Brifing pagi baru selesai ketika Gita menggeser kursinya sampai meja CS 01 dan 02 nyaris bersatu. Ia menyandarkan siku di sekat kaca dan menatap Tari tanpa berkedip.
"Cerita," katanya.
"Cerita apa?"
"Tar. Sabtu kemarin kamu ke festival, aku tunggu semua kabar sampai Minggu malam. Nol. Aku sampai ngecek apa nomorku keblokir."
"Jangan sebut kata blokir, tolong." Tari memijat pelipis. "Aku punya trauma."
"Berarti ada yang terjadi." Gita memutar kursinya mendekat, suaranya turun jadi bisikan. "Akbar ada di sana?"
Tari melirik ke arah ruang tunggu yang masih sepi. Lampu lobi baru separuh menyala, dan Pak Dirman sedang menggeser kursi-kursi nasabah dengan siulan pelan. Ia menarik napas panjang.
"Kamu masih ingat aku sempat bilang pengin pindah kerja, waktu dia muncul pertama kali?" Tari mengaduk gelas kosong tanpa tujuan. "Sekarang malah lebih parah. Dia ada di mana pun Mas Radit ada."
"Ya ampun. Dunia ini sempit banget." Gita menggeleng. "Tapi lanjut, jangan berhenti di bagian gantung."
"Ada. Dan Git, ini yang bikin aku pengin sembunyi di loker jenitor." Tari merendahkan suaranya. "Dia bukan cuma stand-nya ada di situ. Akbar itu klien Berkah Group. Klien Mas Radit."
Mata Gita membesar. "Klien? Maksudnya yang jualan batik itu? Yang kamu bilang namanya Chasanah? Itu mantanmu?"
"Aku juga baru tahu hari itu."
"Terus Mas Radit tahu mereka mantan?"
"Enggak. Aku sama Akbar sepakat bilang kami beda fakultas dan gak pernah kenal."
Gita menutup mulutnya dengan telapak tangan. Beberapa detik ia tidak bicara, dan itu langka. Biasanya Gita punya komentar untuk apa pun, termasuk soal warna map di bank.
"Tar," katanya akhirnya, pelan. "Aku sama tunanganku pacaran dari SMA. Aku gak punya mantan, jadi aku gak ngerti rasanya nyimpen yang kayak gini. Tapi aku ngerti satu hal. Rahasia itu makin lama makin berat dibawa."
"Aku tahu."
"Jujur sebelum orang lain yang bicara. Kalau Mas Radit tahu dari mulut lain, bukan cuma masa lalunya yang dia pikirin. Dia bakal mikir kenapa kamu diem."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari ceramah mana pun. Tari mengangguk, lalu mengambil kartu antrean dan menyalakan layar komputernya. Hari Senin sudah dimulai, dan ia tidak punya waktu untuk berlama-lama dengan perasaan.
°°°°
Tepat pukul dua belas, Tari memasang papan Istirahat di meja CS 02. Ia baru hendak menuju musala ketika Pak Dirman menghampiri dengan senyum lebar.
"Mbak Tari, ada tamu. Adiknya Mas Radit katanya. Bawa map."
Tari menoleh. Di kursi tunggu, seorang pemuda berkemeja putih kebesaran melambai-lambai dengan semangat berlebihan. Map cokelat di pangkuannya dipeluk seperti bayi.
"Mbak Tari! Assalamualaikum! Maaf ganggu jam istirahat!"
"Waalaikumsalam, Danu." Tari menahan tawa. "Kamu kenapa ke sini, siang-siang?"
Danu menarik kursi dan duduk lurus. "Mbak, aku mau ngelamar kerja di bank ini. Ini CV aku." Ia menyodorkan map. "Mbak kan orang dalam, nah, kalau boleh, titip langsung ke atasan Mbak. Biar tembus."
"Gak bisa."
"Hah?"
"Gak ada jalur orang dalam, Danu." Tari menaruh map itu kembali ke pangkuan Danu. "Lagian kalau aku titipin, yang rugi kamu. Kamu masuk karena nama aku, bukan karena kamu."
Danu menggaruk belakang kepala. "Mas Radit juga bilang gitu, sih. Katanya jangan ngerepotin Mbak. Makanya aku ke sini diam-diam. Dia lagi rapat."
"Kamu kabur?"
"Bukan kabur, Mbak. Mengambil inisiatif."
Tari tertawa lepas. Gita, yang kebetulan lewat membawa gelas teh, ikut terkekeh. Pak Dirman di kejauhan pura-pura membenahi topinya.
"Dengar," kata Tari, kini sambil duduk di sebelah Danu. "Lamaran ke bank ini lewat portal resmi, bukan titipan. Tapi kalau kamu mau, aku bisa bantu dengan cara lain. Tes tertulisnya biasanya ada hitungan, logika, sedikit bahasa Inggris. Kamu lulusan Akuntansi, jadi hitungan aman. Jangan terlalu pede di logika. Itu yang biasanya bikin gugur."
"Wah, Mbak." Danu sampai mengeluarkan ponsel untuk mencatat. "Terus wawancaranya?"
"Jangan hafalan. Mereka juga suka nanya yang aneh-aneh. Misalnya, kalau kamu salah input angka dan nasabahnya belum sadar, kamu ngapain?"
Danu berpikir keras, lidahnya menjulur sedikit. "Diem aja, Mbak. Hehe. Bercanda! Saya lapor ke atasan, terus saya jelasin ke nasabah, terus saya betulin."
"Nah. Urutannya malah benar. Jujur dulu, baru betulin." Tari mengangkat telunjuk. "Kalau mereka tanya kenapa kamu pilih bank, jawab yang benar-benar kamu rasakan. Pewawancara itu bisa bedain orang yang baca contekan dari orang yang ngomong dari kepala sendiri."
Danu menatap Tari beberapa saat, lalu nyengir. "Mbak, pantes Mas Radit naksir."
"Danu."
"Siap. Aku diam."
°°°°
Menjelang pukul tiga, lobi bank kembali ramai. Tari sedang menandatangani formulir nasabah ketika Gita menyikut lengannya, cukup keras sampai pulpennya meleset keluar garis.
"Tar. Pintu. Pintu."
Tari menengok. Seorang pemuda berkemeja batik biru tua baru saja masuk melewati Pak Dirman. Mata sipitnya menyapu ruangan lalu mengambil nomor antrean, seperti nasabah mana pun. Di tangannya ada tas kain yang tampak berat.
Akbar.
Tari spontan menegakkan punggung. Tangan yang memegang pulpen mengeras. Ia menunggu Akbar berjalan ke meja CS 02, tersenyum lebar, mengucapkan sesuatu yang membuat orang menoleh. Itu yang dulu selalu terjadi.
Tapi Akbar duduk di kursi tunggu paling pinggir, menunggu gilirannya, dan hanya menatap layar nomor antrean. Ketika namanya dipanggil, ia berdiri dan berjalan ke jendela Teller, tiga meja dari tempat Tari duduk. Ia mengeluarkan beberapa gepok uang dari tas kain dan mulai mengisi slip setoran.
"Menyetor hasil penjualan?" bisik Gita. "Beneran transaksi?"
"Kelihatannya."
"Berarti dia nurutin omonganmu di kafe waktu itu. Cuma urusan sama Teller."
Tari tidak menjawab. Matanya hanya mengikuti punggung Akbar. Ketika semuanya selesai, Akbar mengambil bukti setorannya dan membalikkan badan. Pandangannya bertemu dengan Tari sekejap, hanya dua detik. Ia mengangguk sopan seperti kepada pegawai bank mana pun, lalu berjalan keluar tanpa mendekat satu langkah pun.
Pak Dirman, yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu, menghampiri meja Tari dengan langkah pelan. "Mbak Tari, masnya tadi cuma setor, tho. Tak awasi terus dari tadi. Kalau dia macam-macam, tak suruh pulang."
"Iya, Pak. Makasih. Tadi cuma setor."
"Nggih. Tak bilang ke Pak Agus juga, kalau ada bunga-bunga lagi, ditolak saja."
Setelah pintu kaca menutup, Gita menatap Tari dengan wajah campur aduk.
"Dua detik," katanya. "Aku hitung."
"Gak usah dihitung."
Ponsel Tari yang tergeletak di samping komputer bergetar. Ia melirik layar.
Akbar Fajriansyah: Aku tepati. Teller saja.
Tari memandangnya agak lama, lalu membalik ponsel itu menghadap meja. Ia tidak membalas. Tapi ada sesuatu di dadanya yang mengendur sedikit, dan ia membenci kenyataan bahwa itu terjadi.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali ini ia membukanya dengan jantung berdebar, takut itu Akbar lagi.
Raditya Hermanto: Rabu malam saya boleh menelepon? Ada kabar dari Ibu.
Raditya Hermanto: Saya belum pernah menelepon kamu. Jadi saya agak canggung.
Gita membaca dari balik bahu Tari, dan menepuk-nepuk lengannya dengan wajah haru yang berlebihan.
"Aduh, calon suamimu manis banget."
Tari menutup layar ponselnya.