Papa Rosidi tidak menunggu jawaban. Ia hanya melangkah masuk, lalu keluar lagi dengan dua gelas teh hangat dan menyodorkan satu kepada Tari. Ia duduk di bangku teras, di tempat yang tadi dipakai Radit, lalu menatap jalanan yang mulai berubah jingga.
"Duduk, Tari."
Tari duduk. Jaraknya satu lengan dari Papa. Dari dalam rumah terdengar denting piring dan suara Mama yang bernyanyi sumbang sambil mencuci, bercampur dengan protes Arif yang sedang disuruh mengelap meja.
"Danu minta nomorku, Ma! Terus dia nanti ngajak PES lagi tiap malam!"
"Ya bagus, kamu jadi punya teman!"
"Aku gak butuh teman yang menang terus!"
Papa menyesap tehnya pelan. "Papa tidak akan memaksa. Papa cuma lihat, tadi siang kamu tertawa dengan Nak Radit, dan itu tulus. Tapi setiap kali Nur memuji kamu, ada yang menegang di bahumu. Papa sudah dua puluh enam tahun mengenal kamu, Tari. Kamu tidak pandai menyembunyikan."
Tari memutar gelas di tangannya. Asap tipis dari teh itu naik dan hilang. Ia ingin sekali menumpahkan semuanya. Akbar klien Berkah Group, Akbar mantan, Mas Radit bilang jangan bohong, Tari bilang tidak kenal. Tetapi Papa baru saja bersalaman dengan Radit sambil tersenyum bahagia, dan kalimat-kalimat itu terasa terlalu berat untuk dijatuhkan di sore seindah ini.
"Ada seseorang dari masa lalu, Pa," ucapnya akhirnya. "Dia muncul lagi. Bukan tiba-tiba, tapi ya, tiba-tiba. Tari belum selesai dengan dia."
"Selesai dalam arti apa?"
"Tari juga belum tahu." Tari menunduk. "Tari kira selesai itu kalau dia menghilang dari hidup Tari. Tapi sekarang dia ada lagi, dan Tari ternyata masih marah. Masih takut. Padahal Tari sudah punya Mas Radit."
Papa tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelasnya di lantai teras, lalu menyilangkan jari di pangkuan.
"Papa kasih tahu satu hal, dan ini dari Papa yang sudah lebih lama hidup daripada kamu." Suaranya rendah dan pelan. "Selesai itu bukan soal orangnya menghilang. Orang bisa menghilang, tapi kalau kamu masih takut, kamu belum selesai. Selesai itu soal kamu berhenti takut. Jadi bukan dia yang harus pergi. Kamu yang harus bisa berdiri di depannya tanpa gemetar."
Kalimat itu mengendap dalam diam yang panjang. Tari menggigit bibir bawah dan menahan sesuatu yang mendesak di pelupuk matanya.
"Papa gak minta nama," lanjut Papa. "Papa cuma minta kamu tidak menghadapi ini sendirian. Kalau memang belum bisa cerita ke Papa, ceritalah ke orang yang kamu percaya. Tapi jangan dipendam. Yang dipendam itu cepat basi."
"Iya, Pa."
"Papa dulu pernah takut gak, kayak Tari?" tanya Tari, sedikit ragu.
"Sering." Papa terkekeh pendek. "Waktu Arif lahir, Papa takut sekali. Papa kira satu anak perempuan saja Papa sudah belum becus, sekarang tambah satu. Mamamu yang bilang, takut itu normal, yang berbahaya kalau kita pura-pura tidak takut." Ia menggeleng pelan. "Mamamu itu cerewet, tapi dia sering benar."
"Jangan bilang Mama Papa ngomong begitu."
"Papa tidak sebodoh itu."
"Dan satu lagi." Papa berdiri, menepuk kepalanya sebentar seperti ketika ia masih kecil. "Apa pun yang kamu putuskan, Papa ada."
Papa masuk ke dalam. Tari masih duduk di sana sampai teh di tangannya dingin. Dari dapur, Mama menjulurkan kepala dan bertanya apa yang tadi dibicarakan dengan Papa sampai lama.
"Soal Mas Radit, Ma," jawab Tari. Setengah benar, dan ia tahu itu.
"Ah, Mama tahu. Papa pasti nasihatin kamu jangan terlalu cepat jatuh cinta." Mama kembali ke wajan. "Padahal Mama sudah lihat sendiri, kamu jatuhnya sudah dari kemarin."
°°°°
Di kamar, Tari menatap ponselnya yang sudah menyala sejak tadi.
Satu pesan dari Radit masuk beberapa menit setelah mobilnya pergi, dan ia belum sempat membukanya. Kini ia menggeser layar.
Raditya Hermanto: Terima kasih sudah menerima kami dengan baik. Ibu masih membahas opor Tante Melati sepanjang jalan.
Raditya Hermanto: Danu juga. Dia bilang Arif adik yang tidak pernah dia punya. Saya khawatir mereka bersekongkol.
Tari tersenyum dan mengetik, Mereka sudah bersekongkol, Mas. Kuota Arif habis gara-gara Danu. Ia mengirimnya, dan balasan datang tak sampai semenit, hanya tiga kata.
Raditya Hermanto: Nanti saya ganti.
Ia menyimpan percakapan itu dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang rapuh. Orang yang menulis dua pesan itu tidak pernah menekan, tidak pernah mengejar, dan selalu memberinya ruang untuk bernapas. Itu yang membuat dadanya hangat. Dan itu pula yang membuat ia ingin menangis.
Senyumnya masih bertahan ketika ia menggulir ke bawah, ke percakapan lain yang menunggu. Percakapan yang dibuka kembali setelah hampir empat tahun, dengan tiga pesan yang belum dijawab selama delapan hari.
Tari tidak langsung mengetik. Ia membandingkan dua orang yang sama-sama sedang menunggu jawabannya. Yang satu sudah memberinya seratus jawaban dan tiga lembar kertas. Yang satu hanya meminta satu penjelasan, tapi penjelasan itu seperti pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Papa benar. Berdiri di depannya tanpa gemetar. Itu satu-satunya cara.
Ia membuka pesan untuk Gita lebih dulu.
Lestari Ayu: Git, Kamis jam istirahat, kamu bisa ikut aku ke kafe seberang bank? Aku mau dengar penjelasan Akbar. Satu kali. Kamu jadi saksi.
Gita membalas begitu cepat, seolah memang sedang memegang ponselnya sepanjang hari.
Gita: Aku ikut. Tapi aku pesan makan sendiri, jangan harap aku diem.
Gita: Dan kalau dia macam-macam, aku yang tumpahin es teh ke kepalanya.
Tari terkekeh, lalu menekan nama Akbar. Jari-jarinya sempat berhenti di atas layar. Ia mengetik pelan, menghapus, mengetik lagi, sampai ia puas dengan versi yang paling pendek dan paling dingin.
Lestari Ayu: Kamis. Jam dua belas lewat lima belas. Kafe seberang bank. Lima belas menit saja. Gita ikut.
Ia menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran, lalu menaruh ponselnya telungkup di kasur, dan berdiri membuka jendela. Udara sore masuk membawa bau tanah basah. Ia menghirupnya panjang.
Ponsel di kasur bergetar. Sekali, dua kali.
Ia sengaja tidak menyentuhnya selama satu menit penuh. Ketika akhirnya ia membaliknya, balasan Akbar sudah menunggu.
Akbar Fajriansyah: Kamis. Aku datang tepat waktu. Gita boleh duduk di sebelahku, di seberangku, atau di mana pun dia mau.
Akbar Fajriansyah: Terima kasih, Tar. Aku tahu ini bukan hal kecil buat kamu. Ada satu hal tentang tahun itu yang belum kamu tahu, dan aku mau kamu dengar langsung dariku.
Tari membaca kalimat terakhir itu lama. Ia tidak membalas, tapi ia juga tidak menghapus apa pun.
Satu pesan lagi masuk, kali ini dari Gita.
Gita: Tar, satu syarat. Habis Kamis, kamu ngomong ke Mas Radit. Jangan nunggu dia tahu dari orang lain.
Tari mengetik, Iya. Lalu menghapusnya. Mengetik lagi, Insyaallah. Lalu menatap kata itu, yang bisa berarti ya, bisa berarti nanti. Dari balik pintu terdengar Mama memanggil Arif untuk menyapu, dan Arif berseru bahwa ia sudah menyapu kemarin.
Ia mengirim satu kata itu, dan tidak sanggup membaca balasannya.