Nomor sembilan puluh sembilan: Kalau kita berselisih, siapa yang minta maaf duluan? Yang lebih dulu sadar. Dan saya biasanya lebih lambat dari yang saya mau, jadi tolong sabar.
Jarinya turun ke bawah. Halaman itu masih menyisakan satu ruang besar, dengan satu angka yang sudah ia hafal letaknya. Seratus.
Tari tahu isinya. Radit sudah mengucapkannya lisan, dan ia sudah sempat mengintip halaman itu sekilas. Isinya pasti indah. Justru itu masalahnya. Kalau ia membacanya sampai habis, ia tidak lagi punya alasan untuk menunda apa pun.
Ia melipat kertas itu pelan, menyelipkannya kembali ke dalam map, dan menutup laci. Di bawah lampu belajar, dadanya mendadak sesak oleh satu hal: orang yang menulis nomor sembilan puluh enam itu tidak tahu apa-apa.
Ponselnya tergeletak di dekat bantal. Ia mengambilnya, membuka pesan Akbar yang tadi siang tidak dibalas, dan mengetik satu kata: Kapan? Jempolnya berhenti di atas tombol kirim sampai layar meredup sendiri.
Ia tidak menekannya. Tetapi ia juga tidak menghapus kata itu.