Sepanjang pagi Kamis, Tari tiga kali salah memanggil nomor antrean. Nasabah pertama disapa dengan nomor nasabah kedua, nasabah kedua mendapat pertanyaan yang seharusnya untuk nasabah pertama, dan nasabah ketiga hanya menatap bingung ketika Tari mengucapkan, "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" pukul sembilan pagi.
"Tar, muka lu kayak mau sidang skripsi," komentar Firdaus yang lewat membawa setumpuk berkas dari back office. Ia menunduk, memeriksa wajah Tari seolah sedang memeriksa laporan. "Atau mau nikah. Mana yang bener?"
"Dua-duanya salah, Mas Firdaus."
"Ah, ketahuan. Berarti ada hubungannya sama cowok." Firdaus berlalu sambil bersiul.
Gita menggeser kursinya dan menaruh secarik kertas kecil di meja Tari. Tulisan tangannya miring dan buru-buru. Jam 12.15. Aku di sampingmu. Tari melipat kertas itu menjadi segi empat kecil dan menyelipkannya ke dalam saku kemeja, tepat di atas jantungnya, yang sejak pagi berdetak lebih cepat dari biasa.
°°°°
Pukul dua belas lewat dua belas menit, Tari berdiri di tepi zebra cross dan merasa lututnya terbuat dari agar-agar.
"Napas," bisik Gita di sebelahnya. "Hirup, buang. Hirup, buang. Kamu ini mau ketemu mantan atau mau disidang?"
"Dua-duanya."
"Kalau gitu aku bawa palu." Gita mengangkat tas tangannya. "Isinya cuma dompet sama tisu, tapi kalau perlu, bisa jadi senjata."
Tari tertawa pendek, lalu menekan layar ponselnya untuk memasang alarm lima belas menit. Alarm itu bukan untuk Akbar. Alarm itu untuk dirinya sendiri, supaya tahu kapan harus berdiri dan pergi tanpa merasa kalah.
Mereka menyeberang. Kafe di depan bank itu masih sama seperti terakhir kali Tari mampir, lengkap dengan pot gantung di jendela dan aroma kopi yang menyambut sebelum pintu terbuka. Di meja paling dekat pintu, di tempat yang bisa dilihat siapa pun yang lewat, Akbar sudah duduk. Gelas es tehnya masih penuh. Ia pasti baru datang, atau terlalu gugup untuk minum.
Begitu melihat mereka, Akbar berdiri. Tidak mengulurkan tangan, tidak tersenyum lebar. Ia hanya mengangguk, lalu duduk lagi setelah Tari dan Gita menarik kursi.
"Terima kasih sudah datang," ucapnya. "Gita, terima kasih juga."
"Aku bukan datang buat kamu," sahut Gita, sambil melambai pada pelayan dan memesan nasi ayam. "Aku datang buat dia."
"Aku tahu."
Tari menaruh ponsel di tengah meja dengan layar menghadap atas, alarm yang sudah berjalan terlihat jelas. "Lima belas menit, Bar. Mulai."
Akbar menatap angka yang bergerak mundur itu, lalu menarik napas. "Boleh aku mulai dari yang kamu pasti penasaran dulu?"
"Terserah."
"Aku di Jakarta bukan buat ngejar kamu."
Tari mengangkat alis. Itu bukan kalimat yang ia duga.
"Terus waktu di bank dulu itu apa?" tanyanya. "Pura-pura jadi nasabah, bilang 'bantu mendirikan rumah tangga', ketawa keras-keras di depan semua orang?"
"Itu..." Akbar meringis. "Aku gak pinter kalau gugup, Tar. Dari dulu. Makin gugup, makin sok lucu. Aku lihat kamu dan otakku langsung kosong, jadi mulutku ngomong apa aja yang kebayang. Dan itu salah, udah kuakui juga di festival."
"Kamu baru mengakuinya setelah aku bilang kamu cuma ngasih luka."
"Setelah kamu bilang itu," akunya. "Kamu benar."
"Dulu waktu kamu lihat aku di jalan, dan aku lihat nametag bank kamu, kamu pasti mikir aku sengaja. Aku gak nyalahin kamu. Tapi sumpah, Tar, aku baru tahu kamu kerja di situ detik itu juga." Akbar menautkan kedua tangannya di atas meja. "Aku di Jakarta karena usaha keluargaku goyah. Chasanah Batik lagi susah, dan Berkah Group nawarin pemasaran dan tempat berjualan. Aku buka gerai kecil, ikut festival. Itu satu-satunya alasan."
"Dan kamu kebetulan klien Radit?" Nada Tari datar.
"Kebetulan yang aku sendiri gak ngerti. Aku udah ngobrol soal kerja sama sama Berkah Group sebelum ketemu kamu di jalan. Kalau kamu gak percaya, tanya Mas Radit, dia ingat surat penawarannya." Akbar tersenyum getir. "Tapi jangan ya, Tar. Kamu tahu kenapa."
Tari menyipitkan mata, tapi tidak membantah. Gita, yang menyuap nasi ayamnya perlahan, memperhatikan dua orang itu seperti menonton film yang ia tidak bisa matikan.
"Sekarang soal yang kamu tanyakan empat tahun," lanjut Akbar. Suaranya turun. "Aku gak bosan."
Kata itu menghantam lebih keras dari yang Tari siapkan. Ia mencengkeram tali tasnya.
"Waktu itu ada urusan keluarga yang aku sembunyikan dari kamu. Aku gengsi. Aku gak mau kamu ikut mikirin. Dan..." Akbar berhenti, mengusap tengkuknya. "Aku salah paham juga. Kamu pernah bilang kamu gak mau pindah ke Bandung. Aku kira itu artinya kamu gak mau sama aku. Padahal mungkin bukan itu maksudnya."
"Maksudku bukan itu." Suara Tari bergetar sedikit. "Aku cuma bilang tunggu aku sampai dapat kerja, Bar. Aku gak mau hidupku cuma ikut kamu, dan aku mau punya apa yang aku bangun sendiri. Itu bukan berarti aku gak mau kamu."
"Sekarang aku tahu."
"Tapi kamu bilang bosan." Tari menatap lurus. "Aku masih ingat nada suara kamu. Datar. Kayak ngomongin cuaca. Dan aku percaya, Bar. Empat tahun aku percaya kamu bosan, jadi aku gak pernah nyari kamu. Aku blokir semuanya, aku pikir kamu gak pantes dipikirin."
Akbar menunduk. Rahangnya mengeras, lalu mengendur lagi. Bahunya naik turun sekali.
"Aku tahu itu kejam," katanya. "Kata itu keluar karena itu satu-satunya yang kupikir bisa bikin kamu berhenti nunggu. Aku salah, Tar. Salah banget."
Alarm di ponsel Tari menunjukkan sebelas menit lagi. Tari menatap angka itu lama, lalu menatap Akbar. Orang yang dulu bisa menyelesaikan satu kalimat sambil tertawa, kini menyusun tiap katanya seperti orang menyusun batu bata di atas tanah yang masih basah.
"Boleh aku tanya?" Gita meletakkan sendoknya. Suaranya tidak seusil biasanya. "Kamu hilang empat tahun. Bukan empat hari. Empat tahun. Kamu gak sekali pun nyoba menjelaskan?"
"Sempat. Sekali, di hari wisuda." Akbar mengangkat pandang. "Tapi Tari gak mau dengar, dan habis itu semua kontakku diblokir. Aku..." Ia menelan ludah. "Aku mikir, dia pasti lebih baik tanpa aku."
"Kupikir kamu lebih baik tanpa aku," ulang Tari pelan, seakan menimbang makna tiap kata. "Itu bukan keputusan yang boleh kamu ambil sendirian."
"Iya. Bukan."
Mereka bertiga diam. Di luar jendela, motor-motor melintas, dan seorang bapak penjual kerupuk menyeberang pelan dengan gerobak. Dunia terus berjalan, sementara di meja itu empat tahun mencoba duduk dengan tenang.
Akbar mengangkat gelasnya, minum seteguk, lalu meletakkannya lagi. Tangannya tidak sepenuhnya stabil.
"Tar." Ia menatap Tari dengan cara yang membuat perut Tari mengencang. "Masih ada satu hal. Dan ini yang paling sulit kuucapkan."