Mobil silver itu berhenti di depan pagar tepat pukul satu siang. Mama, yang sudah mengintip dari balik tirai sejak jam dua belas, langsung melompat menjauhi jendela seolah baru tertangkap basah.
"Mereka datang! Tari, cek kerudung! Arif, jangan duduk di situ, itu tempat Papa! Papa, tolong tutup korannya!"
"Mama yang ribut sendiri," gumam Papa Rosidi, tapi ia menutup korannya juga dan merapikan kerah baju koko.
Tari berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi gelas, merasa seperti pembawa acara di panggung yang salah. Pintu mobil terbuka satu per satu. Danu turun lebih dulu, melambai sambil nyengir lebar. Disusul Nur yang membawa rantang bertumpuk. Terakhir, Radit, dengan kemeja biru tua dan peci hitam, tampak seperti orang yang baru mengerjakan ujian tapi lupa belajar.
"Assalamualaikum!" seru Nur dari pagar.
"Besan!" Mama menjerit riang.
"Besan!" jawab Nur tak kalah keras.
Kedua perempuan itu berpelukan di tengah halaman. Hampir lima belas tahun tak bertemu, mereka saling menepuk punggung, lalu tertawa dan menyeka mata hampir berbarengan. Radit dan Tari saling pandang dari kejauhan. Radit mengangkat alis sedikit, seperti berkata, kami tidak dilibatkan.
"Ini kuenya, Mbak," kata Nur, menyerahkan rantang. "Pisang goreng. Radit bilang kesukaan Tari, pinggirnya harus renyah. Makanya aku goreng dua kali."
Radit sendiri sudah menyalami Papa dengan dua tangan, lalu mengatupkan tangan kepada Mama sambil menunduk sopan. "Assalamualaikum, Tante. Maaf merepotkan."
"Merepotkan apa, Nak Radit. Mama senang sekali kamu datang." Mama menepuk lengan Nur tanpa sadar, dan Nur tertawa terbahak.
Tari menunduk, pipinya panas. Mama menoleh padanya dengan tatapan tajam penuh arti yang bisa dibaca bahkan dari jarak sepuluh meter. Pisang goreng yang pinggirnya renyah. Jadi itu alasan Radit bertanya di telepon malam itu.
Danu sudah menyalami Papa, lalu tanpa menunggu dipersilakan, ia berbalik ke arah Arif. "Kamu Arif, kan? Aku Danu. Katanya kamu jago main bola?"
"Jago itu kata Papa. Aku sih biasa aja," sahut Arif, tapi matanya sudah berbinar. "Kamu main apa?"
"PES. Ayo, sekarang!"
"Danu," tegur Nur.
"Sebentar saja, Bu. Janji."
Dua pemuda itu sudah menghilang ke dalam rumah sebelum Mama sempat menawarkan minum.
°°°°
Makan siang berjalan hangat, penuh suara sendok dan piring. Opor ayam kampung Mama dipuji berulang kali oleh Nur, yang sampai meminta resep. Mama membalas dengan menambah sambal goreng ati ke piring Radit, yang tidak berani menolak, dan menghabiskannya dengan wajah sedikit berkeringat.
Setelah piring-piring dibereskan, Papa Rosidi menyilangkan kedua tangan di atas meja. Suasana berubah, meski halus.
"Nak Radit. Papa ingin tanya tiga hal saja. Boleh?"
Radit menegakkan punggung. "Silakan, Om."
"Pertama. Kerjaanmu apa, dan penghasilannya bagaimana? Jujur saja."
"Saya punya perusahaan pemasaran dan distribusi, Om. Kecil, anggotanya kurang dari sepuluh orang. Penghasilan saya tidak tetap, kadang naik, kadang turun. Tapi sejauh ini cukup untuk menafkahi Ibu dan adik-adik, dan saya sudah punya rumah sendiri." Radit berhenti sebentar. "Saya tidak mau menghias, Om. Itu apa adanya."
Papa mengangguk pelan. "Kedua. Katanya kamu yang mengurus adik-adikmu sejak ayahmu wafat."
"Betul, Om. Saya sulung. Ibu berjuang sendirian, dan saya merasa tanggung jawab itu juga milik saya." Radit melirik Danu yang kini duduk di sofa dengan Arif, sedang berdebat soal gawang. "Tidak ada yang istimewa. Itu kewajiban saja."
"Dan ketiga," Papa menatap lurus. "Salatmu."
"Dari kecil dia memang gak bisa bohong, Pak," selip Nur dengan bangga. "Kalau bohong, telinganya merah. Aku tinggal lihat telinganya saja."
"Ibu," bisik Radit, memelas. Telinganya memang memerah, tapi kali ini karena malu.
Tari menunduk menatap piringnya. Sepotong ayam di sana tiba-tiba terasa seperti batu.
"Lima waktu, Om. Tahajud saya usahakan, tidak selalu berhasil. Kadang bangun, kadang kebablasan." Radit tersenyum tipis. "Tapi saya selalu mencoba bangun lagi esok malamnya."
Mama menahan napas. Nur memandang putranya dengan mata berkaca. Tari, di ujung meja, menyadari bahwa ia sedang menggenggam ujung kerudungnya terlalu kencang.
"Baik," kata Papa. "Sekarang giliran Nak Radit. Ada yang ingin disampaikan?"
Radit menghela napas, lalu menoleh sebentar kepada Tari. Tatapannya lurus, hormat, dan tidak berlebihan. "Om, Tante, saya dan Tari sedang menjalani taaruf tiga bulan. Niat saya, kalau sampai akhir masa itu kami cocok dan Tari berkenan, saya akan datang untuk khitbah secara resmi. Itu niat saya, dan saya ingin Om dan Tante tahu dari saya sendiri."
Ruangan hening. Papa Rosidi menoleh pada Tari. "Keputusan ada di tangan anak Papa. Tari?"
Semua mata tertuju padanya. Tari menelan ludah. "Tari lanjut, Pa."
Mama langsung menutup mulut dengan dua tangan. Nur mengusap air mata. Dari sofa, Danu bersiul pelan, dan Arif buru-buru menyikutnya.
°°°°
"Sepuluh menit, di teras. Pintunya terbuka," putus Mama, tegas seperti sedang memimpin barisan. "Arif yang jaga."
Arif duduk di kursi rotan di ujung teras, memegang ponsel dan jelas-jelas tidak sedang membaca apa-apa. Radit dan Tari duduk di bangku panjang dengan jarak sehasta di antara mereka.
"Aku punya sepuluh pertanyaan lisan, Mas," kata Tari pelan. "Tapi cuma sempat tiga hari ini."
"Silakan."
"Kapan terakhir Mas menangis, dan kenapa?"
Radit tidak menyangka pertanyaan itu. Ia menatap sandal di kakinya agak lama. "Waktu Ibu bilang uang sekolah Danu sudah cukup sampai lulus. Saya masuk kamar mandi dan menangis di sana, supaya tidak ada yang lihat. Jadi, kamu orang pertama yang saya ceritakan."
Tari terpaku sejenak. "Kedua. Apa yang paling Mas sesali?"
"Pernah membentak Danu waktu dia kecil. Saya capek, dia merengek, saya meninggikan suara. Dia sudah lupa. Saya tidak." Radit tersenyum getir. "Sejak itu saya berhati-hati."
"Ketiga. Kalau Mas capek sekali, biasanya ngapain?"
"Salat dua rakaat, lalu tidur. Kalau tidak bisa tidur, saya membersihkan motor bebek Ibu." Radit mengangkat bahu. "Aneh, tapi menenangkan."
"Mas sering bersihin motor Ibu?"
"Setiap Jumat. Ibu kira saya cuma rajin. Padahal saya sedang mengusir pikiran." Radit tersenyum geli pada dirinya sendiri. "Sekarang kamu tahu rahasianya. Tolong jangan bilang Danu, nanti dia minta imbalan."
Tari tertawa. Arif, di ujung teras, mengangkat kepala sedetik lalu menunduk lagi. Dari dalam rumah terdengar Danu berseru bahwa ia menang, dan Arif berseru bahwa itu curang.
"Mas," ucap Tari. "Terima kasih sudah jujur."
"Itu yang selalu ingin saya lakukan," jawab Radit.
Kalimat itu terlalu pelan untuk didengar Arif, tapi cukup keras untuk menancap di dada Tari.
°°°°
Menjelang sore, mobil silver itu pergi dengan Danu melambai-lambai dari jendela. Mama dan Nur berpelukan sekali lagi di gerbang, berjanji untuk tidak menunggu lima belas tahun berikutnya. "Minggu depan aku yang ke rumahmu, Besan!" seru Mama. "Jangan, Mbak, jangan buru-buru, nanti ketahuan kita rindu," balas Nur dari jendela mobil, dan kedua perempuan itu tertawa lagi.
Tari berdiri di halaman, melambai sampai mobil itu hilang di tikungan. Ia merasa lelah dan bahagia sekaligus, dua perasaan yang tidak seharusnya hadir bersamaan.
Papa Rosidi berdiri di sampingnya. Tangan lelaki itu menyentuh bahunya sebentar, lalu ia merendahkan suara supaya tidak terdengar Mama.
"Senyummu tadi bagus, Tari. Tapi matanya tidak ikut." Papa menatap ujung jalan. "Ada yang belum kamu ceritakan?"